
"Aduh, kenapa semuanya tidak muat sih"
Sela melempar kesana kemari pakaian favoritnya. Perut nya semakin membesar, badan nya semaki berisi. Tentu pakaian sexy nya tidak akan muat lagi.
"Arrrg ... Mama.!!!!"
Mendengar teriakan putrinya, Rea langsung berlari masuk ke dalam kamar Sela.
"Ada apa sayang, kenapa kamu berteriak?"
"Mama lihat, semua pakaian ku sudah tidak bisa aku pakai lagi. Ini semua karena perut besar ku!" adu Sela menunjuk pakaian nya, lalu memukul perutnya.
"hei sayang, jangan lakukan itu. Kau akan membuat bayi mu tersakiti!"
"Aku tidak peduli, aku tidak peduli. Karena bayi ini, aku kehilangan body bagus ku!" Sela terus memukul perutnya, sedangkan Rea terus berusaha mencegah putrinya.
"Jangan gila Sela, apa kau ingin di hujat oleh semua orang sebagai kakak dan ibu yang kejam ha?"
"Aku tidak peduli ma!"
"Tapi mama peduli. Hidup kita sudah hampir jatuh Sela. Apa kamu ingin menjadi gembel ha? calon suami mu telah miskin, dan sekarang kau ingin menambah masalah?"
Sela terhenyak di tepi ranjang nya, menangis sebagai luapan kekesalan nya.
"Aku tidak menyangka, semua ini akan menjadi rumit. Apa karena karma ku pada Sintia?"
"Tidak, semua ini kutukan gadis itu. Kita harus membuat perhitungan dengan nya"
"Tapi ma, papa dan om Asmar pasti akan mencegah kita. Mereka mengincar harta yang seharusnya milik ku dari Sintia."
Rea menghembuskan nafas gusar, apa yang putrinya katakan memang benar. Suami dan sahabat nya tidak akan memperbolehkan mereka mengganggu Sintia. Apalagi saat ini Verrel sedang mencari bukti soal kematian ibu Sintia dan juga keluarganya.
"Sudahlah, untuk saat ini kita cukup ikuti alur nya saja. bila ada sla, kita akan masuk dan memberi pelajaran pada gadis sombong itu."
Sela mengangguk, mendengarkan apa yang mamanya katakan.
"Seandainya aku tidak memilih Rendi, mungkin aku sudah menjadi nyonya besar!"ucap Sela dalam hati, dia benar benar telah menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini.
Sementara itu, di taman belakang rumah nya. Sintia sedang berlatih ilmu beladiri yang telah suaminya ajarkan. Dia harus terus berlatih meskipun suaminya tidak ada.
"Hyat!!"
__ADS_1
"Hyat!!!"
Fyuu...
Sintia menghembuskan nafas perlahan setelah merasa cukup latihan nya hari ini.
"Aku rasa sudah cukup, setidaknya besok Verrel bisa menambah gerakan nya" gumam Sintia senang. Dia merasa sudah cukup lihat dengan beberapa gerakan.
Sintia masuk ke dalam rumah, mengambil air lalu duduk di meja makan. Memainkan ponsel yang selama dia berlatih tertinggal di atas meja makan.
"Eh, pesan apa ini?" gumam Sintia dengan dahi mengerut. Dia membuka pesan yang ternyata dari Danrem.
Papa.
Halo nak, papa sudah keluar dari rumah sakit. Kapan kau akan berkunjung?.
Sintia terdiam beberapa saat setelah membaca pesan itu. Semenjak mengetahui siapa danrem, Asmar dan Rea. Sintia belum pernah bertemu dengan mereka.
Sekarang dia bingung dan sedikit ketakutan . Trauma masih menghinggapi hatinya dengan apa yang selama ini terjadi di hadapan nya .
"Baiklah, seperti nya permainan akan di mulai lebih awal!" Sintia langsung membalas pesan dari papa nya, mengatakan bahwa mereka akan bertemu di luar, dia malas melihat wajah Seka ataupun Rea. Mereka terlihat seperti nenek lampir di mata Sintia.
Setelah membalas pesan dari Danrem, Sintia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Meminum habis segelas air mineral, lalu pergi ke kamar nya untuk mandi.
...----------------...
"Bagaimana? apa dia membalas nya?" tanya Asmar tidak sabaran, dia melihat kearah isi chat Danrem.
"Benarkah dia mau?" tanya Asmar tak percaya. Setelah beberapa saat mereka mengirim pesan, akhirnya Sintia membalas pesan mereka.
"Dia itu terlalu polos, tidak akan bisa mengalahkan kita yang sudah terlatih sejak dulu. Kamu ingat? mama nya adalah wanita terkuat di gang mafia Asia. Tapi apa? kita bisa menaklukkan dia. Dan mendapatkan semua nya!" ucap Danrem sombong. Mereka belum tahu, jika Sintia sudah mengetahui segalanya.
"Yah kamu benar, setelah bertahun tahun di perlakukan tidak baik, dia masih tetap bersama kalian." Sahut Asmar, lalu mereka tertawa bersama.
"Dia meminta untuk bertemu di luar, dia ingin menghabiskan sorenya bersama ku" ujar Danrem membacakan isi balasan pesan Sintia.
"Wahh selamat sahabat ku, sebentar lagi dia akan mengikuti apa yang kamu ingin kan"
"Benar, dia akan kembali menjadi budak ku setelah mendapat sedikit perhatian dari ku" ucap Danrem percaya diri.
Danrem membalas pesan wanita yang ia kira masih bodoh dan lugu. Tapi, mereka tidak tahu bahwa Sintia yang mereka hadapi sekarang bukan lah Sintia yang dulu.
__ADS_1
Sintia menghubungi suaminya, dia memberikan alamat kemana ia pergi. Sintia juga memakai anting yang di belikan oleh suaminya. Dia tahu, di dalam anting nya terdapat alat pelak, di mana seseorang tidak akan tahu bahwa itu adalah alat pelacak. Hanya perangkat utama yang bisa melihat dan mengetahui keberadaan alat itu.
Setelah dapat ijin, Sintia pun bergegas pergi. Dia mengendarai mobil nya, mengelap setiap inci body mobil saat dia melihat sedikit debu yang menempel.
Tiba di restauran yang Sintia tentukan. Danrem mencari cari posisi putrinya duduk. Tapi, dia tidak melihat sosok Sintia di antara keramaian.
"Pa!" panggil Sintia, dia juga melambaikan tangan nya. Agar Danrem dapat menemuinya.
"Hai sayang" Danrem membalas melambaikan tangan pada Sintia, lalu dia berjalan mendekati putrinya.
"Apa kamu lama menunggu sayang?"
"Tidak pa, aku baru Samapi juga kok." balas Sintia tersenyum manis. Hal ini membuat Danrem semakin yakin jika Sintia telah masuk ke dalam perangkap nya.
"Ayo pa duduk, mau pesan apa silahkan " Sintia mempersilakan papa nya duduk di depan nya. Tapi, Danrem malah memilih duduk di samping Sintia.
"Aku sangat ingin bersama mu nak. Hati ku selalu tenang saat bersama mu" lirih Danrem, membuat Sintia jijik dan mual mendengar kata kata manis nya itu.
Seorang pelayan menghampiri mereka, dengan catatan kecil sebagai catatan pesanan Sintia dan juga Danrem.
"Mau pesan apa mbak, Tuan?" tanya pelayan ramah.
Sintia tersenyum, dia menunjuk papa nya agar pelayan itu menanyai papa nya .
"Hallo tuan, mau pesan apa??"
"Saya mau kopi hitam tanpa gula saja"
"Baik, permisi!"
Sintia mengangguk, membiarkan pelayan itu pergi tanpa memesan apapun.
Danrem tersenyum, tangan nya meraih tangan putrinya. Menggenggam erat seolah menjadi ayah yang baik.
"Nak, ternyata kamu sudah sangat dewasa. Papa tidak menyangka kamu akan secantik ini"
Wueekk...Ingin rasanya Sintia memuntahkan segalanya ke wajah pria tua itu. Tapi, Sintia harus menahan nya. Dia tidak boleh memperlihatkan bahwa dirinya telah mengetahui segalanya
"Papa, semua ini berkat papa. Aku seperti saat ini Karena papa dan mama"
"Kami menyesal telah memperlakukan buruk diri mu, Ternyata kamu yang menjadi penolong. Lihat sela, calon suaminya sudah bangkrut dan kini hidup melarat "
__ADS_1
Sintia hanya tersenyum, mendengarkan semua cerita menjijikan yang pernah ia dengar. Tidak ada lagi rasa sayang kepada mereka di hati Sintia. Dia benar-benar sudah membenci kedua orang tuanya .