
"Ya Allah… satukanlah Mama dengan Papa dalam tali ikatan suci sakral pernikahan, aku ingin melihat kedua orang tuaku bersatu, masa diusianya yang sudah menginjak ke 27 belum nikah juga, aku berharap juga supaya mama tidak perlu repot-repot untuk bekerja keras banting tulang untuk menghidupiku ya Allah…," batinnya Ayesha yang masih dalam pelukan mamanya.
Rasa lelah dan capeknya Nada tergantikan dengan senyuman bahagia karena sudah bertemu dengan anaknya itu.
Satu bulan sudah berlalu sejak kepergian Sameer ke Jakarta. Ayesha Almeera Aliya Sungkar sesekali menengok ke arah samping kanan rumahnya, ia berharap jika papanya sudah kembali dari Jakarta.
Tapi, hal itu sama sekali tidak terjadi. Raut wajahnya Ayesha begitu sendu, bola matanya seperti mendung yang menunggu tiupan angin maka air hujan akan membasahi seluruh isi dunia.
"Mama, aku merindukan papa," Lirihnya Ayesha dalam pelukan mamanya di depan mobilnya yang sebenarnya sudah bersiap untuk berangkat ke sekolahnya Ayesha.
Nada yang sekilas mendengar perkataan dari anaknya dibuat tersentak kaget dengan apa yang diucapkan oleh Ayesha.
__ADS_1
"Ya Allah… ternyata penyebabnya adalah putriku merindukan papanya Mas Sameer, apa yang harus aku lakukan… aku juga tidak punya lagi nomor hpnya Mas Sameer untuk menghubunginya karena tersave di nomor dan hp lamaku," batin Nada yang sedih melihat putrinya bersikap seperti ini.
Ayesha tatapan matanya selalu melihat ke rumahnya Sameer yang berharap agar apa yang diinginkannya saat itu menjadi kenyataan.
"Tapi, walaupun aku mengetahui nomor hpnya Mas Sameer itu tidak mungkin aku yang duluan telpon dia, aku masih punya harga diri untuk lebih duluan menghubunginya, bukannya seharusnya dia yang duluan berinisiatif karena Mas Sameer letak permasalahan sehingga kami gagal menikah," Nada membatin dengan tatapan matanya nanar mengigat kembali kejadian beberapa tahun silam.
Nada tanpa sengaja melihat putrinya yang tiba-tiba bersedih. Nada pun segera mendatangi anaknya itu agar Ayesha bisa berbicara dengan apa yang terjadi padanya.
Ayesha menatap ke arah mamanya tapi, kedua bola matanya bergerak,raut wajahnya kebingungan, bimbang dan ragu apa kah harus jujur atau diam saja. Nada juga dibuat kebingungan dengan sikapnya Ayesha yang tumben bersikap seperti ini tidak biasanya aka terdiam jika ada yang dia inginkan.
"Katakan pada Mama,apa yang kamu inginkan tidak perlu sungkan atau ragu, Mama khawatir lihat kamu jika seperti ini, apa kamu sakit sayang?" Tanyanya Nada sambil menyentuhkan punggung tangannya di kening Ayesha.
__ADS_1
"Mama! Aku enggak sakit kok, aku baik-baik saja," elaknya Ayesha yang tidak mungkin jujur untuk mengatakan apa yang terjadi padanya saat ini.
"Aku melihat Ayesha beberapa hari ini seperti banyak yang dipikirkan dan sikapnya juga aneh tidak seperti biasanya, ya Allah… apa yang terjadi pada putriku, aku sangat cemas melihat kondisinya seperti ini," batinnya Nada yang kemudian menarik tubuh putrinya ke dalam dekapan pelukannya itu.
Mbak Rini yang sedang menjemur pakaian di samping rumahnya melihat apa yang dilakukan oleh kedua anak ibu itu cukup dibuat terharu dan terenyuh.
"Ya Allah… dekatkanlah Tuan Muda dengan Nyonya dalam ikatan pernikahan, aku tidak sanggup melihat kesedihan dari Ayesha dan Mbak Nada, mereka pantas untuk bahagia," Mbak Rini bergumam.
Nada tidak mungkin menjanjikan untuk mempertemukan putrinya dengan ayah biologisnya karena komunikasi mereka terakhir saat malam itu ketika mereka sedang janji temu untuk makan malam.
Malam itu juga menjadi terakhir mereka bertemu langsung dan juga awal Nada mengetahui kenyataan besar siapa pria yang telah merenggut mahkotanya.
__ADS_1
Bukannya benci atau marah yang dialami dan dirasakan Nada saat itu, tapi traumanya atas luka dan kehancuran masa depannya sehingga ia yang harus sedih,sakit, kecewa dan luka itu harus bernanah kembali.