Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Adik Ku??


__ADS_3

"Bagaimana, apa kau sudah tahu kemana istri ku pergi?."


"Sudah, Sintia kembali ke rumah orang tuanya."


"Sial!." Tangan Verrel mencengkram kuat pada kertas yang ada di dalam genggaman nya.


Dia tidak terima jika istri nya kembali ke sarang itu. Namun, dia juga tidak bisa memaksa istrinya begitu saja kembali ke rumah bersamanya. Verrel harus bersabar dan mengumpulkan informasi untuk semua ini.


"Terus awasi dia, jangan biarkan bahaya mengancamnya!"


"Baik." Reno menunduk hormat, lalu keluar dari ruangan kerja Verrel. Meninggalkan pria itu dalam kegalauan nya.


Sampai saat ini, Verrel belum mendapatkan kabar dari istri nya. Mereka benar benar saling diam dengan kegiatan masing masing.


Di rumah nya, Sintia mempersiapkan segalanya. Mental dan strategi untuk memata-matai Danrem.


Dia saat ini sedang duduk di ruang tengah rumah nya. Sintia akui, dia cukup canggung berada jauh dari Verrel, meskipun dia hidup bersama pria itu belum sampai satu tahun.


"He, Lo ngapain di sini?"


Sintia bersikap acuh, dia bukan tidak dengar Sela berbicara dengan nya. Tapi, dia berusaha untuk menganggap wanita itu tidak ada di sekitarnya.


"Lo tuli yah, kenapa gak balas ucapan gue!" maki Sela mulai geram dengan sikap Sintia.


Wanita hamil itu menepuk bahu Sintia geram, dia yakin Sintia merasa perih di bagian bahu nya.


Tapi, wanita itu tetap tidak bergeming. Dia fokus dengan ponsel nya. Membuat Sela semakin geram hingga merebut ponsel itu dari genggaman tangan Sintia.


"CK. Kamu apaan sih. Kembalikan ponsel aku. Sini!"


Sintia mencoba merebutnya, dia juga menatap Sela dengan tatapan sinis.


"Berani sekali kamu membentak ku, Kau pikir siapa kau??" teriak Sela marah. Sintia pun tak kalah marah nyam Dia sudah lelah selama hidupnya di perdata oleh orang orang ini.


"Aku pemilik seluruh harta ini, kau bukan siapa siapa. Jadi enyah lah dari hadapan ku!"


"Apa? kamu bercanda. Atau kamu masih berpikir menjadi nyonya setelah di campakkan oleh Verrel!" cemooh Sela.


Sintia tersenyum manis, dia melangkah lebih dekat pada Sela yang tergagap dan bergerak mundur.


"Kamu pikir aku wanita rendah seperti mu hm? hamil besar, tapi tidak memiliki seorang suami? atau setelah jadi sampah di buang oleh Verrel? wahh....


Aku lebih beruntung, jauh lebih beruntung dari kamu. Dia menjadikan aku ratu, memberikan sebagian harta nya menjadi milik ku. Lalu dia membuang ku?? setidak nya aku di campakkan dengan rasa hormat"


"Kau!!" Sela ingin menampar Sintia, tapi tangan Sintia jauh lebih cepat menangkap tangan nya. Lalu, Sintia menghempaskan tangan Sela sedikit lebih keras.


"Jangan coba coba menyentuh ku, aku bukan wanita lemah seperti mu!" peringat Sintia penuh tekanan.


Sintia melengos pergi dari hadapan Sela, menyisakan keterkejutan bagi Sela dengan perubahan sikap Sintia yang terlihat jauh berbeda dari biasanya.


"Baru beberapa bulan bersama Verrel, kau sudah berubah banyak!" gumam nya mencemooh.

__ADS_1


Sintia masuk ke dalam kamar nya, saat baru duduk di tepi ranjang. wanita itu mendapatkan sebuah pesan dari orang kepercayaan nya.


Sintia pun bergegas mengambil tas dan kunci mobil nya. Dia harus pergi ke suatu tempat.


Sela yang masih berdiri di ruang tengah terkejut melihat Sintia kembali keluar. Tapi, wanita itu menjadi heran karena Sintia hanya melewatinya saja.


"Kemana dia?" gumam Sela menatap kepergian Sintia yang tergesa-gesa.


Sela ingin mengikutinya, tapi tiba-tiba perutnya kembali terasa keram.


"Aiss....Kenapa kau selalu rewel. Jika tidak mau cepat lahir, setidaknya jadi lah anak yang baik!" omel Sela pada bayi yang ada di dalam perutnya.


Sintia mendatangi rumah seseorang, dia yakin pria ini bisa membantu nya.


Siapa pria itu?. Tentu saja Mr topi. Entah mengapa Sintia merasa pria ini bisa membantunya.


Sintia datang ke apartemen Satria, di mendapatkan informasi dari anak buah nya tentang di mana alamat Satria yang sulit di dapatkan.


Ceklek.


Sintia langsung menyelonong masuk ke dalam apartemen Satria saat pintunya terbuka.


Satria cukup terkejut melihat kehadiran Sintia di rumah nya, bahkan wanita itu masuk begitu saja tanpa ia persilahkan terlebih dulu.


"Kau tidak sopan ternyata" dengus Satria.


"Aku tidak akan sopan pada orang yang pernah mengambil ponsel ku tanpa ijin dari ku" balas Sintia acuh.


Satria hanya menghela nafas gusar, dia pergi ke dapur untuk mengambil minuman kaleng di kulkas. Kemudian memberikan nya satu pada Sintia.


Sintia menatap minuman kaleng itu, kemudian menerimanya.


"Tidak masalah, jika kau meracuni ku. Maka aku akan menghantui mu hingga kau mati tragis" celetuknya lucu. Satria sampai tergelak mendengarnya.


Sambil minum, Sintia melihat ke sekeliling apartemen Satria. Cukup rapi untuk seorang pria seperti Satria. Meski tidak Serapi Verrel, Sintia cukup mengagumi apartemen itu.


"Apa yang membawa mu datang ke sini?" tanya Satria.


wanita itu tidak menjawab Dia terfokus pada sebuah lukisan yang terpampang jelas pada dinding ruangan tamu apartemen Satria.


karena heran melihat Cynthia yang hanya diam saja Satria pun mengikuti arah pandangan mata wanita itu.


"itu adalah lukisan keluargaku" ujar Satria membuat Sintia mengalihkan pandangan padanya.


"Apa aku boleh melihatnya?"


Satria mengangguk pelan tentu saja Sintia boleh melihatnya.


"silakan." jawab Satria.


Sintia pun langsung beranjak dari duduknya mendekati lukisan itu. entah mengapa dia merasa tertarik dengan orang-orang yang ada di lukisan itu.

__ADS_1


saat matanya menangkap sosok yang pernah ia lihat di dalam sebuah video yang viral katakan bahwa dia adalah orang tuanya membuat Sintia jadi penasaran dan bertanya pada Satria.


Satria ikut berdiri di samping Sintia melihat lukisan itu.


"Siapa mereka?"


"mereka adalah keluargaku, dia papaku, dia mamaku dan dia adikku" jawab Satria menjelaskan satu persatu siapa saja yang ada di dalam lukisan itu. Ada raut kesedihan di wajah nya mengingat tentang nasib keluarga nya.


Sintia sangat terkejut matanya membola sempurna ketika mendengar penjelasan dari Satria.


jika mereka adalah orang tua Satria itu artinya Mereka bersaudara.


Satria tersadar dari lamunannya dia menoleh pada Sintia yang kini berdiri kaku menatap lukisannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Satria heran, dia menarik Sintia agar berhadapan dengannya.


"hei kamu kenapa?" tanya Satria sembari menggoyangkan bahu Sintia agar wanita itu tersadar.


"Apa benar mereka orang tuamu? apa tidak salah?"


"Tentu saja tidak. Mereka adalah orang tuaku memangnya ada apa?." tanya Satria bingung.


Sintia menahan tangis dia langsung memeluk Satria dengan sangat berat.


"mereka juga orang tuaku"


Deg..


Satria sangat terkejut, dia melepaskan pelukan Sintia. Menatap wanita itu tidak percaya. Dia sempat berpikir jika Sintia berbohong dan menjadi suruhan Danrem.


Namun, dia teringat dengan pesan yang orang misterius kirimkan kepadanya. Dengan cepat, Satria langsung memeriksa lengan dan leher Sintia.


"Kau Adik ku??? Kau adik ku???" gumam Satria kembali memeluk Sintia setelah melihat ada tanda lahir yang sama seperti yang di miliki oleh adik nya pada Sintia.


"Kakak...."


Sintia menangis sejadi jadinya di dal pelukan Satria. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan keluarga nya yang sedarah dengan nya.


Niat Sintia datang ke rumah Satria bukan ini, awal nya dia ingin mengajak kerja sama. Tapi, mendadak karena lukisan itu, dan informasi dari Reno dan Verrel. Membuat Sintia bersatu dengan kakak nya.


"Terimakasih tuhan, engkau sudah mempertemukan aku dengan adik ku!" syukur Satria dalam hati.


Satria benar tidak tahu bagaimana bisa Sintia selamat dari peristiwa besar itu. Tapi, yang jelas dia merasa sangat bahagia dengan kehadiran adiknya di sisinya.


Setelah puas menangis, Satria kembali membawa adiknya duduk di sofa.


Menggenggam erat tangan adik nya seakan takut Sintia bisa hilang dengan tiba-tiba.


"Bagaimana kamu bisa tahu itu adalah orang tua kita?" tanya Satria sedikit penasaran. Apalagi semua bukti dan saksi mata telah lenyap. Akan sulit bagi adiknya untuk mengetahui siapa orang tuanya. Atau adik nya mengingat sesuatu tentang kejadian masa lalu.


Menurut Satria, kejadian itu sudah sangat lama. Adiknya yang masih kecil pasti tidak akan tahu apa apa.

__ADS_1


"Aku tidak tahu bagaimana, kisahnya. Verrel mendapatkan sebagian video yang kita lihat itu. Dia menunjukkan yang mana papa dan mama ku" jelas Sintia.


Satria mengerut Bingung. Tapi, dia tidak akan berpikir dulu untuk saat ini. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama sang adik yang sudah bertahun tahun tidak bertemu


__ADS_2