Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Jangan Salahkan Suamiku


__ADS_3

Di dalam rumah sakit, tampak Keluarga telah berkumpul. Keluarga Asma Jackson juga ada di sana. Beruntung ini adalah ruangan khusus, jadi bisa menampung mereka semua. Ada sofa dan satu ranjang khusus untuk keluarga yang menjaga pasien.


Sintia duduk di samping papa nya, menggenggam erat tangan yang kini terdapat selang infus.


"Pa, bangun. Kenapa papa tidur terus bangun pa. Sintia di sini, papa pasti kangen kan sama Sintia?"


"Ayo pa, kita bangun kembali perusahaan kita. Rafs Grup tidak akan jatuh dengan begitu mudah. Kita pasti bisa bangkit, bangun pa"


Sintia tidak dapat membendung air matanya. Dia menangis terisak sembari memeluk lengang papa nya.


"Kasian Sintia, dia harus memikul semua ini sendirian. Dia harus menjadi korban nya"


Mendengar gumaman istrinya, Asmar langsung menyikut nya. "Ngomong apaan sih kamu, diam dan lihat saja"


Tidak bisa berbuat apa apa, Sia hanya bisa menjadi penonton.


"Ma, udah jangan terlalu di pikirkan. Jika sudah kelewatan, kita akan angkat bicara" hibur Kaila pada mama nya. Matanya melirik tajam kearah papa dan juga kakak laki-laki nya. Mereka terlihat tenang dan biasa saja. Entah ini drama atau apapun, Kaila berjanji dalam hatinya akan menghancurkan rencana buruk dari keluarga nya.


"Sintia, ayo sini nak. Jangan ganggu papa mu" Asmar bergerak mendekati Sintia, menuntun wanita itu duduk di sofa bersama mereka.


"Nak, kamu yang sabar yah. Jangan terlalu memikirkan hal ini. bangkrut bukan lah hal yang menakutkan. Kita bisa bangkit kembali"


"Aku tidak mengkhawatirkan soal harta, aku mengkhawatirkan soal kesehatan papa. Apapun yang terjadi pada harta yang tiada arti itu aku tidak peduli. kesembuhan papa jauh lebih penting bagi ku"


"Sok suci!" dengus Sela menanggapi ucapan Sintia.


"Diam kau!" sinis Kaila pada calon kakak iparnya.


"Papa sakit, terbaring di sana. Tapi, kau masih mencari masalah dengan ku. Apa kau tidak berpikir sela. Semua ini adalah teguran bagi kita!"


"Tidak Sintia, itu hanya teguran untuk mu. Salah mu karena menikahi seorang mafia! "tukas Sela mulai menyalahkan Sintia lagi


"Apa masalah nya jika Sintia menikahi saudara ku!"


Semua orang menoleh kearah pintu, menatap Widia yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Widia?" Sintia memberinya kode, agar wanita itu duduk di dekatnya.


"Terimakasih Sintia, tapi aku datang bukan untuk duduk bersama mereka. Aku datang untuk menjemput mu!"


"Apa kau gila? papa nya sedang sakit tapi kau malah menjemput nya?"


"Bukan kah kalian semua di sini? apa masih butuh bantuan anak terbuang ini untuk menjaga dia?" balas Widia.


Rea akan menjawab lagi, tapi tangan Sintia menghentikan nya.


"Sudah ma, aku juga merasa lelah. jadi aku mau pulang dan besok akan datang ke sini lagi!" ucap Sintia.


Mendengar hal itu, membuat semua orang tercengang. Mereka berpikir Sintia akan berada di sini dan bersama sama menjaga Danrem.


"Lihat kan, anak tidak tahu diri itu. Dia lebih memilih kembali pada suami nya yang telah menghancurkan keluarga nya sendiri!" ucap Sela mulai memprovokasi kan keadaan.


"Sudah aku katakan Sela, dia suami ku. Perusahaan bangkrut tidak ada hubungannya dengan dia!" tegas Sintia lagi.


"Tapi itu kenyataan nya nak. Sama seperti perusahaan ku, Verrel bajingan itu menghancurkan kami!"


"Aku tahu bagaimana perasaan om saat kehilangan segalanya. Tapi, di saat suami ku melakukan sesuatu dan mungkin itu tidak salah. Tapi belum tentu dia juga melakukan hal yang sama pada orang lain" terang Sintia. Dia tahu suaminya benar dan tidak akan salah mengambil tindakan.


"Tapi Sintia, cobalah untuk membuka mata mum Suami mu telah membuat papa mu jatuh sakit! apa kamu tidak memikirkan hal itu" Asmar ikut berdiri, dia mendekati Sintia. Berusaha untuk membuat Sintia percaya dan yakin bahwa suaminya telah bersalah.


Semua orang pun ikut berdiri, menatap Sintia.


"Sintia, meskipun aku pernah menyakiti mu. Setidaknya kamu pernah merasakan cinta ku! Apa kau juga tidak percaya pada ku?" ujar Rendi.


"Tidak. Aku tidak pernah merasakan cinta mu kepada ku Rendi. Kamu hanya bermain dengan ku. Melakukan sesuatu yang kamu suka. Menginginkan aku ketika kamu kesulitan dalam bisnis mu!"


Widia tersenyum mendengar jawaban Sintia, sedangkan Rendi. Dia menahan malu atas kepercayaan dirinya.


"Betul sekali" sahut Kaila.


"Diam kau!" bentak Rendi marah.

__ADS_1


"Kenapa kau berteriak padanya, ini adalah rumah sakit. Kenapa kau harus mengeraskan suara mu ha?" Sintia mendekati Rendi, menatapnya dengan tatapan marah. Rasa sakit yang hampir tertutupi, kini kembali berdarah.


"Kau terlalu percaya diri Rendi. Semenjak aku menikah, aku mulai menyadari bahwa waktu ku sudah terbuang sia sia bersama mu. Kau bahkan mengatakan pada Tuhan ku, mengapa aku harus terlambat bertemu dengan suami ku!"


"Sudah cukup Sintia. Jika kamu pulang, pergi lah sekarang. Jangan banyak bicara!" ucap Rea sinis.


Sintia terkesiap, sikap manis mama nya telah hilang. Seorang ibu yang dia lihat tadi telah hilang.


"Wah, cepat sekali drama mu berakhir " kekeh Widia, yang langsung mendapat balasan tatapan tajam dari Rea.


"Aku tahu, semua nya mama. Aku merasakan nya, hati ku berkata jika mama memang tidak pernah menyimpan aku di dalam hati mu."


"Memang tidak pernah, kau hanya pengacau hidup kami" tegas Rea, menambah rasa sakit di hati Sintia.


"Tadi menangis dan sekarang ular mu keluar. Ayo Sintia, suami mu Sebentar lagi akan pulang. Dia pasti gelisah jika tidak melihat mu di rumah!"


Widia membawa Sintia keluar dari neraka itu, menuntun wanita yang kini menangis dalam diam.


Sintia terus menangis, semuanya terlihat sangat kacau. Hubungan nya dengan keluarga, papa nya sakit, perusahaan nya yang sedang bangkrut. Semua seakan benang kusut di benak Sintia.


"Sudah Sintia, kamu jangan menangis lagi" bujuk Widia berusaha membuat Sintia tenang.


"Bagaimana aku bisa berhenti menangis Widia. Semuanya terjadi begitu cepat, aku bahkan baru semalam merasakan kebahagiaan bersama suamiku. Tapi, masalah ini kembali merenggut kebahagiaan itu dari ku"


Widia menggeleng, tangan nya bergerak menghapus air mata di kedua pipi Sintia.


"Suatu hari nanti, kamu pasti akan menyesali ini Sintia. Seperti yang kamu katakan pada Rendi. Kamu akan sadar bahwa air mata mu ini akan sia sia, terbuang tanpa makna."


Sintia menggeleng, dia masuk ke dalam pelukan Widia, menangis di dalam rengkuhan tangan wanita itu.


"Sttt....Diam dan tenang lah. Kita akan baik baik saja. Esok, kau akan tahu jalan kebahagiaan mu. Apapun yang kamu lakukan hari ini, sudah benar, sangat benar"


Selama perjalanan, Sintia terus memeluk Widia, menjadikan bahu wanita itu sebagai sandaran. Baginya, hanya Widia teman yang tepat untuk menjadi sahabat nya.


Sesampainya di rumah, Widia mengantar Sintia sampai ke dalam rumah. Dia meninggal wanita malang itu di dalam kamar nya.

__ADS_1


Entah jam berapa itu, Sintia masih duduk di tepi ranjang. Saat pintu kamar nya terbuka dia masih tidak bereaksi. Dia tahu suaminya telah pulang, tapi dia terlihat masih diam saja.


__ADS_2