Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 55. Keseruan Di Dapur


__ADS_3

"Rujak!" Beo Mbak Narsih yang baru muncul dari arah belakang rumahnya.


Mbak Ririn tersenyum sumringah," apa jangan-jangan Nyonya hamil?!" Jeritnya Mbak Ririn yang sangat bahagia walaupun baru menduga.


Nada terdiam terpaku mencerna perkataan dari asisten rumah tangganya itu, "Apa aku benar-benar hamil yah!" Batinnya Nada Atiillah Sungkar yang memikirkan perkataannya sendiri.


Mbak Ririn yang melihat Nyonya nya terdiam di tempat duduknya dengan mulutnya yang menganga membentuk huruf O itu.


"Nyonya! Sebaiknya kita ke rumah sakit atau ke dokter kandungan saja untuk periksa kebenarannya dan juga coba ingat terakhir Nyonya kapan haid terakhir kalinya," imbuhnya Mbak Ririn.


Mbak Yuni yang mendengar perkataan dari mulutnya Mbak Ririn segera ikut menimpali percakapan mereka.


"Mbak Ririn pengalaman banget yah, seolah-olah sudah menjadi seorang ibu yang langsung rasakan sendiri," candanya Mbak Yuni yang ikut duduk di depan Nada yang masih terbengong-bengong.


Plak!!


Tanpa segan Mbak Ririn memukul bahunya Mbak Yuni dengan piring plastik yang kebetulan ia pegang itu. Suara tepukan di pundaknya Mbak Yuni dan pelakunya tidak lain adalah Mbak Ririn yang sedang mengulek bumbu untuk rujak.


Hahahaha!! suara tawa menggema di dalam ruangan dapur tersebut.


"Sudah dong Mbak kasihan sama Mbak Yuni entar Pak Udin enggak jatuh cinta lagi," candanya Nada yang tersenyum cekikikan melihat reaksi dan raut wajahnya Mbak Yuni yang mendengar perkataan dari mulutnya Nada.


Mbak Narsih berjalan tergopoh-gopoh dan terburu-buru menuju ke dalam dapur dengan tangannya menggenggam erat sebuah benda pipih yang diberi nama handphone. Semua mata tertuju pada kedatangan Mbak Narsih dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tadi ada yang sok tahu, eeehh sekarang orang yang ingin menyamai atlet lari saja!" Sarkasnya Mbak Yuni yang menatap jengah ke arah Mbak Narsih.

__ADS_1


Mbak Narsih segera menghentikan langkahnya dengan nafasnya yang memburu, ngos-ngosan karena terburu-buru berlari.


"Nyonya Muda, hpnya sedari tadi berbunyi dan sepertinya ini panggilannya dari Tuan Muda Sameer!' ujarnya Mbak Narsih yang tergagap ketika berbicara karena nafasnya yang masih ngos-ngosan.


Mbak Narsih kebetulan menaruh beberapa pakaian baru yang sudah disetrikanya ke dalam lemari dan kebetulan Nada melupakan hpnya di atas meja nakas ranjangnya.


Nada tersenyum simpul," makasih banyak Mbak, tolong diselesaikan cepat buah rujaknya aku sudah ngiler mau makan,"


Sameer tanpa sengaja mendengar hal itu karena kebetulan Nada sudah menekan tombol hijau di layar hpnya tersebut, sehingga mau tidak Sameer Elrumi Sungkar mendengar jika Istrinya makan rujak buah.


"Rujak buah pengen dimakan Nada, tumben makan gituan," batinnya Sameer dengan keheranan karena Nada memang orang Makassar tapi, jarang makan mangga muda ataupun buah-buahan yang masam."


"Assalamualaikum Mas Sameer," imbuhnya Nada ketika sudah menaruh hp di telinganya itu.


"Waalaikum salam, baru beberapa menit saja aku tidak mendengar suaramu, saya sudah merindukanmu Istriku!" Ujarnya Sameer dengan penuh ketulusan.


"Kalau istriku bahagia dengan ucapan rayuan seperti ini maka aku akan belajar yang paling penting istriku bahagia itu tak masalah bagiku, walaupun harus ke negri China sekalipun sayang akan aku akan jabanin kok," ujarnya Sameer yang baru saja membuka pintu mobilnya yang akan langsung ke perusahaannya.


"Aku bahagia mendengarnya, tapi kalau masalahnya itu tidak perlu Mas lakukan karena tanpa kata rayuan maut aku sudah bahagia kok hidup bersama Mas," pungkasnya Nada Atilah Sungkar.


Percakapan mereka disaksikan langsung oleh masing-masing asistennya yang membuat mereka menjadi penonton kebucinan kedua pasangan suami istri itu.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu istriku, tapi Mas akan usahakan secepatnya untuk pulang dan semoga sebelum hari anniversary kita Mas sudah berada di Makassar di hadapan istriku yang paling cantik di dunia ini," rayunya Sameer yang sebenarnya memang itu ungkapan perasaannya yang dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Nada adalah wanita kedua di dunia ini yang benar-benar ia sayangi setulus hatinya selain mendiang tunangannya sekitar beberapa tahun silam.

__ADS_1


"Aku akan selalu menunggu dengan sabar, setia kepulangan suamiku tersayang, jaga diri baik-baik yah Mas, istirahat yang cukup, makannya jangan selalu terlambat dan satu hal yang paling penting jaga selalu hatinya hanya untuk Nada seorang," terangnya Nada yang wajahnya langsung berubah memerah padahal mereka berbicara lewat telpon saja.


Wajahnya Nada langsung blushing dan semakin menambah kecantikan alami yang dimilikinya itu. Ketiga asisten rumah tangganya memperhatikan mereka secara diam-diam.


"Kau selalu jaga hatimu tunggu aku kembali…. Ku mencintaimu selalu hingga akhir waktuku," Sameer Elrumi Sungkar pun tersenyum malu-malu karena diam-diam supirnya memasang telinganya dengan baik untuk mendengarkan nyanyiannya Sameer walaupun hanya sepenggal saja.


"Sudah dulu yah sayang, aku mau ke perusahaan soalnya ada rapat penting yang harus aku ikuti, assalamualaikum," salamnya Sameer sebelum mematikan sambungan teleponnya tersebut


Nada menaruh hpnya ke arah sudut bibirnya itu. Dengan tersenyum penuh kemenangan dan kebahagiaan.


"Syukur Alhamdulillah, Engkau telah memberikan dalam hidupku suami yang sangat baik, pengertian, penyayang, perhatian, setia dan yang paling penting tajir ini salah satunya poin terpenting dalam kehidupan kami," batinnya Nada dengan tersenyum penuh arti.


"Apes banget yah, gini nih jadinya nasib jadi jomblowati, coba ada Pria yang melamar ku aku tidak akan menolaknya seperti dua orang sana yang jual mahal padahal pengen!" Sarkasnya Mbak Ririn yang tersenyum penuh maksud.


Mbak Yuni dan Mbak Narsih yang mendengar perkataan dari mulutnya Mbak Ririn cukup terkejut dan membuat mereka tersedak makanan buah pepaya yang mereka cicipi itu.


Huk.. huk… keduanya batuknya pun bersamaan hingga wajah mereka memerah dan air matanya menetes gara-gara tersedak buah pepaya muda yang sudah setengah matang.


Mbak Ririn tersenyum terbahak-bahak melihat reaksi dari kedua sahabat sekaligus rekan kerjanya itu," makanya kalau makan tuh pikirannya jangan lari ke mana-mana kalau gini kan jadi repot!' kelakarnya Mbak Ririn sambil menepuk punggung mereka secara bergantian dengan menyodorkan masing-masing satu gelas yang berisi air putih.


Nada yang baru saja duduk cukup terkejut melihat apa yang terjadi di dalam dapur rumahnya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.


"Apa yang terjadi di dalam sini, kenapa Mbak Yuni dan Mbak Narsih terbatuk-batuk!" Nada memperhatikan Mbak Ririn yang tertawa terbahak-bahak sedari tadi.


"Itu mereka tersedak makanan Nyonya Muda saking enaknya nikmati kenikmatan dan kelezatan buah yang aku kupas untuk Nyonya tapi, malah mereka yang menikmatinya!" Sarkas Mbak Ririn yang kembali ingin tersenyum tapi, karena langsung ditatap tajam oleh Nada.

__ADS_1


"Kalau gini! Kapan rujak pesananku selesai kalau kalian bercanda terus?" Gerutu Nada yang tersenyum tipis menanggapi perkataannya sendiri.


__ADS_2