
Setelah merasa lebih baik, Sintia kembali melakukan aktivitas nya. Meskipun Verrel sangat melarang wanita itu melakukan apapun kecuali bersantai. Namun, Sintia merasa tidak nyaman. Dia juga menolak saat Verrel menawarkan art untuk membantu Sintia dalam memasak.
Tapi, Sintia menolak nya. Dia memang putri bungsu dari keluarga terhormat dan kaya. Tapi, Kebiasaan Sintia bukan lah bersenang senang dan instan. Dia lebih suka melakukan apapun dengan tangan nya sendiri terutama soal makanan.
Verrel menyerah, untuk soal memasak dia membiarkan istrinya yang melakukan.
Di siang hari, art akan datang untuk membersihkan rumah saja. Lalu, mereka akan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.
Hari ini, Sintia tengah bersantai. Dia ingin membeli sesuatu di supermarket. Sayangnya, di toko dekat komplek ini tidak lengkap.
"Verrel"
Sintia masuk ke dalam ruangan kerja suaminya, tersenyum menghampiri pria yang kini tersenyum melihat nya.
"Ada apa sayang?" sambut Verrel.
"Aku ingin beberapa barang, dan toko dekat komplek tidak lengkap"
"Lalu?"
Sintia tersenyum lebar, lalu memeluk lengan suaminya manja.
"Apakah suami tampan dan gagah ku ini mau mengantar ku ke kota?" Sintia menatap suaminya penuh harap. Sedangkan suaminya, malah pura pura berpikir dan mempertimbangkan.
"Hmm... Bagaimana?"
"Sejujurnya aku sibuk dan punya banyak pertemuan"
Nafas Sintia tercekat, harapan nya mulai menipis.
"Baiklah, Kita akan berangkat nanti sore. Malam ini adalah malam Minggu dan aku akan mengajak istri ku menghirup udara segar"
"Yeee.....Thanks you Verrel, thanks you. Mmmuaachhhhh!"
Deg.
Sintia terkejut, tanpa sadar dia mencium Verrel. Hati nya kelewat bahagia, sampai tidak terkendali.
__ADS_1
"Maaf Verrel, aku tidak se-"
Verrel menarik pinggang istri nya, hingga wanita itu terjatuh di atas pangkuan nya.
"Ve-"
"Ssttt....Jangan berbicara lagi, atau aku akan menghukum mu dengan bergoyang sepanjang malam"
"Verrel....." Sintia menunduk malu, tangan nya memukul dada suaminya pelan. Kedua pipi nya bersemu merah.
"Uuu istriku sedang malu??"
"Kau manis saat seperti ini, aku suka melihatnya. Aku juga suka ketika bibir mu menyentuh pipi ku, bahkan seluruh tubuh ku juga tidak apa apa" sambung Verrel tersenyum menggoda pada istri nya.
"Verrel, sudah cukup. Nanti pipi ku semakin merah dan aku terlihat seperti badut"
"Tentu itu baik sayang, aku suka dengan itu" sahut nya tertawa renyah.
"Sudah lah, aku mau bersiap dulu. Kita akan makan di luar saja yah, dan aku harus menyiapkan segala sesuatunya."
"Oh ayolah sayang, kita cukup menyiapkan diri saja." decak Verrel. Istri terlihat ribet ketika akan keluar .
"Haruskah?"
"Tentu sayang, aku tidak akan membiarkan mata jelalatan mereka melihat sisi terbaik suamiku. Cukup aku!!!"
"Hanya aku saja!!" ulang Sintia penuh penekanan.
"Termasuk kakak mu?"
Jleb.
Hampir Sintia lupa jika suaminya adalah mantan kekasih kakak nya.
"Sorry sayang, aku tidak bermaksud seperti itu" Verrel mulai menyesal dengan pembahasan nya. Niat nya ingin menggoda istrinya, tapi salah pakai topik.
"Tidak apa apa sayang, aku tahu itu dan aku hampir lupa jika saingan ku adalah kakak ku sendiri. Maka, aku harus terlihat lebih cantik dan **** kan?"
__ADS_1
Verrel melongo, jawaban istri nya di luar dugaan nya. Dia berpikir Sintia akan marah dan merajuk. Mereka akan berakhir dengan perdebatan. Tapi, lihat lah. Istri cantik nya sangat dewasa dengan pemikiran yang tidak terduga.
"Wah, honey. Aku berpikir kita akan berdebat dan berakhir marahan. Tapi"
"Oh ayolah sayang, aku tidak sebodoh itu. Aku tidak akan kalah dengan emosi yang tidak jelas!."
Sintia tersenyum menggoda, entah dapat dari mana keberaniannya itu.
"Lagi pula, jika mereka lebih baik dari ku, suami tampan ku tidak akan memilih ku dan menikahi ku. Bergelut di ranjang dengan panas tiada henti"
"Wah, aku sungguh terkejut. Dan aku juga harus mengatakan ini sayang"
Verrel semakin mengeratkan pelukan nya di pinggang Sintia, membuat jantung wanita itu semakin berdegup kencang.
"Kau adalah wanita terseksi"
Cup.
Sintia tersenyum, merasakan kelembutan ciuman suaminya. Namun, dia merasakan nafsu suaminya semakin berkibar. Dengan itu, dia segera berdiri.
"Oh sayang sekali, kita harus pergi nanti sore dan aku harus bersiap!"
Sintia langsung kabur, sebelum Verrel menahan nya.
"Oh sith..Istri kecil ku benar benar membuat jiwa ku bergelora. Lihat saja nanti, kau akan merintih dan minta ampun" gumam Verrel berusaha menahan nafsu nya yang sedang berkobar. Sedangkan Sintia sudah kabur duluan.
Fyu..
"Beruntung aku bisa kabur, jika tidak. Oh God, aku pasti sudah terkapar di sofa." gumam Sintia bernafas lega. Dia masuk ke kamar mandi, membersihkan diri lalu bersiap untuk pergi ke kota.
Sudah hampir 1 Minggu setelah kejadian di pasar, Sintia tidak keluar dari rumah. Di masih trauma dan sesuatu dalam ingatan nya mulai muncul. Entah apa itu, tapi Sintia merasa sangat mengerikan.
...----------------...
Terimakasih kepada pembaca ku, kalian sangat berarti bagi ku. Ikuti terus yah, kisah Verrel dan Sintia. Entah apa yang ada di balik semua ini, hanya aku yang tahu. Tapi sayangnya, aku belum memikirkan nya. Aku masih takut melanjutkan nya, takut membuat kalian semua kecewa.
Bagi yang membaca kisah ini, mohon memberikan apresiasi nya. Like, komen, dan berilah nilai bintang 5. Agar hati ku bersemangat dan memberikan tulisan yang lebih menjiwai.
__ADS_1
Terkadang kalian hanya menonton saja, membuat aku berpikir, bahwa kisah yang aku tulis tidak membuat kalian menyukainya.