Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Siapa Gion?


__ADS_3

Mr Topi, Verrel, Reno dan Widia masuk ke sebuah ruangan.


Mr topi hafal betul ruangan apa ini. Dia tidak akan lupa di mana tempat dia di besarkan. Hanya karena dia harus berlatih, Mr topi harus rela jauh dari keluarganya.


Mereka menatap sosok pria tinggi dengan tubuh kekar yang sedang membelakangi mereka.


"Siapa kau?" seru Verrel lantang.


Widia menatap orang itu, dahi nya mengerut. Aroma yang sangat dia kenali ini tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam Indra penciuman nya.


"Akhirnya, Kalian datang juga"


Perlahan orang itu berbalik menghadap pada mereka. Menatap pemimpin Mafia yang terkenal licik dan sulit di hadapi seperti Verrel dan Satria.


"Welcome!"


Mereka menganga, tidak percaya dengan penglihatan mata mereka saat ini.


"Ayah?"


Reno menatap istrinya dengan ekspresi terkejut, Widia memanggil orang itu ayah?.


Pandangan mata pria paru baya itu beralih pada seorang wanita. Air muka nya berubah menjadi hangat.


"Ayah!" seru Widia lagi, dia langsung berlari mendekati pria tua itu.


"Putri ku." Sambutnya.


"Widia..."Seru Reno hendak menahan istri nya.


Namun, Verrel mencegah nya. "Biarkan saja" lirih Verrel.


Alhasil, Reno terpaksa membiarkan istrinya mendekati pria yang sama sekali tidak dia kenal.


"Ayah"


Tangis haru seketika menghiasi ruangan itu.


Gion Adrianto, pria 50 tahun. Tubuh tegap dengan tatapan tajam khas seorang mafia.


Dia adalah ayah Widia, menjabat sebagai supir pribadi khusus untuk Hino. Sedangkan ibu Widia merupakan seorang koki khusus untuk keluarga Hino.


Mr topi terdiam, menatap pria yang sudah bertahun tahun lama nya tidak dia temui.


Dia kenal dengan Gion, namun tidak dengan Widia. Ketika Widia lahir, Satria sudah pergi untuk berlatih.


"Bagaimana kau bisa selamat?" tanya Satria tiba-tiba.


Verrel menatap Satria bingung, dia tidak mengerti dengan pertanyaan Mr topi.

__ADS_1


Gion yang sedang memeluk putrinya segera mengurai pelukan mereka. Menatap Satria dengan tatapan rindu.


Verrel dan Reno saling melirik, pikiran mereka di penuhi oleh pertanyaan yang sama.


"Tuan."


Gion berdiri di depan Satria, menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat kepada anak majikan nya. Meskipun sekarang majikan nya sudah tiada.


"Ayah, mengapa memanggil dia dengan sebutan.." Widia terdiam, mata kecil nya membulat sempurna.


"Ayah..Jangan bilang dia..."


"Iya Widia, dia adalah Satria, kakak nya Sintia! Putra sulung Hino dan Felicia yang hilang dalam kecelakaan yang di sebabkan oleh Danrem dan Rea. Mereka berpikir Satria telah meninggal tenggelam di dalam lautan.


Tapi, nyatanya tuan Satria masih hidup. Dia di selamatkan oleh seorang wanita yang telah meninggal 15 tahun yang lalu!"


Widia sangat terkejut, Verrel yang paling terkejut.


Gion menoleh pada Verrel. Dia tersenyum bangga pada pemuda yang sejak kecil sudah berjuang melawan takdir yang harus memaksanya tetap kuat.


Apalagi Verrel sudah melindungi putrinya hingga saat ini.


"Verrel Eldor. Putra kebanggan tuan Eldor. Seperti yang ayah mu katakan. Kau adalah pria sejati yang akan meneruskan tahta nya." ujar Gion.


"Ayah apa maksud semua ini, mengapa ayah mengumpulkan kami semua di sini? apa ayah yang selama ini mengirim pesan misterius itu?"


"Benar sekali, Aku yang telah melakukan nya. " Jawab Gion.


Namun, Gion menggeleng.


"Danrem dan Asmar sangat licik. Mereka akan melenyapkan semua orang yang menjadi saksi kejadian di masa lalu. Aku tidak sebodoh itu, aku harus membuat kalian menjadi kuat dengan video video itu. Agar kalian tidak lengah, karena itulah aku memberikan pada Verrel setengah video, lalu kepada mu setelah kau bekerjasama dengan Danrem. Aku sengaja membuat semua kesalahpahaman ini. Agar kalian saling tidak percaya dan tidak terpedaya oleh Danrem."


"Apa itu sebab nya kau bersembunyi?" ujar Satria.


"Sebentar!"


Verrel menyela, dia maju selangkah kebdepan.


"Berani sekali kau menyela pembicaraan aku dan Gion!" geram Satria marah.


"Sabar tuan,,, " Gion mempersilahkan Verrel berbicara.


"Silahkan ungkapkan apa yang ingin kamu ungkapkan" seru Gion pada Verrel.


"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Aku bisa melihat kau adalah ayah dari Widia, tapi bagaimana dengan Mr topi? siapa kau sebenarnya??"


"Bodoh!" decak Satria.


Verrel menatap tajam pada Satria, ketika dia mendengar dengusan pria itu. Namun, karena kondisi mereka saat ini. Verrel melupakan emosinya.

__ADS_1


"Verrel, ayah ku adalah supir pribadi tuan Hino. Papa Sintia dan tuan Satria. Sedangkan ibu ku adalah koki di rumah utama." jelas Widia.


"Apa? jadi kau mengenal Mr topi?"


Widia menggeleng, dia tidak mengenali Mr topi. Sejak kecil dia hanya mengenal nama Satria saja. Lalu dia pernah melihat foto Satria yang selalu di bawa oleh Sintia.


"Aku tidak pernah bertemu dengan nya, aku hanya mengenal nama nya saja."


"Mengapa kau tidak mengatakan apa apa soal Sintia?" kini Reno yang angkat bicara.


Widia tersenyum, dia mendekati suaminya. Meraih tangan Reno, lalu menggenggamnya erat.


"Sayang, aku tidak bisa angkat bicara. Kamu tahu sendiri dunia Mafia itu bagaimana. Jika kita mengetahui fakta, maka itu sama saja seperti kita meracuni diri sendiri"


"Aku tidak bisa memberitahu siapapun soal Sintia adalah anak majikan ku. Bahkan Verrel hanya tahu aku merupakan orang yang tersesat di rumah ini. Sebagai teman Sintia" sambung Widia melirik kearah Verrel.


"Widia benar, aku cukup takjub pada tindakan putri ku yang selam Aini sudah melindungi Sintia secara diam diam. Aku mengawasi kalian semua. Bahkan aku pernah menjadi tukang kebut di komplek damai."


Reno terkejut, pantas dia merasa familiar dengan wajah Gion.


"Maaf, aku sudah membuat kaliang saling bertarung. Semua itu hanya bertujuan agar kalian saling memahami, dengan melihat kelemahan satu sama lain. Kalian bisa saling memahami dan kompak melawan Danrem!"


Satria dan Verrel sama sama terlonjak. Ingatan mereka tertuju pada Sintia yang masih ada di tangan Danrem.


"Sintia??" gumam mereka kompak.


"Benar, kita harus menyelamatkan nona Sintia, dia pasti menunggu kita." Ujar Widia.


Gion berbalik badan, menghadap pada anak buah nya untuk menayangkan cctv yang sudah dia pasang di rumah Danrem.


"Sintia!!" pekik Verrel dan Satria serempak saat melihat Sintia yang terkurung di dalam sebuah ruangan.


"Danrem mengurung Nona di ruangan sebelah selatan rumah nya. Ini adalah ruangan tempat Nyonya di sekap dulu" terang Gion.


"Keparat. Aku akan membunuh mu!!" geram Verrel hendak beranjak pergi.


"Tahan dulu Verrel! ini tidak semudah yang kau pikirkan. Mereka bisa memanipulasi tuan Hino dan Nyonya Feli. Tentu mereka tidak sepadan dengan kalian jika kalian langsung menghadang mereka."


"Lalu, apa menurutmu aku harus diam saja??" marah Verrel.


"Kita harus segera menyelamatkan adik ku!" sahut Satria. Kali ini dia searah dengan Verrel.


"Jangan terburu buru. Ini sudah dalam rencana ku dan nona Sintia"ucap Gion.


Mendengar ucapan Gion membuat mereka semua terkejut.


"Jadi, kau sudah bertemu dengan adik ku?"


"Yah. Dia gadis yang cerdas. Melebihi mama mu, nyonya Felicia. Sintia menemukan aku, setelah aku mengirim foto Mutiara Naga Hijau, dia melacak ku dengan cara yang unik. Akhirnya kami bertemu dan membuat rencana ini" jelas Gion.

__ADS_1


Mereka menatap ke layar, tanpa mereka duga. Sintia tersenyum pada kamera cctv. Mengangkat jempol nya keatas sebagai tanda dia baik baik saja.


"Istri ku!" gumam Verrel lirih.


__ADS_2