
"Aduhh Ma, sakit banget ma!!!"
"Iya nak sabar yah"
Sela terus mengerang kesakitan. Usia kandungan nya sudah menginjak 7 bulan. Dia pun belum menikah dengan Rendi.
Bukan nya tidak mau tanggung jawab. Tapi, sela lah yang tidak mau menikah dengan Rendy. Dia tidak mau hidup miskin bersama pria itu.
"Ma...Sakit!!" erang Sela terus, perutnya terasa sangat keram dan kakinya terasa sakit.
Rea kehabisan akal, dia tidak tahu harus berbuat apa selain memijat dan mengelus perut putrinya. Berharap apa yang dia lakukan dapat meredakan apa yang saat ini putrinya rasakan.
Ceklek.
Danrem masuk dengan tergesa gesah ke dalam kamar Sela. Dia membawa seorang dokter bersamanya.
"Cepat dok, periksa putri saya. Sejak tadi dia menangis dan mengerang kesakitan"
"Baik tuan"
Dokter mendekati Sela, memeriksa kondisi kandungan nya yang ternyata baik baik saja.
"Nona tidak kenapa kenapa. Bayinya sehat begitu juga dengan ibu nya. " tutur sang dokter.
"Lalu, mengapa dia mengerang kesakitan dokter?"
"Mungkin itu adalah bawaan dari bayi nya nyonya. Itu sangat wajar di alami oleh wanita hamil"
Fyuu...
Danrem menghembuskan nafas lega setelah mendengar penjelasan dokter. Dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada putri satu satunya.
"Baiklah, kalau begitu. Saya permisi" dokter pun pamit undur diri.
"Terimakasih dok" balas Rea. Dia mengusap wajah sela penuh kasih sayang.
Sejahat jahat seseorang, dia tidak akan pernah jahat kepada putra maupun putrinya.
"Sela kamu harus kuat, itu bawaan dari bayi mu" ujar Danrem lembut.
"Tapi pa, ini terlalu menyiksa!"
"Karena bayi mu nakal seperti kamu" dengus Rea mencubit pipi putrinya.
Sela tersenyum, setidaknya dia merasa bahagia dengan kehadiran kedua orang tua di sisinya.
Ting tong....
Bel rumah tiba tiba berbunyi, mereka bertiga saling melempar pandang.
"Siapa yang datang?" gumam Danrem.
__ADS_1
Rea dan seka menggeleng, mereka tidak ada yang mengundang teman atau memesan barang secara online.
"Aku akan mengecek nya" putus danrem. Pria setengah baya itu pun langsung bergegas keluar dari kamar sela menuju ke pintu utama.
Saat membuka pintu, Danrem terkejut melihat siapa yang datang.
"Papa..."
"Sintia??"
Sintia berhamburan masuk ke dalam peluk papa nya dengan berlinangan air mata.
"Hei..Ada apa sayang, mengapa kamu menangis hm?? ada apa? ayo ceritakan sama papa"
Danrem memboyong Sintia masuk ke dalam rumah, mendudukkan wanita itu di sofa. Lalu mengambilkan nya air minum
"Minum lah nak, tenangkan diri mu"
Sintia menerima nya dan langsung meneguk habis air itu. Lalu mengembalikan gelas yang sudah kosong.
"Hiks...Pa...Pa..."
"Iya sayang ada apa, ceritakan papa akan mendengarkan kamu" Danrem kembali mendekat pada putrinya, memeluk nya sebagai obat menenangkan.
Di dalam kamar Sela, Rea merasa penasaran. Suaminya tidak kembali setelah pergi melihat siapa yang datang.
"Mama akan mengecek ke bawah dulu"
Sela mengangguk, Rea bergegas keluar dari kamar itu. Saat turun ke bawah, dia terkejut melihat putri angkat nya sedang menangis di dalam pelukan suaminya.
"Hiks...Hiks...Papa, Mama...Verrel mencampakkan aku. Dia membuang ku setelah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan!" tangis Sintia kembali pecah.
"Maksud kamu apa?"
Sintia menggeleng, tangis nya semakin keras dan itu membuat Rea semakin kesal.
"Verrel sudah mencampakkan aku Pa, kenapa wanita itu tidak mengerti!" tunjuk Sintia pada Rea.
"Apa? kau menunjukku. Aku ini adalah mama mu. Jika kau tidak lupa. Setelah kau menikah tanpa membawa kami dan kini kau di campakkan berlari kembali ke sini?" kata Rea, dia menatap sinis pada Sintia. Wanita itu sangat tidak suka jika Sintia kembali ke rumah ini. Sama seperti dulu saat mama Sintia berada di rumah ini.
"Lalu kemana lagi aku akan pergi?"
"Kemana yang kamu mau. Kamu sendiri yang telah membuang keluarga mu. Tapi kamu sendiri yang kembali ke rumah ini" dengus Rea.
Sintia semakin menangis, dia semakin memeluk papa nya erat.
"Sudah lah ma, jangan begitu. Putri kita sedang terluka. Seharusnya kita menghibur nya" ujar Danrem menegur istri nya.
"Kamu saja yang hibur, aku tidak mau!" dengus Re. Dia beranjak pergi dari sana, kembali ke kamar Sela.
"Siapa yang datang ma, kenapa papa tidak kembali ke sini?"
__ADS_1
"Papa mu sedang mengurus putri nya yang sudah di campakkan oleh suaminya!"
Dahi Sela mengerut, " Maksud mama Sintia?"
"Siapa lagi, kalau bukan gadis itu" sahut Rea berdecak kesal.
"Ha, Verrel mencampakkan Sintia?? apa mereka sudah bercerai?? ini adalah kesempatan ku untuk merebut Verrel lagi. Aku tahu, hanya aku yang mampu menjadi pasangan Verrel" batin Sela.
wanita hamil itu melupakan rasa sakit di sekujur tubuh nya saat mendengar kabar ini. Dia sangat ingin segera melahirkan dan kembali cantik. Perutnya yang membesar seperti ini, membuat dirinya tidak menarik lagi.
Rea menatap curiga pada putrinya. Sejak dia mengatakan berita terbaru ini. Sela senyum senyum sendiri, entah apa yang menyebabkan putrinya seperti ini. Apa ini juga bawaan? pikirnya.
"Kenapa kamu senyum senyum begitu?"
"Ah? gak ada ma, aku hanya merasa happy aja" jawab Sela menggeleng pelan.
"Yaudah kami istirahat lah, mama mau ke kamar mandi dulu"
"Iya ma"
Dengan senyum bahagia mendapatkan peluang besar ini. Sela bisa tidur dengan sangat tenang.
Sementara di ruangan tamu, Sintia masih saja menangis di dalam pelukan Danrem. Meluapkan semua cerita yang terjadi pada pikiran nya. Dia sedikit melebih lebihkan cerita agar papa nya bersimpati.
"Sudah nak, jangan menangis lagi. Kamu bisa tinggal kembali di rumah ini. Sama seperti dulu, sebelum kamu menikah"
"Boleh kah pa?"
"Tentu nak, kenapa tidak boleh. Ini rumah mu, dan akan menjadi milik mu selamanya" jawab Danrem.
"Setidaknya sebelum semua ini pindah tangan ke atas nama ku. Lalu aku bisa melenyapkan mu dan juga kakak mu itu. " gumam Danrem dalam hati.
Setelah merasa sedikit lebih lega, Danrem mengantar putrinya ke kamar yang dulu menjadi kamar Sintia.
"Istirahat lah sayang, besok adalah hari baru bagi mu. Lupakan masa lalu, dan tatap lah masa depan"
"Makasih pak.."
Danrem mengangguk, mengusap rambut Sintia penuh kasih sayang.
"Papa keluar dulu yah"
cup.
Sintia sedikit merasa jijik, namun dia hanya pasrah saat Danrem mengecup pucuk kepalanya. Setelah itu, pria itu langsung keluar dari kamar Sintia dengan menutup pintu pelan.
Setelah memastikan Danrem keluar, Sintia langsung berlari ke kamar mandi untuk membasuh kening dan rambutnya.
"Huh najis banget dia memperlakukan aku Seperti putrinya. Huh, dia pikir aku tidak tahu tipu muslihat nya" dengus Sintia pada pantulan wajah nya di kaca wastafel.
"Kau benar pa, besok adalah hari baru untuk ku. Karena aku, akan mengungkap siapa yang telah melenyapkan keluarga ku!"
__ADS_1
"Danrem, Rea, Asmar, Satria, Dan Verrel. Kalian dalam pengawasan ku!"
Aurah yang sangat berbeda keluar dari dalam tubuh Sintia. Dia terlihat lebih tajam dan sadis di bandingkan biasanya yang terlihat seperti malaikat