
Setelah apa yang terjadi, Verrel kembali menanyakan pada Sintia, tentang ketersediaan nya menjadi istri Verrel.
Di sini lah mereka, di tepi tebing kota. Dari sana mereka bisa melihat keindahan kota di malam hari. lampu lampu rumah warga terlihat terang dan seperti bintang di langit.
"Besok kita akan menikah"
Sintia menoleh, dia mendekati Verrel. setelah semuanya hancur, bagaimana mungkin mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Kamu bercanda? tenda dan dekorasi, semuanya telah hancur. Bagaimana mungkin kita bisa menikah. Setidak nya kita harus menundanya seminggu, atau bisa sedikit lebih cepat" tutur Sintia.
"Tidak Sintia, semuanya akan tetap berjalan seperti yang kita rencanakan." Verrel menarik Sintia semakin dekat dengan tubuhnya, menatap lekat ke manik mata Sintia.
"Kamu sudah melihat sebagian dari hidup ku, apa kau masih mau masuk ke dalam hidup ku? apa kau yakin ingin bersama ku?"
Verrel bertanya serius, dia masih memberi Sintia kesempatan untuk mundur. Sebelum mereka terlanjur menikah dan tidak bisa mundur lagi.
"Jika kau ingin mundur, maka kau bisa melakukan nya sekarang"
Sintia terdiam, dia membalas tatapan mata Verrel. Dia merasa terhipnotis, seakan tertarik masuk ke dalam kehidupan pria itu.
"Kejadian kemarin, sangat membuat aku ketakutan. Semuanya terjadi begitu saja, mengerikan, hampir membuat jantung ku copot dari tempat nya" Sintia tersenyum, membayangkan bagaimana keputusaan dirinya kemarin.
"Namun, semua itu tidak membuat niat ku berubah. Kesepakatan kita tetap akan berlanjut, entah bagaimana nanti, tapi aku tetap mau menikah dengan mu!"
"Verrel, saat ini aku tidak memiliki siapapun. Hidup bersama mu atau bersama keluarga ku. Semuanya terlihat sama. Hanya terdapat sedikit perbedaan."
Mendengar jawaban panjang Sintia, Verrel tersenyum manis. Tangan nya dengan refleks menarik Sintia masuk ke dalam pelukan nya.
Sinar rembulan dan taburan bintang menyaksikan momen ini. Di mana hati Verrel mulai tersentuh oleh kata kata Sintia yang tetap memilih bersama nya.
"Ngomong ngomong Verrel, bagaimana pernikahan kita akan di langsung kan? tempat pesta kita sudah hancur!"
"Rahasia!" balas Verrel, Sintia langsung menghadiahkan nya sebuah cubitan di perutnya. Verrel meringis kesakitan, kemudian tertawa kecil melihat raut wajah cemberut Sintia.
"Oh God, mengapa dia terlihat sangat manis ketika seperti ini" erang Verrel dalam hati. Seperti nya dia mulai tergoyahkan oleh gadis ini, hati yang sudah lama mati, akan kah bertunas kembali?.
Malam itu, mereka menikmati malam di tepi tebing. Menikmati keindahan kota dan keindahan langit.
...----------------...
Lena terlihat sibuk, dia terus bolak balik mengambil barang barang riasan untuk Sintia.
Di dalam kamar itu tampak kacau, barang barang berserakan di mana mana. Widia terus berteriak pada Lena untuk mengambilkan barang yang dia butuhkan.
Sedangkan Sintia? dia di suruh diam dan hanya di perbolehkan menatap kaca saja. Tidak boleh bergerak, walaupun hanya selangkah dari tempat duduk nya.
"Widia, apa ini akan lama? sudah 3 jam kau merias ku, tapi tidak selesai juga" Kelu Sintia mulai merasa lelah. Dia gadis elegan, namun tidak terlalu suka berdandan seperti ini.
__ADS_1
Widia berkacak pinggang, menatap Sintia dari pantulan kaca besar di hadapan nya.
"Apa kau ingin terlihat seperti gembel?" decak nya garang.
Sintia menggeleng pelan, tentu saja dia tidak akan mau terlihat seperti gembel di hati pernikahan nya.
"Nah, bersabarlah menunggu ini selesai. Aku akan menjadikan mu ratu tercantik di muka bumi ini!"
huh..
Sintia menghembuskan nafas pasrah, dia tidak bisa berbuat apa apa, selain menunggu penyiksaan ini selesai.
"Nona, apa ini cocok? atau yang ini?"
Lena memperlihatkan 2 anting pada Widia, dia bingung ingin mengenakan anting yang mana pada Sintia.
"Yang itu saja, lebih simple dan terlihat mewah. Sintia akan cantik memakainya"
"Oke baiklah"
Lena meletakkan anting pilihan Widia di atas meja rias depan Sintia, lalu mulai menyiapkan yang lain.
Melihat Lena yang begitu sibuk, membuat Widia tersenyum lembut.
"Heh Lena, Mengapa kamu terlalu sibuk dan tidak bersiap juga?" seru Widia.
Lena melongo, kemudian tersenyum setelah mengerti apa yang di maksud Widia.
"Waw, sungguh hubungan yang baik. Antara pelayan dan majikan" decak Widia menggeleng.
"Tentu, kebahagiaan nona ku adalah yang utama"sahutnya lagi.
"Baiklah, kalau begitu kau akan menjadi pengiring pengantin nya" putus Widia lagi. Hal itu mampu membuat Lena terkejut setengah mati.
Dia merasa tidak pantas, seorang pelayan menjadi pengiring pengantin, apalagi itu adalah majikan nya.
"Tidak nona, saya tidak bisa." tolak Lena pelan, logat Jawa nya terlihat kental sekali.
"Kenapa ? " tanya Widia dan Sintia secara serempak.
"Saya tidak pantas nyonya, saya tidak mau mengacaukan acara anda dengan semua orang mencemooh anda." lirih Lena menunduk.
Widia menutup mata, menggeleng mendengar jawaban kuno Lena.
"Hei, di sini tidak ada orang yang melakukan hal itu. Semua nya terlihat sama, tidak ada si kaya dan si miskin. Keluarga kompleks damai tidak akan pernah saling mencemooh seperti itu!" Tangkas Widia.
"Lagi pula, kau bukan hanya pelayan ku, kau juga sahabat ku. Apa kau tidak mau mengiringi sahabat mu ini ke pelaminan?"
__ADS_1
Lena mengangguk, tentu saja dia mau. Dia sangat menyayangi Sintia, wanita itu sudah dia anggap seperti kakak nya sendiri.
"Apakah ini benar benar di ijinkan?" cicit Lena, dia masih belum bisa mempercayai nya. Dia masih ragu akan hal itu.
Widia dan Sintia mengangguk serempak, membuat Lena tersenyum haru.
"Terimakasih nona, terimakasih. Aku sudah memimpikan ini ketika nona akan menikah dengan Rendi. Namun, aku tidak berani mengatakan nya. Aku tahu bapak dan ibu pasti tidak akan menerimanya"
"Tapi aku menerimanya, kau akan menjadi pengiring ku nanti"
Lena mengangguk cepat, dia segera mempersiapkan dirinya. Dia tidak akan membuat Sintia malu, dia akan menjadi adik yang baik dan cantik nanti.
Sementara itu, di rumah besar keluarga Rafs. Danrem panas dingin. Sudah hampir 1 Minggu putrinya tidak pulang.
"Ni"
Rea memberikan surat undangan pernikahan yang terlihat elegan dan mewah, kepada suaminya.
Dahi Danrem mengerut bingung. Lalu, membuka undangan itu.
"Putri mu akan menikah, dan dia memberi mu undangan, CK". Cibir Rea.
Mata Danrem melotot besar, saat melihat nama putrinya dan Verrel bersanding di dalam surat undangan.
"Tidak! ini tidak bisa di biarkan!"
"Tidak bagaimana? pernikahan nya akan di langsungkan 2 jam lagi."sahut Dea acuh.
Wanita itu sama sekali terlihat tidak peduli, dia benar-benar sudah membuang Sintia dari dalam hidupnya. Berbeda dengan Danrem yang sangat mengkhawatirkan putri nya.
"Aku harus ke sana!" Danrem segera bangkit dan hendak pergi ke lokasi pesta yanga entah di mana.
"Pergi lah, temukan di mana lokasi putri mu menikah!"
Jleb.
Danrem kembali melihat ke undangan mewah itu, ternyata tidak terdapat alamat pesta di dalam undangan.
"Sial! Dia mempermainkan aku!" umpat Danrem melampaui undangan itu ke lantai.
"Sudah lah pa, biarkan saja. anak durhaka itu sudah menentukan pilihan nya, biarkan dia menjalani seperti apa hidup bersama pria seperti Verrel itu!"
"Tidak Bisa!" bentak Danrem, membuat Rea terkesiap kaget.
"Ibu macam apa kamu, putri mu salam bahaya, tapi kamu malah acuh seperti ini! Apa kamu sudah melupakan rasa sakit ketika melahirkan Sintia? huh.
Dia itu putri mu, putri kita. Sama seperti Sela. Tapi, mengapa kamu begitu mudah membuangnya. Bahkan tidak ada tanda tanda khawatir di wajah mu!"
__ADS_1
"Dia memang lahir dari rahim ku, tapi sifat nya dan takdirnya tidak seperti yang aku inginkan. Lagi pula, dia yang memilih pergi, dan ingin menikah dengan laki-laki itu, ya sudah. mengapa harus mengkhawatirkan nya" balas Rea Entang.
Danrem menggeleng kecewa, dia tidak menyangka istrinya akan seperti ini.