Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Persiapan Perang


__ADS_3

Terasa panas dan sedikit perih. Sintia memegangi pipi nya yang baru saja di tampar oleh Danrem dengan sangat keras.


"Jangan berani beraninya kau membentak ku Sintia. Kau hanya seorang wanita lemah. Tidak pantas membentak ku!" tekan Danrem penuh amarah.


Kehilangan Mutiara Naga hijau adalah salah satu pemicu emosinya tak terkendali.


Sintia masih terdiam, dia tidak menyangka Danrem melakukan hal ini padanya.


Oh astaga, Sintia memejamkan matanya. Dia lupa sesuatu. Dia lupa bahwa Danrem bukan lah orang tua nya.


Melihat Sintia diam saja, Rea menarik rambutnya. Seperti yang sebelumnya dia lakukan.


Kemarin Sintia bisa menakut nakutinya. Tapi sekarang, dia tidak akan takut lagi. Suaminya sudah bersama dengan nya.


"Ayo katakan, jangan berpura pura membisu!" bentak Rea.


"Kenapa aku harus menjawab kalian? " balas Sintia menantang. Membuat Danrem dan Rea semakin geram.


"Katakan pada ku, di mana kau menyimpan Mutiara Naga itu Sintia. Katakan sebelum aku kehabisan kesabaran!!" Ancam Danrem.


Bukan nya takut, Sintia malah tercengir seperti orang kehabisan akal. Melepaskan cengkraman tangan Rea di rambutnya dengan paksa.


"Ah. Aku paling tidak suka dengan kekerasan. Sudah cukup kalian menyiksa ku selama ini. Menyiksa hati ku!"


Rea ingin memukul Sintia lagi, tapi Sintia bisa menangkisnya dengan tatapan tajam.


"Jangan berani beraninya menyentuh ku lagi Rea. Atau, aku akan meledakkan rumah ini. Kita akan hancur bersama!"


"Benarkah? apa menurut mu kita akan percaya?" sahut Sela meremehkan.


Sintia tersenyum miring, dia berbalik mendekati Sela. Menatap penuh arti perut besar Sela.


"Mungkin anak malang ini akan lenyap dalam sekejap. Apa kau tidak akan takut?"


"Lakukan jika kau mau" ujar Danrem menantang. Dia tidak tahu jika Sintia sudah mempersiapkan semuanya.


"Baiklah, karena kalian memaksa."


Sintia berdiri di antara Rea dan Danrem. Melihat wajah penasaran suami istri itu.


Mungkin Danrem dan Rea memperlihatkan raut wajah biasa saja. Tidak takut dengan apa yang Sintia katakan.


Namun, Sintia tahu. Mereka sebenarnya khawatir dan penasaran apakah ancaman nya itu berarti atau tidak.


"Bagian Utara meledak lah!" ucap Sintia berteriak nyaring. Hingga sebuah sistem yang siap menunggu perintah langsung aktif.


Untuk beberapa detik tidak ada yang terjadi. Danrem dan Rea tersenyum miring.


"Pom... Bom..." Teriak Sela meledek Sintia, bahwa tidak ada yang terjadi.


Namun, suara ledakan terdengar keras dan suara teriakan anak buah Danrem terdengar hingga ke dalam ruangan mereka membuat mulut Sela bungkam.


"Apa? bagaimana bisa?" Rea berlari kearah jendela. Melihat bagian Utara rumah nya telah hancur.


"Bagaimana mungkin?" gumamnya tidak percaya.


Rea kembali menghadap pada Sintia. Menatap tajam kearah wanita itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Sintia. Apa kau tidak waras huh!" teriak Rea.


"Yea, aku tidak waras. Karena kalian melenyapkan kedua orang tua ku!" jawab Sintia cepat. Matanya menatap tajam kearah Rea, lalu Danrem.


"Kau mencari Mutiara Naga? mencari sesuatu yang bukan milik mu?"


Danrem melongo, bagaimana bisa Sintia mengetahui segalanya.


"Kau jangan asal bicara Sintia. Aku adalah penyelamat hidup mu. Aku yang menyelamatkan hidup mu dari tangan Eldor!" ucap Danrem.


Sintia melebarkan mulutnya, seolah terkejut mendengar ucapan Danrem barusan.


"Wahh... Sang penyelamat ku. Manusia yang telah melenyapkan kedua orang tua ku, lalu mengaku sebagai penyelamat??"


"Kalian adalah manusia yang tidak punya hati. Awal nya aku setuju dengan Mr topi. Bahwa Eldor lah yang melenyapkan Keluarga ku. "


"Memang dialah yang melenyapkan nya!" sela Danrem lantang.


"Bohong! Kau pembohong besar! aku sudah melihat semuanya. Aku melihat catatan cctv yang kau simpan. Aku sudah membuka nya Danrem Rafs. Kau yang melenyapkan kedua orang tua ku dan Mr topi!"


Teriak Sintia tidak tahan lagi. Dia benar benar marah ketika mengetahui segalanya. Bahkan ketika dia sudah tahu, dia bertemu dengan Danrem. Dia ingin membunuhnya saat itu. Tapi, dia tidak melakukan nya.


"Kau jangan asal bicara Sintia. Bagaimana mungkin kau dan Mr topi bersaudara?" cicit Sela.


Wanita itu merasa semakin iri dengan nasib Sintia. Menikah dengan konglomerat seperti Verrel. Memiliki seorang saudara yang kaya raya seperti Mr topi.


Oh ya ampun, Sela semakin ingin menjadi Sintia.


"Aku tidak asal bicara Sela. Kau terlahir dari seorang pria dan wanita pembunuh!"


Sela berdiri di hadapan Sintia. Dia tidak bisa menahan diri lagi.


Mungkin papa dan mama nya sangat jahat pada Sintia. Menyakiti hati wanita itu setiap hari. Tapi, mereka tetap menjaga Sintia sejak kecil. Hingga saat ini Sintia menjadi dewasa tanpa satu jari pun yang hilang.


"Aku sudah cukup mendengar ocehan mu Sintia. Kau berkata seolah kau tidak pernah menganggap mereka sebagai orang tua.


Ingat Sintia, selama ini kau tinggal dengan siapa? kau di besarkan oleh siapa?


Ya aku tahu, hidup mu di penuhi oleh ketidak adilan. Tapi ingatlah Sintia. Sebelum kau mengetahui mereka itu siapa. Kau mengakui mereka sebagai orang tua mu!" ucap Sela panjang lebar.


Kali ini, wanita itu berkata benar. Memang selama ini mereka merawat Sintia, meskipun tidak sepenuhnya dengan kasih sayang.


"Kau benar. Tapi, mereka melakukan semuanya. Hanya karena sebuah harta. Jika bukan karena sidik jari ku dan riwayat ku. Maka harta itu tidak akan bisa mereka nikmati. Semua aset milik keluarga kum Bahkan kakak ku tidak mengetahuinya!"


Plak!


Rea menampar nya, lagi dan lagi.


"Ini kah balasan mu setelah kami membesarkan mu huh? apa ini balasan mu?"


"Apa-"


Plak!


Sintia membalas tamparan Rea. Membuat Sela dan Danrem terkejut. Wanita lemah itu sudah sangat berani.


Sintia mana takut, bahkan jika dia harus mati hari ini. Dia juga tidak akan takut.

__ADS_1


"Sekali lagi kau menampar ku, maka aku akan menghancurkan seluruh bangunan ini. "


"Asal kalian tahu saja, setiap sudut yang tidak pernah kalian pikirkan. Telah aku pasang Bom yang hanya dalam hitungan detik bisa menghancurkan tubuh busuk kalian itu!" ucap Sintia memberi tahu.


Dia tersenyum menang. Satu keluarga ini tidak akan bisa bergerak. Karena semuanya tergantung pada suara Sintia. Entah apa itu kode nya, mereka tidak tahu.


Di sisi lain, Mr topi tengah menyusun rencana. Dia tahu melawan Danrem bukan lah hal yang mudah.


Mereka harus menyiapkan pasukan elit. Pasukan Mutiara Naga Hijau bukan lah lawan yang mudah.


Satria tahu didikan keluarganya paling hebat hingga turun temurun. Hanya pemegang Mutiara Naga hijau lah yang bisa mengendalikan mereka.


Bagi mereka Mutiara Naga adalah penyelamat mereka dari maut.


Kini, mereka tidak memiliki mutiara itu. Akan sangat sulit untuk melawan pasukan elit itu.


"Benito, bagaimana persiapan pasukan kita?"


"Sudah siap siaga boss. Hanya saja, aku khawatir pasukan kita tidak akan sepadan dengan pasukan elit itu. Meskipun mereka terlihat lemah. Aku sangat tahu bahwa, pasukan naga hijau memiliki kekuatan yang sangat kuat. Strategi bertempurnya sangat hebat." jelas Benito.


Satria juga tahu itu. Dia sangat yakin dengan ajaran papa nya pada mantan anak buahnya itu. Meskipun sudah bertahun tahun, mereka pasti mendidik pasukan junior dengan sangat baik dan menjadi kuat.


"Lakukan saja yang terbaik. Aku yakin, kebenaran akan selalu menjadi pemenang!"


"Baik bos"


Benito menunduk hormat, lalu pamit undur diri untuk mengecek kembali pasukan nya.


"Papa, mengapa kami malah jadi lawan pasukan mu? tolong restui kami" batin Satria.


Untuk pertama kalinya mafia kejam itu memohon di dalam hatinya.


Bukan karena ketakutan nya pada pasukan elit itu. Tapi, untuk keselamatan adik nya yang saat ini sedang menyibukkan Danrem.


Sedangkan Verrel, dia juga menyiapkan pasukan nya. Sebentar lagi pertemuan seluruh mafia akan di adakan.


Momen ini akan menjadi perang besar besaran. Verrel telah menyiapkan sekutunya.


Dengan bukti bukti yang dia miliki. Beberapa kelompok mafia besar telah bergabung dengan nya.


"Aku tidak akan membiarkan pengkhianat seperti mu bertahan lama di muka bumi ini Danrem. " Gumam Verrel penuh tekat. Matanya yang menatap lurus ke langit biru semakin menajam. Seolah sebuah pedang tengah membela langit seperti petir menjalari dinding awan langit.


Verrel pergi ke markas pusat nya. Di mana seluruh Anggota elit nya berkumpul menanti kedatangan nya.


"Salam Boss!!"


Seruan salam dari para anggota menggema di ruangan besar itu.


Verrel berdiri di atas panggung yang berbentuk seperti singgah sana.


"Semua nya dengarkan aku! Ini adalah perang terbesar kita. Mempertaruhkan nyawa demi kemenangan abadi. Kita akan membalaskan dendam orang tua kita yang telah mereka lenyapkan."


"Apa kalian siap???" Teriak Verrel kuat.


"Siap! Demi keluarga. Demi orang tua kita!" Sahut mereka kompak dan nyaring.


"Bagus, Bagus!"

__ADS_1


__ADS_2