Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 45. Bangun Kesorean


__ADS_3

Malam yang begitu panjang mereka lewati dalam keadaan penuh kebahagiaan karena, akhirnya keduanya bisa bersatu setelah tujuh tahun lebih mereka berpisah dan karena jodoh mereka akhirnya bersatu dalam ikatan sakral tali suci pernikahan.


Ayam berkokok lantang pertanda pagi sudah menyambut. Sudah banyak orang yang bangun dari tidurnya untuk kembali melaksanakan aktifitasnya mencari dan meraih berkah pagi itu melalui rezeki yang halal.


Tapi berbeda halnya dengan pengantin baru ini, mereka masih bergelung dalam selimut masing-masing. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berniat untuk mengakhiri mimpi indah mereka berdua.


Nada malah membuang bantal kepala yang ada di atas ranjang dan mengganti bantalnya dengan lengannya Sameer suaminya. Jam di dinding terus berdentang hingga jarum jamnya menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi mereka masih tertidur dalam pelukan masing-masing.


Sedang jauh dari tempat itu, seorang anak kecil berlarian dan suara teriakannya memenuhi segala penjuru ruangan tersebut.


"Nenek!" Teriaknya Ayesha Almeera Aliya Sungkar sambil menuruni undakan tangga.


Ibu Annie yang melihat cucunya itu berlarian hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkahnya Ayesha yang meramaikan rumah bertingkat dua itu.


"Sayang! Kok berlari dan teriak gitu sih, ada apa emang?" Bu Annie berdiri menyambut kedatangan cicitnya itu.

__ADS_1


"Ini Mama kok sudah jam 11 lewat tapi, hpnya enggak aktif, papa juga sama mereka mematikan hpnya! Kan kesel kalau belum dengar suaranya mama dan papa sebelum berangkat sekolah!" Gerutu Ayesha lalu menarik dengan kasar kursi tempat duduknya di depan meja makan sambil memonyongkan bibirnya ke hadapan nenek buyutnya itu.


Bu Annie tersenyum penuh arti melihat cucunya itu," sayang dengarkan Nenek baik-baik yah! Apa kamu lupa kalau Mama Nada dengan papa Sameer baru saja menikah mereka kan butuh waktu dan privasi untuk berdua saja, apa Ayesha tidak ingin mendapatkan adik bayi?"


Bu Annie mengisi beberapa hidangan lauk pauk ke atas piringnya itu yang terus tersenyum melihat tingkah cucunya itu.


Ayesha menutup mulutnya dengan kedua bola matanya memancarkan cahaya kebahagiaan," ups aku lupa Nenek, semoga Mama pulang langsung hamil jadi aku tidak akan lama lagi memiliki adik bayi, hore… aku juga bakal gendong dedek bayi!" Pekik Ayesha yang raut wajahnya sudah berubah awalnya sendu, sedih dan kecewa sekarang berubah jadi bahagia dan antusias menunggu kepulangan kedua orang tuanya.


"Nenek yang akan mengantar kamu ke sekolah karena kebetulan Nenek juga akan mengundang beberapa orang tua murid, wali kelasnya dan juga beberapa guru lainnya yang ada di sekolahnya Ayesha," imbuhnya Bu Annie sambil sesekali menyendok makanan ke dalam mulutnya itu.


"Aku turut bahagia melihat kebahagiaan di wajahnya Non Ayesha, sudah cukup lama ia hidup terpisah dari papanya dan aku berharap semoga mereka menjadi keluarga yang bahagia,saqinah, mawadah warahmah dan keberkahan serta kebahagiaan tidak pernah luntur dan hilang menaungi kehidupan mereka," batinnya Mbak Rini.


"Ya Allah… lindungilah keluarga kecil mereka hingga maut memisahkan dan lindungilah kami dari segala marabahaya, amin ya rabbal alamin," Mbak Cici membatin asisten rumah tangganya yang bekerja di rumahnya Sameer Elrumi Sungkar.


Hari sudah menjelang sore, jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore barulah pengantin baru itu terbangun dari tidur panjangnya. Nada membuka matanya dengan perlahan dan apa yang pertama kali ia lihat adalah dada bidang seorang pria yang baru beberapa jam lalu bisa ia nikmati keindahan ciptaan Allah SWT.

__ADS_1


Nada tersenyum melihat beberapa bekas tanda tangannya di sekujur dada bidang itu. Nada tidak menyangka jika ia akan bersikap seperti itu terhadap permukaan kulit tubuh suaminya.


"Pasti sakit sekali kalau lukanya seperti ini, kasihan juga dengan nasibnya Mas Sameer sampai-sampai harus menderita menahan cakaran kukuku, aku tidak menyangka aku akan seperti ini," batinnya Nada yang keheranan sekaligus tidak menyangka dan menduga ia akan bertindak seperti itu.


Nada segera bangkit dari baringnya dan berniat untuk membersihkan seluruh tubuhnya yang terasa lengket.


"Aku harus segera mandi lalu keluar mencari salep untuk mengobati lukanya Mas Sameer kasihan kalau seperti ini terus," Gumamnya Nada.


Nada segera bangkit tapi,ia harus terduduk kembali karena mengalami kesakitan, perih, ngilu dan juga merasakan keanehan disekujur tubuhnya hingga tulang-tulangnya seperti akan remuk saja.


"Ya Allah… sakitnya luar biasa padahal semalam apa yang aku rasakan adalah sakit keenakan malah dan kami seolah tidak ingin berhenti lagi dan lagi untuk melakukannya," cicitnya Nada seraya menggeleng kepalanya yang tidak menduga ia akan seperti itu bersama suaminya.


Sameer sebenarnya sudah bangun dari tidurnya setelah Nada terduduk dengan keras ke atas ranjang yang membuat ranjang mereka bergoyang. Sameer tersenyum terbahak-bahak dalam kepura-puraan tertidur nya itu. Ia ingin tertawa mendengar perkataan dari mulut Istrinya yang menurutnya lucu dan polos bin lugu itu.


"Pilihanku tepat sekali sudah menikahi ibu dari putriku, Nada mampu menjaga dirinya walaupun harus bersusah payah menghidupi anak kami padahal di luar sana banyak orang yang tidak akan mampu hidup susah dan akan menghalalkan segala cara untuk meraih hidup kemewahan," batin Sameer yang menunggu apa yang akan dilakukan oleh Nada selajutnya.

__ADS_1


Nada yang tidak ingin berfikiran aneh-aneh tanpa sengaja mengedarkan pandangannya ke arah dinding yang terdapat jam yang terus berdentang tanpa hentinya.


Nada menutup mulutnya saking tidak percayanya melihat angka yang ditujukkan oleh jarum jam itu," ya Allah... sekarang sudah pukul tiga lewat, selama itu kah aku tertidur dan dalam sejarah hidupku ini baru yang pertama kalinya merasakan tertidur pulas dan nyenyak seperti ini!" Nada keheranan melihat situasi tersebut dan dia sama sekali tidak mengetahui dan mengerti jika hari itu ia tertidur tanpa gangguan dan tanpa peringatan alarm untuk segera berangkat bekerja yang membuatnya rileks dan tenang.


__ADS_2