
Sameer semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nada hingga hidung mereka semakin bersentuhan satu sama lainnya, tapi Nada segera mengelak dan mengalihkan perhatiannya Sameer.
Nada menghindar dari ciumannya Sameer, "Mas ayo kita makan entar makannya keburu dingin loh!" Tolaknya Nada yang berjalan tergesa-gesa ke arah dapur sambil menggandeng tangannya Sameer.
Sedang Sameer hanya tersenyum simpul menanggapi sikap malu-malunya Nada," awas yah aku akan menerkam kamu jika kita sudah resmi dan sah menjadi suami istri aku akan melakukannya berulang-ulang kali karena sudah lama aku berpuasa untuk menahannya," batin Sameer yang tersenyum penuh arti.
Semua persiapan telah dilaksanakan dengan baik dan terencana. Hari yang dinanti oleh kedua pasangan calon mempelai pengantin pria maupun wanita.
"Ya Allah… jadikanlah pernikahanku ini sebagai ladang pahala aku kelak nanti, berikanlah aku keikhlasan dan kesabaran dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami nantinya."
Seuntai kata lewat doa yang tiada putus dan hentinya Nada Atilah Ahmad panjatkan setiap kali telah menyelesaikan sholatnya. Baik itu shalat sunah maupun wajib yang lima kali sehari semalam itu.
Akad nikah akan diadakan di salah satu masjid terdekat dari komplek perumahannya Nada. Semua seserahan pernikahan ala adat istiadat Makassar yang wajib maupun hanya sekedar pelengkap sudah tersedia.
Bu Anni sebagai Nenek dari Sameer Elrumi Sungkar sudah mengerjakan semuanya sesuai arahan dan petunjuk dari istri Pak Abdul Aziz selaku Pak RT setempat yang jelas sangat mengetahui dengan detail dan terperinci adatnya orang-orang Makassar.
"Nenek, saya tidak ingin ada kesalahan atau pun kekurangan yang terjadi di dalam acara akad nikah ku nanti," imbuhnya Sameer setelah memakai pakaian pengantin ala Makassar itu.
Sameer dan Nada selama akad nikah akan memakai pakaian khas tradisional Suku Bugis Makassar. Setelah akad nikah berlangsung tepatnya acara pesta resepsi pernikahan barulah mereka akan memakai pakaian yang sudah disepakati oleh kedua mempelai pengantin.
__ADS_1
Bu Anni memegang kedua genggaman tangannya cucu tunggalnya itu, "Insya Allah… semuanya sudah beres, usahakan agar kamu nanti saat proses ijab qobul santai rileks dan jangan berfikiran yang tidak-tidak, yakinlah jika kamu bisa ucapkan lafal akad nikah dengan baik dan lancar," pintanya Bu Annie yang tersenyum melihat kegugupan, keraguan dan ketakutan yang terpancar dari wajahnya Sameer.
"Hore!! Kita bisa pulang kampung setelah hampir lima tahun enggak pulang!' teriaknya Mbak Titin Jayanti Kharisma yang lompat-lompat sambil memeluk tubuhnya Mbak Annisa seperti seseorang anak kecil yang juara satu dan mendapatkan banyak hadiah hari itu juga.
"Iya benar sekali, aku kalau sudah sampai di Jakarta mau minta liburan satu minggu untuk pulang kampung dulu kangen aku sama nenek dan emak aku di kampung," jelasnya Mbak Annisa sambil berjalan menuruni anak undakan tangga satu persatu.
Wajah mereka sangat bahagia karena setelah penantian panjang akhir mereka memiliki kesempatan untuk pulang kampung dan bekerja di tanah air kelahiran mereka.
"Banyak pepatah mengatakan hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri, iya kan bestiku?" Mbak Tuti merangkul pinggangnya Mbak Annisa bagaikan sepasang kekasih saja yang dimabuk asmara padahal hanya mendapatkan hadiah untuk pulang ke negara asalnya.
Sameer membalas senyuman neneknya itu dengan sedikit memaksakan senyumannya," amin… makasih banyak Nek!" Balas Sameer yang tersenyum tipis.
Semua sahabat dan rekan kerjanya baik ditempat yang dulu maupun yang sekarang walaupun sudah resign tapi, Nada menyempatkan diri untuk mengundang mereka. Anak-anak panti asuhan dan pengurusnya pun turut hadir untuk meramaikan acara pesta akad nikahnya Nada.
Semua sudah memadati halaman pekarangan rumahnya Nada yang sudah terpasang janur kuning telah melambai lambai di depan rumahnya.
"Masya Allah calon mantennya cantik banget,"pujinya Bu Edah saat melihat Nada yang sudah duduk cantik di atas ranjang yang kamarnya juga sudah dihiasi dengan berbagai pernak pernik pernikahan.
Nada tersenyum mendengar berbagai pujian dari orang-orang yang masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Iya benar sekali, apa yang Bu Edah katakan benar sekali adanya, Nada tanpa berpakaian seperti ini pun sudah cantik," timpalnya Bu Erna istrinya pak RK.
Tidak ada satupun yang tidak mencela penampilan dan kecantikan oleh Nada. Semua pangling dan terpana melihat penampilan kecantikan alami yang dimiliki oleh Nada.
"Apa sudah siap?" Tanyanya Pak Abdul Pak RT yang bertindak sebagai wali nikahnya Nada.
Semua tatapan orang yang melihat kedatangan di dalam kamar itu menatap intens ke pak Abdul.
"Apa pengantinnya sudah siap berangkat ke masjid?" Tanyanya Pak Abdul yang memperhatikan keseluruhan isi ruangan tersebut.
"Insya Allah… Pak RT kami sudah siap lahir batin, bagaimana dengan semua orang yang akan mengantar pengantin ke masjid Al Jannah apa sudah hadir keseluruhannya?" Tanyanya balik Bu Edah.
"Kalau yang saya lihat mereka sudah hadir dan sudah duduk di dalam mobil masing-masing menunggu kalian yang sepertinya kalian saja yang make up-nya terlalu lama," guraunya Pak Abdul Aziz.
"Kalau tetanggaku idolaku gimana Pak Abdul, apa mereka sudah berangkat ke sana?" Tanyanya Mbak Rini.
"Alhamdulillah mereka sudah otw duluan ke sana makanya aku masuk ke sini untuk mengecek persiapan kalian," jelasnya Pak Abdul.
"Kalau gitu apa lagi yang kita tunggu, ayo kita segera berangkat ke mesjid sebelum terlambat," ujarnya Bu Atikah.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil masing-masing untuk berangkat ke masjid tempat pelaksanaan akad nikahnya antara Nada dan Sameer.