
"Nak, apa kamu sudah makan?"
"Sudah pa, papa jangan khawatir. Suami ku menjaga ku dengan sangat baik. Dia memperhatikan aku dari makan, minum, pekerjaan, semua dia perhatikan." jawab Sintia dengan penuh semangat. Dia sengaja melebih lebihkan soal suaminya. Meskipun sebenarnya itu tidak bohong.
"Waw, kamu beruntung mendapatkan suami yah nak. Meskipun dia adalah musuh ku, tapi aku tetap bersyukur kau mendapatkan suami yang baik" komentar Asmar.
Sintia menoleh, tersenyum manis pada pria baru baya yang hampir menjadi mertuanya.
"Tentu om. Dan aku juga harap om bisa membedakan antara bisnis dan keluarga"
"Maksud kamu?"
"Yah, semacam permusuhan om dengan suami Ku. Mungkin kalian memiliki masalah, tapi aku tidak akan pernah melihat kesalahan suami ku. Begitu juga dengan dirimu. Jadi, masalah kalian jangan lampiaskan kepadaku. Atau mencoba menggunakan aku sebagai alat balas dendam" ucap Sintia penuh penekanan di beberapa kata terakhir.
Widia kembali terkesima, Sintia sangat keren di matanya. Dia masih diam duduk di sofa, jauh dari mereka yang duduk di dekat ranjang Danrem.
"Wah, mulut Mu semakin tajam saja ya anak ku, tidak kah kau memiliki sopan santun kepada orang yang lebih tua?" sela Rea.
"Wah mama, aku juga ingin mengatakan hal yang sama. Mama sudah berhasil mendidik aku menjadi wanita kuat, yang lebih....Tajam"
"Kamu.." tunjuk Rea pada Sintia.
"Sudah cukup. Rea, Sintia. Papa kamu masih sakit, tapi mengapa kamu dan mama mu berdebat dengan suara yang keras!"
"Ops..Sorry om, sorry pa. Aku kebawa emosi. Karena memang sejak kecil aku selalu di kasih emosi"
"Apa itu harus di katakan sekarang?" sanggah Asmar lagi.
Sintia tersenyum miring, dia melirik kearah alat pendeteksi jantung di samping ranjang papa nya. Alat itu terlihat tidak berfungsi.
"Ah, mereka ternyata ingin main main dengan ku? baiklah aku akan mengikuti alurnya" gumam Sintia dalam hati.
Tok! Tok!
"Permisi" Seorang perawat masuk ke dalam. Dia memberitahu bahwa ada seseorang membawa dokter untuk memeriksa kondisi Danrem
"Ada apa suster?" tanya Rea terkejut. Dia melihat kearah Asmar dan suaminya. Mereka tidak ada memanggil dokter, tapi mengapa seseorang datang.
__ADS_1
"Dokter dari Singapore ingin memeriksa tuan Danrem"
"Siapa yang memanggil nya?" seru Rea.
Sintia ikut terkejut, tapi ini merupakan kesempatan bagi nya. Untuk membuktikan kebohongan papa dan mama nya.
"Oh silahkan suster, silahkan bawa dokternya masuk dan memeriksa papa saya" Sintia langsung menyambut mereka dan ternyata..
"Sayang? kamu ke sini? oh astaga, ternyata kamu yang membawa dokter itu kemari?"
Semua orang terkejut, Verrel berdiri di hadapan mereka bersama tim medis yang entah datang dari mana.
"Hallo semuanya, Maaf aku baru datang berkunjung. Aku mendengar kabar dari istri ku, kalau ayah mertua ku sedang sakit!"
"Tutup mulut mu Verrel. Sejak kapan kau menjadi menantu ku!" teriak Rea.
"Tentu saja sejak dia menikahi putri mu" selah Widia yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tapi kami tidak menerimanya. Dia menikahi putri kami secara paksa!" bantah Rea.
"Sudah cukup! apa pentingnya sekarang. Menikah atau tidak di terimanya suami ku. Sekarang itu dia suami ku, dan dia membawa dokter canggih untuk menyembuhkan papa!"
"Kenapa mama, apa mama ingin papa meninggal dengan cepat? atau mama tidak ingin kebohongan kalian terbongkar?"
"Tutup mulut mu Sintia, kamu tidak pantas berbicara seperti itu kepada mama mu!" sanggah Asmar.
"Tidak om, kenapa aku tidak boleh. Jika kalian memang tidak berbohong. Maka, biarkan dokter memeriksa kondisi papa!"
"Aku tidak mengijinkan nya. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan musuh kami memeriksa kondisi suami ku. siapa yang tahu dia memiliki niat yang buruk!" alasan nya.
Widia menggelengkan kepalanya,dia mulai jengah dengan keluarga ini.
"Kalian menyebut ku dengan sebutan mafia licik. Tapi, pemikiran kalian begini membuat ku merasa geli.
Jika aku adalah mafia yang licik dan kejam, aku tidak akan menggunakan cara kotor seperti yang kalian tuduhkan untuk melenyapkan pria tua itu!"
"Aku bisa saja menodongkan pistol ke kepalanya, lalu menembaknya dengan satu tembakan saja!" Verrel terkikik pelan, memeluk pinggang istri nya erat. Seolah memperlihatkan kepemilikan nya terhadap keluarga istri nya.
__ADS_1
"Kau itu licik Verrel, tidak ada yang bisa menduga apa yang akan kau lakukan kepada kami!" tambah Asmar.
Danrem yang sejak tadi hanya diam saja, Akhirnya angkat bicara, dan tentunya dengan kondisi pura pura lemah.
"Niat mu memang baik, Verrel Eldor!. Tapi, sayang sekali aku lebih percaya dengan dokter yang menangani ku sekarang. Kau tidak perlu repot membawa dokter untuk memeriksa ku. Aku ucapkan terimakasih " ujar nya.
"Wah wah wah...Lihat Ibu mertua, ayah mertua jauh lebih sopan di bandingkan diri mu."
"Yah, sayang sekali. Suami ku sudah rela menjemput dokter dari Singapore untuk memeriksa papa. Usaha nya jadi sia sia" lirih Sintia berpura pura sedih.
"Tidak apa apa sayang, terpenting aku sudah berusaha"
"Makasih sayang"
Rea merasa jijik melihat tingkah Sintia dan suaminya. Jika tidak mengingat tujuan mereka, dia sudah mengusir mereka dengan pukulan dan tendangan dari nya.
"Sintia, kemari lah nak" panggil Danrem lemah.
Sintia melirik suaminya, seakan meminta ijin kepadanya. Terlihat setelah Verrel mengangguk barulah Sintia mendekati papa nya.
"Nak, kamu sudah dewasa. Kamu juga sudah mendapatkan suami yang baik. Kamu harus bahagia dan menjadi istri yang baik. Mencintai suami dan anak anak mu nanti" nasihat Danrem, sesekali ucapan nya terhenti karena batuk nya.
"Tentu papa, aku akan mencintai anak anak ku kelak. Aku tidak akan membeda bedakan mereka" jawab Sintia seolah menyindir mama nya.
Entah itu tulus atau tidak, Sintia tetap menyayangi Danrem. Hanya dia yang sedikit memberikan kasih sayang kepadanya. entah itu karena memanfaatkan. Atau ada alasan di sebaliknya, Sintia tidak peduli.
"Nak, kamu ingat kan pesan papa? jangan bersedih terlalu lama. Kamu harus berpegang teguh pada hati kamu, jangan terpengaruh oleh apapun. Kamu harus yakin dengan tindakan mu!"
"Baik papa, terimakasih"
Asmar dan Rea terkejut, Danrem malah tiba tiba menjadi baik. Seakan dia menyayangi putrinya.
"Nak, setelah papa sembuh nanti. Kamu harus sering menjenguk papa, di masa tua papa. Papa ingin melihat anak anak papa"
"Baiklah, nanti akan aku usahakan. Segeralah keluar dari rumah sakit. Apa papa tidak merasa terganggu oleh bau rumah sakit? bau obat obatan"
"Tentu nak, papa akan segera keluar dari rumah sakit ini. Papa juga sudah bosan di sini!" balas nya. Mereka berdua tertawa pelan. Meskipun penyebab lucu nya tidak sama. Tapi, orang melihat mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Sintia tertawa karena merasa geli dengan ucapan papanya, sedangkan Danrem tertawa karena kebodohan putrinya.