Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Sebuah pengkhianatan Menyatukan Kita


__ADS_3

"Aku beli apa lagi yah? "


Sintia berjalan menyusuri lorong tempat berbagai cemilan tersusun rapi. Dia bingung ingin membeli cemilan mana untuk suaminya. Verrel terlalu fleksibel, suka ini dan itu. Jadi, Sintia kebingungan menentukan mana makanan yang Verrel sukai. Apalagi saat dia yang memasak, suaminya selalu berkata. I like it, i love it.


Huh, Sintia berhenti di antara rak makanan pedas, melirik dua merek yang pernah di beli oleh suaminya.


Saat mata nya melirik ke rak paling atas, seketika mata nya berbinar dan tangan nya secara otomatis meletakkan bungkus makanan yang dia pegang tadi. Lalu, Sintia berusaha menggapai makaroni krispi kesukaan nya.


Tak itu sangat tinggi, tangan Sintia tidak bisa menggapainya. Dia melirik ke kiri dan kanan. Tidak ada orang lain yang bisa ia mintai tolong, apalagi kursi.


"Huhh..." Sintia menghembuskan nafas frustasi. Dia sangat ingin makanan itu, entah mengapa dia sangat ingin. Selain itu cemilan favorit nya, Verrel juga sangat suka memakan nya.


"Bagaimana aku bisa menggapai mu!" gumam Sintia berbicara dengan bungkus makaroni yang tersusun rapi di atas sana.


"Apa kau mau ini?"


Sintia terkejut, dia menerima bungkusan makaroni yang di ambilkan oleh seseorang.


"Tuan, terimakasih"


"Ya sama sama. Karena kita bertemu untuk yang ke sekian kali nya. Aku akan mentraktir mu"


"Ah tidak usah tuan, aku malah yang akan mentraktir mu. anda telah membantu saya mendapatkan ini" balas Sintia dengan senyum manis.


Pria asing yang tidak ia kenal ini, membuat dirinya tidak merasa takut. Padahal sejak kecil Danrem sudah mengajarkan nya untuk tidak dekat dengan orang asing.


"Perkenalkan namaku Satria, aku sering di panggil Mr. T"


Pria yang tak lain adalah Mr Topi. untuk pertama kali nya dia memberitahukan kepada orang lain nama aslinya.


"Aku Sintia, Sintia Eldor!" balas Sintia menjabat uluran tangan Satria( Mr Topi).


"Nama yang indah, kau mengingatkan ku pada nama seseorang "


"Benarkah?"


"Yah, tapi aku tidak sudah tidak bisa bertemu dengan nya lagi. Aku hanya bisa mengingatnya saja"


Sintia terenyuh, mendengar cerita singkat dari pria yang baru dia kenal itu. Dia merasa simpati kepadanya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang sedang coba kau katakan, tapi aku merasakan kesedihan di mata mu"


Sintia mengusap tangan pria itu, tersenyum tulus agar pria itu tetap merasa tegar.


'Untuk pertama kali nya, seseorang menyemangati ku. Membuat aku merasa tegar. Siapa kau ini, mengapa begitu berani ketika berada di dekat ku' batin Satria.


Sintia melepaskan jabatan tangan mereka, mengambil beberapa camilan di atas rak, kemudian memindahkan nya ke dalam keranjang nya.


"Aku akan pergi membayar, semoga hidup mu lebih baik. Apapun masalah mu, semoga segera terselesaikan. Entah kemana orang yang kau ingat. Aku berdoa agar kau segera bertemu dengan nya" Sintia menepuk bahu Mr. Topi. Lalu pergi dari sana.


Mr Topi berbalik, menatap punggung Sintia yang terus menjauh dan menghilang di balik rak besar.


"Ada apa ini, mengapa aku tersentuh dengan kata kata gadis kecil seperti nya?"


"Ah..Ayolah satria. Bahkan kau memberitahu dia siapa nama asli mu."


Mr Topi merutuki dirinya sendiri, memaki bahwa dia adalah pria bodoh.


Setelah selesai melakukan proses pembayaran. Sintia pun langsung bergegas pulang. Dia melirik pada mobil hitam yang tak jauh dari tempat mobil nya terparkir.


Di dalam mobil itu terdapat 5 orang pria berbadan tegap dan ahli dalam ilmu bela diri.


"Huh.. Sungguh orang yang pengertian. Mereka tetap menjaga privasi ku tanpa harus menggangu ku"


Sintia masuk ke dalam mobil, menancap gas menuju ke komplek damai. Bukan nya damai tapi malah sering terjadi keributan. Menurut Sintia, orang yang memancing keributan itu tidak pernah terlihat. Mereka selalu menggunakan peralatan yang canggih jika ingin mengusik kedamaian mereka.


Sintia menyiapkan makan malam, menata rapi di atas meja makan. Sekarang sudah pukul 6 sore. 1 jam lagi suaminya akan pulang.


"Semuanya sudah beres, sekarang aku harus membersihkan diri..."


Sembari bersenandung kecil, Sintia berjalan lenggak lenggok menuju ke kamar nya. Dia merasa bahagia, tidak pernah sebelum nya dia sebahagia ini. Entah karena dia merasa terbebaskan dari beban yang selama ini membebankan hati nya.


Pertanyaan yang selama ini menghantui di setiap pergerakan otak nya.


"Mengapa?? Mama. Papa...Selalu membedakan dirinya dengan Sela." Pertanyaan ini lah yang membuat nya merasa terbebani. Hidupnya bagaikan dalam sangkar berjeruji besi yang terhubung langsung dengan arus listrik.


Namun kini, dia sudah terbebaskan. Fakta yang mengatakan bahwa dia bukan lah anak dari Danrem Rafs dan Rea Rafs, membuat dia merasa bahagia.


Pukul 7 malam lewat beberapa menit. Verrel tiba di rumah. Dia melangkah masuk dengan santai.

__ADS_1


"Sayang......"


Sintia berlari menghampiri suaminya, memeluk suaminya dan mencium pipi suaminya.


Perlakuan ini, sangat mengejutkan Verrel. Istri nya terlihat sangat bahagia.


"Hei..Ada apa ini. Istri ku terlihat sangat bahagia. Apa yang membuat mu sebahagia ini sayang?"


"Aku tidak tahu, aku hanya merasa hidup ku ringan dan aku sangat bahagia... Ayo kita makan malam"


Sintia langsung menarik tangan suaminya menuju ke ruang makan. Memperlihatkan hidangan kesukaan suaminya.


"Waw.. Sayang, kamu membuat semua ini?"


"Tentu sayang, aku membuatnya hanya untuk mu"


Verrel sangat senang, perlakuan manis ini sangat berkesan bagi nya. Pria itu menarik pinggang istri nya, mengecup mesra pipi nya.


"Thanks you so much. Berkat dirimu, aku merasakan keindahan dalam hidup ku. Aku merasa ibu ku kembali ke sisi ku" ucap Verrel tulus dari hati. Sintia yang mendengarnya membalas dengan memeluk erat suaminya.


"Semoga kebahagiaan ini awet hingga akhir haya ku" batin Sintia.


"Baiklah suami ku, sebelum makan sebaiknya kamu mandi. Agar setelah makan kita bersantai tanpa harus terpisah kan"


"Apa aku bau?" Verrel mencium bau ketiak nya sendi.


"Masih harum" gumam Verrel membuat Sintia terbahak.


"Sayang, bukan karena kamu bau. Setelah berkerja, kamu pasti capek dan mandi adalah salah satu cara agar tubuh mu merasa relaks dan segar. Sehingga rasa lelah di tubuh mu menjauhi mu"


"Benar kah?"


"Tentu honey" balas Sintia tersenyum manis.


"Uuuu istri ku sangat pintar yah, tidak salah aku ngebet menikahinya"


"Walaupun berawal karena pengkhianatan seseorang " sambung Sintia membuat keduanya terdiam. Lalu tertawa bersama.


"Ya sudah sayang, mandi lah. Aku akan panaskan sup dan beberapa makanan lain nya" ucap Sintia mengakhiri tawa mereka, lalu bergegas mengambil beberapa makanan yang harus dia panaskan.

__ADS_1


Sedangkan Verrel, dia langsung pergi ke kamar nya untuk mandi. Dia juga sama seperti Sintia, merasa sepi dan merasa hidup. Bukan berarti selama ini dia tidak hidup. Hanya saja hidupnya terasa tidak berarti dan tidak berwarna. Sekarang dia akan selalu berwarna bersama pelangi cantik seperti Sintia.


__ADS_2