
"Maaf bukannya saya menolak atau tidak menghargai perkataan dokter, tapi sebaiknya disini saja ngomongnya dokter," pintanya Nada.
"Baiklah kalau gitu karena sesuai permintaan dari Mbak sendiri, saya meminta maaf kondisi kakak Mbak sangat kritis karena menderita kanker darah stadium lanjut jadi sebaiknya kakak Mbak dibawa ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan intensif yang lebih baik dan lebih lengkap serta modern," jelasnya Pak Dokter yang bername tag dokter Spesialis penyakit dalam bernama Pak Ayyub.
"Apa kanker darah, Jakarta!" Beonya Nada yang semakin sedih dan tidak terasa air matanya menetes membasahi pipinya itu.
"Apa! Itu tidak mungkin Dokter! Aku yakin ini pasti ada kesalahan diagnosis," sanggahnya Nada yang sama sekali tidak ingin menerima hasil pemeriksaan laboratorium dari kondisi Mbak Annisa saudara angkatnya itu.
"Maaf Ibu itu adalah kenyataannya, kami sarankan untuk lebih cepat membawa Mbak Annisa ke Jakarta,"imbuhnya Pak dokter lagi.
"Insya Allah… dokter kami akan secepatnya berangkat ke Jakarta," balasnya Nada yang kebingungan.
Setelah menyampaikan semua hasil lab penyakitnya Mbak Anisa dokter kemudian pamitan kepada Nada. Raut wajahnya Nada kebingungan dengan langkah apa yang dia ambil.
"Ya Allah… kami mau ambil uang di mana karena aku yakin biayanya pasti mahal walaupun pihak rumah sakit belum mengabarkan rincian berapa jumlah yang harus kami bayar tapi, seperti yang seringkali saya lihat di televisi jika biayanya itu sangat mahal, mungkin untuk beberapa hari saya masih sanggup tapi, untuk kedepannya gimana ya Allah…" batinnya Nada dengan duduk di kursi panjang rumah sakit dengan wajahnya yang tertunduk lesu, tetesan air matanya sudah membasahi pipinya itu.
Ayesha tidur di sampingnya dengan berbantalkan tas punggung bonekanya yang selalu setia menemaninya jika ke sekolah.
Sudah sebulan lebih Mbak Annisa dirawat di RS dengan begitu penuh perjuangan dan pengorbanan serta kesabaran ekstra dari Nada. Karena Mbak Annisa sudah sadar dan bisa duduk, Nada yang memutuskan untuk membawa Mbak Annisa ke Jakarta untuk berobat. Pesawat mereka harus transit di Makassar bandara Sultan Hasanuddin Makassar terlebih dahulu.
"Ya Allah… semoga penyakitku segera sembuh total, kasihan dengan Nada dan putrinya yang harus berjuang keras dan mati-matian menjaga dan membiayai pengobatanku," Mbak Annisa membatin disaat mendudukkan dirinya di atas kursi penumpang pesawat.
"Mbak Annisa, harus sabar dan jangan banyak pikiran fokus sama penyembuhan Mbak saja, insya Allah… aku yang akan menangani semua administrasi dan biayanya," imbuhnya Nada yang tidak ingin memberikan beban kepada saudaranya itu.
Mbak Annisa segera menggenggam tangannya Nada, " makasih banyak dek, Mbak sebenarnya sudah pasrah pada penyakit Mbak, aku sudah sadari penyakitku ini bukan penyakit yang mudah untuk disembuhkan dan biayanya sangat mahal, tapi gimanapun itu kita sebagai manusia tidak baik dan benar tak boleh berputus asa pada kebesaran, kekuasaan dan kasih sayangnya Allah SWT, karena aku yakin ini yang terbaik untuk Mbak," ungkap Mbak Annisa yang sudah memiliki feeling jika hidupnya tidak lama lagi di dunia ini, tapi ia berusaha untuk optimis di di depan adik angkatnya itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, pesawat tersebut dengan logo merah berhasil mendarat dengan selamat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Baru sekitar lima menit mereka sampai di Makassar, kondisinya Mbak Annisa semakin parah saja. Sehingga Nada memutuskan untuk membatalkan niatnya untuk membawa Mbak Annisa terbangg ke Jakarta.
"Ya Allah… Mbak Annisa, Nada mohon bertahanlah… aku akan membawa Mbak sesegera ke rumah sakit," ucap Nada yang sudah sedih melihat kondisi Mbak Annisa yang sudah semakin parah dan sulit untuk diselematkan.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu segera membantu mereka untuk menghubungi ambulans rumah sakit.
Mbak Annisa menyentuh lengannya Nada," Nada! Tidak usah kamu antar Mbak ke rumah sakit kita kembali ke rumah saja, aku ingin istirahat, tubuhku terasa sangat kelelahan," tuturnya Mbak Annisa yang sudah pucat pasi itu.
"Tidak! Kita harus segera ke rumah sakit, itu jalan satu-satunya yang paling tepat untuk Mbak, jadi jangan banyak bicara Mbak cukup diam dan istirahat saja, biarkan nada yang mengatasi semua ini," kilahnya Nada.
"Nada, tolong Mbak, aku ingin tidur di rumah kita yang lama, aku ingin merasakan bantalku yang sudah beberapa bulan kita tinggalkan," rengeknya yang membujuk Nada agar permintaannya dipenuhi secepatnya.
Seorang ibu-ibu yang melihat dan mendengar kejadian itu segera menimpali percakapan keduanya," Mbak segera penuhi keinginannya saudara Mbak saja karena menurut ibu itu yang terbaik, pasti Mbak Ingin melihat kakak Mbak bahagia dan tenang jika menuruti keinginannya, karena aku juga dulu pernah diposisinya Mbak sebelum terlambat," timpalnya seorang ibu-ibu yang pakai hijab hijau toska itu.
"Ya Allah… jika ini yang terbaik maka berikanlah kebahagiaan kepada saudaraku disisa hidupnya, karena cepat atau lambat kami pasti akan menghadapMu," lirihnya Nada.
Ambulans segera membawa mereka ke jalan Adiyaksa Makassar. Rumah yang rencananya ingin dijual oleh Nada tapi, dengan bujukan dan nasehat dari Mbak Annisa dan beberapa tentangganya, rumah itu tidak jadi dilego.
Padahal sudah banyak sekali yang memberikan dan menawarkan dengan harga yang cukup tinggi, tapi dengan pemikiran yang banyak Nada memutuskan untuk tidak menjual rumahnya yang penuh kenangan yang sudah mereka tempati sejak kurang lebih sepuluh tahun lamanya.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di perumahannya. Sudah banyak tetangga dan warga masyarakat berdatangan ke rumah mereka untuk menunggu kepulangannya.
Semua turut sedih dan berduka dan prihatin atas penyakitnya yang diderita oleh Annisa Laila Hafsari. Seorang perempuan yang masih sendiri menjomlo lebih memilih hidup sendiri dibandingkan menikah dengan salah satu pria yang datang melamarnya karena alasan Nada dan putrinya itu.
Semua terenyuh melihat kondisinya Mbak Annisa yang semakin kurus saja padahal baru beberapa bulan divonis sakit leukimia kanker sel darah putih.
__ADS_1
Satu persatu para anggota warga silih berganti berdatangan, tidak ada satupun yang mendengar berita itu tidak datang untuk menyempatkan waktunya untuk menjenguk Annisa.
"Nada! Kamu harus sabar Nak, Ibu yakin ini yang terbaik untuk Mbak kamu, kami semua warga sini datang berkunjung untuk memberikan sedikit sumbangan, walaupun hanya seberapa semoga bermanfaat untuk kalian terutama untuk pengobatan Annisa saudaramu itu," tuturnya Bu Edah selaku istri dari kepala RT setempat.
Baru ingin membuka mulutnya, Nada dibuat shock, terkejut, kaget dan tidak percaya dengan apa yang terjadi dan dilihat oleh kedua matanya itu.
Saudaranya yang dimilikinya di dunia ini harus menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya di dunia. Annisa akhirnya pergi untuk selamanya di rumahnya sendiri sesuai dengan keinginan dan permohonannya beberapa hari ini.
"Mbak Annisa!! Tidak!! Jangan pergi tinggalkan kami Mbak, saya akan mengantar Mbak ke Jakarta untuk berobat," teriaknya Nada saat mendengar perkataan terakhir kalinya yang diucapkan oleh Mbak Annisa.
"Allahu Akbar...La Ilaha Illa lah," dengan terbata dan suara parau nya yang mampu ia ucapkan untuk terakhir kalinya sebelum menghembuskan nafasnya yang sudah sekarat.
Semua orang yang kebetulan berada disekitarnya kamarnya Mbak Annisa berdatangan untuk melihat hal tersebut karena kaget dengan teriakannya Nada.
Suara tangis dari Ayesha semakin menjadi besar ketika melihat mamanya juga sudah menangis tersedu-sedu meratapi kepergian saudara angkatnya itu untuk selamanya meninggalkan dunia yang fana ini.
Tidak ada seorangpun yang tidak sedih atas kepergian dan kematian Annisa dan tutup usia di umurnya yang ke 38 tahun itu. Suara tangis pilu dan duka mendalam mereka rasakan.
"Nada! Kamu sabar Nak, biarkan Mbak Annisa pergi dengan tenang karena ini sudah jalannya dan takdir dari Sang Maha Pencipta Allah SWT," tutur Bu Erna seraya mengelus punggungnya Nada yang sudah memeluk tubuhnya Mbak Annisa yang sudah kaku dan dingin itu.
Kematian adalah hal yang mutlak terjadi pada tiap-tiap jiwa.
"Sesungguhnya sholat ku ibadah ku hidupku dan matiku hanya Allah untuk allah Tuhan semesta alam."
Kematian tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kita lah yang menunggu kematian dengan bertaubat.
__ADS_1