
Setelah pesta pernikahan selesai, Verrel membawa Sintia ke kamar nya. Kini kamar itu sudah menjadi kamar mereka berdua.
Selama perjalanan menuju ke kamar, Sintia tampak murung, dia tidak banyak bicara.
Sintia menatap kamar Verrel, terlihat sederhana namun mewah. Ini pertama kalinya Sintia masuk ke kamar pria berwajah dingin ini. Sebelumnya, Sintia hanya di bawa ke kamar Widia, ke ruang tengah dan ruangan tersembunyi.
Sulit di ucapkan dengan kata kata, Sintia sangat menyukai nuansa kamar Verrel. Tidak norak, namun nyaman di pandang mata.
Verrel masuk ke dalam kamar mandi, dia merasa sesak dan ingin membasuh wajah nya.
Sedangkan Sintia, dia melihat meja rias di samping ranjang tidur, dengan segera dia mendekati meja itu dan mulai melepaskan segala yang menempel di rambut dan wajah nya.
Menatap pantulan tubuh nya di cermin, Sintia mulai mempertanyakan apa tujuan dirinya melakukan semua ini.
Pernikahan nya meriah, namun kedua orang tuanya tidak turut hadir.
Apa karna ingin melihat kakak nya sakit hati? tidak. Sintia merasa bukan itu tujuan utamanya menikah dengan Verrel.
Setelah apa yang dia lakukan bersama Verrel. Sedikit pun mereka tidak pernah melakukan hal yang berbau balas dendam.
Bahkan, Sintia merasa Verrel seakan menjauhkan dirinya dari orang orang yang menyakitinya. Seperti dari kakak nya, dan orang orang yang pernah menyakitinya.
"Aku tidak tahu, apa yang aku lakukan ini baik untuk ku, atau bahkan malah membuat ku semakin hancur"
Sintia menghela nafas berat dan menghembuskan nya perlahan , kemudian dia melanjutkan aktivitas nya menghapus make up.
Ceklek.
Verrel keluar dari kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk sebagai penutup bagian bawah tubuh nya.
"Arrrr....Ke-kenapa Kamu ti-dak memakai baju?" teriak Sintia terbata bata, dia langsung berbalik membelakangi Verrel sembari menutup kedua matanya.
Verrel terkejut, secara spontan dia menyilang kan kedua tangan nya di depan dada.
Ini adalah pertama kali bagi Sintia melihat seorang pria bertelanjang dada.
"Mengapa kamu terlalu terkejut?" tanya Verrel heran. Dia mulai menurunkan tangan nya, lalu berjalan mendekati Sintia.
Sedikit menggelikan melihat respon Sintia seperti ini. Dia seakan tidak pernah melihat tubuh seorang pria.
"Jangan bilang, kalau kamu tidak pernah melihat tubuh laki-laki"
"Tentu saja tidak!" jawab Sintia cepat.
Seulas senyum tercetak di bibir Verrel. Ternyata, tidak hanya dendam nya terbalaskan, tapi dia juga mendapatkan berlian yang sangat indah.
Zaman sekarang, sangat sulit mencari wanita polos tanpa terjamah oleh laki laki.
__ADS_1
Deg.
Sintia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit nya. Lalu, kemudian dia merasakan tangan kekar dan hembusan nafas hangat meniup ceruk lehernya.
"Mulai sekarang, kamu harus terbias melihatnya. Bahkan menyentuh nya"
Tubuh Sintia langsung mendadak kaku, ini sangat asing baginya.
"A-apa yang kamu lakukan? ke-"
"Sstt....Jangan menanyakan apapun yang aku lakukan honey, lihat dan nikmati lah. Sekarang, kamu adalah istri ku. Apapun yang aku katakan, itulah yang harus kamu kerjakan"
Jleb.
Sintia mulai khawatir, Verrel mulai terasa berbeda dari pria yang beberapa hari lalu bersama nya. Sintia seakan tidak lagi mengenal Verrel.
Cup.
Verrel mengecup pipi Sintia dari samping, barulah dia melepaskan pelukan nya.
"Mandi lah, setelah itu beristirahat. Aku akan kembali sekitar pukul 10 malam" suruh Verrel. Dia mengenakan pakaian nya, merapikan penampilan nya. Kemudian melenggang keluar dari kamar.
Kini, tinggallah Sintia sendiri di dalam kamar yang sangat luas ini.
Dia mulai khawatir, dan merasa jika ucapan papa nya benar. Verrel bukan orang yang tepat.
Namun, Sintia malah merasa aman bersama nya. Dia hanya tidak terbiasa dengan sikap Verrel yang sedikit di luar dugaan.
Tuk! Tuk!
"Masuk!"
Terdengar suara pintu terbuka, lalu tertutup lagi.
Lena masuk ke dalam kamar majikan nya. Dia membawa nampan berisi makanan di tangan nya
"Nona, tuan menyuruh ku untuk membawakan nona makanan. Katanya, ketika pesta tadi,nona belum makan apapun"
"Apa kau bertemu dengan ve- maksud ku, suami ku?" tanya Sintia terkejut.
"Tadi tuan mencari ku di dapur, dan dia memberiku perintah.
Tidak kah menurut nona suami nona sangat manis? berbeda dengan Rendi yang tidak peduli dengan nona"
Sintia terdiam, baru saja tadi dia berpikir yang tidak tidak tentang suaminya.
Kini dia malah menyangkal pemikiran nya itu. Verrel memiliki cara nya sendiri dalam menghargai seorang wanita.
__ADS_1
"Ini nona makan lah, sebelum tuan datang dan.." Lena menggantung ucapan nya, dia menutup mulutnya yang tersenyum malu.
"Dan apa Lena, berbicara lah yang jelas" dengus Sintia.
"Ah tidak apa apa nona, aku hanya mengatakan, bahwa nona harus menyimpan tenaga yang cukup. Dengan makan banyak contoh nya" cercah Lena panjang lebar.
"Kau semakin ngawur, aku akan tidur. Tidak perlu terlalu banyak memakan makanan, apa kau ingin aku gemuk?" Sintia menatap pelayan nya sinis.
"Ah tidak nona, mana mungkin aku melakukan hal itu" sangkal Lena menggeleng kuat.
"Lalu apa?" tanya Sintia nyolot.
"Ah tidak apa apa, lanjutkan. Makan lah yang banyak nona. Aku harus pergi sekarang "
Buru buru Lena keluar dari kamar majikan nya, sebelum berbagai pertanyaan di lontarkan padanya.
"Ah, nona ku benar benar polos. Masa seperti itu saja tidak mengerti"
Sementara itu, di lain tempat. Verrel berhadapan dengan seorang pria yang berusia tak jauh berbeda dengan dirinya.
"Bagaimana tuan Eldor. Apa anda setuju?"
Pria itu menatap boss mafia itu penuh harap, masa depan perusahaan nya tergantung dari keputusan nya.
"Aku bisa melakukan nya, tapi ada syaratnya."
"Apa tuan, apapun itu. Akan aku lakukan, asalkan tuan mau membantu perusahaan ku!"
Verrel berdiri dari duduk nya, menatap kota dari jendela kaca ruangan kerja nya.
"Hancurkan perusahaan Jackson! maka, investasi besar akan masuk ke dalam perusahaan mu!"
Pria itu terkejut, dia tidak menyangka Verrel akan mengatakan hal itu.
Bukan tidak mampu, tapi pria itu hanya heran. Perusahaan yang selama ini tidak memiliki musuh atau masalah dengan orang di dunia gelap ini.
"Apa kau bisa?"
Pria itu tersentak, lalu mengangguk cepat.
"Tentu saja bisa tuan, tugas ini hanya hal kecil bagi ku!"
"Bagus, aku beri waktu 3 hari. Jika mereka bisa hancur dalam waktu 3 hari, maka investasi langsung masuk ke perusahaan mu!"
"Baik tuan!" jawab pria itu patuh, meskipun dia tidak tahu alasan nya, dia tetap akan melakukan nya demi keselamatan perusahaan nya.
"Bagus!"
__ADS_1
Verrel tersenyum puas, apa yang dia inginkan. Pasti akan dia lakukan, termasuk menghancurkan orang yang telah menyakiti istri nya.
"Tidak ada kata ampun,bagi kalian yang bersalah!"