Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 54. Dugaan Mbak Ririn


__ADS_3

"Tumben istriku tertidur jam segini, semoga saja kondisi kesehatannya baik-baik saja karena aku tidak tega meninggalkan istriku dalam keadaan seperti ini," gumamnya Sameer lalu berjalan ke arah ranjang king size-nya dengan menyentuhkan punggung tangannya ke dahinya Nada.


Sameer mengerutkan keningnya karena suhu tubuhnya Nada normal saja. Ia pun tersenyum lalu berjalan ke arah kamar mandi karena tersisa dua jam pesawatnya akan take off ke Bandara Ngurah Rai Bali.


Sameer telah berpakaian lengkap dan memeriksa semua perlengkapan dan barang-barang yang akan ia bawa ke Bali. Setelah berpakaian barulah Nada terbangun dari tidurnya itu.


Nada mengerjapkan berulang kali kelopak matanya untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke celah jendela kamarnya itu. Nada sedikit terkejut melihat jam di dinding yang terpasang rapi di tembok kamarnya. Jarum jam nya menunjukkan pukul 11 lewat.


"Ya Allah… Mas Sameer kan mau ke Bali, kenapa sampai aku bisa melupakannya," gumamnya Nada yang segera menyibak selimutnya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamarnya itu.


"Mas Sameer ada di mana, apa dia sudah pergi?" Cicitnya Nada yang berjalan sambil mencepol dengan asal rambutnya sambil memakai sendal rumahannya.


Nada membuka kamar ganti, keadaannya kosong melompong,ia lalu membuka pintu kamar mandi tapi, lagi-lagi tidak menemukan Sameer.


"Tasnya juga Mas Sameer sudah tidak ada, aku harus cuci muka dulu baru lihat dibawah mungkin Mas lagi di bawah," Lirihnya Nada lalu segera bersih-bersih seperti biasanya jika baru bangun.


"Ini semua gara-gara aku terlalu keenakan ngorok sih, jadinya aku tidak lihat Mas Sameer berangkat," batinnya Nada yang berjalan menuruni tangga.


Nada sedikit memegang kepalanya karena sedikit pusing," mungkin efek aku kelamaan bangunan jadi gini nih jadinya," Nada bergumam seraya menuruni anak tangga satu persatu.


Nada tersenyum bahagia melihat suaminya berada di salah satu sofa ruang tamu sembari duduk dan menikmati secangkir kopi hasil buatannya sendiri. Sameer memang memiliki beberapa asisten rumah tangga tapi,ia tidak mau jika dibuatkan minuman bukan istrinya sendiri.


"Mas Sameer!" Teriaknya Nada yang berjalan cepat dan tergesa-gesa ke arah Sameer.


Sameer yang mendengar teriakannya istrinya segera menyimpan cangkir kopi nya tersebut lalu menyunggingkan senyumnya.


"Kamu sudah bangun! Sini gabung dengan Mas sebelum Mas pergi ke Bali," pintanya Sameer sembari berdiri dari posisi duduknya itu sendiri senyuman yang merekah di wajahnya yang ganteng di usianya yang sudah kepala tiga itu.


Nada mempercepat langkah kakinya menuju ke tempatnya Sameer. Nada tanpa aba-aba langsung naik ke pangkuannya Sameer. Lalu mengalungkan tangannya ke lehernya Sameer yang melupakan mereka berada di mana. Untungnya Ayesha Almeera Aliya Sungkar putri tunggalnya berada di sekolahnya sehingga kegiatan mereka berdua aman dari tatapan matanya anak dibawah umur.


Sameer mulai mengecup bibir Istrinya dengan penuh kelembutan, tapi Nada menginginkan hal lebih dari itu. Dia segera mee luuu maatt bibir seksinya Sameer hingga nafas keduanya memburu ngos-ngosan di siang hari itu.


Sameer segera mengakhiri ciumannya karena sudah hampir waktu keberangkatan pesawat nya itu.

__ADS_1


"Sudah yah nanti Mas pulang baru lanjut lagi," ujarnya Sameer sambil menyeka sisa ciuman mereka di ujung bibirnya Nada.


Nada seolah tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuhnya Sameer. Ia ingin bermanja-manja dan melakukan apapun yang ia ingin lakukan. Sameer merasa hari ini Nada aneh dan tidak seperti biasanya itu.


Sameer memainkan anak rambutnya Nada," sayang sudah waktunya Mas berangkat, insya Allah satu minggu lagi kita akan ketemu, doakan Mas supaya cepat pulang dari Bali juga Surabaya," Sameer masih memangku tubuhnya Nada.


Pak Udin dan Pak Kadir sebagai security dan supir pribadinya langsung menundukkan kepalanya ketika melihat kemesraan dan keintiman kedua majikannya itu yang baru menikah hampir setahun dan tepatnya dua minggu lagi mereka sudah genap setahun.


"Ya Allah… aku juga pengen seperti Tuan dan Nyonya Muda, andai saja Yuni menerima cintaku mungkin bulan ini aku akan melamarnya juga," pak Udin membatin.


Pak Kadir yang melihat apa yang dilakukan oleh rekan kerjanya hanya tersenyum menanggapi sikap dari Pak Udin," aku juga seperti itu andaikan Mbak Narsih menerima lamaranku aku tidak akan kesepian setiap malamnya," lirih Pak Kadir Jailani.


Mbak Ririn yang kebetulan baru pulang dari pasar segera memukul kepala keduanya.


Puk!!!


"Bukannya kerja malah menghayal dan melamun nggak jelas gitu, aku tahu apa yang sedang kalian pikirkan!" Ketusnya Mbak Ririn.


"Aahh!! Ampun Mbak kami akan segera pergi!!' pekiknya Pak Udin yang menahan pukulannya Mbak Ririn.


"Pak Udin! Tolong bawa kopernya Tuan ke dalam mobil!" Perintahnya Nada yang segera meraih hijab instan yang sempat tadi dipegangnya karena ia belum memakai nya karena menurutnya hanya suaminya yang ada di dalam rumah itu.


"Baik Nyonya Muda!' jawab Pak Udin.


Berselang beberapa menit kemudian, Pak Kadir sudah duduk diatas jok mobil bagian depan tepatnya di balik kemudi mobilnya. Nada meraih tangannya Sameer sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Sameer mengecup sekilas keningnya Nada," Nada Atiillah tunggu aku sekitar satu minggu lagi, Sameer Elrumi Sungkar pasti akan kembali, titip salam sama putriku yah!' tuturnya Sameer ketika berpamitan kepada istrinya itu.


"Tenang saja Tuan, aku akan menjaga Nyonya dan Ayesha dengan baik,Tuan fokus kerja saja dan pulang bawa uang banyak hanya untuk Nyonya Muda Nada," timpalnya Mbak Ririn yang ikut menimpali percakapan kedua pasangan suami istri itu.


"Makasih banyak, aku pamit dulu, assalamualaikum," ujarnya Sameer.


Mobil berwarna putih itu sudah meluncur ke jalan raya utama untuk bergabung dengan pengendara mobil lainnya.

__ADS_1


"Waalaikum salam, hati-hati Mas, aku pasti sangat merindukanmu," cicitnya Nada lalu berjalan ke arah Mbak Ririn yang masih menenteng beberapa kantong kresek plastik karena baru pulang dari pasar tradisional.


Tersisa beberapa jengkal langkah kakinya menuju Mbak Ririn, hingga hidungnya mencium bau aroma yang sungguh menyengat penciumannya. Kepalanya pusing mencium bau itu hingga ia pun mual.


Oek.. owek…


Nada segera menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya saking tajamnya bau yang ia cium.


Oek.. oeewek…


"Mbak! Apa sih yang Mbak bawa sampai-sampai aku pengen muntah segala!" Gerutunya Nada yang masih sangat tidak tahan dengan bau itu.


Mbak Ririn sedikit kelimpungan dan keheranan kira-kira apa yang ia beli sehingga majikannya mual dan pusing.


"Aku cuma beli ikan, daging, udang, sayuran kok Nyonya!" Jawab Mbak Ririn yang berjalan ke arah Nada.


Nada semakin memundurkan langkahnya menuju ke arah belakang karena semakin tidak sanggup mencium baunya aroma itu. Mbak Ririn segera berjalan ke arah dalam rumah meninggalkan Nada yang berdiri karena kondisinya yang cukup tidak stabil gara-gara aroma daun bawang. Setelah dua kantong kresek dibawa kedalam, barulah Ia bisa bernafas lega.


"Syukur Alhamdulillah… akhirnya hidungku bebas dari aroma itu," gerutu Nada.


Nada berjalan ke arah bungkusan belanjaannya Mbak Ririn dan kemudian memeriksanya. Hanya ada mangga muda, pepaya, sayuran, buah-buahan lainnya yang tidak mungkin gara-gara itu penyebab ia mual.


"Sepertinya asyik dibuat rujak,aku suruh Mbak Yuni kalau gini," cicit Nada lalu menenteng kantong kresek tersebut hingga ke dapurnya.


Nada celingak-celinguk mencari keberadaan mbak Yuni tapi gak ada," Mbak Yuni mana Mbak, Kok aku gak lihat?' Nada duduk di salah satu kursi meja makan.


"Mbak Yuni ada di atas lantai tiga Nyonya sedang jemur pakaian, kenapa emangnya Nyonya?"


"Ohh gitu, aku mau minta tolong dibuatkan rujak buah dong, gak tahu aku pengen banget makan rujak," balasnya Nada yang keheranan dengan reaksi tubuhnya yang tadi mual sekarang pengen makan rujak.


"Rujak!" Beo Mbak Narsih yang baru muncul dari arah belakang rumahnya.


Mbak Ririn tersenyum sumringah," apa jangan-jangan Nyonya hamil?!" Jeritnya Mbak Ririn yang sangat bahagia walaupun baru menduga.

__ADS_1


Nada terdiam terpaku mencerna perkataan dari asisten rumah tangganya itu.


__ADS_2