Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 19. Keadaan Mbak Annisa


__ADS_3

"Bertahanlah Mbak, ambulans sudah menuju kesini," lirihnya Nada seraya menggosokkan beberapa tes minyak kayu putih ke hidung dan tengkuk lehernya Mbak Annisa.


Air matanya menetes membasahi pipinya dan banyak pikiran yang muncul di dalam benaknya Nada. Jelas terlihat dari raut dan mimik wajahnya jika ia takut kehilangan keluarga satu-satunya yang dimilikinya di dunia ini.


"Ya Allah… jangan biarkan terjadi sesuatu pada Mbak Annisa,hanya dia dan putriku yang aku miliki di dunia ini," Nada membatin.


Mbak Annisa tidak mengalami perubahan sedikit pun setelah beberapa menit kemudian. Padahal sudah diolesi dengan berbagai macam minyak untuk membantu menyadarkan kakak angkatnya yang satu-satunya dimiliki oleh Nada di dunia ini.


"Ya Allah… tolonglah kakakku, hanya dia yang aku miliki saat ini, ia adalah orang yang selalu ada disaat aku butuh sandaran hati untuk mengahadapi kejamnya dunia ini yang penuh dengan tantangan dan rintangan," gumamnya Nada yang terus mengelus telapak tangannya Mbak Annisa yang sudah pingsan beberapa menit yang lalu.


Suara sirine dari mobil ambulans sudah terparkir di depan pintu pagar rumahnya Nada yang disewanya sudah hampir tiga bulan terakhir ini.


"Ayo cepat bawa pasien masuk ke dalam mobil, kondisinya sangat parah!" Perintah dari perawat yang kebetulan ikut memeriksa kondisi kesehatan dari Mbak Annisa.

__ADS_1


Mbak Annisa sudah didalam ambulans, Nada dan Ayesha ikut bersama di dalam ambulans, mereka hanya berdua menemani dirinya yang sudah semakin nampak pucat. Salah satu tangannya sudah terpasang jarum infus dan juga ada selang pernafasan yang terpasang dilubang hidungnya itu.


Nada sedari tadi memegang genggaman tangannya Mbak Annisa dan tidak henti-hentinya menangis tersedu-sedu melihat kondisi kesehatan Mbak Annisa yang semakin mengkhawatirkan keadaannya.


"Kenapa bisa Mbak Annisa seperti ini padahal sebelumnya sekalipun aku tidak pernah mendengar ia mengeluh sedikitpun bahkan hanya sekedar sakit kepala dan perut saja tidak pernah aku dengar, apa jangan-jangan Mbak Annisa terlihat kuat hanya untuk menutupi kenyataan yang ada pada dirinya itu.


Sirine mobil ambulance semakin keras suaranya ketika sampai di depan pintu masuk rumah sakit daerah kota Kendari. Nada segera berjalan menggendong putrinya lalu ikut masuk ke dalam di belakang bangkar rumah sakit yang didorong oleh ada sekitar empat orang hingga ke dalam masuk UGD.


Nada memangku anaknya dalam pangkuannya sore hari itu seraya menunggu pintu UGD RS terbuka lebar. Nampak sangat jelas terlihat kekalutan, ketakutan, kecemasan hingga tidak sudah rasa yang tidak ada di dalam hati dan kepalanya itu.


"Mama Eca mau bobo, gendong yah," pintanya Ayesha yang mengarahkan kedua rentangan tangannya ke hadapan mamanya


"Sini peluk Mama yang kuat ya cantik jangan lepaskan tanganmu di tubuhnya Mama kalau bukan Mama yang suruh kamu jangan pernah lepaskan apapun yang terjadi," imbuhnya Nada yang menjelaskan beberapa hal penting dari puteranya itu.

__ADS_1


Ayesha tersenyum mendengar perkataan dari mamanya itu hingga perlahan-lahan matanya sudah terpejam kembali. Baru sekitar setengah jam Ayesha tertidur, pintu unit gawat darurat sudah terbuka. Nada berdiri dari duduknya untuk segera bertanya kepada Pak dokter yang sedari tadi menangani kondisinya Mbak Annisa.


Nada sudah berdiri di depannya Pak dokter dengan anaknya yang sudah tertidur pulas di dalam gendongannya.


"Pak dokter! Apa yang terjadi dengan kakakku, bagaimana sekarang kondisinya Mbak Annisa,?" Tanyanya Nada yang semakin dibuat ketakutan saja.


"Apa Anda adalah keluarganya pasien,kalau gitu kamu ikut aku ke ruanganku agar saya bisa menjelaskan tentang kondisi kesehatan saudari ibu diketahui oleh Anda,!" Imbuhnya Pak dokter.


"Maaf bukannya saya menolak atau tidak menghargai perkataan dokter, tapi sebaiknya disini saja ngomongnya dokter," pintanya Nada.


"Baiklah kalau gitu karena sesuai permintaan dari Mbak sendiri, saya meminta maaf kondisi kakak Mbak sangat kritis karena menderita kanker darah stadium lanjut jadi sebaiknya kakak Mbak dibawa ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan intensif yang lebih baik dan lebih lengkap serta modern," jelasnya Pak Dokter yang bername tag dokter Spesialis penyakit dalam bernama Pak Ayyub.


"Apa kanker darah, Jakarta!" Beonya Nada yang semakin sedih dan tidak terasa air matanya menetes membasahi pipinya itu.

__ADS_1


__ADS_2