Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 28. Sarapan Pagi


__ADS_3

Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan atau pun banyak pusing dan mereka mengerti dengan kejadian itu. Bagi keduanya setiap manusia itu memiliki garis tangan seseorang yang berbeda.


Nada sangar bersyukur dan bahagia karena beberapa temannya banyak yang mengerti dengan kondisinya Nada, tapi ada juga yang tidak menyukai dengan kehadiran Nada. Karena banyak juga yang cemburu dan iri hati dengan prestasi dan rezeki yang didapatkan oleh Nada.


Setelah jalan-jalan perdana yang dilakukan oleh ayah dan anak itu akhirnya memutuskan untuk pulang karena Ayesha sudah kelelahan dan mengantuk.


Sameer Elrumi Sungkar sangat bahagia karena hari ini bisa menikmati dan menghabiskan liburan bersama anak semata wayangnya.


"Ya Allah… mudahkanlah semuanya agar aku bisa mendapatkan hati dan cintanya Nada, sudah lebih dua tahun kami terpisah karena kesalahanku, tapi kali ini apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan Nada lepas dari genggaman tanganku," Batinnya Sameer sambil mengelus puncak rambutnya Ayesha Almeera Aliya Sungkar putri tunggalnya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, mobilnya Sameer sudah terparkir di depan rumahnya sendiri yang hanya beberapa jengkal langkah kaki dari rumahnya Nada.


Sameer memilih untuk tidurkan putrinya di dalam kamar yang sudah ia persiapkan khusus untuk putrinya dengan bantuan Mbak Rini dan juga dua asisten rumah tangganya Sameer yang dipekerjakan beberapa bulan terakhir ini.


Sameer menidurkan putrinya dengan perlahan agar tidur dan istirahatnya Ayesha tidak terganggu oleh gerakannya.


"Kamu pulanglah ke sebelah, biarkan Ayesha nginap semalam di sini," ujarnya Sameer di depan Rini asisten rumah tangga yang dimiliki oleh Nada berkat campur tangan dan bantuan dari Sameer sendiri.


"Baik Tuan Muda," ujar Mbak Rini.


Mbak Rini hanya tersenyum bahagia karena baru kali ini melihat raut wajahnya pria yang sudah cukup besar jasanya dalam kehidupannya. Dia ikut bahagia jika keduanya bahagia juga.


Keesokan harinya, Ayesha terbangun dari tidurnya ia cukup terkejut melihat seisi ruangan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan melihat ruangan itu jelas sangat berbeda dengan kamarnya.

__ADS_1


Kamar di mana sekarang ia terduduk di atas ranjang karakter kartun lucu yang menjadi idolanya selama ini. Yaitu Sophia yang sangat ia sukai. Dengan warna dominan pink dipadukan dengan ungu shoft membuat kamar itu jelas terlihat kesan girlynya yang sangat cocok dengan karakter dari Ayesha.


"Kok kamarku berubah yah!" Gumamnya Ayesha yang semakin keheranan dan sangat tahu tempat yang ditempati olehnya bukanlah kamarnya sendiri.


Pintu itu berderit pertanda ada orang yang membuka pintu dari luar. Ayesha mengarahkan pandangannya ke pemilik tangan yang membuka pintu bercat putih itu.


"Papa!" Teriaknya Ayesha seraya menyingkap selimutnya lalu berlari kecil menuju papanya yang tersenyum penuh kebahagiaan ke arah papanya.


Sameer hanya tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan anaknya dengan senyuman lebarnya.


"Putrinya Papa, hari kamu sekolah enggak?" Tanyanya Sameer sambil mendekap erat tubuh anak semata wayangnya.


Ayesha menganggukkan kepalanya sebelum membuka mulutnya untuk berbicara," Insya Allah… sekolah Pa! Emangnya kenapa Pa?" Tanyanya Ayesha yang sudah melepas pelukannya Sameer.


"Siap Papanya Ayesha yang paling ganteng, paling baik hati seluruh dunia,"pungkas Ayesha.


Sameer tersenyum sumringah," kalau gitu kamu sana mandi lalu bersiap pakaian seragam sekolah kamu ada di atas meja sana, Papa tunggu kamu di dapur kita sarapan dulu sayang!" Pintanya Sameer lalu berjalan ke arah luar pintu kamarnya Ayesha.


Ayesha berlari ke arah pintu kamar mandi karena takut jika dia terlambat ke sekolahnya. Sameer baru kali merasakan namanya menikmati hidupnya dan perannya sebagai seorang ayah. Sameer tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kali ini untuk lebih dekat dengan anaknya. Dia ingin menebus kesalahannya dengan waktu yang sudah hampir sepuluh tahun itu ia tinggalkan.


Ayesha cukup dewasa dan hidup mandiri karena Mbak Asih asisten rumah tangganya Sameer hanya sekedar membantu saja bahkan lebih banyak berdiri menonton apa yang dilakukan oleh Ayesha ketika memakai pakaian seragam sekolahnya tanpa merepotkan orang lain.


Didikan dan ajaran dari Nada lah sehingga Ayesha diusianya yang baru menginjak tujuh tahun lebih itu. Bukannya Nada tidak beralasan karena sejak meninggalnya Mbak Annisa saudara angkatnya semuanya harus pintar-pintar mengatur waktu mereka.

__ADS_1


Nada yang bekerja kadang dari jam 7 pagi harus sudah berada di toko nya dan pulangnya paling cepat jam 6 malam sesudah shalat magrib. Dengan tuntutan seperti itu sehingga mau tidak mau Ayesha yang masih kecil harus berjuang keras untuk beradaptasi dengan kebiasaan jam kerja mamanya. Nada sangat bersyukur karena Ayesha mampu membuatnya tenang setiap kali berangkat kerja.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk saling berhadapan di depan meja makan. Pagi hari itu di atas meja makan sudah tertata rapi berbagai jenis masakan dan semuanya hampir keseluruhannya adalah kesukaannya Ayesha dan ternyata kesukaannya Sameer yang ternyata sama dengan favorit putrinya juga.


"Kok diam sayang! Apa yang terjadi padamu, apa kamu tidak menyukai makanan yang dimasak Mbak Yuni?" Tanyanya Sameer yang memperhatikan putrinya itu yang terdiam menatap satu persatu makanan yang terhidang di depan matanya itu.


Ayesha mengalihkan perhatiannya ke arah papanya itu sembari menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan perkataan Papanya tersebut.


"Kalau gitu kenapa kamu tidak makan, kamu baik-baik saja kan sayang?" Tanyanya Sameer yang khawatir melihat anaknya itu seraya berdiri dari duduknya lalu menyentuhkan punggung tangannya di depan keningnya Ayesha.


Ayesha tersenyum tipis," aku baik-baik saja kok Papa, aku hanya teringat Mama, apa dua makan makanan yang enak juga," jawab sendu Ayesha.


Sameer cukup terenyuh dan tersentuh mendengar perkataan dan penuturan dari mulutnya Ayesha yang ternyata memikirkan keadaan mamanya itu.


"Ya Allah… anakku sangat perhatian sama mamanya, Nada kamu kebanyakan bekerja di luar untuk menafkahi putri kita, tapi aku bangga padamu karena memiliki anak yang membanggakan karena tidak pernah egois dan mau menang sendiri pasti memikirkan keadaan orang lain yang ada di sekitarnya," batinnya Sameer.


"Insya Allah… secepatnya Mama juga akan duduk di antara kita tapi, kamu juga harus bantuin Papa agar rencana Papa berjalan sukses dan seperti sesuai yang kita inginkan agar Papa bisa menikahi mamamu," imbuhnya Sameer.


"Insya Allah… saya akan membantu Mama dan Papa agar segera bersatu aku juga pengen punya keluarga yang lengkap seperti teman-temanku Papa," harap Ayesha yang tersenyum simpul kearah papanya itu.


Ada beberapa masakan yang tersaji di atas meja makan. Ada udang goreng tepung, tempe mendoan, perkedel jagung manis, sayur capcay kuah dan juga ikan goreng tepung dengan tidak lupa sambal terasi kesukaannya Ayesha dan paling penting ada kerupuk udang kesukaannya Sameer.


Mereka menyantap makanan itu dengan nikmat dan lahapnya. Tanpa ada suara lagi sama sekali terucap dari bibir keduanya. Hanya dentingan sendok beradu dengan garpu dan juga piring memeriahkan acara makan bersama mereka antara gadis kecil dengan pria yang cukup umur untuk menikah yaitu 30 tahun tapi, masih muda dibandingkan dengan usianya sendiri. Sameer terkesan baby face dengan wajahnya yang sedikit mirip orang timur tengah itu.

__ADS_1


__ADS_2