Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Merancang Strategi


__ADS_3

Untuk semua pembaca, Aku minta maaf. Untuk kesalahan yang sebelumnya. Bukan karena malas, tapi ada beberapa kesalahan ponsel ku sehingga membuat kesalahan up.


Aku minta maaf sama kalian semua. Tolong maafkan aku


...----------------...


Verrel menatap Sintia yang terbaring lemah di atas ranjang. Air mata nya perlahan mengalir dari sudut matanya tanpa di suruh.


"Mengapa kamu tidak mengatakan apapun pada ku Sintia?" lirih nya.


Verrel sudah mengetahui bahwa di dalam perut Sintia ada buah hati mereka.


Jika dia mengetahuinya sejak awal, maka dia tidak akan pernah membiarkan Sintia jauh dari sisinya.


"Engg...."


Verrel menghapus cepat air matanya. Menatap wajah istri nya yang kini menggeliat pelan. Seperti nya Sintia akan siuman.


"Verrel..."


"Iya sayang, aku di sini. Jangan takut lagi yah"


Verrel membantu Sintia, ketika wanita itu berusaha untuk bangun.


"Sayang, jangan banyak bergerak dulu. Kaya dokter kamu harus banyak beristirahat. Agar bayi kita tetap kuat dan aman"


Deg.


Sintia terkejut mendengar ucapan Verrel barusan. Apa dia sudah mengetahui semuanya? apa dia akan marah karena dia telah menyembunyikan semua ini darinya?.


Berbagai pemikiran masuk ke dalam benak nya.


"Sayang.. Kenapa tegang begitu? jangan pikirkan hal yang tidak tidak. Aku tidak akan marah, aku percaya. Kamu memiliki alasan setiap apa yang kamu lakukan kan?"


"Verrel, aku..."


"Tidak honey, aku tidak mau kita membicarakan apapun kali ini. Aku hanya akan fokus pada kesehatan mu saja oke." Potong Verrel.


Pria itu tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.


Sintia yang menunduk, kembali mendongak saat tangan hangat Verrel menggenggam tangan nya.


"Sayang... Aku tidak apa apa. Jangan pikirkan tentang apapun."


"Mengapa kau percaya sebesar itu padaku?" tanya Sintia terdengar konyol di telinga Verrel.


"Tentu saja aku percaya pada istri ku. Sejak awal, bahkan ketik istri ku keluar dari rumah ku. Aku tetap percaya, bahwa istri ku sedang melakukan sesuatu yang mungkin baik untuk nya. Tapi maaf sayang, aku tetap mengikuti mu dari jarak jauh"


Mata Sintia melebar besar. "Kau mengikuti ku?"


"Yah, tentu saja. Aku tahu kau kesana ke mari bersama Satria. Namun, aku tidak tahu jika kalian bersaudara"


"Kau juga sudah tahu?"


Sintia benar benar terkejut, bagaimana Verrel bisa mengetahui semua hal tentang nya.


"Apa kau penguntit handal?"


"Tidak sayang, aku hanya ingin menjaga istri ku. Dan ternyata istri ku sedang hamil bayi ku"

__ADS_1


Tanpa berkata kata lagi, Sintia langsung memeluk Verrel. Dia menyesal, dia sangat sangat menyesal karena sudah meragukan suaminya.


Sejak awal dia sudah menyembunyikan sesuatu yang besar dari suaminya.


Kini, Sintia baru sadar. Bahwa suaminya lah yang menyelamatkan nya.


Kruuuyuukk~


Sintia menggigit bibir bawahnya, merasa malu dengan suara perutnya.


"Sayang, suara apa itu?" Verrel mengurai pelukannya pada Sintia. Menatap wajah istri nya yang terlihat sangat lucu.


"Maafkan aku, tapi aku sangat lapar. Mereka tidak memberiku makan selama mereka menyekap ku" cicit Sintia.


"Kurang ajar!" geram Verrel.


"Tunggu lah di sini, aku akan membawa makanan yang banyak untuk mu!"


Sintia mengangguk, dengan wajah berseri dia menatap kepergian suaminya.


Tak lama kemudian, Verrel kembali dengan membawa banyak jenis kue dan buah kesukaan Sintia.


"Ayo sayang, makanlah.Jika kamu mau, habiskan semua ini" ujar Verrel mengusap pipi istri nya yang langsung melahap buah dan beberapa kue kesukaan nya.


Ceklek.


Widia menjulurkan. kepalanya masuk ke dalam kamar Sintia.


"Permisi"


Verrel dan Sintia menoleh, mereka kaget melihat Widia yang hanya menjulurkan kepala saja.


"Ada apa, mengapa kau ke sini?" tanya Verrel sinis.


Sintia memukul kepala suaminya. Berani sekali dia berkata seperti itu pada Widia.


Sedangkan Widia, dia malah tertawa melihat Verrel mendapat hadia dari istri nya.


"Ke marilah Widia, jangan berdiri di sana saja" panggil Sintia.


Widia pun langsung masuk, di menarik Verrel agar menyingkir dari sisi Sintia.


"Aku dengar kamu hamil yah, uuu... Sebentar lagi aku akan menjadi aunty" ujar Widia mengusap perut Sintia.


Sintia tersenyum manis, dia memeluk Widia dan meminta maaf karena kejadian beberapa waktu lalu. Dia sudah mencampakkan semua orang yang sayang dan peduli kepadanya.


Setelah saling meminta maaf dengan Sintia, Widia jadi ingat dengan tujuan utamanya datang ke kamar Sintia.


"Oh iya, Tadi Ayah dan tuan Satria meminta kamu ke ruangan depan!"


"Ngapain?" tanya Verrel ketus.


"Aku tidak tahu, kamu langsung ke sana saja" jawab Widia ketus. Dia kembali fokus pada Sintia.


"Iss..."


Verrel pergi ke ruangan depan.


Ini adalah markas, mereka berkumpul di sini untuk sementara waktu. Menunggu menjelang pertemuan besok pagi.

__ADS_1


Verrel masuk ke dalam ruangan itu. Gion dan Satria melihat kearahnya.


"Akhirnya kamu datang juga" ujar Satria.


"Maaf kakak ipar, aku tadi menemani Sintia makan dulu."


"Iya tidak apa apa, kami memaklumi nya" ujar Satria lagi.


Ceklek.


Reno masuk ke dalam ruangan, membawa banyak berkas yang tadi Gion minta.


"Ini ayah, semua yang ayah minta sudah aku dapatkan!"


Reno memberikan semua berkas itu pada Ayah mertuanya.


"Bagus, aku akan memeriksanya " jawab Gion menerima berkas berkas itu.


Mereka semua duduk di satu meja, memegang beberapa berkas yang berisi banyak informasi.


Mereka sedang membuat rencana, sebelum menghadapi pertemuan besar yang mungkin akan menjadi perang yang besar juga.


"Ini dia! Ini dia!" gumam Gion.


Reno, Verrel dan Satria menoleh kearah pria tua itu. Mereka menatap bingung padanya.


"Ada apa pak?" tanya Verrel.


Gion menunjukkan berkas itu pada mereka. Menjelaskan apa yang sudah dia temukan.


Verrel mengangguk mengerti, Satria juga mengerti. Misteri Naga hijau telah mereka pecahkan.


Malam itu mereka bergadang membuat strategi yang bisa memanipulasi Danrem dan menghukum pria itu yang sudah membuat mereka menderita.


...----------------...


Sintia beristirahat semalaman, dia merasa sudah baik baik saja.


"Aku sehat sekarang" gumam nya seraya turun dari atas ranjang. Mengenakan pakaian yang rapih dan siap untuk perang.


"Kemana semua orang?" gumam Sintia heran.


Sejak pagi, Sintia tidak melihat suaminya atau pun Widia mengunjungi kamarnya.


Sintia keluar dari kamar, dia terkejut melihat banyaknya senjata melekat pada dinding rumah. Oh tidak, mungkin ini bukan sebuah rumah.


"Apa kalian mengerti???"


Sintia menoleh, dia mendengar seruan suara tegas dari arah ruangan yang tidak dia tahu.


Cepat cepat Sintia masuk ke ruangan itu, dia penasaran dengan apa yang ada di dalam sana.


"Astaga, apa apaan ini. Kalian akan berangkat perang?" seru Sintia terkejut.


Semua anak buah Verrel dan Satria telah bergabung. Mereka sudah siap untuk berperang.


Verrel terkejut, istri nya ada di ruangan ini. Dia langsung menghampiri istri nya.


"Sayang, kamu sedang apa di sini. Ayo kembali ke kamar dan beristirahat"

__ADS_1


Verrel menggandeng tangan Sintia, namun wanita hamil itu menolaknya.


"Aku tidak akan kembali, aku akan pergi dengan kalian" putus Sintia.


__ADS_2