
"Sialan. Siapa yang berani mengancam Danrem Rafs??"
Asmar menoleh, mendengar makian dan umpatan dari sahabatnya itu.
"Ada apa Danrem, mengapa kamu mengumpat?" Tanya Asmar penasaran.
Danrem menunjukkan layar ponselnya pada Asmar. Memperlihatkan sebuah pesan yang mengancam Danrem untuk mengembalikan semua hak Putra dan Putri Hino.
"Sialan, bagaimana mungkin ada yang tahu soal ini. Bukan kah kita sudah memusnahkan semua bukti?"
"Aku juga tidak tahu Asmar, aku juga heran. Bahkan orang ini pernah mengirimkan video yang juga kita miliki!" terang Danrem.
Kedua pria baru baya itu mulai di baluti oleh rasa kekhawatiran.
Apalagi Mr topi bukan kah orang sembarangan. Tapi, orang ini juga bukan orang sembarangan. Danrem tahu Mr topi adalah putra Hino juga karena orang ini.
"Aku yakin, dia tahu banyak soal kejadian di masa lalu. Kita harus menghabisinya."
"Benar, Kita harus menghabisinya. Jika tidak, rencana kita membuat Verrel dan Me topi berperang gagal." sahut Danrem.
Cling~
08xxz
Aku tahu, kalian sedang menduga duga siapa aku. Kalian tidak akan tahu, tapi aku ada di sekitar kalian!
"Sial!"
Danrem mencoba menghubungi no itu. Namun, tidak bisa di hubungi.
"Itu nomor rahasia, hanya dia yang bisa menghubungi kita" ujar Asmar.
"Arrgg Sial!" umpat Danrem.
Asmar terdiam sejenak, memikirkan rencana apa yang harus mereka lakukan agar mengetahui siapa dalang di balik pesan misterius itu.
...----------------...
Sintia pulang ke rumah, bersikap seperti biasanya tanpa ada apapun yang terjadi. Tidak akan ada yang tahu jika dia telah mengetahui siapa saudaranya.
Saat memasuki ruangan tamu, Sintia di sambut oleh Rea dengan perkataan tajam.
"Dari mana saja kamu, wanita bersuami tapi malah sibuk di rumah orang tua!" sindir nya.
__ADS_1
Sintia tetap acuh, dia melewati mama nya begitu saja. Seolah tidak melihat siapapun.
Hal itu tentu membuat Rea marah, dia merasa terhina dengan perlakuan Sintia itu.
"Heh, kamu gak dengar. Mama sedang bicara sama kamu?" Serga Sela yang kebetulan berdiri di anak tangga. Dia melihat sikap kurang ajar Sintia pada mama nya.
"Oh, Mama berbicara sama aku?" ujar Sintia pura pura bodoh.
Rea semakin marah, dia melangkah mendekati Sintia. Menarik rambutnya dengan sangat keras.
Dengan kondisi tubuh yang masih lemas, Sintia merasa sedikit pusing merasakan goncangan kuat dari tangan mama angkatnya itu.
"Seperti nya kau harus di beri pelajaran!" seru Rea.
Sela tersenyum senang, dia sangat suka melihat pemandangan ini.
"Lepasin rambut ku!!!"
"Tidak akan, kamu harus menerima akibatnya setelah menghina ku!"
Rea menarik rambut Sintia menuju ke ruangan keluarga, di sana tidak akan ada yang bisa mendengar teriakan gadis ini. Parah art tidak akan melihat kekejaman nya.
Sintia tidak bisa menahan nya lagi, pandangan matanya mulai menggelap. Dia terus berusaha agar tetap sadar dan menetralkan penglihatan nya.
"CK, teriakan kamu tidak akan berarti apa apa. "
"Ayo ma, teruskan, seperti nya baby ku juga menginginkan nya!" ujar Sela menyemangati mama nya.
"Baiklah nak" balas Rea tersenyum miring. Dia bersiap ingin menghajar Sintia, namun tiba-tiba tubuh nya membeku tidak berani bergerak.
Sela mengerut heran, mama nya mendadak bergetar dan tidak berani bergerak.
"Mama kenapa? kok gak jadi. Ayo teruskan. Tampar dia!" seru Sela.
Sintia menarik nafas, lalu merapikan rambutnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanan nya menodongkan pistol di pinggang Rea.
"Aku sudah katakan, berhenti lah. Tapi, kalian semakin ngelunjak!" ujar nya.
Mata Sela membulat sempurna, saat pandangan matanya menangkap tangan Sintia tengah memegang pistol.
"Apa yang kau lakukan Sintia! kau bisa membunuh mama. Dia itu mama mu!" teriak Sela histeris.
"CK. Kau menanyakan apa yang aku lakukan? lalu. Apa yang kalian lakukan pada ku huh??"
__ADS_1
Suara Sintia semakin meninggi, terlihat jelas bahwa dia bukan lagi Sintia yang dulu.
"Kau bilang dia mama ku? Tidak, aku sudah tahu semuanya!!" teriak Sintia emosi.
"Kau gila?"
Dor!! Dor!
Sela bergetar, dia tidak percaya bahwa Sintia akan melepaskan pelurunya.
Beruntung Sintia tidak menembakkan kepada mereka.
"CK.. takut???"
Plak!
Satu tamparan terbit di wajah Rea. Menyisakan jejak merah di kulit pipi nya.
"Jika aku mau, kalian sudah aku bunuh dalam hitungan detik. Tapi, karena aku masih memiliki rasa hormat kepada mu!! karena itu aku membiarkan mu tetap hidup!" Seru Sintia tajam.
Rea masih diam, dia tidak berani mengatakan separah kata pun. Dia masih syok dengan apa yang Sintia lakukan.
"Menyebalkan!" dengus Sintia berlalu pergi.
Fyuu...
Rea, ambruk di lantai. Jantung nya masih berdetak cepat. Kakinya masih bergetar ketakutan.
"Mama..."
Sela menghampiri mama nya,dia tahu mama nya ketakutan dan dia juga merasakan hal itu.
Sejak hari itu, Sela dan Rea tidak berani pada Sintia. Mereka juga tidak berani memberitahu Danrem soal itu.
Ketika Danrem tidak di rumah, maka Sintia akan menghajar mereka. Membuat mereka ketakutan setengah mati. Bahkan keduanya menjadi pelayan Sintia.
Entah itu bawaan bayi, Sintia merasa senang menyiksa dua orang itu.
"Dari dalam kandungan, kamu sudah memperlihatkan siapa dirimu nak. Mama bangga pada mu" kekeh Sintia sambil mengusap perut nya yang masih rata.
Selain itu, Sintia juga harus menahan diri agar tidak bertemu dengan Verrel. Dia akan melaksanakan rencana nya malam ini.
Besok Sintia akan mengakhiri segala masalah ini. Dia akan bahagia berkumpul dengan suaminya setelah mengetahui masalah utama ini. Siapa yang menjadi target utama nya.
__ADS_1
Apakah itu Verrel, atau malah Danrem dan Asmar. Dia masih bingung. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika keluarga eldor yang ternyata musuh besar nya.