
Verrel dan Satria terkesiap, mereka sudah ketahuan. Semua cctv telah di hancurkan.
Mereka tidak bisa menahan lagi, Sintia harus segera di selamatkan.
Gion juga tidak bisa memberikan pilihan lagi. Dia terpaksa mengikuti apa yang Satria dan Verrel inginkan.
Keselamatan Sintia terancam saat ini. Mereka tidak bisa melihat apa yang Danrem lakukan pada wanita itu sekarang.
Melihat Verrel yang sangat mencintai adiknya. Satria jadi mengubah pola pikirnya tentang Verrel. Dia ingin memberitahu Verrel, bahwa adiknya saat ini tengah hamil.
Namun, Satria merasa ini bukan moment yang pas. Dia akan menunggu waktu yang pas, atau mungkin setelah menyelamatkan adiknya barulah dia akan memberitahu Verrel.
Pasukan telah siap, mereka berangkat menuju ke kediaman Danrem yang terletak sedikit ke pinggiran kota.
Dalam sekejap, rumah yang setengah sudah hancur lebur oleh beberapa ledakan bom sudah terkepung oleh anak buah Verrel.
Mereka mulai meluncur masuk ke dalam, memeriksa setiap ruangan yang tersisa.
"Seperti nya gedung ini sudah kosong" ujar Reno.
"Benar, tidak ada satu orang pun yang ada di sini" sahut Gion.
Satria memerintahkan anak buah nya untuk memeriksa ke seluruh tempat yang ada. Dia tidak percaya jika tempat ini sudah kosong. Kemana mereka membawa Sintia pergi.
"Lapor boss, Tempat ini sudah benar benar kosong. Tidak ada satu ruangan pun yang berpenghuni " lapor salah satu anak buahnya.
Satria mendengus kesal, dia kehilangan jejak adik nya.
"Sial! Kemana mereka membawa adikku pergi!" teriak Satria marah.
Brak!
Verrel keluar dengan ngamuk, amarah nya pada Danrem semakin memuncak. Rasa ingin membunuh pun semakin besar di hatinya.
Sedangkan Gion, dia berusaha melacak Sintia menggunakan alat canggih nya.
"Ayah, apa yang ayah lakukan?" tanya Widia heran, melihat ayah nya sibuk dengan komputer nya.
Widia tidak menyangka., bahwa ayah nya sekarang sangat pintar dan ahli dalam teknologi.
Duarrr...
Bom molotov tiba tiba terjatuh di hadapan mereka. Membuat Verrel dan Satria secara spontan melompat menghindar.
Sedangkan Gion dan Reno menarik Widia agar menghindarinya.
"Awas!!!"
Sintia berteriak di dalam hatinya. Mata nya berkaca kaca melihat sebuah bom di lempar oleh anak buah Danrem dari atas gedung rumah nya.
__ADS_1
Sedangkan Danrem dan Asmar tertawa bahagia. Meskipun mereka telah kehilangan Rea, tapi merek masih memiliki harapan mendapatkan Mutia Naga Hijau.
Mereka sengaja berpindah lokasi, agar Verrel dan Satria tidak dapat menemukan keberadaan mereka.
Besok adalah pertemuan pasukan Naga hijau, Satria maupun Verrel harus menyelamatkan Sintia dari tangan Danrem.
Jika tidak, maka mereka bisa kehilangan Sintia untuk selamanya.
Peperangan besar akan terjadi, apalagi jika semua orang sudah tahu bahwa Danrem bukan pemegang Mutiara Naga Hijau yang sah.
Mereka pasti akan berlomba lomba untuk mendapatkan nya.
"Tidak bisa, kita harus menyelamatkan Sintia sebelum besok tiba!" seru Gion.
"Tapi bagaimana ayah. Mereka pergi tanpa jejak!" sahut Widia panik.
Widia merasa dirinya kembali pada suasana di mana peperangan puluhan tahun lalu kembali terjadi.
"Cari, Siapapun yang ada di sini. Lenyapkan mereka!" seru Verrel pada anak buah nya.
"Bawa ke sini kepala nya saja. Aku yakin masih ada orang di sini" sahut Satria ikut berseru.
Namun, seteliti apapun mereka mencari. Anak buah Satria ataupun Verrel tidak menemukan Siapapun.
Mereka heran, bagaimana bisa mereka kabur dengan sangat cepat. Seharusnya mereka bisa mendapatkan mereka dengan sangat cepat.
Merek tidak tahu, jika mereka saat ini berada dalam pantauan seperti yang mereka lakukan sebelum nya.
"Cih... Hino dan Felicia saja mati, apalagi mereka yang hanya kurcaci kecil"
"Benar Danrem, kit tidak akan kalah semudah itu. Kita pasti akan memimpin pasukan Naga Hijau. Kita akan mengubah dunia menjadi milik kita!" sahut Asmar.
Sela berdiri tidak jauh dari mereka. Dia mengerut kening tidak mengerti apa yang sedang papa dan calon mertuanya bicarakan.
Namun, Sela memilih untuk diam. Dia enggan untuk membuka mulut, walaupun hanya sekedar bertanya.
Hati Sela masih hancur, Mama nya lenyap dalam bom yang di sebabkan oleh Sintia.
Yah. Sintia.
Sela berbalik, menatap Sintia yang terduduk di sudut ruangan itu, dengan mulut tertutup lakban.
"Heh! Apa kau puas! Kau sudah melenyapkan mama!"
"Apa kau puas!!"
Sela menjambak rambut Sintia, kemudian melayangkan tamparan kuat ke wajah nya.
Plak.
__ADS_1
"Kau benar benar tidak punya hati. Berani sekali kau melenyapkan mama ku!"
Plak.
Sintia tidak melawan, tenaganya sudah hampir habis. Dia benar benar haus sekarang. Danrem hanya memberinya sedikit air di pagi hari.
Danrem menoleh ke belakang, melihat putrinya tengah menganiaya Sintia.
"Lakukan apapun yang kamu mau, asal jangan membunuh nya!" seru nya.
"Siksa boleh, asal Jan sekarat" peringat Asmar.
Ddrrrt.....
Asmar meronggoh saku nya, tiba-tiba putra sulung nya menelfon.
Dengan segera, Agar pun menerimanya.
"Hallo, Ada apa Rendi?"
"Pa, di mana?"
"Jangan ganggu papa dulu, papa sedang melakukan misi!"
"Misi apa?"
"Kamu tidak perlu banyak tanya, pastikan mama dan adik mu baik baik saja" ujar Asmar tegas.
Rendi melirik mama dan Adik nya, "Mereka baik baik saja"
"Bagus, kau harus menjaga mereka untuk ku." seru Asmar lagi, setelah itu dia langsung memutuskan panggilnya.
Padahal, Rendi belum selesai bicara. Sambungan telfon sudah di matikan.
"Siapa?" tanya Danrem.
"Rendi!"
"Apa dia tahu kita ada di sini?"
"Tidak!"
"Bagus!"
Setelah percakapan itu, danrem pun memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Kemudian Asmar pun ikut menyusul.
Tinggallah Sela dan Sintia di dalam ruangan kedap suara itu.
Sintia terbaring lemah di lantai yang dingin. Dia sudah tidak bertenaga. Dia hanya bisa berharap bayi dalam kandungan nya baik baik saja.
__ADS_1
Di tempat lain, Verrel dan Satria dengan kompak sudah menyebarkan anak buah nya untuk mencari keberadaan Danrem.