
Masih sulit di percaya, tapi ini lah kenyataan nya. Sintia baru sadar, mengapa perlakuan kedua orang tuanya tidak sama kepadanya dan kepada Sela.
Sakit, tapi ini lah kenyataan nya. Dia harus menerima kenyataan pahit ini. Ingin rasanya Sintia mendatangi mereka dan berteriak sekeras mungkin. Tapi, apalah daya, dia tidak bisa melakukan nya. Dia harus tetap menjaga semua ini agar mereka tidak curiga.
Sintia memutuskan untuk mendekati keluarga nya kembali. oh tidak, sekarang bukan keluarga lagi. Mereka hanya Keluarga angkat nya saja.
Sintia ingin menyelidiki siapa orang tua nya sebenarnya, dia harus mengetahuinya.
"Sayang"
Sintia menemui suaminya yang sedang bekerja di kantor. Verrel tampak terkejut melihat istrinya sudah ada di depan matanya.
"Sayang, kamu ke sini sama siapa? bukan nya kamu istirahat setelah beberapa hari melelahkan ini."
Verrel menuntun Sintia duduk di sofa, mengambilkan nya minuman kaleng dari kulkas mini yang tersedia di dalam ruangan nya.
"Minum lah sayang"
"Makasih sayang" balas Sintia menerima minuman dari suaminya.
Setelah meminum beberapa teguk, Sintia mulai ingin mengutarakan niat nya datang ke kantor suaminya. Dia tidak sabar menunggu hingga suaminya pulang.
"Verrel, aku mau ngomong sama kamu" ucap Sintia serius
"Iya sayang, ngomong aja. Aku dengerin kamu" balas Verrel. Tangan nya meraih tangan lembut Sintia, lalu membawanya ke atas pahanya. Menggenggamnya erat, seakan memberikan kekuatan dan kepercayaan diri pada diri Sintia.
"Aku ingin menyelidiki soal orang tua aku. Aku mau tahu, apa mereka sudah masih hidup atau sudah meninggal" ucap Sintia.
Verrel terkejut, dia menatap Istrinya lekat. Seolah mencari keyakinan mana yang membuat istrinya bertekad seperti ini.
Mendekati kembali keluarga nya untuk menyelidiki hal ini bukan lah hal yang mudah. Mereka sangat berbahaya bagi Sintia.
"Sayang, aku akan melakukan nya. Kamu tenang yah"
"Tidak Verrel, aku yang akan melakukan nya. Jika kamu yang melakukan nya, mereka akan membuat berbagai cara agar bisa menutupi fakta ini. Tapi, jika aku yang melakukan nya mereka tidak akan curiga. Lagi pula, aku yakin. Ada sesuatu yang mereka harapkan dari aku. Sehingga mereka tidak membunuh ku sejak kecil!"
Verrel kembali terdiam, apa yang istrinya katakan memang benar. Jika mereka tidak membutuhkan Sintia, mereka bisa saja membunuh Sintia sejak awal.
__ADS_1
Verrel semakin erat menggenggam tangan Sintia. Menyusun kata kata yang akan dia ucapkan pada istri nya agar tidak tersinggung dan salah paham.
"Sayang, ini sangat berbahaya. Mereka sangat licik. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan sama kamu nanti"
"Tapi Verrel, aku juga ingin tahu siapa orang tua aku."
"Iya aku tahu sayang, tapi aku tidak mau kamu terluka!. Mereka bisa saja akan melukai kamu, meskipun mereka tidak akan membunuh mu" ucap Verrel meyakinkan Sintia. Dia sangat khawatir dan tidak akan tahan jika istri nya pergi menemui mereka terus menerus.
"Mereka sudah membunuh kedua orang tua kamu sayang. Untuk apa lagi di cari, kita tinggal balas dendam dengan menghancurkan mereka" bujuk Verrel. Namun, Sintia tetap menggeleng.
"Tidak Verrel. Meskipun mereka telah melenyapkan kedua orang tua aku. Tapi, aku ingin mengetahui tujuan mereka. Apa penyebab mereka membunuh kedua orang tua aku!"
Sintia terus kekeuh, Verrel Samapi hilang akal mencari cara untuk membujuk istri nya. Tapi, istri nya tetap tidak mau dan ingin melakukan semua ini sendiri.
"Baiklah, aku akan memberi mu ijin. Tapi dengan satu syarat"
"Apa?" sahut Sintia cepat. Dia cukup senang mendapat ijin dari suaminya
"Kamu harus membawa pengawal ke mana pun kamu pergi!" ucap Verrel mengajukan syarat.
Sintia mencebikkan bibirnya. Bagaimana dia bisa membalaskan dendam nya jika dia harus membawa pengawal.
"Tapi, kamu butuh itu sayang mereka bisa saja mencelakai kamu!" kata Verrel memikirkan sesuatu yang mungkin di alami oleh istri nya nanti.
Sintia menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya perlahan . Menatap suaminya dengan senyum manis, agar suaminya percaya kepada dirinya.
"Sayang, tenang lah. Jangan terlalu takut. Aku tidak akan meninggalkan mu. Aku akan bersama mu. Aku hanya sering bermain dengan mereka. Apalagi mereka sangat membutuhkan aku untuk menghidupkan perusahaan kembali!"
"Tapi perusahaan tidak pernah bangkrut Sintia" sela Verrel.
"Aku akan mempercayai mereka, dan akan membina hubungan yang baik dengan mereka. Aku akan membuat mereka percaya pada ku, sehingga aku akan membuat semua aset menjadi milik ku."
"Apa kamu yakin?"tanya Verrel ragu. Namun, keyakinan istri nya membuat dirinya ikut percaya
"Tentu saja sayang, aku bukan lah wanita buang lemah. Aku akan kuat dan aku pastikan akan membalas semua perbuatan mereka terhadap keluarga ku!" ucap Sintia serius. Tidak ada tersirat rasa takut dari nada nya berbicara. Sorot matanya tampak benar benar bertekad kuat.
Sebelum nya, Verrel melihat istrinya sangat lemah. Membutuhkan pengawal di setiap langkah kakinya. Karena Verrel tahu, istrinya ini terlalu baik dan terlalu mudah untuk orang lain menipunya dengan ketidak berdayakan mereka.
__ADS_1
Verrel berpikir, usaha Danrem mengelabui dan membujuk Sintia dengan cara sakit itu berhasil. Ternyata istri nya terlalu pintar untuk mereka tipu.
Kini, istri nya malah memainkan peran yang besar. Sintia yang terlihat polos tidak sepolos itu. Dia sangat pintar dan,, harus di akui dia juga licik.
"Baiklah, aku akan memberi mu ijin. Tapi, kamu harus berjanji akan menceritakan pada ku apapun yang terjadi. Mengerti?"
"Siap boss!!" Jawab Sintia dengan tangan hormat pada Verrel. Membuat pria itu gemas dan langsung mencium istrinya.
"Terimakasih sayang, kamu sudah mengerti aku" lirih Sintia memeluk suaminya. Dia sangat sangat bersyukur bertemu dan menikah dengan pria ini.
Setelah menemui suaminya di kantor, Sintia pun memutuskan untuk pulang. Menolak suaminya yang ingin mengantarnya. Sintia tidak mau di ntar, dia akan pulang sendiri meskipun pengawal selalu mengikutinya.
Sebelum pulang, Sintia mampir ke mall. Dia ingin membeli beberapa barang yang akan dia perlukan nanti.
Bruk~
"Ma maaf tuan. Saya tidak sengaja. Maaf.."
Sintia membantu memunguti barang barang seorang pria yang tidak sengaja dia tabrak.
"Ini tuan, maafkan aku. Aku tidak sengaja" ucap Sintia tidak enak hati. Dia memberikan barang pria itu dan menunduk hormat.
Pria itu menatap Sintia, bibir nya melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Tidak apa apa. Aku tidak papa, kamu berjalan tanpa melihat. Aku sarankan jangan melamun ketika di tempat ramai. Takutnya nanti kamu di rampok" nasehat pria itu.
Sintia tersenyum membalas nya, pria ini sangat sopan. Bahkan dia tidak marah ketika Sintia membuat kesalahan kepadanya.
"Iya tuan, maaf. Aku akan mengingat nasihat anda" ujar Sintia.
Pria itu mengangguk, mata nya masih menatap ke wajah Sintia. Dia pikir tadi wanita ini mengenalinya dan lari ketakutan. Ternyata tidak, dia tidak mengenalnya.
"Ya sudah tuan, saya permisi dulu" pamit Sintia.
"Baiklah , silahkan"
Sintia tersenyum, dia sekali lagi menunduk memberikan hormat pada pria itu. Lalu pergi dari hadapan pria itu. Tanpa ada rasa takut, dan tanpa rasa canggung.
__ADS_1
"Ehmm...Ternyata di lihat dari dekat, dia terlihat lebih cantik" Smirk licik tercetak di bibir tebal pria itu, membuat dia terlihat semakin tampan.
Siapa kah dia????