Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Perlahan Tapi Pasti


__ADS_3

Brak!


Sela masuk ke dalam ruangan penyekapan Sintia. Dia tidak tahu, bahwa ruangan itu sudah di pasangkan cctv oleh Sintia.


Di mana pun, semuanya sudah Sintia setting. Kini, mereka hanya perlu menunggu kapan waktu nya untuk kalah.


"He, Sintia. Bangun kamu!"


Sela menendang kaki Sintia, membuat wanita hamil itu bergerak sedikit.


Dia membuka matanya pelan, menatap Sela dengan tatapan datar.


"Dasar pemalas, bangun kamu." Bentak Sela.


Sintia memejamkan matanya kembali, kepalanya terasa sakit dan pandangan matanya berkunang kunang.


Sejak kemarin, Danrem dan yang lain nya tidak memberi Sintia minum setetes pun.


Bruk!


Sintia merasakan nyeri di perutnya. Sela dengan sengaja menendang perut Sintia.


"Sialan kau!" Teriak Sintia marah. Namun hanya dalam hatinya saja. Mulut Si tua masih terlakban.


Dia berusaha menahan nyeri dengan rasa khawatir tentang kondisi bayinya. Apalagi dirinya yang kekurangan cairan ini.


"Heh, berani sekali kau menatap ku seperti itu!"


Sela berjongkok, menarik rambut Sintia kuat. Membuat wanita lemah itu mendongak ke atas.


Dengan senyum menyeringai, Sela menatap Sintia dengan penuh kebahagiaan. Dia suka melihat ketidak berdayakan Sintia.


"CK, aku jadi ingat. Ketika kau berlagak sombong pada ku tempo hari" decak Sela.


Sintia menatap tajam pada Sela, semua sumpah serapahnya ia lontarkan di dalam hatinya.


"Hahahaha..... Mau menyumpahi aku yah?? atau mau meledakkan semua tempat ini? uuu... "


"Sayang sekali, kau tidak berdaya.."


Sela kembali tertawa, menepuk nepuk wajah mulus Sintia.


Di saat Sela asik mengejek Sintia, tiba-tiba Danrem dan Asmar masuk ke dalam ruangan itu.


Menutup dengan rapat ruangan kedap suara itu.


"Sela!"


"Iya pa" sahut Sela.


Wanita hamil itu langsung menghempaskan Sintia ke lantai, kemudian berdiri di samping papa nya.


Asmar mendekati Sintia, mengusap pelan bibir pucat yang sedikit pecah pecah di sudut bibirnya. Menandakan bahwa Sintia kekurangan cairan.


"Seharusnya, kamu tidak perlu menanggung semua kesakitan ini Sintia. Tapi, kamu sudah melewati batas. Kamu malah membuat semuanya menjadi kacau." ujar Asmar.


Sejujurnya, Asmar memiliki rasa simpati pada Sintia. Dia sempat melupakan bahwa Sintia adalah putri kandung Hino dan Feli ketika Sintia menjadi kekasih putranya.

__ADS_1


Namun, melihat Sintia menikah dengan Verrel. Kemudian melakukan pemberontakan ini. Asmar jadi tidak menyukai Sintia. Dia berniat ingin membunuh Sintia setelah mereka mendapatkan Mutiara Naga hijau.


Danrem tersenyum miring, menatap Sintia dengan tatapan mengejek karena wanita itu benar-benar terlihat tidak berdaya.


"Sela, lepaskan lakban nya. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu." Suruh Danrem pada Sela.


"Tapi pa, kalau dia mengatakan perintah untuk bom nya bagaimana?"


"Kamu gila, ini ruangan kedap suara. Mana mungkin bisa terdengar keluar!" Serga Danrem marah dengan kebodohan putrinya.


Sela pun cepat cepat melakukan apa yang di perintahkan oleh papa nya sebelum dia kena marah lagi.


Trak.


Tanpa ada kelembutan, Sela menarik lakban dari kulit wajah Sintia.


"Akshh..." Erang Sintia merasakan perih di bibir dan pada kulit sekitaran bibirnya.


Dia merasa lakban itu membawa kulit wajahnya.


"Apakah perih?" tanya Asmar mengejek.


Sintia tidak menjawab, dia hanya menatap mereka semua dengan tatapan marah.


plok plok.


Asmar menepuk wajah Sintia, " Kamu jangan menatap ku begitu, katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Sebelum nyawa mu melayang"


"Benar Sintia, sebaiknya kamu gunakan waktu kamu untuk menghirup udara segar." Sahut Danrem.


Mereka tertawa bersama mengejek Sintia yang mempersiapkan kata kata yang akan dia ucapkan.


"Aaarrkkkk!!!" teriak Sintia menahan sakit. Dia merasakan jari nya akan pecah.


"Sintia!!!!!!!" Teriak Verrel secara spontan saat melihat adegan itu di layar monitor Gion.


kedua tangan nya mengepal, emosinya benar benar tidak bisa dia tahan.


"Sudah cukup Gion. Aku tidak mau menunggu lagi. Istri ku tersiksa. Aku tidak akan memberi merek ampun!"


Verrel akan keluar dari ruangan itu, dia bersumpah akan membunuh Danrem dan semua orang orang nya.


Baru saja Verrel memegang ganggang pintu. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Sintia lagi.


"Ruangan C Barat Hancur!!!"


Duarrr....


Gion langsung mengubah fokus monitor ke rekaman cctv yang lain.


Terlihat jelas, di mana sebuah ruangan meledak di gedung rumah Danrem.


Verrel mengurungkan niatnya, dia berbalik dan menatap ke layar monitor.


"Lihat lah, Adik dan istri kalian sangat hebat." Ujar Gion tersenyum bangga.


Gion tidak menyangka Sintia akan sepintar ini. Semua yang dia rancang, sesuai dengan prediksi nya.

__ADS_1


Di ruangan tempat Sintia di sekap. Danrem menatap marah pada Sintia. Dengan cepat dia menyuruh Sela kembali menempelkan lakban ke mulut Sintia.


"Huh. Bagaimana mungkin bisa meledak? bukan kah ruangan ini kedap suara??" marah Asmar pada Danrem.


"Tentu saja ruangan ini kedap suara. Bahkan, jika bom meledak di dalam ruangan ini tidak akan terdengar keluar!" jawab Danrem.


Si tua tertawa dalam hati, melihat musuhnya pada kebingungan.


Sudah jelas ruangan ini kedap suara. Namun, Cctv nya menyerap suara. Ketika Sintia mengucapkan sesuatu. Maka Sistem yang sudah dia rancang akan mendengarkan juga.


Di saat kebingungan mereka, Sela melihat benda aneh di sela sela jam dinding. Di sana juga terdapat tempelan hiasan bunga yang menjanggalkan.


"Apa itu"


Sela langsung meraihnya. Lalu membawanya ke hadapan Danrem.


Sintia melebarkan matanya, Berakhir sudah harapan. Dia sudah ketahuan, dan pastinya akan kehilangan nyawa.


"Baby, tolong tetap kuat. Mami akan membuat kamu tetap hidup hingga kamu melihat duni ini" batin Sintia berjanji pada calon anak nya.


"Ini adalah Cctv, bisa mendengar suara juga!" ucap Danrem.


Asmar mendekat, dia melihat benda itu dari tangan Danrem.


"Benar. Pantas saja dia bisa meledakkan gedung ini" decak Asmar.


Danrem mengemas cctv mungil itu. Lalu membantingnya ke lantai. Sehingga cctv itu hancur tanpa berbentuk lagi.


Mandiri di ruangan Gion pun langsung rusak. Koneksi langsung terputus.


Tok!! Tok!!!


"Masuk!" seru Danrem dengan suara lantang. Dia lupa jika ruangan ini kedap suara.


"Papa, ini kedap suara!" dengus Sela mengingatkan. Lalu, dia pun membuka pintu ruangan itu.


"Lapor nona" hormat anak buah Danrem pada Sela.


"Ada apa?" tanya Sela ketus.


"Maaf nona, ini darurat. Ruangan C bagian barat telah meledak. "


"Aku tahu!" jawab Sela cuek.


"Apa hanya itu?" tanya Sela lagi, dia hendak kembali ke hadapan papa nya.


"Tunggu nona, dengarkan penjelasan aku dulu. Di dalam ruangan C itu. Nyonya besar sedang istirahat. Ketika kami memeriksa nya. Nyonya sudah hangus!" jelas pria itu membuat langkah kaki Sela terhenti.


"Apa?"


Sela kembali mendekati nya, air mata sela sudah berceceran di lantai. Dia syok mendengar kabar ini.


"Apa kamu serius? "Tanya sela tidak percaya.


"Benar nona, saya tidak bohong. Ijinkan saya memberitahu tuan" ucap Pengawal itu.


"Memberitahu apa?" tanya Danrem mendekati putrinya yang terlalu lama mengobrol dengan pengawal nya.

__ADS_1


"Papa... Mama... Mama"


__ADS_2