
"Sudah Verrel, aku akan melakukan sendiri"
"Tidak!, aku yang akan melakukan nya!"
"Tapi-"
"Sudah diam, jangan banyak bergerak!"
Sintia menghembuskan nafas pasrah, dia membiarkan Verrel mengompres es batu pada kulit pipi nya yang memerah.
"Akh"
Verrel langsung meniup pipi Sintia, saat wanita itu terpekik sakit.
"Maafkan aku, apa sesakit itu?"tanya pria itu khawatir.
"Tentu saja, karena kau menekan nya terlalu kuat" Rajuk Sintia.
Verrel berusaha lebih lembut, dia tidak tahu jika Sintia mengerjai nya.
Di seberang mereka, Widia dan Reno saling berpelukan. Melihat keromantisan Verrel dan Sintia.
"Aku tidak menyangka, akhirnya bisa melihat Verrel sebucin ini pada wanita"
"Yah, aku harap ini hal yang baik"
Kening Widia mengerut, dia mengurai pelukan nya pada suaminya.
"Maksud nya apa? kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Ah tidak apa apa, aku hanya bergumam tidak jelas" Reno kembali memeluk istrinya. di jelaskan pun sekarang, Widia juga tidak akan mereka.
"Aku hanya berharap perjalanan mereka baik baik saja" batin Reno.
Setelah selesai mengobati istri nya, Verrel dan Reno pergi ke suatu tempat. Di mana tempat itu di jadikan sebagai penahanan orang yang bersalah.
"Salam boss!" sapa penjaga pintu depan saat melihat kedatangan boss nya.
Verrel dan Reno melangkah masuk ke dalam ruangan interogasi. Tidak ada aurah kedamaian, melainkan hanya ada aurah kematian.
sorot mata tajam, kemarahan dan kematian. Terlihat jelas dari sorot mata Verrel.
"Bawa dia ke mari!!" titah Reno.
"Siap!"
Pria berbaju hitam dengan pistol di tangan mereka langsung berbalik pergi. Melaksanakan apa yang Reno perintahkan.
Verrel duduk dengan tatapan tajam di balik kaca mata hitam nya.
Dua pria tadi kembali, dia membawa pria yang berani menyentuh Sintia.
bruk!
Pria itu jatuh tersungkur, wajah nya di penuhi oleh luka lebam. Selain di hajar oleh Verrel, anak buah Verrel juga telah menghajarnya.
Tubuh pria itu bergetar, dia menatap Verrel dengan mata melebar.
__ADS_1
"Duduk kan dia, jangan beri dia kesempatan untuk berbaring!" suruh Verrel dengan nada suara dingin.
Pria bersenjata itu mengangguk, mereka langsung mendudukkan pria itu dengan paksa di atas kursi besi yang sudah di panaskan.
"Aarrrrrgg" Pria itu langsung berteriak kesakitan, saat merasakan panas nya besi membakar kulit nya. Celana jean yang dia kenakan tidak sanggup menahan panas nya besi itu.
"Tolong ampuni aku!!" mohon nya pada Verrel.
"Kau salah memohon, dewa kematian mu tidak akan memberi mu mati dengan nikmat" Reno tersenyum menyeringai.
"Tolong bunuh saja aku, jangan siksa aku seperti ini!" erang nya terdengar memilukan.
"Cih. Tidak akan semudah itu!" Verrel bangkit seraya berjalan mendekati pria itu.
"Setelah apa yang kau lakukan pada istri ku, sekarang kau memohon agar aku meminta ampun kepada mu? cuih..Bermimpi pun kau tidak akan mendapatkan nya!"
"Tolong, aku mohon. Jangan siksa aku, aku tidak melakukan semua ini atas keinginan ku, aku hanya menjalankan perintah!"
"Aku tahu itu, dan kau menjalankan perintah tentu sudah tahu resiko nya!" balas Reno geram.
"Beri dia C" titah Verrel menyebutkan kode hukuman pada anak buah nya.
"Baik boss!" pria yang memegangi pria jahat itu langsung mengambil sebuah alat dan langsung menghantamkan pada pria jahat itu.
Seketika itu, suara rintihan kesakitan langsung menggelegar di dalam ruangan kedap suara tersebut.
"Katakan! siapa yang telah menyuruh mu?" tanya Verrel.
Pria itu tidak mau menjawab, dia terus menahan sakit di kedua lengan nya.
"Ok baiklah, tambah dosis nya!!" titah Verrel.
"Arrrggg......."
"Tambah terus!!!"
Pria jahat itu tak bisa berteriak lagi, suaranya seakan habis karena terlalu kuat berteriak.
"Mr Topi. Dia yang menyuruh ku!"
"Apa?"
"Dia menyuruh ku untuk menghancurkan pasar. Dia juga yang menyuruhku untuk melecehkan istri mu!"
Dor!!
Dor!!
Seketika pria itu bergetar menahan sakit, lalu terkulai kaku. Dia tidak bergerak lagi, dia sudah tiada.
Verrel terkejut, siapa yang telah menembak tawanan nya.
"Siapa yang telah melakukan ini???" teriak Verrel marah. Dia belum selesai mendapatkan informasi nya.
"Ada sebuah drone!" seru anak buah nya.
Verrel menggeram marah, " itu pasti mr topi!"
__ADS_1
"Aku akan menghancurkan nya!" seru Reno. Dia segera berlari keluar ruangan, lalu menembak Drone pengintai.
"Sial! aku belum selesai. Tapi kau sudah mengakhiri nya Mr Topi! "
"Lihat saja, Aku akan membuat hidup mu hancur. Kau berani memulai peperangan dengan ku Mr Topi."
...----------------...
Danrem masuk ke ruangan kerja nya. Dia melihat Asmar duduk dengan putus asa.
"Ada apa kau mencari ku?" tanya Danrem. Dia duduk di depan Asmar.
"Aku tahu, kau pasti sudah mendengar berita tentang aku kan?"
"Yah tentu saja, semua dunia membicarakan keruntuhan mu" balas Danrem.
Terdengar helaan nafas pasrah dari Asmar. Dia benar benar putus asa saat ini.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Danrem.
Asmar menggeleng, sejujurnya dia juga tidak tahu ingin melakukan apa.
"Kau tahu bukan, aku hanya memiliki satu teman. Yaitu dirimu."
"Yah lalu?" Danrem mulai mencium maksud dari sahabat nya ini. Mereka memang berteman sejak lama, sejak mendirikan singgah sana JS grup dan Rafs Grup.
"Begini Danrem, aku tahu ini sedikit aneh. Tapi, aku yakin aku bisa mengandalkan mu."
"Jangan berbelit belit Asmar, langsung saja ke intinya.
Hufff..
Asmar kembali menarik nafas dalam, sebelum dia melanjutkan penjelasannya.
"Kehancuran ku adalah serangan gatal dari Eldor! pria licik yang melampiaskan kemarahannya pada keluarga ku! Kau pasti sudah mendengar masalah putra ku dengan Verrel Eldor.Dan kau juga tahu itu di sebabkan oleh Sintia!" Danrem diam mendengarkan.
"Aku tahu, putra ku salah Danrem. Tapi, tidak seharusnya Eldor menghukum kamu seperti ini!"
"Apa kau sudah gila Asmar? mungkin memang, sebagian dari kemarahan ini di sebabkan oleh pertengkaran putri ku dan putra mu yang tidak memiliki akal sehat. Namun, sebagian besarnya adalah permusuhan JS group, Rafs grup dan Eldor grup! Apa kau telah melupakan nya?"
Asmar menggeleng, tentu dia tidak akan melupakan kejadian 20 tahun lalu.
"Ini adalah awal dari semua itu Asmar. Eldor telah mengincar Keluarga ku terlebih dulu, sebelum dia menghancurkan dirinya. " terang Danrem.
"Kamu tahu, kenapa kau lebih hancur dulu ?? Itu karena putra tidak berguna mu telah membuat berbagai kesalahan. Sehingga kalian dengan mudah hancur karena bukti bukti terlalu kuat!" sambung Danrem.
Asmar mengangguk, dia tahu akan hal itu. "Putra ku memang sangat tidak berguna"
"Sebenarnya, aku lebih hancur Asmar. Putri ku yang mulia, tidak bersalah, tapi dia yang harus terjebak di dalam situasi sulit ini!"
"Putri bungsu ku tidak tahu apa apa Asmar, dia hanya gadis polos yang mendapatkan ketidak adilan nya. Dia menderita sejak kecil, tapi aku lemah. Aku tidak bisa melakukan apapun!"
"Maaf, tapi kita bisa mengatasinya. Seperti di masa lalu, kita akan kembali menambah!" ucap Asmar menyemangati.
"Tentu!"
Keduanya saling bersalaman, menyemangati satu sama lain.
__ADS_1