
Lamunannya buyar seketika setelah mendengar perkataan dari salah satu sahabatnya Nada yang baru saja datang.
"Jadi kalau Mbak Nada sudah nikah, apa masih kerja atau berhenti atau mungkin akan ikut Mas ke Jakarta?" tanyanya Santi.
Semua orang mengarahkan pandangannya dan tatapan penuh selidik dan harap ke arahnya kedua calon manten tersebut.
Semua orang yang hadir di dalam acara tersebut segera menikmati dan menyantap segala macam makanan yang sudah tersaji dan terhidang manis di atas meja makan.
"Kalau seperti ini terus kalau ke rumahnya Mbak Nada aku akan gemuk," guraunya Deni.
"Betul sekali apa yang kamu katakan Den, aku juga pengen dapat makanan seperti ini setiap hari," sahutnya Rizal salah satu teman kerjanya Nada.
"Makanya nikah, supaya ada yang masakin makanan untuk kalian, iya kan Mbak Nada," timpalnya Amelia.
"Betul juga sih, tapi yang jadi masalah adalah kami belum cukup uang modal untuk melamar kekasih kami,tahu saja kalian kalau gadis Bugis Makassar itu cukup mahal," tuturnya Deni yang masih sesekali mengunyah makanannya itu.
"Siti dengar kata Deni katanya mahar kamu jangan pasang harga tinggi, kalau rendah insya Allah… Deni akan datang melamar kamu," ungkapnya Amelia yang tersenyum penuh arti melihat satu persatu sahabatnya itu.
Deni dan Siti dibuat batuk-batuk mendengar celotehan dari Amelia yang sekedar berbasa-basi dan bercanda saja. Bener jam kemudian, satu persatu temannya Nada sudah berpamitan kepada Nada.
Mereka cukup terhibur dengan pertunjukan dari keromantisan dan kebucinan yang ditujukkan oleh Sameer yang kadang membuat Nada tersenyum malu-malu.
Seperti halnya ketika Nada makan, Sameer yang mengambil alih sendoknya Nada dari tangannya Nada tersebut. Mereka saling suap-menyuap satu sama lain dalam satu piring. Ayesha Almeera Aliya Sungkar sangat bersyukur dan bahagia semoga apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya berlangsung untuk selamanya.
Siapa pun yang berada di posisinya Sameer Elrumi Sungkar pasti akan bahagia jika apa yang kita harapkan terkabul.
Sameer menarik tubuhnya Nada ke dalam pelukannya setelah mereka akan berpisah sementara waktu itu," makasih banyak sayang kamu sudah memberikan kesempatan kedua kepadaku, akan buktikan padamu jika aku bukanlah pria seperti yang kamu pikirkan selama ini," ujarnya Sameer sambil sesekali mengecup puncak hijabnya Nada Atiillah Ahmad.
__ADS_1
Nada hanya tersenyum tipis dan tersipu merona malu menahan sikap romantis yang ditujukkan oleh Sameer di depan matanya.
"Mas harus pulang dulu, besok mau bangun pagi urus surat-surat perlengkapan pernikahan kita di KUA," ucapnya Sameer yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Sameer dan Nada berjalan berbarengan sambil bergandengan tangan ke arah depan pintu masuk rumahnya Nada.
"Mas ke sini naik apa, kok aku gak lihat mobilnya Mas Sameer," ujar Nada seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman dan garasi rumahnya.
Sameer tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari calon istrinya itu," aku kesini jalan kaki saja kok," jawab Sameer.
Jawaban dari Sameer membuat Nada cukup terkejut," apa jalan kaki!" Pekiknya Nada yang cukup dibuat tidak menduga karena calon suaminya itu tidak naik mobil ke rumahnya padahal jarak dari rumahnya itu cukup jauh dan tidak mungkin bisa berjalan kaki saja.
Sameer hanya tersenyum cengengesan menangapi keterkejutan kekasihnya itu," Mas yakin kamu akan semakin terkejut melihat dimana rumahku nanti," jelas Sameer sambil terus berjalan dengan menggandeng tangannya Nada dan sudah melewati pagar rumahnya.
Mereka berpegangan tangan hingga ke arah sebelah kanan rumahnya Nada. Belum pupus juga rasa keterkejutannya, sekarang semakin dibuat kaget hingga shock ketika Sameer membuka pagar rumahnya yang terletak tepat di samping rumahnya sendiri.
Sameer tak hentinya tersenyum cengengesan karena melihat reaksinya Nada yang sangat shock dan terkejut.
"Mas…!" Tunjuknya terhadap rumah yang paling mencolok modelnya dibandingkan dengan rumah lainnya di sekitar perumahan tersebut.
"Tidak perlu tercengang melihat rumahnya Mas, aku tahu kok kalau rumahku cantik dan bagus," imbuhnya Sameer dengan narsisnya itu.
Nada tersenyum tipis menanggapi perkataan dari calon suaminya itu, Nada malah memukul pelan lengannya Sameer. Karena menurutnya selama ini sudah tinggal di sebelah rumahnya sebagai tetangganya tanpa sepengetahuannya.
"Mas Sameer!! Tega loh enggak ngomong sama aku kalau Mas yang punya rumah cantik ini," ketusnya Nada.
Sameer sama sekali tidak mengindari pukulan yang tidak seberapa itu dari tangannya Nada. Ia malah hanya tersenyum menanggapi pukulan yang lebih mirip pukulan mesra saja.
__ADS_1
"Mas katakan padaku sudah berapa lama tinggal di sini?" Tanyanya Nada yang sambil melototkan matanya saking jengkelnya dengan rahasia besar Sameer yang sudah terbongkar itu.
"Hampir dua tahun, Mas tinggal di sini sebagai penguntit wanitaku," imbuh Sameer yang berusaha untuk memegang kedua tangannya Nada yang sedari tadi tidak mau stop dan berhenti memukul kecil lengan Sameer.
Sameer segera memegang kedua tangannya Nada yang semakin memukuli Sameer karena sudah merasa menutupi kenyataan yang ada.
"Stop dong sayang,sakit tahu," kelakarnya Sameer padahal apa yang dilakukan oleh Nada ditubuhnya sama sekali tidak ada rasa sakitnya.
"Maaf, aku melakukan hal itu karena aku tidak ingin berada jauh dari kamu, andaikan kamu tahu bagaimana perjuanganku mencari kalian hingga aku memutuskan untuk membeli rumah yang berdekatan denganmu bukan waktu yang mudah Nada, aku seperti orang gila dua tahun lalu mencari kamu tapi, tidak berhasil," terangnya Sameer yang menjelaskan sebagian pengorbanannya dahulu.
Sameer segera menarik tengkuk lehernya Nada dengan perlahan hingga hidung mancung mereka saling bertemu. Deru nafas mereka sama-sama saling tabrakan. Sameer semakin memajukan wajahnya ke arahnya Nada dan tanpa terduga Sameer mulai mencium dengan penuh kelembutan daging kenyal itu.
Nada pun terbuai oleh kelembutan yang diberikan oleh Sameer hingga trauma seperti yang dirasakan beberapa tahun silam sudah tidak tersisa. Dia buru-buru mengakhiri apa yang mereka lakukan berdua.
Sameer tidak terpancing lagi sehingga ia menyudahi ciumannya itu padahal Nada sudah mulai mahir untuk membalas ciuman hangat Sameer.
"Maaf, ini tidak boleh terjadi sebelum kita sah menjadi pasangan suami istri, aku tidak ingin merusak kamu lagi sayang, cukup yang telah berlalu, sabar enam hari lagi kamu akan menjadi Nyonya Sameer Elrumi Sungkar," ujar Sameer sembari menyeka air salivanya yang tersisa di atas bibirnya Nada.
Nada menundukkan kepalanya karena untuk pertama kalinya ia berciuman dalam kesadaran penuh tanpa ada beban ataupun paksaan dari siapapun juga.
Sameer mendekap erat tubuhnya Nada," sayang Mas sengaja melakukan semua ini karena aku ingin melihat putriku dan calon istriku bahagia dan aman, aku akan melakukan apapun agar kalian berdua bahagia.
"Makasih banyak Mas, aku sangat bahagia dengarnya," balasnya Nada yang memeluk punggung lebarnya Sameer di tengah malam itu.
Sinar rembulan malam itu menjadi saksi penyatuan dan pernyataan cinta keduanya. Sameer kemudian berlutut di hadapan Nada seraya mengecup punggung tangannya Nada," Mas akan memperbaiki semua rasa kecewa dan sakitmu dan aku mohon tegurlah aku jika aku salah, karena aku akan menebus semua waktu yang telah terbuang," Sameer terus memandangi wajah memerahnya Nada yang menyiratkan kebahagiaan yang ia rasakan.
Nada berharap penuh harapan pada Sameer dan berharap agar kali ini pernikahannya tidak gagal lagi seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Ya Allah... lancarkan lah akad nikah dan resepsi pernikahanku kali ini, jadikan lah masa lalu kami menjadi pengalaman paling berharga dalam kehidupan kami kelak," batin Nada Atilah Ahmad.