
Mr Topi menatap lama isi laporan anak buah nya. Di mana biodata Sintia terpampang jelas tanpa filter.
Ketika melihat foto Sintia dengan jelas, entah mengapa jantung Mr Topi terasa berdetak lebih cepat.
"Ada apa ini?" gumam nya heran. Sebelum nya dia memang sudah bertemu dengan Sintia. Tapi, dia tidak melihat dengan jelas. Sekarang, wajah cantik Sintia terpampang jelas di matanya.
"Cantik, dan manis. Lumayan menarik" senyum licik mulai terukir di bibir Mr Topi.
"Awasi terus, jangan sampai lengah. Aku mau lihat, seberapa penting wanita ini bagi Verrel Eldor!"
"Baik boss!"
pria berjas hitam itu kembali meninggalkan ruangan boss nya setelah memberikan data Sintia.
Kini, tinggallah pria kejam itu sendiri di ruangan nya. Mata tajam nya masih menatap lekat foto Sintia yang tampak mengenakan gaun berwarna putih lengan pendek, dengan rambut tergerai.
...----------------...
Sintia baru saja selesai beberes rumah. Verrel sudah berangkat kerja, Sekarang di rumah itu tinggal dirinya sendiri.
"Ah aku jadi kangen Lena, sejak dia pulang kampung. Aku baru sadar bahwa dia sangat mengasikkan"
Sintia duduk santai di ruang tengah. Memakan cemilan sembari menonton tv Chanel kesukaan nya. Yaitu, cartoon.
Ting Tong....
"Siapa sih!" Sintia berpura-pura tidak mendengar. Jika tamu itu adalah Verrel dan Widia ataupun Reno. Mereka tidak akan capek capek mengetuk pintu. Pasti langsung masuk saja.
Rasa penasaran menggerogoti hati Sintia. Dia menoleh kearah pintu. Penasaran dengan siapa yang datang ke rumah nya.
Ting tong...
Kembali bel berbunyi nyaring, sangat nyaring sampai Membuat kendang telinga nya hampir pecah.
"Ihhh siapa sih, berisik banget sih!"
Sintia akhirnya beranjak dari sofa, dia berjalan pelan dengan ragu mendekati pintu rumah nya.
"Eh kok aku takut, musuh tidak akan masuk ke komplek ini. Verrel sudah menjaga nya dengan sangat ketat!" gumam Sintia menghalau rasa khawatir nya dengan berprasangka kepada orang lain.
Ceklek.
"Nona..."
Sintia terkejut, Lena langsung memeluk nya dengan sangat erat.
"Loh Lena, kamu sudah balik? kok gak bilang bilang?"
"Nona...Hm..Aku.."
"Ada apa Lena, katakan dengan jelas." tanya Sintia heran, Lena terlihat seperti orang ketakutan. Sintia sampai melihat ke belakang tubuh Lena dan sekeliling rumah nya , berpikir ada yang mengikuti gadis itu.
__ADS_1
"Ayo, kita ma-"
Dor! Dor!!
Sintia terkejut mendengar suara tembakan entah dari mana asal nya.
"Nona!!!"
Teriakan Lena membuat tubuh Sintia membeku, otak nya seakan berhenti berpikir. Sebagian wajah nya terkena cipratan darah.
Bruk.
"Le-le-na???"
"Lena!!!!!!!" teriak Sintia histeris, dia mendekati Lena. Melihat darah yang mulai membanjiri lantai.
"Lena!! bangun! Lena bertahan lah!!!"
"Lena!!....Tolong!!! Tolong.. Apa ada orang!! Siapapun tolong!!!"
"Lena ..Aku akan menolong mu, bersabarlah. Tetap terjaga jangan tutup mata mu!!"
Lena yang di ujung kematian, menggeleng pelan. Dia sudah tidak bisa menahan nya lagi. Tangan nya yang sudah berlumuran darah, meraih tangan Sintia.
"No-na...Tolo-ng. Ja-ga, dir..i Baik baik..."
"Sttt ..Diamlah Lena, jangan bicara lagi. Hikss...kau pasti akan selamat. Tolong!!!! Siapapun tolong Aku!!!!"
"Lena...bertahan lah..."
"Ti-dak noo-na..Aku Su-d-ah, ta-hu Se-mua nya. "
"Tahu apa?"
"Tu-an..Da-n Ny-onya...- bu-...ka.n...Orang...Tu-a- No-na..."
Sintia mendengarkan Lena, dia tidak terlalu memahaminya. Dia terlalu panik, Darah Lena semakin banyak keluar.
"No-na...Aku ti..dak..-..tah..an lagi. Ke-matian... Orang..Tua Nona...Danrem...As-mar..--------"
"Lena...Hei...Lena bangun...Kenapa kamu diam!!"
"Lena!!!!!"
Gadis itu tidak merespon lagi, dia sudah pergi untuk selama lamanya.
Sintia histeris, dia menangis sejadi jadinya. memeluk Lena yang sudah tiada.
Tak lama setelah itu, para pengawal langsung berhamburan menghampiri nyonya mereka.
"Nona, ada apa ini?"
__ADS_1
Sintia mendongak, dengan banjiran air mata. Dia memohon agar mereka membantunya membawa Lena ke rumah sakit.
"Pak tolong, bawa dia ke rumah sakit. Pak, ayo tolong!!!"
Salah satu pengawal itu mendekat, memeriksa denyut nadi Lena. Melihat kondisi nya, mereka sudah dapat memastikan bahwa gadis itu sudah tiada.
"Maaf nona, denyut nadinya sudah tidak ada. Seperti nya dia sudah meninggal" jelas pengawal itu.
Sintia menggeleng, dia tidak mau kehilangan Lena. Sahabat, pelayan, saudara, semua ada dalam diri Lena.
"Tidak!!!! tidak mungkin!!!! Lena..Bangun! jangan tinggalkan aku Lena...Hikss....Lena!!! tolong jangan tinggalkan aku. Buka mata mu Lena!!!" Sintia semakin histeris, dia memeluk tubuh pucat Lena dengan sangat erat, membiarkan tubuh nya terkena darah Lena.
"Ada apa itu, mengapa Sintia menangis dan...Astaga!!!!" Widia berlari cepat, dia menghampiri Sintia dan terkejut melihat art sintia bersimbah darah.
"Ada apa ini, mengapa ini terjadi??" pekik Widia.
"Maaf non, kami tidak tahu. Ketika kami tiba di sini setelah berpatroli, nona sudah menangis dengan kondisi Lena seperti ini " ucap salah satu pengawal menjelaskan pada Widia.
"Hiks...Lena....Arrggg.. Lena!!! hiks ..Kenapa, kenapa kamu melakukan ini, kenapa kamu meninggalkan aku!!!!! "
Widia tidak tega melihat Sintia seperti itu, dia tahu banyak soal Lena dari cerita Sintia. Dia art yang sangat baik. Patuh dan melindungi Sintia. Tapi, mengapa dia menjadi seperti ini? siapa yang telah melakukan nya??.
Widia berjongkok di samping Sintia, berusaha membujuk wanita itu.
"Sintia, tenang lah. Dia sudah pergi, jangan sesali agar dia bisa tenang!"
"Tidak Widia, aku tidak rela dia pergi seperti ini"
"Tapi, mengapa ini terjadi? siapa yang melakukan nya?"
"Aku tidak tahu, dia datang seperti orang ketakutan. Dia berbicara tapi aku tidak mengerti, tiba-tiba dia tertembak 3 kali. Aku tidak tahu dari mana asalnya peluru itu. Mereka membuat Lena ku seperti ini. Lenaaaaaaa.....Lenaaa..."
Widia menarik nafas, dia melirik tajam pada anak buah Verrel. Lalu, kembali menatap Sintia yang terus meratapi Lena.
"Sudah Sintia, kamu tidak boleh meratapi begitu. Nanti dia akan sulit mencari ketenangan di alam sana."
"Sekarang, ayo kita masuk. Biarkan mereka membereskan Lena. Menyiapkan pemakaman untuk Lena."
"Tidak Widia, aku tidak mau. Aku yakin Lena masih hidup!!!" tolak Sintia, dia mata pada Widia ketika wanita itu mengatakan Lena sudah tiada.
"Sintia, ayolah. Kamu jangan bodoh. Ini demi Lena juga, kamu jangan mempersulit dia. Tolong buat dia bahagia dengan keihklasan mu!"
"Tapi Widia, aku gak terima Lena meninggalkan aku. Tolong Widia bawa dia ke rumah sakit!" Sintia memohon dengan kedua tangan nya.
"Tapi, Lena sudah tiada. Seseorang telah membunuh nya. Apa kau puas? dia sudah Sulit Sintia. Apa kau ingin menambahkan kesulitan di dalam kematian nya huh?" Widia terpaksa membentak, karena Sintia seakan tidak mengerti ketika dia menjelaskan.
Sintia menggeleng cepat. "Aku tidak mau, Widia aku mau dia bahagia!!"
"Karena itu masuk lah ke dalam bersama ku, aku akan menghubungi Verrel!"
"Tapi--Tapi Lena??"
__ADS_1
"Sudah biar mereka yang urus!"Widia membawa Sintia masuk ke dalam rumah. Membersihkan tubuh Sintia yang terkena darah Lena. Dalam tangis nya, Sintia terus menyebutkan maaf dan maaf pada Lena.