Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab .21. Harus Ikhlas


__ADS_3

Kepergian untuk selamanya Mbak Annisa diusianya yang masih terbilang muda itu menyisakan luka yang sangat mendalam.


Tidak ada seorangpun yang tidak sedih atas kepergian dan kematian Annisa dan tutup usia di umurnya yang ke 38 tahun itu. Suara tangis pilu dan duka mendalam mereka rasakan.


"Nada! Kamu sabar Nak, biarkan Mbak Annisa pergi dengan tenang karena ini sudah jalannya dan takdir dari Sang Maha Pencipta Allah SWT," tutur Bu Erna seraya mengelus punggungnya Nada yang sudah memeluk tubuhnya Mbak Annisa yang sudah kaku dan dingin itu.


Nada tak henti-hentinya menangis meraung dan tersedu-sedu meratapi satu-satunya saudaranya yang sangat baik padanya yang selalu ada disaat duka, tangisnya dan bahagianya. Orang sejak ia hadir di panti asuhan selalu menjaganya, merawatnya layaknya seorang ibu kepada anaknya.


Nada sangat kehilangan sosok kakak angkatnya yang melebihi dari sekedar saudara angkat saja. Siapa pun yang berada diposisinya Nadq pasti akan merasakan luka yang begitu mendalam. Tapi, jika ia harus larut terus menerus dalam duka itu sama saja tidak menerima takdir dari Tuhan Yang Maha Esa.


"Mbak Annisa, maafkanlah aku yang selama ini sudah terlalu sering merepotkanmu, aku belum bisa jadi adik yang bahagiakan kakak dan belum sanggup untuk balas budi baiknya Mban Annisa," batinnya Nada seraya mencium keningnya Mbak Annisa untuk yang terakhir kalinya.


Ayesha putrinya selalu berada di sampingnya. Nada termasuk beruntung sekaligus bersyukur karena semua perlengkapan dan kebutuhan apa yang diperlukan dalam proses mulai dimandikan hingga proses dishalatkan nya jenazah Nada cukup terbantu oleh pihak tetangga dan segenap seluruh lapisan masyarakat yang ada di sekitar perumahan tempat tinggalnya.


Satu persatu pelayak datang mengunjungi rumahnya Nada siang itu. Mereka semua mengucapkan ucapan berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas beepulangnya ke Rahmatullah Mbak Annisa. Kesedihan jelas terlihat dari semua orang yang berbondong-bondong mendatangi rumah duka dengan berbagai ucapan dan bantuan tentunya.

__ADS_1


Setelah dishalatkan secara berjamaah di salah satu masjid yang terdekat dari rumahnya Nada. Jenazah Mbak Annisa dikebumikan di taman makam umum yang sekitar 20 menit perjalanan menuju ke tempat tpu itu. Letaknya berada di luar daerah kota Makassar.


Kematian selalu menyisakan luka yang mendalam bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang sangat memilukan.


Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.


Tangis haru semakin terasa ketika jenazah sudah diangkat ke dalam ambulans. Ayesha dan Nada tidak hentinya meneteskan air matanya yang seolah tak ada keringnya itu.


"Ya Allah… ampunilah segala dosa kakakku, terimalah segala amal ibadahnya dan tempatkan lah beliau di tempat yang paling terindah disisimu, sabarkanlah, ikhlaskan hati ini ya Allah…," lirihnya Nada yang rencananya akan ikut kedalam mobil ambulans tapi, putri kecilnya menangis histeris jika dia ada di dalam mobil ambulans tersebut.


Jadi Nada dan putrinya ikut bersama dengan mobil lainnya karena ada sekitar lebih dua puluh mobil yang mengantar Mbak Annisa ke peristirahatan terakhirnya. Semua anak-anak panti asuhan serta pengurus panti asuhan silih berganti memberikan ucapan perpisahan.


Setelah doa yang dibacakan oleh Pak ustadz Yusuf satu persatu berpamitan untuk pulang. Sedangkan Nada masih betah berada di sana. Bunga khusus untuk pemakaman ia terus taburkan disertai dengan doa setulus hatinya.


"Selamat Jalan Mbak, makasih banyak atas jasa-jasa Mbak yang telah membesarkanku serta anakku, karena tanpa kasih sayangnya Mbak kami tidak akan seperti sekarang ini mungkin aku sudah lama pergi dari dunia ini, tapi nasehat dan kasih sayangnya Mbak yang tulus mampu untuk memberikan saya kehidupan baru," cicitnya Nadw sembari menggenggam tanah pusara yang masih basah itu.

__ADS_1


Kematian datangnya selalu tiba-tiba dan dengan cara yang berbeda-beda pula, jika ada seorang yang tahu kapan dia akan meninggal pasti lah orang tersebut akan mempersiapkan bekal dan kematiannya dengan baik pula. Tapi itu semua menjadi rahasia dari Allah.


Nada pulang ke rumahnya dengan menaiki motor ojek online karena ia belum bisa mengendarai sendiri motornya. Ayesha tertidur dalam gendongannya, sesekali ia menyeka air matanya itu. Acara tauziah dan pengajian selama tiga hari diadakan di rumahnya Nada.


Nada kembali merasa sangat bahagia karena semua keperluan dan kebutuhan dalam acara tersebut, dia sama sekali tidak kerepotan dan kesusahan. Banyaknya orang yang dengan keikhlasan dan kebaikan mereka terpanggil untuk membantu meringankan beban berat yang dipikul oleh Nada.


"Nada! Bagaimana dengan hari ke tujuh kematiannya Mbakmu apa kamu ingin memanggil ibu-ibu pengajian dengan anak santri TPA untuk meramaikan pengajian tersebut atau gimana?" Tanyanya Bu Edah selaku istri dari pak RW.


Nada mengalihkan perhatiannya ke arah Bu Edah," maafkan saya Bu, saya tidak tahu untuk berbicara apa karena Ibu tahu kemampuan saya untuk saat ini belum punya kemampuan untuk melaksanakannya dan juga saya tidak ingin membuat kalian para ibu-ibu dan juga bapak-bapak terbebani, insya Allah.. kalau saya bekerja baru bisa mengadakan hal tersebut," jelasnya Nada yang berusaha untuk mencegah para ibu-ibu untuk kembali menantunya.


Nada sudah tahu jika mereka pasti akan bergotong royong membantu mengatasi masalah mereka. Tapi, Nada tidak ingin kembali menyusahkan orang lain lagi.


"Tapi Nak! Ini kemauan kami sendiri tidak orang yang sama sekali memaksa kami, semua ini kami lakukan untuk sebagai pemberian kami yang terakhir kalinya untuk Mbak Annisa mengingat jasa-jasa kebaikan Mbak Annisa yang ringan tangan membantu kami jika salah satu dari kami mengalami kesusahan dan membutuhkan bantuan walaupun bukan berhubungan dengan masalah uang, karena ibu yakin kamu pasti merisaukan hal tersebut," ungkapnya Bu Erna.


Bu Edah pun menimpali percakapan mereka berdua," benar sekali apa yang dikatakan oleh Bu Ernah tapi, sekedar informasi maaf ini bukanlah kami terpaksa melakukan hal ini tapi,kami melakukan ini atas dasar suka rela dan ikhlas yang penting kami masih sanggup untuk melakukan semua ini dan sekedar informasi yaitu ada orang yang berbaik hati dan tidak ingin disebut namanya memberikan sumbangan yang cukup banyak bahkan tausyiah untuk dua minggu pun kita sanggup melaksanakannya jadi kami ingin dan berencana melaksanakan acara tersebut dengan cara berbagi dengan beberapa panti asuhan yang ada di sekitar kota Makassar dan masalah semua siapa yang mengurus itu urusan kami,kamu tidak perlu mengkhawatirkan atau pun merisaukannya," imbuhnya Bu Erna.

__ADS_1


Nada tersenyum bahagia, "sukur Alhamdulillah ternyata ada orang baik yang membantu kami, Kalau itu sudah menjadi keputusan para emak-emak aku hanya bisa bilang makasih banyak atas segala bantuannya karena tanpa kalian Mbak Annisa tidak akan bisa menyelenggarakan semua prosesinya, saya hanya bisa bilang saya serahkan segalanya pada kalian," pungkasnya Nada yang kembali meneteskan air matanya mengalir deras membasahi pipinya.


Waktu terus berlalu tanpa mereka sadari sudah satu minggu kepergian Mbak Annisa. Semua acara sudah tersusun dengan baik mulai dari penceramah serta beberapa orang yang ditunjuk untuk yasinan. Acaranya cukup ramai dan besar karena mereka semua silih berganti memberikan bantuan dalam bentuk apapun.


__ADS_2