Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Pria perkasa Ku


__ADS_3

Sebelum aku melanjutkan kisah Sintia dan Mafia licik Verrel. Aku ingin mengucapkan kepada kalian semua, bahwa aku sangat berterimakasih kepada pembaca setia ku. Kalian hebat, dan sangat keren. Terimakasih sudah meluangkan waktu berharga kalian untuk membaca karya ku, yang mungkin jauh di bawah kata bagus. Aku sangat menyayangi kalian.


I LOVE YOU READERS... (Jawab di kolom komentar yah)


Ok next .


...----------------...


Verrel terus menatap wajah istri nya. Setelah pulang dari rumah sakit, mereka beristirahat di kamar.


Sintia menyadari apa yang suaminya lakukan, tapi dia terlalu malu untuk menyanggah nya. Dia sedang salah tingkah sekarang.


"Sayang.."


"Hmm"


Verrel berdecak kesal, istri nya tidak mau menoleh padanya. Dia malah sibuk dengan ponsel nya.


"Sayang..." Verrel merengek sembari menarik lengan istrinya agar semakin dekat kepadanya.


Sintia terkejut dan tidak sempat menahan tubuhnya. Alhasil, dia terhuyung dan menimpa dada kekar suaminya.


Verrel hanya mengenakan singlet putih saja, jadi Sintia dapat merasakan kotak kotak perut Verrel di balik kain tipis itu.


Tangan nya bergerak, mengusap ke dada bidang Verrel.


"Sayang..Ahh...Jangan memancing ku" lenguh Verrel memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Sintia.


Deg.


Sintia tersentak, dia baru sadar dengan apa yang dia lakukan. Matanya menatap ke manik mata yang baru saja terbuka itu.


"Kau sungguh membuat ku gila Sintia" desis Verrel.


"Ma-maafkan aku Verrel, aku tidak bermaksud"


"Tidak sayang, sudah terlambat. Jika tadi pagi ku bisa kabur, tapi tidak dengan malam ini. Aku tidak akan melepaskan mu lagi"


Sintia panik, dia merutuki dirinya yang terlena ketika merasakan roti sobek suami nya.


Sekarang, dia harus menanggung akibatnya. Sekali hempasan, Verrel berhasil membalikkan posisi mereka. Kini istrinya sudah berada di bawah nya.

__ADS_1


"Ahs.. Verrel, aku tidak sengaja!"


"Sengaja atau tidak sengaja itu bukan masalah. Karena kita berdua memang tidak memiliki masalah!"


Glek. Sintia menelan saliva nya susah payah. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan dia juga tahu, nafsu suami nya sudah sejak kemarin tertahan.


Verrel tersenyum manis, kabut gairah terlihat jelas di matanya. Dia mulai mengikis jarak di antara keduanya. Semakin menekan Sintia agar segera mempertemukan bibirnya dengan bibir sexy Sintia dan candu bagi nya.


Meskipun sudah beberapa kali melakukan nya, tetap saja jantung Sintia berdetak cepat. Dia sangat gugup hingga tak sanggup untuk melakukan nya.


"Sayang, apa kau tidak lelah?" ujar Sintia tiba-tiba, tangan nya menahan dada suaminya.


"CK, aku sudah lelah sayang dan aku akan melepas lelah ku bersama mu"


Sintia memutar otak nya, berpikir untuk menghindarinya. Bukan tidak mau, tapi kalian lihat saja sekarang masih pukul 8 malam . Sintia merasa ini bukan waktu yang tepat. Semakin larut maka semakin baik baginya.


Suaminya itu adalah pria perkasa, jadi dia akan sanggup bila istri nya mau meladeninya hingga subuh.


Tidak ada jalan lain lagi, Sintia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dia harus mempersiapkan tenaganya untuk bertempur hingga pagi tiba. Apalagi besok, adalah hari Minggu.


Sedikit lagi, wajah mereka hanya berjarak 5 cm saja. Sintia sudah dapat merasakan hembusan hangat nafas suaminya.


Tidak bisa berkutik, Sintia memejamkan matanya. Menantikan bibir tebal dan hangat menyapu bibirnya.


Teg.


Mata Verrel dan sintia terbuka secara bersamaan. Mereka saling menatap dengan makna yang berbeda.


Sintia tersenyum canggung, sedangkan Verrel menatapnya kesal. Lagi lagi hasratnya akan tertunda.


"Seperti nya kita butuh asupan gizi untuk menambah tenaga sebelum bertempur" cicit Sintia.


"Huhh..Sayang kau selalu saja membuat ku jengkel dan gemas. Di saat semuanya memuncak, kau malah lapar??"


"Sayang jangan salahkan aku. Salahkan cacing ku yang selalu ingin makan"


"Yayaya...Kau selalu ingin makan dan makan. Tapi tubuh mu tidak bertambah. Sekarang aku tanya, kemana makanan yang kamu makan itu hm??",


Sintia memanyunkan bibirnya, dia malah tersinggung dengan ucapan suaminya barusan.


"Jika kau ingin bertanya, maka tanyakan saja sama cacing yang ada di dalam perut ku ini!" dengus nya dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Haruskah? baiklah, aku akan menanyakan nya!" Verrel segera menggeser kan tubuh nya ke bawah, menyetarakan wajahnya dengan perut ramping Sintia. Menyibak sedikit baju kaos hitam yang sedang di pakai oleh Sintia.


"Muachh....Perut, tolong beritahu aku, kemana makanan yang masuk ke perut ini. Mengapa dia tetap langsing? muachh!" tanya Verrel mengawalinya dengan kecupan dan mengakhirinya dengan kecupan juga.


"Tanyakan saja pada cacing nya, aku tidak tahu. Aku hanya menampung di sini. Atau mungkin ada baby!" celetuk Sintia menjawab dengan menggunakan suara perutnya. Dia tidak sadar telah membuat seorang Verrel menjadi terdiam setelah mendengar kata baby.


"Sayang, apa yang kamu katakan? apa kita akan punya baby?"


"Tentu sayang, kita pasti akan memiliki baby. Setidaknya setelah kita akan berusaha sampai di memutuskan untuk hadir di kehidupan kita"


Muachhh..


Muacchhh...


"Aku senang mendengar kamu ingin memiliki bayi bersama ku. Aku sangat senang sekali. Sekarang, ayo kita makan. Mengisi tenaga dan bekerja keras membuat bayi"


"Huh?" Sintia melongo mendengar balasan suaminya, bahkan dia belum sempat bereaksi. Suaminya dengan semangat menggendong dirinya keluar dari kamar dan setengah berlari menuju ke dapur.


"Duduk dan tunggu. Aku akan menyiapkan makanan untuk ibu dari anak anak ku!"


"Ohw..Manis sekali" decak Sintia senang.


Tidak pernah terbayangkan, selama ini tertekan perasaan oleh keluarga dan juga kekasih sendiri. Kini Sintia di di pertemukan dengan pria yang sangat menghargai wanita. Menyayangi nya dan berusaha mencintai nya.


Sintia tidak tahu bagaimana perasaan nya terhadap Verrel, tapi dia bisa memastikan bahwa hati nya nyaman bersama pria ini. Suami nya. Pria perkasa yang akan melindunginya.


Entah di luar dia merupakan pria yang kejam, mudah membunuh atau apapun itu. Sintia tidak peduli. Dia hanya ingin hidup bersama suaminya.


...----------------...


Di sebuah ruangan, hanya sedikit penerangan yang menemani mereka.


Seorang pria dengan rahang tegas, dan mengerikan.


Dia adalah Mr Topi. Pria yang hampir sebaya dengan Danrem. Tapi, dia lebih berwibawah, karena dia seorang mafia. Nyawa tidak berarti bagi nya, tapi kesetiaan dan dendam, adalah paling penting baginya.


"Cari tahu, tentang istrinya. Bagaimana Keluarga nya dan sifat aslinya!" titah Mr Topi tegas, terdengar menakutkan dengan suara yang bergema di antara pencahayaan remang remang


"Baik tuan!" balas dua anak buah nya yang memiliki aura sama seperti dirinya. Yaitu, aurah kematian.


Tatapan mata nya sangat tajam, melebihi tajam nya mata silet yang sekali goresan kecil mampu menimbulkan darah.

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa lari kali ini Verrel. Aku akan membalaskan dendam kedua orang tua ku. Aku akan membuat mu membayar nya!!!! " desis nya dengan suara yang mampu membangunkan bulu Roma.


__ADS_2