
Sinar matahari pagi yang sudah semakin tinggi sama sekali tidak dihiraukan oleh Nada. Dinginnya air laut pun tak ia pedulikan. Yang ada di dalam hatinya hanya ingin menenangkan diri dan hati serta perasaannya.
"Kenapa!! Kenapa Mas Sameer tidak jujur padaku jika hanya ingin berniat untuk bertanggung jawab terhadap perbuatannya selama ini bukan atas dasar cinta dan suka padaku, aku saja yang terlalu naif dan bego telah berharap tinggi padahal kenyataannya itu hanya angan-angan aku saja," makinya Nada yang tidak tahu harus berbuat apa dengan ujian dan cobaan yang telah menghadang rencana pernikahannya yang sudah tersisa menghitung hari itu.
Betapa terkejutnya, shock dan kecewanya ketika mengetahui jika pria yang sudah mulai ia cintai dan sayangi ternyata pria yang sudah merebut dan mengambil kesuciannya itu dengan paksa.
Nada menyeka air matanya dengan cukup kasar," aku harus segera membatalkan rencana pernikahanku dan mungkin aku lebih baik menerima pemindahan tugas dari atasanku ke daerah Kendari daripada harus bertemu terus dengan Mas Sameer yang sama saja akan selalu mengingat kejadian yang seharusnya aku sudah lupakan," gumamnya Nada sambil bangkit dari duduknya di atas pasir.
Nada segera merogoh tas selempangnya untuk segera menghubungi Bu Jannah untuk menyampaikan jika dia bersedia menerima tawaran dari pusat untuk dipindah tugaskan ke daerah Sulawesi Tenggara.
"Aku tidak boleh lemah dan tidak boleh terusan larut dalam kesedihan dan kecewaku ini," lirihnya Nada lalu menekan tombol nomor hpnya Bu Jannah.
Setelah berbincang-bincang dengan ibu Jannah, Nada segera menyalakan mesin motornya lalu segera pulang ke rumahnya untuk bersiap pergi dari kota kelahirannya Makassar para kota daeng.
"Ya Allah… kalau ini jalan yang terbaik untukku maka lancarkan lah langkahku ini, aku tidak ingin terus berlarut larut dalam penyesalan dan kesedihan, jadi aku memilih untuk pergi dari sini," cicitnya Nada yang segera menyalakan stok kunci kontak mesin motornya itu.
__ADS_1
Nada segera berjalan tergesa-gesa ke dalam rumahnya tanpa perduli dengan Mbak Annisa yang sedang membersihkan pekarangan halaman rumahnya itu. Mbak Annisa mengernyitkan dahinya melihat Nada yang pulang dalam keadaan yang berantakan.
"Ya Allah…apa yang terjadi padanya, kenapa kondisinya Nada seperti itu, apa aku segera bertanya padanya saja," batinnya Mbak Annisa kakak angkatnya Nada dari panti asuhan.
Mbak Annisa segera berjalan ke arah dalam rumahnya,ia mengikuti langkah kakinya menuju ke dalam kamarnya Nada. Baru saja ingin mengetuk pintu kamarnya Nada, pintu berdaun satu itu terbuka dengan sendirinya.
Nada menatap intens ke arah Mbak Annisa," Mbak tolong bereskan semua pakaian Mbak yang layak untuk Mbak pakai saja,kalau sudah selesai pakaiannya juga Ayesha, karena nanti sore jam 5 kita akan segera berangkat ke Kendari," pintanya Nada yang tidak mau Mbak Annisa banyak pertanyaan.
Mbak Annisa tercengang mendengar perkataan dari Nada ia sedikit bingung dengan sikapnya Nada yang berubah tiba-tiba itu.
Berselang beberapa menit kemudian, semua barang-barang yang akan ia bawa sudah berada di dalam tas dan koper. Nada segera memesan jasa mobil rental sewa untuk membawa beberapa barangnya yang tidak mungkin ia bawa bersamanya karena mereka akan menaiki bis menuju daerah Kendari.
"Apa Mbak sudah siap berangkat?" Tanyanya Nada sambil mengikat dua rambut panjang putri kecilnya itu.
"Alhamdulillah aku sudah siap untuk berangkat, coba cek semua barang-barangnya apa sudah di dalam tas jangan sampai ada yang terlupakan lagi," imbuhnya Mbak Annisa yang memeriksa kembali beberapa barang yang dibawanya nanti.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil rental mobil yang akan membawa beberapa barangnya itu sudah datang. Semuanya sudah siap untuk pergi terutama Nada, Mbak Annisa dan Ayesha. Mereka akan berangkat ke terminal bus karena keberangkatan bus mereka jam lima lewat.
*Semoga aku bisa melupakan segera Mas Sameer, aku sudah cukup tahu siapa pria yang melakukan perbuatan bejak itu, aku selamanya tidak akan menuntut untuk pertanggungjawaban kepada Mas Sameer, karena aku masih sanggup untuk membesarkan anakku tanpa pria yang mendampingi hidupku," Lirihnya Nada yang sudah duduk di atas mobil yang akan mengantarkannya hingga ke terminal bus.
"Aku yakin ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Sameer sehingga ia memutuskan untuk pergi dari Makassar atau ini karena gara-gara mamanya calon mertuanya Bu Sarah karena sejak awal aku sudah curiga jika ia sama sekali tidak setuju dan merestui hubungan mereka berdua," Mbak Annisa membatin.
Nada menatap ke arah luar jendela ia diam-diam meneteskan air matanya karena akhirnya harus kembali kecewa dan terluka harus menuai dua kali kegagalan dalam pernikahan.
"Selamat tinggal Makassar, selamat tinggal Mas Sameer aku yakin ini jalan yang terbaik untuk kita berdua," lirih Nada Atiillah Ahmad.
Sedang di dalam area rumah sakit swasta Siloam Hospital Makassar, seorang pria yang kembali histeris karena mencari keberadaan hpnya yang ingin segera menghubungi nomor hpnya Nada.
"Mama! Dimana hpku berada, aku harus menelpon nomornya Nada, aku ingin mengetahui keadaannya sudah tiga hari kami tidak saling berkomunikasi," ujarnya Sameer Elrumi Sungkar.
Bu Sarah yang ditanya oleh anaknya soal hp sulit untuk berbicara karena dia sengaja menyembunyikan hpnya putranya itu agar Sameer dan Nada tidak saling berhubungan lagi.
__ADS_1
"Aku harus segera menghapus nomornya Nada atau aku acakin nomornya biar ia tidak bisa menelpon nomornya Nada tapi, aku harus memblokir nomornya dulu sebelum menggantikannya dengan nomor hpnya yang salah," gumamam Bu Sarah dengan tatapan matanya yang tajam penuh kelicikan.