
Aroma menyengat dan enak masuk ke Indra penciuman Verrel. Membangunkan pria itu dari rasa kantuk yang menyelimuti mata nya.
Verrel menghirup udara sebanyak banyak nya, perut nya seketika berbunyi.
"Wangi sekali!"
Bangun dari tempat tidur, tanpa mencuci muka, tanpa gosok gigi. Pria itu berjalan mengikuti dari mana aroma itu berasal.
Langkah Verrel menekan, mata nya menangkap sosok yang semalam berada di dalam pelukan nya.
"Kamu sudah bangun?"
Suara Sintia menyadarkan Verrel, pria itu berdehem lalu melangkah mendekatinya.
Aroma menyengat itu semakin menyeruak masuk ke dalam hidung Verrel.
Sintia menatap penampilan suaminya, sangat berantakan dan wajah bantal nya sangat jelas menandakan Verrel belum mencuci muka nya.
"Jorok deh, kamu belum cuci muka???"
"Belum, aku langsung turun ketika menghirup aroma yang sangat enak ini"
"Benarkah? apa aromanya wangi?"
"tentu saja, aku sampai terbangun dan berdiri di sini"
Sintia tersenyum malu, ini pertama kali nya masakan nya di puji.
"Apa masih lama?"
"Tidak, ini sebentar lagi masak. Kamu bisa mencuci muka terlebih dahulu, setelah itu kita akan sarapan bersama"
Verrel mengangguk setuju, dia segera berlalu kembali ke kamar untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Tanpa merubah penampilan nya, Verrel kembali dengan wajah yang masih basah.
Sintia menghidangkan masakan sederhana nya. dia melihat wajah Verrel yang masih basa.
"Astaga, apa kamu tidak mengelap wajah dengan handuk?" decak Sintia, Verrel menjawab dengan gelengan kepala.
Pria itu duduk di meja makan, menunggu dengan tatapan lapar.
"Etss...Jangan sentuh makanan nya sebelum wajah mu di lap!" tegur Sintia memukul pelan tangan Verrel yang hendak mengambil sepotong ayam dengan bumbu special dari Sintia.
"Oh astaga istri ku, kenapa banyak sekali syarat dan ketentuan nya. Aku sudah sangat lapar, tapi kamu suruh aku ini dan itu!" protes Verrel dengan wajah memelas.
"Siapa suruh, bekerja tidak sampai selesai. Jika kamu langsung mengelap wajah setelah mencucinya. Aku tidak akan menyuruh lagi, kau pasti sudah makan sekarang"
Verrel ternganga, dia tidak tahu jika istri nya sangat cerewet. Bahkan dia tidak menyangka, wanita yang semalam terlihat begitu depresi, kini terlihat baik baik saja.
"Kamu sungguh hebat Sintia, aku bangga pada mu" gumam Verrel dalam hati.
Seperti yang Istri cantik nya katakan, Verrel mengelap sampai kering wajah nya. Lalu, kembali ke meja makan dengan senyum berseri.
__ADS_1
"Apa sekarang sudah boleh?"
"Tentu honey, silahkan di cicipi. "
Jleb.
Verrel kembali merasakan sesuatu yang istimewa pagi ini. Panggilan honey dari Sintia, terdengar indah di telinga nya.
"Ayo makan lah, jangan bengong saja"
Sintia memasukan beberapa daging ke piring suaminya, lalu memasukkan sup iga ke dalam mangkuk dan menyodorkan nya pada suaminya.
"Ini sehat untuk kesehatan" ucap Sintia.
"Terimakasih"
Sintia menatap Verrel, menunggu reaksi pria itu ketika memakan masakan nya.
"Bagaimana rasanya? apa enak?.aku tidak tahu apa makanan kesukaan mu, tapi aku harap makanan ini cocok di lidah mu" cicit Sintia harap harap cemas.
Verrel tidak bereaksi, dia hanya diam sambil memakan makanan nya.
"Bagaimana, apa tidak enak?" tanya Sintia penasaran. Wajah nya sangat cemas, apalagi melihat Verrel tidak memperlihatkan reaksi apapun.
"Oh ayolah, katakan pada ku. aku ingin tahu, rasa nya bagaimana?"
Verrel masih diam, mulut nya mengunyah, tapi matanya memperhatikan ekspresi wajah istri nya.
"Buaahahahha..... Sayang, ini sangat lezat. Masakan mu sangat pas di lidah ku. "
"Benar kah?"
"Yah, tentu" Verrel berusaha mengendalikan tawa nya, kemudian menjelaskan satu persatu pendapat nya.
"Salmon, adalah makanan favorit ku, Ayam Goreng, bumbu nya sangat nikmat. Dan Sup iga-"
"Yah, sup iga nya kenapa?" sela Sintia penasaran. Verrel tiba-tiba menggantung kalimat nya.
"Ada apa?" desak Sintia.
"Rasa nya persis seperti yang ibu ku buat. Aku sempat terdiam ketika memakan nya, berpikir sejenak, bahwa ibu ku telah kembali. Ternyata kenyataan nya kamu yang memasak. Aku cukup tercengang"
"Sintia, kau mampu membuat ku terharu pagi ini. Terimakasih, kamu sudah membuat dahaga kerinduan ku terhadap masakan ibu ku jadi terpenuhi!"
Sintia tak bisa berkata apa apa lagi, melihat genangan air di pelupuk mata Verrel membuatnya ikut merasakan rasa sedih yang pria itu rasakan.
Tanpa berkata, Sintia mendekati suaminya. Memberikan nya pelukan hangat.
"Sudah, jangan bersedih lagi. Jika kamu ingin aku memasak nya lagi, akan aku lakukan "
"Terimakasih "
"Hei...Kenapa anda berterimakasih Mr Eldor?"
__ADS_1
"Huh?"
Verrel di buat tercengang mendengar teguran dari istri nya. Dia mengurai pelukan mereka, kemudian menatap bingung Sintia.
"Hem...Aku ini istri mu, sudah sepantasnya seorang istri memasak untuk suaminya. Jangan ucapkan terimakasih " kata Sintia menirukan logat Verrel ketika pria itu memberikan dia kartu ATM.
"Wahh...Istri ku sudah berani sekarang yah. Apa karena semalam aku membujuk mu hm? kau jadi besar kepala sekarang?"
Sintia bergidik bahu, kembali ke kursinya dan melanjutkan makan. Verrel mengulum senyum, dia tidak pernah merasakan hal semacam ini lagi. Dia lupa kapan terakhir dia bisa tersenyum lepas seperti ini.
Semenjak ibu nya meninggal, Verrel tak lagi pernah tersenyum. Dia selalu terlihat dingin dan marah. Membunuh musuh nya ketika mereka mulai memancing emosinya.
"Kau harta ku Sintia" gumam Verrel terdengar samar di telinga Sintia.
"Kamu ngomong sesuatu?"
"Huh tidak, aku tidak mengatakan apapun!" angkat Verrel berbohong. Dia kembali melanjutkan makan sup iga sambil memperhatikan istri nya.
Heboh!
Stasiun tv, surat kabar. Semua membicarakan soal kebangkrutan JS Grup.
Rendi baru saja keluar dari rumah sakit, dia belum mengetahui apapun. Begitu juga dengan Sela yang menggandeng tangan tunangan nya.
Sedangkan di dalam rumah, Asmar sudah gemetar menahan emosi nya. Dia tidak menyangka hari ini akan datang. Kekayaan yang melimpah, tiba-tiba hancur dalam sekejap mata.
Entah di mana letak kesalahan nya, Asmar tidak tidak menemukan titik puncak nya.
Semua skandal tiba tiba menghampiri nya tanpa sempat dia cegah.
"Sabar pa, Ini mungkin ada kesalahan"
"Bagaimana papa bisa sabar Kaila, Semua nya sudah hancur. Dan kamu tahu itu karena siapa?"
Ceklek.
Bertepatan saat itu pintu rumah terbuka, Rendi dan Sela muncul di sana.
"Dia!. Pria keparat ini lah penyebab nya!"
Rendi terkejut, papa nya tiba-tiba berkata kasar kepada dirinya.
"Pa. Ada apa ini?"
"Iya Om, kenapa om berkata seperti itu pada Rendi. Dia baru keluar dari rumah sakit!" Sambung Sela. Dia membantu Rendi duduk di sofa.
"Bajingan ini pantas mendapatkan nya! setelah membuat malu Keluarga ini, kau juga sudah menghancurkan Keluarga ku!"
"Pa!" tegur Rendi tidak tahan lagi.
"Beraninya kau berteriak pada suami ku!!!"
PLak!
__ADS_1