
Sejak hari itu Nada tidak kerepotan lagi mengurus rumahnya dan juga anaknya dengan kesibukannya yang padat. Karena baru seminggu ia mendapatkan promosi pekerjaan dan jabatan baru di tempat kerjanya itu.
"Tidak lama lagi aku akan muncul du hadapanmu tapi, karena aku harus segera ke pulau Dewata Bali sehingga rencana selanjutnya harus dipending dulu," lirihnya seorang yang duduk didepan meja kerjanya setelah mematikan sambungan teleponnya dengan anak buahnya itu.
"Ya Allah… makasih banyak atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada keluargaku, saya sangat bahagia karena sudah bisa memiliki mobil untuk saya pakai berangkat kerja sehingga pulang malam pun saya tidak akan pernah khawatir lagi," batinnya Nada Atiillah Ahmad.
Padahal tanpa memakai mobil pun keamanannya terjamin karena setiap hari ada tiga orang yang menjaga dan menguntitnya kemanapun perginya yang diam-diam menjaga keamanannya kemanapun pergi.
Hari ini ia mendapatkan asisten rumah tangga yang baru yang sifat dan karakternya hampir sama dengan Mbak Annisa kakak angkatnya itu. Kehidupan Nada semakin berwarna apa lagi, putri kecilnya itu sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas satu tepatnya.
Nada sibuk bersama Mbak Rini menyiapkan sarapan pagi mereka sebelum dia dan Ayesha berangkat ke rutinitas sehari-harinya.
"Mbak Nada! Ini udangnya di goreng tepung saja atau mau ditumis?" Tanyanya Mbak Rini sambil melihat ke Nada yang sedang mengulek sambal terasi.
Nada mengalihkan perhatiannya ke arah Mbak Rini dari ulekan," kalau bisa dibagi dua saja Mbak dimasaknya, aku ingin membawa bekal makan siang, aku bosan makan bakso mulu," jelasnya Nada yang kadang kalau sudah capek ia tidak akan memasak makanan sehingga dengan terpaksa membeli makanan jadi dari warung terdekat dari tempat kerjanya yang berlogo huruf A besar dengan warna merah putih.
Mbak Rini sama sekali tidak menggubris perkataan dari mulutnya Nada. Di langsung bergerak untuk memasak makanan yang sesuai dengan keinginannya Nada.
"Nona Nada cantiknya alami dan juga baik hatinya tulus pantesan Tuan Muda Sungkar jatuh cinta dan melakukan segala cara untuk mendapatkan kasih sayangnya Mbak Nada, aku saja andai pria mungkin akan jatuh cinta padanya," batin Mbak Rini dengan seulas senyumannya.
"Mbak aku minta tolong dijaga Ayesha soalnya kemungkinannya aku akan berangkat ke daerah takalar hari ini ada acara di tempat kerja yang tidak boleh aku tinggalkan dan kemungkinannya aku akan nginap di sana," ujarnya Nada yang tersenyum tipis sambil mencari tempat makanannya yang sering dia pakai itu.
"Hari ini berangkatnya yah Mbak terus pulangnya besok atau lusa?" Tanya Mbak Rini yang sudah dianggap Nada adalah adiknya sendiri seperti halnya almarhumah Mbak Annisa.
__ADS_1
"Insya Allah… Rabu hari ini kan mungkin Jumat sore baru balik, aku mau keliling kabupaten takalar langsung survei dan berikan training untuk semua toko yang ada di daerah sana," ungkap Nada.
"Insya Allah… aku akan menjaga Ayesha seperti anakku sendiri Mbak jadi kamu tidak perlu sungkan kepadaku," pungkasnya Mbak Rini.
Nada mengelus pelan lengannya Mbak Rini," syukur Alhamdulillah… makasih banyak atas bantuannya, aku sangat bahagia karena berkat bantuannya Mbak segala kesulitan yang aku hadapi selama kakakku meninggal sudah teratasi dengan baik dan lancar," balas Nada yang tersenyum sumringah sambil memeluk erat tubuhnya Mbak Rini.
"Mbak tidak perlu sungkan dengan semua ini, aku ikhlas dan tulus membantu Mbak kok, lagian aku kan digaji masa harus kerja setengah-setengah padahal gajinya lumayan tinggi," candanya Mbak Rini.
Mereka berdua tersenyum dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing di dalam dapur
"Kalau Mbak Nada sudah pergi aku harus segera menghubungi Bos Sungkar agar segera menyuruh orangnya untuk datang memasang cctv-nya," Mbak Rini membatin.
Beberapa jam kemudian, mobil putih Nada sudah berada di jalan raya berbaur dengan pengendara mobil dan motor lainnya.
"Mama! Nanti pulangnya dijemput sama Mbak Rini saja yah, kasihan kalau Mama yang jemput," ujarnya Ayesha sembari menatap ke arah mamanya itu.
"Mama, tidak perlu khawatir kerja yang rajin saja, kan ada Mbak Ririn yang selalu siap sedia menjaga aku putrinya Mama yang paling cantik sedunia," guraunya Ayesha.
Mobil yang dipakainya berhenti tidak terlalu jauh dari pagar sekolahnya Ayesha. Nada segera membantu putrinya untuk melepas seatbelt yang dipakainya itu.
"Ingat belajar yang benar yah sayang, kalau ada apa-apa telpon mama, tapi ingat hpnya tidak boleh dikasih nada dering saat jam pelajaran dan juga jangan main hp kalau bukan jam istirahat," pintanya Nada kepada anaknya yang cukup patuh itu.
"Rebes Bos! Aku akan mengingat baik dan menjalankan perintahnya Mama dengan sebaiknya," jawab Ayesha sembari mengecup sekilas pipi mamanya itu yang sudah cantik dengan hijab merah yang dipakainya senada dengan baju kerjanya.
__ADS_1
Ayesha Almeera Aliya meraih tangan mamanya untuk segera ia cium punggung tangannya sebelum turun dari mobil mamanya.
"Mama hati-hati yah, see you mamaku yang paling cantik dan baik hati," tuturnya Ayesha lalu segera berlari ke dalam halaman sekolahnya.
"Sudah dua tahun lebih aku tidak bertemu dengan Mas Sameer walau gimanapun juga, dia adalah papa biologisnya Ayesha, tapi rasa kecewa ini masih membekas hingga detik ini, tetapi aku tidak bisa memungkiri jika aku juga merindukan kehadirannya ya Allah… mungkin saja Mas Sameer sudah menemukan wanita lain dan mereka sudah menikah," cicitnya Nada lalu segera menyalakan stok kontak mesin mobilnya itu.
Mbak Rini secepatnya menelpon bosnya dan apa yang mereka rencanakan sudah berjalan sesuai dengan yang mereka harapkan. Pria misterius yang menjadi tetangganya Nada tersenyum penuh maksud, segera berjalan ke arah garasi mobilnya itu.
"Aku akan menampakkan diriku hari ini di depan putriku, ya Allah… aku ingin mendekap anakku itu sudah hampir tiga tahun aku tidak menyentuhnya sedikit pun dan aku harus bersabar untuk menahan keinginanku ini, kalau mamanya urusan belakangan yang penting hati anaknya dulu," lirih Sameer Elrumi Sungkar
Pria yang selama ini diam-diam membantu Nada, sekaligus tetangga misterius yang dirahasiakan oleh Pak Abdul Aziz selaku pak RT itu dan juga yang menjual mobilnya dengan harga murah serta orang yang telah menugaskan asisten rumah tangga dirumahnya yang di Jakarta adalah dia pelakunya.
Hal itu dilakukan oleh Sameer bertujuan semata karena demi kebahagiaan anak dan calon istrinya itu dan untuk menebus kesalahannya di masa lalu.
Mobil dengan merk huruf A itu meluncur dengan bebas di jalan raya. Dengan kecepatan rata-rata melaju di atas aspal yang cukup panas siang itu. Sameer mengunci mobilnya sebelum berjalan masuk untuk menjemput putri semata wayangnya darah dagingnya sendiri.
Sudah jam 11 lewat, anak-anak kelas 1A sudah berhamburan dan berlarian ke arah luar pintu kelasnya stelah bersalaman satu persatu dengan wali kelasnya Ibu guru Aminah. Ayesha sudah berdiri di sekitar taman tempat biasa ia menunggu Mbak Rini datang menjemputnya. Hingga suara teriakan seruan dari seseorang membuatnya menoleh ke arah belakang.
"Ayesha!" Teriaknya Sameer.
Ayesha menoleh ke belakang dan menatap intens pria yang berjalan menghampirinya dengan tatapan penuh selidik. Dengan memakai celana pendek sebatas lutut saja, baju kaos berwarna biru semakin menambah ketampanan paripurna pria dewasa yang sudah menginjak usianya yang ke 30 tahun itu.
"Papa!!!" Pekiknya Ayesha seraya berlari kencang ke arahnya Sameer.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Ayesha membuat Sameer cukup terkejut karena dia tidak menyangka jika anaknya itu mengenali dirinya dengan baik padahal mereka bertemu waktu itu Ayesha masih berumur sekitar lima tahun. Sameer membungkuk sedikit tubuhnya sambil merentangkan kedua tangannya menunggu kedatangan putrinya.
"Ayesha putrinya Papa!" Imbuhnya Sameer yang sudah mendekap erat tubuh anaknya itu dengan air matanya yang menetes membasahi pipinya sebagai pertanda jika ia sangat bahagia melihat putrinya itu.