
"Sayang, aku akan berangkat bekerja"
"Baiklah sayang, ini makan siang mu yah"
"Oh ya tuhan, aku sampai lupa. Jika aku sekarang bukan pria lajang lagi, ada istri yang selalu menyiapkan makanan untuk ku"
Sintia tersenyum malu, ucapan suami nya sungguh membuat nya tersipu.
"Oh iya sayang, nanti aku akan pergi ke rumah sakit, dan aku akan pergi bersama Widia" ucap Sintia memberitahu. Meskipun dia sudah mengatakan pada suaminya semalam. Tetap saja Sintia kembali berpamitan.
"Itu bagus sayang, kamu harus merawat papa mu dan Widia akan mengawasi mu. Aku akan dapat semua laporan nya"
"Waw..Aku salah ambil langkah, ternyata teman ku adalah mata mata suami ku." gumam Sintia berpura-pura takut untuk menggoda suaminya.
"Sebaiknya kau hati hati sayang"
"Uuuuu takut sekali"
Lalu mereka tertawa bersama, Verrel memeluk istrinya.
"Baiklah sayang, berhentilah menggoda ku, sebelum aku memutuskan untuk tetap di rumah!" ujar Verrel.
"Ok honey, muachh...Bekerja keras lah, demi masa depan kita"
Mata Verrel terbelalak merasakan kecupan singkat dari istri nya.
"Honey, aku sudah memperingati mu.Agar tidak membuat aku membatalkan niat pergi bekerja sayang" ucap Verrel sensual, dia menahan pinggang istri nya agar tidak menjauh dari nya.
"Oh ayolah V, kau akan terlambat jika tidak pergi sekarang " rengek Sintia.
"Terlambat? siapa yang akan memarahi ku jika aku terlambat hm?? aku boss nya, tidak akan ada yang berani memarahi ku!"
Sintia menggigit bibir bawah nya, memikirkan bagaimana cara agar terlepas dari suaminya jika sudah begini.
"Kau yang memulai, dan tolong bertanggung jawab"
"Verrel..."
"Ayolah sayang, jangan memanggil ku dengan begitu, aku semakin ingi-"
"Maaf, apa aku mengganggu?"
Verrel dan Sintia terkejut, dan hal itu di gunakan oleh Sintia untuk melepaskan diri dari suaminya.
"Hai Reno, kau datang di waktu yang tepat. Ayo sini, aku akan membuatkan mu sandwich"
"Oh tidak Sintia, aku sudah kenyang. Widia sudah membuat perut ku hampir meledak"
"Oh benar kah?"
"Tentu" balas Reno. Dia sedikit merasa canggung, apalagi dengan tatapan tajam dari boss nya.
"Sayang, bukan kah sekarang waktunya untuk berangkat kerja?" ucap Sintia tersenyum mengejek pada suaminya.
"Yah, aku akan pergi sekarang dan akan segera pulang untuk menghukum seseorang "balas Verrel kembali hendak mendekati istri nya, tapi Sintia yang cerdas langsung menjauhi nya.
"Aku akan mencuci piring" ujar sintia langsung berlari kabur.
__ADS_1
"Oh astaga, awas saja nanti kau. Aku akan membuat mu kelelahan dan minta ampun" gumam Verrel menahan gemas pada istri nya
"Apa ada sesuatu boss?"
"Tidak!" ketus Verrel melangkah pergi meninggalkan Reno begitu saja
Reno mengangkat sebelah alis nya, heran dengan sikap jutek boss nya.
Setelah membereskan pekerjaan nya, Sintia pun langsung bersiap pergi ke rumah sakit. Dia baru saja mengirimkan pesan pada Widia, mengatakan bahwa mereka akan segera berangkat ke rumah sakit.
Pukul 10 pagi, Sintia menunggu Widia di depan rumah. Mereka akan berangkat menggunakan mobil Widia. Kemarin mobil Sintia tertinggal di rumah sakit.
Setelah beberapa saat, Widia pun datang. Sintia langsung masuk ke dalam mobil nya.
"Apa kau sudah siap nyonya Sintia Eldor??" tanya Widia dengan senyum manis nya.
Sintia yang baru saja setelah memasang sabuk pengaman langsung menoleh pada Widia.
"Tentu Nyonya Gracson." balas Sintia menyebut marga suami Widia. Lalu mereka tertawa bersama.
"Ayo kita berangkat!!"
"Ayo!!!"
Brmmm.....
Di rumah sakit, terlihat Danrem masih duduk di atas ranjang tanpa mengenakan alat alat medis. Dia merasa lelah menggunakan nya.
"Danrem, sebentar lagi Sintia akan datang ke sini. Kita harus meyakinkan dia untuk kembali pada mu. Kita harus membuat gadis itu memihak kepada kita!"
Asmar mengangguk, dia yang baru saja tiba langsung duduk di sofa.
"Di mana Sela dan Rendi?" tanya Rea pada Asmar. Pria baru baya itu hanya bergidik bahu. Dia tidak tahu kemana sepasang kekasih itu. Entah mereka sedang memadu kasih di kamar atau pergi kemana dia juga tidak peduli.
"Huh, di saat seperti ini mereka malah bersenang senang. Sedangkan aku, malah duduk di sini menjalankan drama ini!"
Danrem menggeleng mendengar gumaman istrinya.
"Oh iya Asmar, apa kau sudah mensetting kantor ku? apa semua orang sudah kau siapkan?"
"Tenang saja Danrem, Rendi pasti sudah mengurusnya. Aku sudah memberikan perintah kepadanya." jawab Asmar. Danrem pun mengangguk dan tersenyum.
Ceklek.
Semua mata langsung melirik kearah pintu, tiba-tiba seseorang membuka nya.
"Papa?"
Jleb.
Seperti yang tidak mereka harapkan. Sintia datang lebih awal dari yang mereka perkirakan.
Sintia melangkah cepat, mendekati pria yang kemarin berbaring lemah tidak sadarkan diri. Sekarang, tanpa alat medis papa nya duduk seolah dia adalah pria sehat.
"Papa sudah sadar?" tanya Sintia terkejut.
Semua orang juga terkejut, suasana terasa menjadi tegang.
__ADS_1
Widia tersenyum menang, akhirnya dia melihat kebohongan mereka terbongkar.
Danrem tersenyum lemah, seakan dia baru siuman dari koma .
"Pa- pa seakan bermimpi bisa bertemu dengan mu nak"
"Mulai drama nya" dengus Widia.
"Oh God, semoga Danrem tidak salah bicara" doa Asmar di dalam hati.
"Nak, maaf tidak memberitahu mu. Kami sangat terkejut, karena itulah tidak memberitahu mu" ucap Rea kembali baik.
"Benarkah? apa susah nya menghubungi ku? atau mengirim ku pesan!" protes Sintia.
"Susah ketika tidak ada niat" celetuk Widia.
"Diam kau!" tegur Rea menatap marah pada Widia.
"UPS.."
Sintia mendekati papa nya, memeluk erat seakan takut papa nya lari.
"Papa jangan seperti itu lagi yah, jangan buat Sintia takut lagi. Papa harus selalu sehat"
"Setiap manusia pasti akan mengalami hal ini sayang, terpenting kamu ada bersama ku"
Sintia merenggangkan pelukan nya pada Danrem, menatap pria baru baya itu sendu.
"Tentu pa, Aku akan selalu bersama papa" jawab Sintia kembali mengeratkan pelukan nya dengan papanya.
"Terimakasih sayang" Danrem tersenyum menang, dia melirik Widia yang menatap tajam kearahnya. Meskipun tahu bahwa Widia adalah mata mata Verrel, Danrem tidak bisa menahan ekspresi mengejek nya. Seolah dia memperlihatkan bahwa Sintia masih milik nya.
Ekspresi Danrem kembali tidak berdaya, ketika Sintia mengurai pelukan mereka.
"Papa, beristirahat lah. Aku akan berbicara dengan dokter soal kondisi tubuh papa"
"Oh tidak nak, aku sudah mengurus semuanya" sela Rea cepat. Dia tidak mungkin membiarkan Sintia berbicara dengan dokter.
"Kenapa? aku juga ingin tahu aoa penyakit papa!" tegas Sintia.
Rea menarik nafas, lalu menghembuskan nya secara perlahan. Dia mendekati putrinya, memegang kedua bahunya lembut.
"Nak, jangan seperti itu. Kita sedang mendapat musibah. Aku tidak mau kita bertengkar di sini" ujar Rea lembut. Pegangan tangan nya di bahu Sintia semakin kuat, membuat wanita itu hampir meringis kesakitan.
"Baiklah, aku tidak akan menanyakan hal itu pada dokter. Tapi, tolong beritahu aku, bagaimana kondisi papa?" rengek Sintia terdengar memohon.
"Papa mu baik baik saja nak, dia hanya syok dan koma beberapa saat. Sekarang dia sudah baik baik saja, hanya menunggu pemulihan saja" jawab Asmar.
Sintia berbalik, menatap Asmar dengan tatapan mencurigakan. Dia merasa sedikit aneh, papa Rendi tahu banyak tentang kondisi papa nya.
Yah, Sintia tahu mereka berteman sejak lama. Tapi, Sintia juga tahu bagaimana sikap Asmar dan papa nya. Mereka tidak pernah peduli soal yang seperti ini. Hanya bisnis dan bisnis yang membuat mereka kompak, bukan soal kesehatan tubuh.
"Wah, aku iri pada mu om. Kau lebih tahu banyak tentang papa ku, di bandingkan aku anak nya!" decak Sintia dengan ekspresi terharu nya.
Widia terkesiap, dia tidak tahu jika Sintia sangat pintar dalam berekspresi. Widia dapat melihat bahwa Sintia mencurigai mereka semua, tapi dalam sekejap ekspresi itu menghilang bagai di tiup angin.
"Sangat berbahaya, kau lebih berbahaya dari pada mereka Sintia" gumam Widia di dalam hatinya.
__ADS_1