
Bu Anni menatap penuh harap kepada Nada,"Maafkan Nenek, aku terpaksa melakukan hal ini karena sedari tadi aku perhatiin wajah calon suamimu itu selalu ditekuk, tidak bersemangat dan juga lesu melulu, aku melakukan ini karena ini bukan daerah yang melarang calon mantennya bertemu sebelum pernikahan berlangsung dan saya berharap setelah kalian bertemu cucu tunggalku itu bisa tersenyum lagi seperti sedia kala," batinnya Bu Annie Margaretha Sungkar yang berharap penuh pada calon istri dari cucu pertama sekaligus cucu satu-satunya itu.
Nada berjalan ke arah dalam pagar rumahnya Sameer dengan melangkahkan kakinya sangat pelan bahkan seolah seperti orang yang berjinjit dan mengendap-endap ketika memasuki pekarangan rumahnya Sameer Elrumi Sungkar.
Nada menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar, bukannya tidak mau membantu tapi, Nada takut dan khawatir apa yang dilakukan olehnya ini mendapatkan tatapan jelek dari semua orang yang mengetahui jika ia bertemu dengan calon suaminya padahal tersisa dua hari lagi ia menikah walau pun dalam tradisi di kampung halamannya tidak ada istilah pingitan atau larangan untuk tidak bertemu bagi kedua calon mempelai pengantin.
"Ya Allah… aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini tapi demi Nenek Annie yang berharap dan meminta tolong padaku terpaksa aku ke sini," gumamnya Nada Atiilllah Ahmad seraya menenteng rantang makanan khusus untuk calon suaminya itu.
Sameer diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Nada calon istrinya itu dengan senyuman penuh maksudnya.
"Nenek ternyata berhasil membujuk Nada padahal aku sudah bayangkan dan juga prediksi kalau dia tidak bakalan mau datang sebelum akad nikah kami dan akan menolak mentah-mentah permintaan dari Nenek," batinnya Sameer yang terus memandangi dan memperhatikan dengan seksama setiap langkah kakinya Nada wanita yang paling ia sayangi itu.
"Kenapa Mas Sameer mempersulitku! padahal sekarang itu hidup serba gampang dan praktis malas atau enggak sempat makan kan ada tuh namanya aplikasi untuk memesan makanan tinggal buka aplikasinya terus pilih makanan yang disukai lakukan pembayaran mau transfer atau bayar di tempat cod sudah bisa makan, ini mah hidup dibikin sulit padahal hidup sekarang mudah banget!" Gerutu Nada sambil memutar kenop pintu rumah calon suaminya dengan wajahnya yang ditekuk dan bibirnya dimonyongkan.
Sameer sangat tahu apa yang terjadi pada Nada, bukannya tidak mau membantu hanya saja status mereka yang sisa dua hari akan menikah yang membuat ia kesulitan untuk melangkahkan kakinya menuju ke bagian terdalam rumah yang cukup besar itu jika dibandingkan dengan rumah lainnya.
Nada segera menyimpan tempat bekal makanan yang ia bawa lalu berjalan ke arah tangga karena letak kamarnya Sameer ada di atas lantai dua.
__ADS_1
"Mas Sameer! Aku bawain makanan nih, yuk makan!" Teriaknya Nada yang tidak ingin terlalu mendekati kamarnya Sameer ia tidak mau jika apa yang tidak diinginkan terjadi padanya itu.
Sameer yang melihat Nada ragu dan bimbang untuk mengetuk pintu kamarnya karena hal itu terlihat jelas dari tangannya yang kadang sudah ia kayuh untuk menyentuh papan kayu pintu itu dengan mengetuk perlahan tapi kembali ia urungkan niatnya itu.
Nada memberanikan dirinya untuk mengetok pintu berdaun satu itu tapi, apa yang dilakukan oleh Nada terhenti seketika.
"Aaahhh!! Setan!! Hantu!!" Jeritannya Nada yang tersentak terkejut karena tiba-tiba ada tangan kekar yang langsung memeluknya dari arah belakang punggungnya itu.
Sameer segera menenangkan diri Nada karena tidak ingin membuat Nada kembali teringat dengan masa lalunya yang trauma itu.
"Nada, huss!! Diam sayang ini Mas loh, tidak perlu berteriak histeris seperti ini juga kali, mana ada hantu siang bolong dan hantunya seganteng saya!" Narsisnya Sameer yang membuat Nada memutar tubuhnya agar segera berhadapan langsung dengannya.
"Tenanglah ini Mas Sameer," imbuhnya Sameer dengan mengelus punggungnya Nada yang tertutup hijab instan rumahan yang dipakainya itu.
Nada spontan membalas pelukan dari Sameer dan berusaha untuk menenangkan diri dan perasannya sendiri. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan rasa trauma yang tiba-tiba muncul dari dalam hati dan pikirannya itu.
"Aku tidak boleh kalah dengan penyakitku ini, aku harus terus berusaha untuk meredamnya," Nada membatin dan perlahan ketakutan dan rasa terkejutnya berangsur-angsur pudar dan menghilang berkat apa yang dilakukan oleh Sameer yang berusaha terus meyakinkan Nada dan juga dia sendiri yang tidak ingin diperbudak oleh ketakutannya.
__ADS_1
Air matanya menetes membasahi pipinya tanpa aba-aba, Sameer refleks menghapus air mata itu dengan menggunakan bibirnya dengan penuh kelembutan.
Apa yang diperbuat oleh Sameer langsung membuat hatinya menghangat dan wajahnya langsung terlihat semburat rona merah yang membuat Sameer bisa tersenyum lega dan bahagia.
"Maafkan aku yah! Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuat kamu terkejut," ungkap Sameer yang menggenggam genggaman kepalan tangannya Nada.
Nada hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya tanda setuju dan telah memaafkan dan melupakan apa yang terjadi padanya.
"Mas tidak perlu seperti ini kok, aku sudah melupakan dan memaafkan semua itu akupun memakluminya apa yang sedang terjadi," pungkas Nada yang mengalungkan tangannya ke leher Sameer.
Sameer yang diperlakukan seperti itu tersenyum penuh bahagia karena untuk pertama kalinya Nada yang sendiri langsung berinisiatif untuk melakukan hal romantis seperti itu.
Sameer pun mengalungkan kedua tangannya ke pinggangnya Nada," sayang aku akan tunjukkan padamu jika cintaku padamu bukan cinta biasa dan aku pastikan dihadapanmu jika kamu adalah bahagiaku bukan perempuan lain tapi hanya Nada Atiillah Ahmad untuk selamanya," ungkap Sameer sembari menoel hidung bangir khas orang Makassar miliknya Nada.
Sameer semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nada hingga hidung mereka semakin bersentuhan satu sama lainnya, tapi Nada segera mengelak dan mengalihkan perhatiannya Sameer.
Nada menghindar dari ciumannya Sameer, "Mas ayo kita makan entar makannya keburu dingin loh!" Tolaknya Nada yang berjalan tergesa-gesa ke arah dapur sambil menggandeng tangannya Sameer.
__ADS_1
Sedang Sameer hanya tersenyum simpul menanggapi sikap malu-malunya Nada," awas yah aku akan menerkam kamu jika kita sudah resmi dan sah menjadi suami istri aku akan melakukannya berulang-ulang kali karena sudah lama aku berpuasa untuk menahannya," batin Sameer yang tersenyum penuh arti.