
Nyonya Anni tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak mungkin jujur dan mengatakan jika Nada sudah pergi jauh dan entah kemana, tapi disisi lain tidak ada juga gunanya untuk menutupi kenyataan yang ada. Mungkin bisa membuat Sameer Satya Sungkar tetapi, gimana nanti untuk kedepannya.
Bu Annie serba salah dan dibuat kesulitan dan dilema dengan apa yang harus ia lakukan dan katakan pada Sameer yang sudah menangis seperti anak kecil yang sedih dan terpuruk hingga semakin ketakutan jika Nada pergi jauh dari sisi hidupnya.
Sameer sudah berlutut di hadapan neneknya itu yang memohon dengan sangat atas belas kasihnya.
"Nenek! aku takut jika Nada pergi jauh dari hidupku dan bersembunyi dariku karena aku sudah berusaha untuk menelpon nomornya tapi, sudah berulang kali juga gagal dan selalu berada di luar jangkauan aku tidak mungkin dalam keadaan seperti ini bertamu ke rumahnya aku yakin pasti ia akan khawatir," imbuh Sameer yang sudah meneteskan air matanya dengan wajah memelasnya.
"Aku harus bagaimana ya Allah… apa aku jujur saja dan aku berharap Sameer bisa lebih tenang dan sabar dengan kenyataan yang ada," batinnya Bu Annie.
Sameer yang melihat ada sesuatu yang membuat neneknya gelisah dibuat penasaran dan bertanya-tanya kira-kira apa yang terjadi pada neneknya yang sudah berjasa membesarkannya itu.
Sameer segera menyentuh lengan Bu Annie," Nenek! Apa yang terjadi kenapa nenek diam saja, katakan saja apa yang ingin nenek sampaikan, tidak perlu ragu ataupun sungkan," imbuhnya Sameer.
Bu Annie sedikit ragu," aku harus jujur saja, tapi cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh Sameer dan mungkin ini yang terbaik untuk Sameer kedepannya dan semoga saja ia segera menemukan Nada agar mereka bisa menyelesaikan masalah dan cobaan dalam hubungan mereka," Bu Annie membatin.
"Nenek! Sameer mohon kenapa harus terdiam sedari tadi, apa ada yang ingin nenek sampaikan kepadaku!" Pungkasnya Sameer yang semakin dibuat kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
"Nenek mohon maaf yang sebesar-besarnya padamu Nak, nenek sebenarnya berat banget harus mengatakan kepadamu tentang semua kebenaran ini tapi, demi kebahagiaanmu Nenek akan buka semuanya tanpa harus ada yang nenek tutupi lagi," ungkap Bu Annie.
Mimik wajahnya Sameer segera berubah dan sudah ada firasat dan feelingnya yang tidak baik," ya Allah… kenapa hatiku gelisah dan serasa semua ini ada hubungannya dengan Nada, aku berharap semua ini tidak ada hubungannya dengan calon Istriku," gumamnya Sameer yang nampak raut wajahnya sudah berubah.
"Percuma kita pergi ke rumahnya Nak, Nada sudah pergi jauh dari kota Makassar," jelas Bu Annie.
Sameer dibuat cukup terkejut mendengar penuturan dari neneknya itu.
__ADS_1
Sameer tersenyum sepeleh," itu tidak mungkin Nenek, pasti nenek hanya bercanda kan!?" Ujarnya Sameer yang tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan oleh neneknya itu.
"Maafkan nenek tidak bisa mencegah kepergian Nada dari sisimu Nak, semua ini terjadi karena hasutan dari Mama kamu sendiri karena gara-gara dialah Nada harus pergi dari Makassar untuk selamanya, walaupun nenek sudah berusaha untuk cegah mamamu tapi, aku sudah terlambat mengetahuinya," jelasnya Bu Annie tampak sedih melihat reaksi cucunya yang sudah sedih dan meneteskan air matanya.
"Itu tidak mungkin Nenek, tidak mungkin Nada pergi jauh dari hidupku, aku sudah sangat bersalah padanya, aku harus cari dimana lagi Nada Nenek? Ini semua kesalahanku yang sudah menorehkan luka yang sangat dalam untuk kedua kalinya dalam sejarah kehidupannya Nada wanita yang sangat aku sayangi," ratapnya Sameer sembari memeluk tubuh neneknya.
Sameer mendekap neneknya dengan erat, tubuhnya bergetar dengan dalam tangisnya. Ia tidak sungkan untuk menumpahkan segala kesedihan dan gunda gulananya di hadapan neneknya itu.
Bu Annie menepuk punggung cucunya," Sameer! Jangan seperti ini Nak, kamu adalah seorang pria jangan lemah dan menyerah dengan keadaan berusaha lah untuk bangkit dan memperbaiki semuanya dengan baik dan yakinlah jika Nada adalah jodoh kau kelak, bangkitlah Nak untuk terus berusaha mencari Nada dan bawalah Nada ke rumah dengan putri kecil kalian Ayesha," ungkapnya Bu Anni.
Sameer hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dan nasehat dari neneknya itu. Ia segera menyeka air matanya saking sedihnya dengan apa yang sudah melanda dan menerpa kehidupan percintaannya.
"Apa yang dikatakan oleh nenek bbenar adanya, urusan Mama Sarah, aku akan mengurusnya dengan segera, sudah saatnya mama mengetahui siapa aku sebenarnya, aku sudah berbaik hati menampungnya demi menghargai dan menghormati permintaan dan keinginan serta amanah papa untuk yang terakhir kalinya tapi, kali ini aku sudah tidak bisa membiarkan semua ini terjadi lagi!" umpatnya Sameer.
Ibu Annie segera membereskan semua barang-barang cucunya yang sempat dibawa ke rumah sakit dengan bantuan dari beberapa perawat yang kebetulan datang untuk memeriksakan keadaan terkahir kondisi kesehatan Sameer sebelum pulang kerumahnya.
"Kita langsung pulang kr Jakarta atau masih ingin membereskan ulahnya wanita tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung itu!" Tanyanya Bu Anni sambil mendorong kursi roda cucunya itu.
"Aku masih ingin tinggal di Makassar tujuannya salah satunya mengurus itu juga nenek, tapi aku ingin menyelidiki dan mencari tahu kemana perginya Nada, aku sudah bertekad untuk mendekati semua teman kerjanya karena aku yakin mereka akan menutupi kenyataan dan informasi itu karena permintaan Nada sendiri," terangnya Sameer yang sudah dapet bayangan jika agak sulit untuk mengetahui semuanya itu.
Ibu Annie dengan Sameer sudah berada di dalam mobil menuju rumahnya Bu Anni yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah sakit tersebut. Mereka memilih untuk pulang ke sana karena keadaan dan kondisi rumahnya Sameer masih belum direnovasi akibat dari amukan dan amarahnya Nada beberapa hari yang lalu.
Dua bulan kemudian, Sameer tidak pantang mundur dan tidak ingin menyerah sedikitpun. Walaupun semua teman kerjanya dulu Nada bersikukuh bersikeras untuk mencari tahu keberadaannya Nada dengan cara apapun akan dia tempuh.
Pulang pergi Makasar Jakarta ia lakoni hanya untuk mencari keberadaan jejaknya Nada calon istrinya sekaligus ibu dari anak tunggalnya. Tapi, sedikitpun ia sama sekali tidak menyesal dan menyerah bahkan untuk mengeluh sedikitpun itu.
__ADS_1
Sedangkan jauh dari rumah sakit swasta Siloam Hospital, daerah yang masih di sekitar pulau Sulawesi tepatnya di Sulawesi tenggara. Seorang perempuan yang sedang bersiap untuk berangkat kerja segera menghentikan kegiatannya karena mendengar teriakan dari putri semata wayangnya itu.
"Itu kan suaranya Ayesha, apa yang terjadi padanya?" Cicitnya Nada yang segera menyelesaikan make-upnya secepatnya karena cukup khawatir dengan kondisi dari putri kecilnya itu.
Nada buru-buru membuka pintu kamarnya lalu berjalan tergesa-gesa ke arah kamar pribadinya.
"Ya Allah…kenapa putriku berteriak yah apa terjadi padanya," cicit Nada.
Nada segera membuka pintu kamar putrinya itu, kedua matanya melotot saking kagetnya melihat tingkah anaknya yang tidak seperti biasanya.
"Ayesha! Apa yang terjadi! Kenapa Mbak Annisa terbaring di atas lantai!?" Teriaknya Nada yang kebingungan sekaligus terkejut melihat saudara angkatnya itu yang terbaring di atas lantai keramik dengan keadaan yang sudah pingsan seraya mempercepat langkahnya menuju kearah anaknya yang sudah menangis tersedu-sedu disampingnya Mbak Annisa.
Nada segera memeriksa denyut jantungnya dan nadinya Mbak Annisa, tapi semuanya sudah lemah.
"Ya Allah… Mbak Annisa! Aku harus segera menelpon ambulans," gumamnya Nada yang segera mencari nomor hpnya ambulans kota Kendari.
"Tante Nisa bangun dong ini Ayeca, aku janji tidak akan nakal lagi aku akan habicin cucuku," rengeknya Ayesha yang masih kadang ngomong cadel jika harus menyebutkan huruf s, r.
Nada mengambil botol minyak angin dan juga minyak kayu putih yang kebetulan ada di atas meja nakas tempat tidur putrinya itu.
"Bertahanlah Mbak, ambulans sudah menuju kesini," lirihnya Nada seraya menggosokkan beberapa tes minyak kayu putih ke hidung dan tengkuk lehernya Mbak Annisa.
Air matanya menetes membasahi pipinya dan banyak pikiran yang muncul di dalam benaknya Nada. Jelas terlihat dari raut dan mimik wajahnya jika ia takut kehilangan keluarga satu-satunya yang dimilikinya di dunia ini.
"Ya Allah… jangan biarkan terjadi sesuatu pada Mbak Annisa,hanya dia dan putriku yang aku miliki di dunia ini," Nada membatin.
__ADS_1