Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 6. Keputusan Nada


__ADS_3

Sameer menatap ke arah perempuan yang sudah menarik simpatik nya dan juga kasihan melihat kondisi dari Nada padahal kalau Sameer tidak setuju tidak akan berpengaruh terhadap hubungan dan karirnya. Tapi ada masa depan seorang anak kecil yang mereka pertaruhkan di sini.


Nada akhirnya memantapkan hatinya, "Baiklah kalau begitu saya siap untuk menikah!" Tutur Nada dengan pasrah dan terpaksa


"Aku akan membuat kalian menyesal karena gara-gara kalian lah adikku harus mendekam dalam penjara dan harus dirawat intensif di rumah sakit, jadi kesempatan ini aku akan memanfaatkannya," batinnya Farhan kakak kandungnya Fauzan mantan tunangannya Nada.


"Kenapa juga mereka memilih untuk menyuruh mereka menikah padahal aku berharap agar mereka mendekam dalam buih, karena itu lah yang aku inginkan tapi,kalau seperti ini aku akan sulit untuk mempengaruhi mereka semua sebaiknya aku pulang saja yang penting wanita brengsek itu dan pria sok baik itu sudah cukup dipermalukan di depan orang lain," batin Farhan kakaknya Fauzan.


Dengan berat hati Nada menerima keputusan dan pilihan dari semua orang yang hadir. Ia tak henti-hentinya menangis tersedu-sedu meratapi kemalangannya.


"Ya Allah… dulu aku harus merelakan kesucianku direnggut oleh pria yang sama sekali aku tidak kenal hingga detik ini dan malam ini aku harus menerima satu kenyataan yang begitu memilukan pria yang dulu aku puja, hormati dan hargai hampir saja menodaiku dan saat ini aku dihadapkan pada pilihan yang sungguh sulit untukku tapi, jika aku tidak menerima menikah dengan pria itu aku akan hidup bersama dengan putriku di dalam penjara," batinnya Nada.


"Tidak usah banyak mikir, apa kamu ingin menikmati sisa-sisa hidupmu di penjara atau menikah dengan pria itu, lagian kami pikir kamu tidak rugi amat menikahi pria itu dilihat dari wajahnya dan penampilannya aku yakin kamu tidak akan menderita dan juga rugi," ketusnya Bu Erna.


"Itu betul banget kamu pasti bahagia menikah dengannya nanti dan juga anakmu akan punya papa jika kamu setuju untuk menikah dan aku yakin kamu tidak akan membiarkan putrimu Ayesha harus dicap sama orang selamanya sebagai anak haram!" Sarkasnya Bu Ida.


"Sudah bicaranya! Kalau sudah silahkan bubar karena Nada juga sudah setuju dan mengiyakan apa yang kalian inginkan dari kami berdua dan mohon jangan sampai ada yang bercerita di luar sana dengan cerita kebohongan besar yang akan membuat Nada dan putrinya tidak tenang!" Tegasnya Sameer Elrumi Satya Muller.


"Kami akan pulang dari sini tapi,kami menunggu kabar kalian kapan akan menikah karena kami sendiri yang akan menjadi saksi pernikahan kalian jadi! Jangan sekali-kali mencoba untuk berbohong kepada kami karena akibatnya adalah sel tahanan akan menanti kedatangan kalian semua!" Gerutu Pak Rudi lalu meninggalkan rumahnya Nada.

__ADS_1


"Oke! Kalau itu maunya bapak-bapak dan ibu-ibu, kalian datanglah lagi kesini dua hari kedepan karena aku dan mamaku akan datang melamar Nada, apa kalian sudah puas?!" Sameer menatap jengah ke arah mereka yang sudah bergegas meninggalkan rumahnya Nada dengan perasaan yang berbeda-beda.


Nada terduduk di atas kursinya dengan air matanya yang masih menetes membasahi pipinya. Ia kalut dan tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan untuk berfikir yang lebih jernih itu sangat sulit.


Hanya tetesan air matanya Nada yang menetes membasahi pipinya yang mampu menggambarkan betapa sedihnya dan hancurnya hati dan perasaannya saat itu juga.


"Ya Allah…kalau menikah dengannya adalah jalan yang terbaik maka jangan biarkan hati ini mengeluh dan ijinkan hatiku untuk selalu ikhlas menjalaninya," batinnya Nada yang sesekali menyeka air matanya itu.


Tinggallah mereka berdua di dalam rumah itu. Nada masih berpakaian seperti sebelumnya yang mampu membuat Sameer harus bersusah payah menelan ludahnya sendiri.


"Kenapa jika aku melihatnya lebih lama seolah aku pernah melihatnya tapi, di mana? Karena tadi adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya itupun tanpa sengaja di jalan raya."


"Anak kamu ada di mana, kenapa sedari tadi orang yang kamu temani satu rumah tidak muncul untuk membela dirimu?" Sameer mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu dan sama sekali tidak menemukan sosok siapa pun yang ada di sana selain mereka berdua saja.


Nada menengadahkan kepalanya ke arahnya Sameer dan baru tersadar jika ia melupakan keberadaan putrinya itu. Ia segera berlari ke arah dalam kamar anaknya. Tapi, dia tidak menemukan keberadaan dari Ayesha puteri tunggalnya itu dengan baby sitternya.


"Anakku ada di mana? Kenapa mereka tidak ada di dalam kamar?" Batinnya Nada yang sudah masuk ke dalam kamarnya Ayesa tapi, tidak menemukan keberadaan mereka, di dalam kamarnya Mbak Annisa pun kosong.


"Ya Allah… anak-ku ada di mana?" Lirihnya Nada yang semakin dibuat pusing saja dengan situasi yang terjadi.

__ADS_1


Sameer yang melihat raut wajahnya Nada yang kebingungan segera menghampiri Nada," putrimu sudah tidur?"


Nada tanpa disadarinya ia spontan berlari kedalam dekapannya Sameer, tangisnya pecah saking takutnya dengan kondisi putrinya itu.


"Anakku! Putriku!! Tidak ada di dalam kamarnya?" Ratapnya Nada yang semakin khawatir dan ketakutan saja.


Sameer yang tidak menduga jika Nada akan memeluknya segera berusaha untuk meredakan tangisannya Nada," sudah menangisnya, katakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tangannya mengelus punggungnya Nada yang sudah bergetar tersedu-sedu.


"Ayesha! Putriku tidak ada di dalam kamarnya, bahkan baby Sitter nya juga Mbak Annisa tidak ada, aku tidak tahu dimana kepergian mereka," jawabnya Nada yang masih memeluk erat tubuhnya Sameer.


"Kenapa terasa aneh yang aku rasakan ketika tangannya memeluk tubuhku ini, entah perasaan aneh apa ini yang aku rasakan!" Batinnya Sameer yang tidak menyangka jika tubuhnya selalu mengeluarkan reaksi yang aneh jika kulitnya bersentuhan langsung dengan Nada.


"Ya Allah… aku merasakan damai dan tidak terlalu cemas disaat tangannya Mas Sameer mengelus punggungku, perasaan apa ini dan kenapa aku rela dan mudahnya untuk berbagi rasa sedih dengan pria yang sama sekali tidak aku kenal dan kelak akan menjadi suamiku dan pendamping hidupku untuk selamanya," gumamnya Nada.


"Ayo kita duduk di sana dan anda ingat tenangkan dirimu jangan sekali-kali kamu berfikiran yang tidak-tidak, berusahalah untuk bersikap positif karena aku yakin anakmu pasti dalam keadaan yang baik saja," ujarnya Sameer yang memapah Nada untuk segera duduk di kursi ruang tamu minimalis miliknya Nada.


Nada segera mengambil tas handbag nya yang kebetulan tersimpan di atas meja. Ia segera merogoh tasnya dan mencari keberadaan hpnya itu.


"Aku sebaiknya mencoba untuk menelpon nomor hpnya Mbak Annisa," cicitnya Nada yang segera mengaktifkan layar tombol touchscreen hpnya itu.

__ADS_1


__ADS_2