
Nada pun menjelaskan panjang lebar niat dan maksud kedatangannya itu. Pak Abdul pun menjawab sesuai yang ia ketahui dengan jelas. Hingga masalah ada orang yang ingin menjual mobil bekasnya dengan harga yang cukup murah dan Nada sangat bahagia dan bersyukur karena uang dari tabungannya ternyata cukup untuk membeli mobil tersebut.
"Jadi gimana Nak Nada! Apa kamu setuju dengan untuk membeli mobil tersebut? Kalau Kamu setuju dengan harga yang ditawarkan oleh pemilik mobil itu kita berangkat sekarang untuk beli mobilnya kebetulan pemilik mobil itu adalah temannya bapak juga," jelasnya Pak Abdul.
Nada tersenyum," Insya Allah… aku setuju Pak kalau bisa hari ini saja diproses karena aku sangat butuh mobil itu apalagi bapak tahu akhir-akhir ini kondisi keamanan kota di malam hari sedikit mengkhawatirkan sekali," ungkap Nada lagi.
Nada sangat bahagia karena mendapatkan mobil yang sesuai dengan yang ia harapkan dan rencanakan selama ini. Mereka pun menuju jalan Andi pangeran Pettarani Makassar. Setelah bernegosiasi dan sepakat dan pembayaran pun sudah ditransfer ke nomor rekening pemilik mobil.
Nada sudah bisa mengambil STNK, BPKB mobil tersebut. Sedang mobilnya akan langsung diantar oleh pemilik mobil tersebut yang ternyata hanya orang kedua saja.
"Makasih banyak Pak atas bantuannya,"ucapnya Nada disaat selesai teken akta jual beli mobil tersebut.
Pemilik mobil tersebut melego mobilnya karena ada alasan khusus sehingga pemiliknya menjualnya. Sepertinya itu lah penjelasan dari orang yang dipercaya untuk menjualnya.
"Syukur Alhamdulillah… Nada sudah terbantu dengan mobil ini, ya Allah… satukanlah mereka segera kasihan Nada harus hidup seorang diri banting tulang demi kehidupannya dan juga putrinya," batinnya Pak Abdul Aziz yang pamit duluan untuk pulang.
Pak Abdul segera menelpon seseorang dan akan menyampaikan berita penting tersebut. Pak Abdul bersyukur karena orang yang diajaknya kerjasama ingin melihat Nada bahagia. Walaupun tanpa imbalan dari pria itu, pak Abdul dengan senang hati membantu untuk kebahagiaan dan membahagiakan Nada yang sudah hidup sebatang kara di dunia tanpa kedua orang tuanya maupun salah satu kerabat sanak saudaranya lagi.
Berselang beberapa menit kemudian, mobil berwarna putih itu sudah berada di dalam garasi rumahnya. Nada pergi menjemput putrinya karena sudah jam pulang.
"Ayesha pasti bahagia setelah melihat apa yang telah ia impikan terwujud hari ini," cicit Nada dengan senyuman lebarnya yang sedari tadi menghiasi wajahnya ketika melihat sudah terparkir cantik mobil berwarna putih.
Ayesha segera turun dari motor mamanya padahal mesin motornya baru saja berhenti beberapa menit kemudian.
__ADS_1
"Mama! Apa benar ini mobilnya Mama?" Tanyanya Ayesha yang berjingkrak dan berlompatan saking bahagianya melihat dan mengetahui jika mamanya sudah memiliki mobil.
"Syukur Alhamdulillah… aku tidak perlu khawatir lagi jika Mama pergi bekerja dan pulang malam hari karena mobil ini bisa melindungi Mama," imbuhnya Ayesha yang tersenyum penuh kegembiraan.
Nada tersenyum tipis," Alhamdulillah yah sayang, kita sudah punya mobil jadi bisa bebas pergi jauh-jauh kalau ada acaranya temannya Mama atau temannya Ayesha putri cantiknya mama," pungkasnya Nada.
Apa yang dilakukan oleh kedua anak ibu itu kembali menjadi sorotan dan perhatian dari orang yang berada dibalik tirai gorden jendela rumahnya.
"Rencana kedua sudah berjalan dengan lancar, selanjutnya melaksanakan rencana selanjutnya, semoga juga aman terkendali sesuai dengan keinginanku," gumam pria itu.
Dua bulan kemudian, Ayesha bangun dari tidurnya dan segera membersihkan seluruh tubuhnya di dalam kamar mandi kamarnya. Ia mendengar pintu rumahnya diketuk oleh seseorang.
"Aku harus segera membangunkan Mama,siapa tahu tamu itu bawa sesuatu untuk kami, sesuatu yang sangat baik," lirihnya Ayesha lalu segera berlari ke kamar mamanya
Ayesha sambil mengetuk pintu kamar mamanya itu.
Tok… tok…
Suara ketukan pintu cukup besar dan nyaring sehingga Nada mau tidak mau akhirnya bangun juga.
"Siapa yah pagi-pagi sekali datang bertamu di rumah?" Batinnya Nada ketika sudah bangun dari tidurnya karena dibangunkan oleh Ayesha putri kecilnya.
Nada berjalan ke arah pintu depan rumahnya, kedua matanya melihat jika Pak Abdul Aziz dan seorang perempuan bersamanya dengan menenteng sebuah tas ransel yang cukup besar.
__ADS_1
"Assalamualaikum Nada, maafkan Bapak sudah menggangu istirahat kamu," tutur Pak Abdul Aziz yang sedikit tertawa cengengesannya.
"Waalaikum salam, silahkan masuk Pak," timpalnya Nada yang tersenyum smirk.
Nada tersenyum ramah kearah perempuan yang mungkin usianya kira-kira 38 tahun mungkin seumuran dengan Mbak Annisa saudara angkatnya Nada yang sudah meninggal dunia itu.
Pak Abdul Aziz duduk berdampingan dengan perempuan itu," Nada perkenalkan ini adalah saudara jauhnya bapak dari kampung namanya Rini dan kebetulan katanya ia butuh banget kerjaan dan kamu pernah ngomong sedang cari seseorang yang bisa kamu harapkan untuk bantu kamu untuk menjaga dan mengantar jemput pulang pergi sekolahnya Ayesha putrimu itu," jelasnya Pak Abdul Aziz.
"Iya Pak, saya sangat butuh orang tapi, masalahnya apa gajinya sesuai dengan keinginannya Rini, karena saya hanya mampu bayar dia sedikit Pak," ungkap Nada dengan menundukkan kepalanya karena cukup malu.
"Masalah gaji Mbak Nada, tidak perlu khawatir dengan semua itu, saya siap kerja sama dengan Mbak Nada yang penting saya bisa tinggal disini," timpalnya Rini.
"Bagaimana Nada! Apa kamu menerimanya bekerja disini? Kasihan dia sangat butuh pekerjaan untuk menyambung hidupnya," ujarnya Pak Abdul.
"Semoga saja Mbak Nada menerimaku walaupun aku hanya terima sedikit gaji dari Nada tapi, setidaknya aku bisa dapat bonus juga dari Pak Sungkar," Rini membatin mengingat kesepakatan mereka berdua dengan Pak Sungkar.
Nada tanpa pikir panjang segera mengiyakan perkataan dari kedua orang itu. Hatinya Nada tergerak akhirnya menerima dan setuju Mbak Rini bekerja di rumahnya sebagai asisten rumah tangga sekaligus baby Sitter dari Ayesha.
"Tapi, Mbak bisa kan naik motor supaya bisa mengantar jemput anakku di sekolahnya, karena itu lah yang paling penting yang saya harapkan dan butuhkan karena kalau masalah lainnya aku yakin Bapak pasti sudah mengenal dekat dengan Rini jadi hal lainnya tidak perlu diragukan dan dipertanyakan juga," imbuhnya Nada.
Rini menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari Nada," pasti Bos akan bahagia mendengar hal ini, aku harus berhati-hati untuk berkomunikasi dengannya jika tidak Mbak Nada akan mencurigai dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," Mbak Rini mereka membatin.
Sejak hari itu Nada tidak kerepotan lagi mengurus rumahnya dan juga anaknya dengan kesibukannya yang padat. Karena baru seminggu ia mendapatkan promosi pekerjaan dan jabatan baru di tempat kerjanya itu.
__ADS_1
"Tidak lama lagi aku akan muncul du hadapanmu tapi, karena aku harus segera ke pulau Dewata Bali sehingga rencana selanjutnya harus dipending dulu," lirihnya seorang yang duduk didepan meja kerjanya setelah mematikan sambungan teleponnya dengan anak buahnya itu.