Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 13. Kenyataan


__ADS_3

"Kalau gitu kamu istirahat gih sambil menjaga Sameer, Mbak berdoa dan berharap Sameer cepat sembuh dan tidak akan ada lagi kejadian seperti ini ya menimpa calon suamimu itu," terangnya Mbak Annisa.


"Amin, makasih banyak Mbak Annisa, kalau Ayesha bangun katakan padanya aku baik saja dan nginap di tempat kerja di toko indo April supaya putriku tidak khawatir, assalamualaikum," ucapan Nada sebelum menutup sambungan telponnya itu.


Sudah jam 2 larut malam barulah matanya Nada Atiillah Ahmad bisa terpejam. Sedangkan Sameer Elrumi Sungkar belum sadarkan diri juga.


Sekitar jam 6 lewat barulah Sameer bangun dari pingsannya itu. Matanya ia arahkan ke sekeliling dan sedikit terkejut saat menyadari jika ia sedang berada di dalam salah satu ruangan perawatan rumah sakit swasta yang ada di Makassar.


"Aauhhh!" Keluhnya Sameer lalu memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.


Sameer segera mengingat beberapa kejadian yang terjadi padanya sebelum ia terjatuh pingsan karena akibat lemparan vas bunga yang dilemparkan oleh Nada ke arahnya yang mengenai pelipisnya.


Sameer segera meraba kepalanya lalu tangannya merasakan ada yang perban yang cukup tebal yang membalut kepalanya itu.


"Separah ini kah padahal hanya vas bunga yang kecil dan juga aku sempat menghindar," batinnya Sameer yang berusaha untuk bangkit dari baringnya.


Tanpa sengaja ia merasakan ada sesuatu yang menekan bagian tangannya yang cukup berat. Dia arahkan kepalanya ke arah benda itu dan ternyata Nada yang masih tertidur nyenyak dengan menjadikan sisi kosong ranjangnya sebagai tempat kepalanya untuk bersandar.


Sameer berusaha untuk mengelus puncak kepalanya Nada yang tertutup hijab dengan pakaian kerja indo April yang masih dipakainya sejak kemarin pagi.


"Maafkan aku, aku sudah terlalu bersalah padamu Nada! Mas tidak berniat sedikitpun untuk melukai ataupun merenggut mahkotamu itu, saat itu aku terlalu mabuk sehingga kesadaran ku waktu itu terganggu, Mas mohon maafkanlah aku Nada!" Lirihnya Sameer dengan air matanya yang menetes membasahi pipinya tanpa ia sangka.


"Aku takut jika kamu pergi jauh dari hidupku Nada, aku takut kehilanganmu, aku tidak sanggup hidup lagi jika kamu pergi dari hidupku," batinnya Sameer seraya menyeka air matanya itu.

__ADS_1


Sameer buru-buru menghapus jejak air matanya ketika pintu kamar perawatannya terbuka lebar dari luar dengan sedikit keras itu. Ia kembali berpura-pura tertidur pulas.


"Sameer! Apa yang terjadi padamu putraku! Mama tidak nyangka jika hal seperti ini terjadi padamu Nak," ratapnya Bu Sarah ibunya Sameer.


Ibu Sarah mendekap erat putra sulungnya itu dengan penuh kelembutan dan sedih melihat putranya harus terbaring emah di atas bangkar rumah sakit. Sameer perlahan membuka kelopak matanya dan berpura-pura kalau ia baru saja bangun dari tidurnya.


"Mama," imbuhnya Sameer dengan suara yang cukup lemah.


"Putraku bagian mana yang kamu rasakan sakit Nak! Katakan sama Mama!" Tanyanya Bu Sarah.


Sameer menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya," Hussshhh!! Jangan ribut Mama! Kasihan Nada baru saja tertidur semalaman ia menjagaku seorang diri di sini," ujarnya Sameer yang mencegah mamanya untuk mengeraskan suaranya disaat ia berbicara.


Bu Sarah segera mengarahkan pandangannya ke arah Nada yang tertidur dengan beralaskan tangannya yang terlipat. By Sarah menatap jengah ke arah mereka.


"Mama! Stop jangan bicara seperti itu, Mama dia adalah calon istriku sendiri dan dia bukanlah perempuan pembawa malapetaka dan kesialan!" Sanggahnya Sameer yang tidak menyukai dengan perkataan dari mamanya yang sangat kasar itu.


Sameer segera memperbaiki posisi duduknya agar bersandar di sandaran ranjang. Apa yang dilakukan oleh keduanya anak ibu itu sedari tadi diperhatikan dan didengar langsung oleh Nada. Tapi,ia hanya berpura-pura untuk tertidur saja agar apa yang selama ini tidak diketahuinya akhirnya terbuka juga.


"Ya Allah… ternyata Mamanya Mas Sameer tidak menyukaiku dan sama sekali tidak merestui hubungan kami berdua padahal kami akan menikah hanya tersisa menghitung hari saja kami sudah resmi menjadi pasangan suami istri," Nada membatin.


"Mama! Aku mohon hormati dan hargai keputusanku ini, Mama perlu tahu mama suka atau tidak aku akan tetap menikahi Nada, lagian apa salahnya Nada sehingga mama sama sekali tidak menyukai Nada padahal Nada sama sekali tidak punya salah apapun kepada Mama!" Kesalnya Sameer yang sedikit mulai terpancing emosinya saking jengkelnya dengan sikap mamanya.


Bu Sarah menatap jengah putranya itu," Apa kamu katakan ha!! Jadi kamu lebih memilih perempuan yang harus melahirkan seorang anak diluar nikah, hingga detik ini siapa pun tidak ada yang tahu ia hamil anak siapa! Perempuan seperti itu kah yang kamu ingin nikahi?! Kalau mama diposisi kamu, pasti Mama ogah dan tidak mungkin sudi menikahi perempuan tidak jelas sepertinya!" Sindirnya Bu Sarah yang sengaja mengeraskan suaranya agar Nada mendengar perkataan dari mulutnya.

__ADS_1


Nada meneteskan air matanya saking tidak percayanya mendengar hinaan demi hinaan yang dilontarkan oleh calon Mama mertuanya itu.


Sameer semakin dibuat emosi dengan perkataan yang meluncur dari mulut mamanya yang sama sekali tidak menduga jika mamanya cukup kasar dan tidak punya perasaan dan hati nurani.


"Mama! Aku mohon stop menghina Nada, apa mama tahu apa yang dialami oleh Nada selama ini?! Tentu tidak! Dia perempuan yang baik-baik yang harus terpaksa merelakan kesuciannya di hadapan pria brengsek yang mabuk padahal pria itu dialah yang menolong, tapi naas malah Nada menjadi korban pelecehan sekk suuuaal, hampir lima tahun ia harus hidup dalam hinaan dan sindiran dari orang-orang, gara-gara pria bajingan itu," ketusnya Sameer.


Bu Sarah hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulut putranya itu," aku heran! Kenapa kamu dengan pintar dan lihainya mengarang cerita yang sama sekali tidak masuk akal seolah kamu sangat mengetahui kejadian itu saja!" Sindir Bu Sarah.


"Apa aku jujur saja agar kedepannya tidak ada lagi kesalahan pahaman nantinya, Kasihan juga kalau harus dihina, difitnah ,di bully karena bukan semua kesalahannya tapi aku lah yang bersalah," batinnya Sameer yang tiba-tiba terdiam sejenak dan memikirkan banyak kemungkinan yang bisa terjadi.


"Kamu tidak bisa bicara kan?kamu itu jangan sok jadi pahlawan kesiangan untuk membela dirinya yang sudah hina dengan perbuatannya sendiri!" Nyinyir Bu Sarah yang seolah mendapatkan hadiah jika ia menghina orang lain.


Sameer menggenggam erat ujung spreinya dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan ketakutan dan egonya itu, "Mama!! Please aku mohon stop!! Apa Mama mau tahu kenapa aku tahu semua yang terjadi pada nasibnya Nada?! Kenapa aku mengetahui semua karena aku adalah Pria bajingan itu yang merenggut mahkotanya Nada dengan paksa, aku pria itu Mama!!" Teriaknya Sameer yang tidak tahan lagi dengan semua sikapnya Bu Sarah itu.


Apa yang dikatakan oleh Sameer barusan membuat Bu Sarah hingga langkahnya mundur selangkah ke arah kebelakang. Sedangkan Nada langsung bangkit dari tidur pura-puranya itu. Nada segera bangkit dari duduknya lalu tanpa suara apapun segera berjalan terburu-buru meninggalkan anak ibu yang sedang berselisih paham itu.


Sameer tidak menyangka jika ternyata apa yang dibicarakan olehnya dengan mamanya terdiam terpaku di tempatnya. Dia buru-buru bangkit dari baringnya karena ingin segera mengejar Nada yang berjalan cepat pergi dari sana.


"Nada!! Tunggu!! Jangan pergi! Mas akan menjelaskan semuanya!" Jeritnya Sameer yang berusaha untuk mencabut selang infusnya.


Nada segera memutar kenop pintu itu dan sama sekali tidak berniat untuk menoleh sedikitpun ke arah belakang.


"Aaahhh!!!" Pekiknya Sameer ketika ia terjatuh ke atas lantai keramik karena belum memiliki tenaga untuk berjalan normal hingga ia tersungkur.

__ADS_1


Nada hanya menoleh sekilas ke arah Sameer yang terjatuh tapi, tidak ada niat untuk berputar ia terus berjalan tanpa henti dengan deraian air matanya yang menetes membasahi pipinya.


__ADS_2