Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Kabur?


__ADS_3

Dor!! Dor!!


Seketika ruangan itu di penuhi oleh asap. Entah dari mana asalnya mereka tidak tahu.


"Sialan!" Maki Danrem.


Setelah asap memudar, Satria dan Verrel sudah menghilang.


"Cari mereka!!!!"


"Baik boss!!"


Para pasukan Danrem langsung berpencar mencari Satria dan Verrel.


Sedangkan Danrem dan Asmar kembali ke lantai 25. Memeriksa kondisi Sintia.


Saat membuka pintu, ruangan itu sudah kosong.


"Kemana gadis itu pergi!" gumam Asmar.


"Papa?"


Sela masuk ke dalam ruangan, dia berpura pura terkejut tidak mendapati Sintia tidak ada di ruangan itu.


"Kemana gadis sialan itu?" tanya Sela.


"Kamu tidak tahu?"


Sela menggeleng cepat. "Aku tidak tahu pa, aku baru saja kembali dari dapur."


"Sial."


Dengus Danrem kesal, dia kehilangan Verrel dan Satria. Bahkan sekarang dia juga kehilangan tahanan nya.


"Tenang saja Danrem. Terpenting saat ini. Kita memiliki Mutiara Naga hijau. Pasukan Naga pasti akan memihak pada kita!" ujar Asmar.

__ADS_1


"Memangnya, kenapa dengan mutiara itu?" tanya Sela.


Asmar melirik putrinya, kemudian memandang mutiara yang ada di tangan nya.


"Mutiara ini adalah sebagai simbol penguasa hebat Mafia dan sebagai tanda gabungan dengan mafia dunia!" jelas Danrem.


Sela menatap lekat pada mutiara itu. Dia melihat persis sama seperti yang Sintia pegang.


"Kenapa kau menatap mutiara seperti itu?" tanya Danrem heran. Pria itu menyimpan mutiara ke dalam saku bagian dalam jas nya.


"Aku meras tidak asing dengan bend itu" ujar Sela.


"Kau pernah melihatnya?"


"Ya papa. Aku pernah melihat Sintia memegang benda ini."


Danrem tersenyum lebar, "Bagus jika kau pernah melihat nya. Karena Sekarang ini akan menjadi milik kita. Setelah bayi mu lahir, dan dia beranjak dewasa. Dialah yang akan meneruskan tahta ini." Terang Danrem.


Sela membalas senyum papa nya. Entah apa yang ada di pikiran nya saat ini. Namun, dia tetaplah putri yang menyayangi papanya. Orang tua satu satunya yang dia miliki.


Sela menurut, dia berbaring di atas ranjang. Menutup mata dan mulai masuk ke alam mimpinya.


Sedangkan Asmar dan Danrem duduk di sofa. Mereka harus membicarakan bagaimana strategi untuk melawan Satria dan Danrem.


Sementara itu, di luar sana. Membelah hutan dengan jalan gontai. Sintia mencari jalan keluar.


Tubuhnya sangat lemah, dia tidak kuat berjalan lagi.


Bruk.


Tubuh Sintia ambruk. Bertepatan saat itu. Beberapa penjaga melihat dirinya.


Sela berusaha ingin kabur, namun dia sudah tidak kuat lagi untuk berlari.


"Maafkan mama nak" lirih nya pasrah menunggu anak buah Danrem menangkapnya.

__ADS_1


"Sintia??"


Sintia berusaha membuka kelopak matanya, namun kegelapan lebih mendominasi dirinya. Hanya sekilas bayangan orang yang mendekatinya saja yang dia lihat.


Sintia tidak tahu siapa orang yang mendekatinya. Entah itu penjaga atau bukan. Kesadaran Sintia menghilang, dia pingsan di dalam pelukan Verrel.


Yah, pria itu berhasil menemukan istri.


"Hey, berhenti di sana!!"


Verrel menjadi panik. Dia bukan takut pada pengawal itu. Namun, dalam kondisi seperti ini Verrel tidak akan menang melawan mereka yang banyak.


Apalagi Sintia sedang pingsan. Sangat tidak memungkinkan bagi Satria dan Verrel untuk melawan mereka.


"Ayo bawah dia pergi!" seru Satria.


Verrel pun langsung menggendong Sintia. Membawa istri nya pergi dari sana.


Sesuai instruksi dari Reno, Satria dan Verrel dapat dengan cepat menemukan lokasi mobil nya.


"Astaga Sintia?" pekik Reno terkejut.


"Bawa dia masuk ke dalam mobil!" suruh Gion. Dia membukakan pintu untuk Sintia.


Satria sangat khawatir, dia melirik kearah kaki adiknya. Tidak ada tanda tanda bahwa Sintia keguguran. Itu artinya, kandungannya semakin berkembang.


"Terimakasih God, engkau sudah menjaga mereka" doa Satria dalam hati.


Mereka membawa Sintia ke markas. Memanggil dokter khusus untuk memeriksa Kondisi Sintia.


Setelah di periksa, dokter menyarankan agar mereka memberikan kesenangan pada gadis ini.


Sintia tidak boleh terlalu lelah, karena dia sedang..Sang dokter akan menyampaikan bahwa Sintia sedang hamil.


Namun, Dengan cepat Satria mencegahnya tanpa memberikan kecurigaan pada Sintia.

__ADS_1


Awalnya sang dokter bingung, namun setelah mendapat kode dari Satria. Dokter pun mengerti, dia hanya berpesan agar Sintia tidak terlalu capek.


__ADS_2