Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 56. Ke Dokter


__ADS_3

"Itu mereka tersedak makanan Nyonya Muda saking enaknya nikmati kenikmatan dan kelezatan buah yang aku kupas untuk Nyonya tapi, malah mereka yang menikmatinya!" Sarkas Mbak Ririn yang kembali ingin tersenyum tapi, karena langsung ditatap tajam oleh Nada.


"Kalau gini! Kapan rujak pesananku selesai kalau kalian bercanda terus?" Gerutu Nada yang tersenyum tipis menanggapi perkataannya sendiri.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah menikmati sedapnya rujak buah. Ada buah pepaya, timung, apel, kedondong, salak, mangga muda, jambu putih dan paling penting bumbu kacang yang sudah diulek dicampur dengan air asam, parutan gula batu, penyedap rasa, masako garam sesuai selera dan juga sedikit terasi dan juga cabai rawit merah.


"Buatan Mbak-mbak cantik ini memang tidak ada duanya sangat maknyus," pujinya Nada yang sudah duduk bersila di atas karpet merah yang digelar oleh Pak Udin di belakang rumahnya di atas gasebo.


"Itu harus enak lah Nyonya kalau apa yang kami buat untuk Nyonya tidak enak sebaiknya kami jadi pengangguran saja," imbuhnya Mbak Narsih yang ikut mencicipi rujak buah.

__ADS_1


"Fiks! Aku yakin Nyonya Muda itu hamil muda, sebaiknya Nyonya segera memeriksakan diri ke dokter kandungan atau ke rumah sakit saja dan kalau benar adanya Nyonya hamil itu berita yang sangat membahagiakan untuk keluarga besar Sungkar dan untuk kami semua yang ada di sini," terangnya Mbak Ririn yang sangat bahagia dan antusias dengan hal tersebut.


"Betul sekali apa yang dikatakan oleh sahabatku ini Nyonya," timpalnya Mbak Narsih sambil merangkul lehernya Mbak Ririn.


"Itu ide yang bagus Nyonya,kami berharap semoga saja Nyonya Muda hamil kalau bisa kami pengen Nyonya hamil anak kembar," ucapnya Mbak Yuni yang menatap penuh harap ke arah Nada.


Nada cukup tersenyum bahagia karena melihat kebahagiaan mereka, walaupun belum pasti dan jelas kalau ia hamil. Karena menurutnya, ketika ia hamil anak pertamanya dulu sama sekali tidak menyukai rujak dan buah asem malahan ia teringat jika ia tidak menyukai buah masam.


Beberapa jam kemudian, Nada segera masuk kembali ke dalam kamarnya karena akan bersiap untuk berangkat ke salah satu klinik khusus ibu hamil atas rekomendasi beberapa ibu-ibu tetangganya.

__ADS_1


"Mbak Ririn saja yang menemaniku kalau kalian ikut semua entar dokter dan perawatnya kebingungan mau periksa kalian atau aku," guraunya Nada yang sudah duduk di kursi jok belakang mobilnya bersama dengan Mbak Ririn yang selalu setia menemaninya selama ini sebelum Nada menikah dengan Sameer hingga detik ini.


"Baik Nyonya Muda," jawab mereka semua yang akhirnya bisa bernafas lega karena bisa berduaan dengan kekasih pujaan hati mereka.


"Ingat baik-baik jaga rumah baik jika ada yang mencurigakan segera hubungi nomorku dan kalau perlu telpon nomornya Pak Abdul Aziz agar semua orang tidak berani lagi datang untuk mengacau ketentraman kita," jelasnya Nada lalu menutup rapat kaca jendela mobilnya.


"Aku harus bicara dengan Mas Udin agar ia datang langsung di hadapan Nyonya Muda untuk melamarku, semoga saja Mas Udin berani melamarku dihadapan Nyonya," batinnya Mbak Narsih yang menatap intens ke arah Pak Udin yang sedang menutup rapat pagar besi bercat putih gading itu.


Mobil mereka meluncur di atas aspal sore itu, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat tapi,sama sekali tidak menyurutkan niat dan semangat mereka untuk segera ke dokter praktek.

__ADS_1


Saya saja yang duluan turun Nyonya," cegahnya Mbak Ririn lalu membuka payungnya lalu berjalan ke arah pintu samping sebelah kanan.


"Pak Kadir, kalau mau istirahat di atas mobil silahkan, enggak apa-apa kok sempat nunggu kami lama jadi tidak capek dan bosan nunggunya, atau mungkin telponan sama ayang tersayang di rumah gitu bisa menghilangkan rasa jenuhnya," terang Mbak Ririn yang kembali cekikan memikirkan kedua pasangan malu-malu itu menunjukkan hubungan mereka di hadapan orang lain.


__ADS_2