Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Malam Pertama


__ADS_3

Setelah membersihkan riasan nya, Sintia langsung mandi dan berganti pakaian ke yang lebih santai.


Sintia bukan tipe wanita yang harus memakai baju tidur, dia biasa memakai baju apapun, asalkan baju kaos dan celana panjang maupun pendek tidak masalah.


Setelah berganti pakaian, Sintia bersiap ingin tidur. Dia berniat tidur lebih dulu sebelum Verrel kembali.


Sebelum tidur, Sintia memakai skincare nya terlebih dulu.


"Ok, Sekarang kamu harus tidur. Seb-" belum sempat selesai kalimat nya, pintu kamar sudah terbuka.


Verrel muncul di balik nya, dan berjalan masuk. Pria itu menutup pintu dengan hempasan keras.


Blam.


"Ahk"


Sintia terpekik pelan, dia terkejut mendengar hempasan kuat itu.


Verrel menoleh kearah istrinya, senyum kecil terbit di bibirnya. Apalagi melihat tubuh istrinya yang mendadak kaku.


Verrel bergerak mendekati istrinya, Verrel melihat tangan Sintia mencengkram erat botol skin care. Mengabaikan hal itu, Verrel terus mengikis jarak di antara mereka.


"Kenapa kamu terlihat sangat gugup Sintia, apa kamu takut dengan ku?"


"tidak! kenapa harus takut?" sangkal Sintia, dia berusaha agar terlihat biasa saja. Tubuh nya seakan mengkhianati nya, Sintia terlihat sangat tegang sekarang.


Verrel yang melihatnya jadi tertawa pelan.


"Tidak takut, tapi gemetar?" sindirnya.


Sintia mengabaikan usapan Verrel, dia berusaha mendorong dada bidang Verrel, agar sedikit menjauh dari nya.


"Minggir Verrel!"titah nya.


"Kenapa? apa aku tidak boleh mendekati istri ku sendiri?" balas Verrel balik bertanya, dia semakin mempersingkat jarak mereka. Semakin menyudutkan Sintia pada meja rias nya.


"Aku kesulitan bergerak jika kau terlalu dekat! mundur lah!"


"Kalau aku tidak mau bagaimana?"


Sintia terdiam, dia merasakan tangan hangat Verrel meraba dagu runcing nya.


"Verrel ingat lah batasan mu! Ingat alasan mengapa kita menikah!" ujar Sintia mengingatkan Verrel. Dia lupa jika Verrel bukan lah pria biasa, namun pria luar biasa yang tidak suka di atur.

__ADS_1


"CK. Kamu lupa Sintia? aku sudah mengatakan. pada mu. Ini bukan sebatas kesepakatan."


"Lalu apa?" balas Sintia cepat.


"Ini adalah kesempatan!"


"What?"


Sintia mengerut bingung, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Verrel. pria ini terlalu sulit untuk di tebak.


"Sebelum menikah, aku sudah mengatakan padamu. Kau akan menjadi milik ku seutuhnya. Apapun yang aku inginkan, maka kau harus memberikan nya"


"Verrel sadar lah, ini bukan jalan yang kita inginkan!"


"Diam Sintia!" Verrel sedikit memberi jarak di antara mereka. Membiarkan Sintia bernafas lega.


"Lihat Sintia, lihat lah dirimu. wanita cantik yang baru saja menikah dengan seorang yang hebat. Kai tahu?" Verrel kembali menghimpit Sintia di meja rias nya.


"Aku sangat ingin menikmati mu malam ini juga, menikmati apa yang selama ini telah kau jaga.


oh aku yakin ini sangat nikmat dan kau pasti juga akan menikmati nya"


Sintia bergidik ngeri, bulu Roma nya langsung berdiri ketika merasakan hembusan hangat nafas Verrel di ceruk lehernya.


Mendengar teguran itu, membuat Verrel menghentikan kegiatan nya.


Mata bulat nya, menatap tajam ke manik mata Sintia. Memberikan Singal pada Sintia, agar segera lari.


Namun, tubuh Sintia kembali berkhianat. Pikirannya menyuruh nya segera lari, namun tubuhnya memilih untuk diam.


"Aku tidak suka di hentikan, kau tahu? siapapun tidak berani melakukan hal itu!" ucap Verrel terdengar dingin.


"Tapi, aku berani!" tantang Sintia. Dia sudah pasrah, apapun yang akan terjadi selanjutnya dia akan menerimanya. Terpenting saat ini, dia tidak boleh terlihat takut.


Verrel tersenyum miring, dia berdecak kagum melihat keberanian Sintia. Istri cantik dan perawan milik nya.


"Wah Sintia,kau membuat ku semakin ingin!"


Verrel kembali mendekap tubuh Sintia, sengaja menyapukan nafas hangat nya ke leher perempuan itu.


Tubuh Si Tia memegang,membuat Verrel tersenyum menang. Dia memberi sedikit jarak di antara mereka. Lalu, dengan cepat Verrel mengangkat tubuh Sintia naik ke atas meja rias.


Tanpa memberi kesempatan Sintia menolak nya, Verrel langsung menciumi bibir perempuan itu. Menikmati setiap inci rongga mulut yang tidak pernah terjamah oleh laki laki manapun kecuali dia sendiri.

__ADS_1


Verrel merasa sangat nikmat, dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Bibir Sintia seakan candu baginya. Sulit bagi Verrel untuk melepaskan bibir lembut Sintia.


Hingga tak lama kemudian, Sintia memukul dada Verrel, karena dirinya sudah kehabisan nafas.


Verrel melepaskan pangutan bibir nya dari bibir Sintia. Kemudian kembali menyerang nya lagi.


"Kenapa begitu nikmat" desis Verrel tertangkap oleh Indra pendengaran Sintia.


entah mengapa membuat wanita itu merasa senang. Melupakan ras gengsi nya, Sintia kini mengalungkan lengan nya pada leher jenjang Verrel.


Tidak dapat di pungkiri, Sintia juga bukan manusia munafik. Dia juga merasakan nikmat yang Verrel rasakan.


Pengalaman pertama ya g luar biasa, hanya bersama Verrel. Suami nya,dan di malam pertama nya.


"Ahk.." pekik Sintia saat Verrel dengan sengaja menggigit kecil bibir Sintia. Agar perempuan itu secara spontan membuka mulut nya, dan membuat dirinya lebih mudah mengakses rongga mulut Sintia.


Cukup lama mereka berciuman, akhirnya Verrel melepaskan nya. Nafas nya terengah, mata nya menatap lekat Sintia yang hanya menunduk, tidak berani memandang wajah nya.


"Kau membuat ku gila, sialan. Aku tidak bisa menahan nya!" umpat Verrel.


Pria itu dengan sigap mengangkat tubuh Sintia, lalu menggendongnya menuju ke ranjang besar yang kini di penuhi oleh kelopak bunga mawar.


Blam.


Sintia di lempar ke atas ranjang, di tengah tengah tumpukan kelopak mawar. Sehingga membuat kelopak mawar itu berserakan di mana mana.


Tanpa memberi Sintia kesempatan untuk menghindar, Verrel langsung menindihnya. Kembali menyerang bibir perempuan itu.


Sedangkan tangan Verrel sibuk merayap ke sekujur tubuh Sintia. Mencoba merangsang wanita angkuh ini, dan membuainya dengan nafsu.


Untuk kelanjutan aksi mereka, biarlah parah pembaca yang membayangkan nya.


Yang pasti, malam itu Sintia di buat melayang oleh Verrel. Merasakan sakit nya kehilangan mahkota suci nya.


Entah berapa lama mereka melakukan nya, Sintia tidak bisa menghitungnya. Dia sudah kelewat lelah dan akhirnya tertidur pulas.


Sedangkan Verrel, dia tersenyum puas. Sesuai yang dia harapkan, Sintia benar benar virgin. Dia adalah pria pertama yang memasukinya. Dan akan menjadi pria terakhir.


"Good night honey" bisik Verrel, lalu dia pun ikut menyusul istrinya ke alam mimpi. Tangan nya memeluk tubuh polos Sintia dari dalam selimut.


Pria itu tidak sadar, dia mengatakan good night pada istri nya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 5 subuh.


Pengalaman yang indah, meskipun tanpa cinta. Kedua nya sama sama menikmati. Dan paling utama adalah mereka melakukan nya sama sama sadar dan di dalam status yang jelas

__ADS_1


...Thanks You...


__ADS_2