
Nada tersenyum bahagia, "sukur Alhamdulillah ternyata ada orang baik yang membantu kami, Kalau itu sudah menjadi keputusan para emak-emak aku hanya bisa bilang makasih banyak atas segala bantuannya karena tanpa kalian Mbak Annisa tidak akan bisa menyelenggarakan semua prosesinya, saya hanya bisa bilang saya serahkan segalanya pada kalian," pungkasnya Nada yang kembali meneteskan air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
Waktu terus berlalu tanpa mereka sadari sudah satu minggu kepergian Mbak Annisa. Semua acara sudah tersusun dengan baik mulai dari penceramah serta beberapa orang yang ditunjuk untuk yasinan. Acaranya cukup ramai dan besar karena mereka semua silih berganti memberikan bantuan dalam bentuk apapun.
Kesedihan yang dirasakan oleh orang yang cukup dekat dengan Mbak Annisa masih terpukul dan merasakan kehilangan yang mendalam. Sosok perempuan yang baik hati, humble, ramah dan suka membantu siapa pun yang butuh bantuan tenaganya.
Kesedihan jelas sekali dirasakan oleh Nada, harus mengikhlaskan dan merelakan kepergian saudara angkatnya itu untuk selamanya. Perempuan yang selalu ada dikala sedih dan dukanya, disaat ia tersenyum bahagia.
Hanya Mbak Annisa yang selalu berada disampingnya yang menemaninya sejak mereka memutuskan untuk hidup mandiri bersama kakak angkatnya dari panti asuhan sejak sekitar sepuluh tahun lalu.
"Mbak Annisa, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan Mbak, maafkan aku juga tidak mampu membawa Mbak ke Jakarta untuk berobat, aku tidak tahu entah kehidupan aku akan gimana setelah Mbak Annisa pergi, siapa yang akan menjaga putriku Ayesha karena aku tidak yakin dan percaya untuk menitipkan putri kecilku ditempat penitipan anak," gumamnya Nada Atillah Ahmad seraya menabur sisa-sisa bunga di atas pusara makam Mbak Annisa sebelum meninggalkan tempat pemakaman umum tersebut.
Langkahnya cukup gontai dengan Ayesha berada di dalam gendongannya. Ia berjalan tertatih menuju ke arah luar. Sesekali ia membuang nafasnya dengan cukup kasar. Air matanya tak hentinya menetes membasahi pipinya itu yang sedikit tirus karena hampir dua bulan makan, tidur dan istirahat yang sangat kurang.
Siapapun yang berada diposisinya Nada pasti akan merasakan hal yang sama. Semuanya tidak yang bisa tenang memikirkan kondisi salah satu keluarganya yang sedang sakit dan berjuang untuk melawan penyakitnya itu.
"Mbak insya Allah… pas satu bulan nanti aku akan kembali lagi, aku berharap dan berdoa kepada Allah SWT agar Mbak tenang dan ditempatkan ditempat yang paling terindah disisi Sang Khalik Maha Pencipta Allah SWT," cicitnya Nada yang mulai mendudukkan anaknya di kursi kecil yang sudah dimodifikasi yang ada di dekat kemudi motornya itu sehingga membuatnya nyaman dan pastinya keselamatan putrinya aman.
Tatapan tajam seseorang yang sedari tadi mengamati Nada hanya berdiam diri di dalam mobilnya tanpa berniat untuk bertemu langsung dengan Nada.
"Aku akan menemuimu jika sudah datang waktu yang tepat, tunggulah aku Nada?" Cicitnya orang itu yang tersenyum sumringah.
__ADS_1
Waktu terus berlalu sudah dua tahun sejak kepergian Mbak Annisa. Nada menjalani kehidupannya dengan seperti biasanya. Dia bekerja seperti dulu, tapi hanya berbeda dengan yang dulu. Sebelum Mbak Annisa meninggal dunia ia bekerja di indo April sekarang bekerja di perusahaan yang masih sama yang bergerak di bidang retail juga yaitu yang berlogo huruf A dan berwarna merah itu.
Ayesha jika ia berangkat kerja akan dititipkan di rumahnya tetangganya yang kebetulan dengan ikhlas dan sukarela membantu Nada untuk menjaga putrinya itu.
Sudah hampir dua tahun pula, di blok perumahan tempat ia tinggal ia mempunyai tetangga yang cukup misterius karena sekalipun Nada belum pernah melihat langsung dari dekat wajah pria yang menjadi tetangganya itu yang pas berada di samping kiri rumahnya. Hari ini bertepatan dengan Ayesha yang sudah mulai masuk sekolah dasar.
Nada mengecek motornya sebelum berangkat untuk mengantar anaknya untuk pertama kalinya berseragam putih merah itu.
"Kenapa perasaanku beberapa hari ini seolah ada seseorang yang memperhatikan aku tapi, siapa dan dimana karena sudah aku selidiki diam-diam tapi, aku tidak menemukan orang atau apa pun yang mencurigakan," lirihnya Nada sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling perumahan tempat tinggalnya.
"Mama!!" Teriaknya Ayesha ketika berjalan ke arah luar pintu rumahnya dengan tas ransel berwarna kuning dipunggungnya itu.
Nada segera berjalan ke arah dalam halaman rumahnya setelah mendengar teriakan dari mulut anaknya yang berlari ke arahnya. Untungnya hari ini Nada off dari tempat kerjanya sehingga ia bebas mengantar jemput anaknya. Tempat kerjanya pun hanya sekitar satu kilometer dari rumahnya sehingga walupun harus pulang malam ia tidak perlu takut jika ada begal atau pun geng motor.
Nada menatap ke arah rumah yang berlantai dua itu, karena menurutnya setiap hari ia merasakan keanehan seolah ada yang terus mengawasinya dan mengamati setiap pergerakannya itu.
"Mungkin cuma pikiranku saja, nanti setelah pulang dari sekolahnya Ayesha aku akan berkunjung ke rumahnya pak Abdul Aziz untuk bertanya siapa orang yang membeli rumah bekasnya Bu Erna," cicitnya Nada yang mulai memanaskan mesin motornya.
Rencananya Nada akan membeli mobil dari tabungannya selama ini. Ia berencana untuk menyicil mobil agar lebih mudah dan leluasa untuk pulang pergi dari rumah ke tempat kerjanya.
"Ya Allah… semoga minggu depan aku akan segera bisa mendapatkan mobil yang murah walaupun mobil second saja tapi, kalau tidak aku nyicil saja mungkin aku lihat saja nanti mana yang lebih mudah dan meringankan," batinnya Nada lalu menutup rapat pintu rumahnya.
__ADS_1
"Mama, kapan beli mobil? Aku tidak sabar nungguin mobilnya Mama loh," imbuhnya Ayesha yang tersenyum penuh kebahagiaan setelah mendengar perkataan dari mulut mamanya saat berbicara dengan temanmu melalui telpon.
Nada tersenyum simpul," Insya Allah… hari Jumat baru mama akan pergi ke dialer untuk lihat-lihat mobilnya karena hari itu baru libur," jawabnya Nada sembari memasangkan helm ke kepala putrinya itu.
"Hore!! Mama akan beli mobil Alhamdulillah…," teriaknya Ayesha yang suaranya cukup besar hingga ke dengaran sampai di telinga tetangganya itu.
Sedangkan tidak jauh dari tempat itu, seseorang tersenyum penuh arti melihat Nada dan putrinya sudah pergi.
"Pilihanku tepat membeli rumah ini, sehingga aku bisa terus melindunginya walaupun aku harus pulang pergi Makassar Jakarta tapi, aku sama sekali tidak masalah yang penting aku terus bisa melihat wajahnya orang yang sangat aku sayangi, aku harus segera ke rumahnya Pak Abdul karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan padanya," lirih orang itu yang kemudian menutup rapat kembali jendela dan tirai gorden jendela kamarnya itu.
Setelah mengantar anaknya selamat sampai di sekolahnya. Nada segera melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya yaitu, rumahnya Pak Abdul selaku kepala RT setempat. Nada tersenyum tipis kearahnya Pak Abdul Aziz yang kebetulan baru saja keluar dari dalam rumahnya itu.
"Assalamualaikum Pak Abdul!" Sapanya Nada sambil mencium punggung tangannya Pak Abdul yang sudah seperti bapaknya itu.
"Waalaikum salam Nak Nada, silahkan masuk," balasnya Pak Abdul Aziz.
Nada segera masuk ke dalam rumahnya Pak Abdul lalu duduk di salah satu sofanya yang berwarna cokelat itu.
"Pucuk dicinta wulang pun tiba,baru saja diomongin sudah muncul orangnya, untungnya ia cepat pergi dari sini jika tidak akan ketahuan," Oak Abdul membatin.
"Maaf atas kedatangan saya yang mungkin mengganggu aktivitasnya bapak, apa saya boleh bertanya pak?" Tanyanya Nada yang menatap intens ke arah Pak Abdul.
__ADS_1
"Kamu mau tanya apa? Insya Allah… Bapak akan menjawab semuanya apa yang ingin kamu ketahui," tuturnya pak Abdul.