Kau BahagiaKu

Kau BahagiaKu
Bab. 31. Khawatir Yang Tidak Berdasar


__ADS_3

Malam itu juga menjadi terakhir mereka bertemu langsung dan juga awal Nada mengetahui kenyataan besar siapa pria yang telah merenggut mahkotanya.


Bukannya benci atau marah yang dialami dan dirasakan Nada saat itu, tapi traumanya atas luka dan kehancuran masa depannya sehingga ia yang harus sedih,sakit, kecewa dan luka itu harus bernanah kembali.


"Aku sudah berdamai dengan masa lalu ya Allah demi putriku, tapi Mas Sameer saja yang tidak pernah datang untuk mencari kami, sejujurnya aku juga merindukan kehadirannya tapi, mungkin seperti ini lah garis tanganku yang harus hidup seorang diri," gumamnya Nada yang tanpa Ia sadari air matanya menetes membasahi pipinya itu.


Ayesha Almeera Aliya Sungkar yang melihat mamanya bersedih segera membalas memeluk mamanya seraya mengelus punggung mamanya yang sedikit tertutup hijabnya.


"Mama maafkan Ayesha," ucapnya sendu dan merasa bersalah karena sudah membuat mamanya sedih.


"Tidak apa-apa kok sayang,ayo kita berangkat sudah hampir jam 7 lewat," imbuhnya Nada yang berjalan ke arah mobilnya untuk membuka pintu.


Dengan hati yang berbeda-beda, Ayesha yang menyesali sikapnya karena sudah membuat sedih mamanya sedangkan Nada sedikit menyesal dengan sikapnya Sameer yang seolah tidak mau datang untuk meminta maaf padanya.


"Aku akan berusaha untuk membujuk papa kalau nanti balik ke Makassar untuk segera melamar Mama, saya tidak ingin melihat mamaku harus berlarut-larut dalam kesedihannya," cicitnya Ayesha yang sesekali menatap ke arah mamanya yang fokus mengemudikan mobilnya.


Hanya butuh sekitar tiga puluh menit perjalanan karena hari ini cukup macet dikarenakan banyak sisi badan jalan yang sedang diperbaiki.


Nada segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang karena ia harus segera masuk bekerja. Kemungkinannya ia akan terlambat tapi, sebelumnya ia sudah menghubungi nomor hp rekan kerjanya untuk menginformasikan bahwa dia akan terlambat sedikit.

__ADS_1


Hari ini Nada sedikit pulang terlambat, karena pekerjaan di toko cukup padat apalagi banyak barang yang berdatangan sehingga ia harus bekerja ekstra.


"Nada, besok kamu ambil off atau batal?" Tanyanya Sari salah satu teman kerjanya yang baru gabung di tokonya itu.


Nada mengalihkan perhatiannya padahal sudah membuka kunci mobilnya," insya Allah… rencananya aku ingin membawa anakku ke Mall mau cari sesuatu keperluan sekolahnya, kenapa emang?" jawab Nada.


"Tidak apa-apa kok Mbak, cuma sekedar nanya saja," ujarnya Sari yang sebenarnya ada yang ingin dikatakannya tapi, ia urungkan karena segang untuk berbicara dan menyampaikan niatnya.


"Oh gitu, kalau seperti itu aku balik dulu kasihan putriku sudah menunggu kepulangan ku," balasnya Nada.


Sari tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Nada rekan seniornya di toko tersebut.


"Sepertinya ada yang ingin disampaikan oleh Sari tapi, ragu apa aku tanya saja yah!" Cicitnya Nada yang mengurungkan niatnya untuk memutar stok kunci kontak mobilnya itu.


"Martabak telor sama terang bulan rupanya ingin dimakan putriku," gumamnya Nada yang tersenyum simpul lalu kemudian segera menjalankan mobilnya.


Jalanan di malam minggu itu cukup dipadati oleh banyaknya pengendara roda empat maupun roda dua dengan berbagai jenis merk kendaraan. Kota Makassar malam itu cukup indah karena sudah banyak lampu hias yang sudah menyala mempercantik penampilan jalan raya.


Nada sama sekali melupakan jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Saking sibuknya sampai-sampai salah satu hari yang terpenting dalam kehidupannya ia lupakan.

__ADS_1


Nada harus menunggu antrian untuk menerima pesanan martabak asin dengan terang bulannya. Cukup banyak pembeli di tempat langganannya yang cukup viral tempat itu.


Nada tersenyum ketika teringat wajahnya Sari tadi yang sedikit kecewa," ya Allah… aku lupa kalau Sari kan masih gadis pasti besok ingin melakukan kencan dengan pacarnya," lirihnya Nada.


Beberapa menit kemudian pesanannya sudah berada di dalam genggamannya. Masing-masing dua kotak makanan yang dia pesan.


Perjalanan Nada kembali ia lanjutkan untuk segera pulang kerumahnya untuk beristirahat.


"Hari ini cukup banyak kerjaan, biasanya aku sudah rebahan di atas kasurku tapi sekarang masih di jalan," keluhnya Nada.


Nada hanya mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya. Ia tidak ingin terlalu terburu-buru menjalankan mobilnya. Nada cukup menikmati perjalanannya malam ini sambil sesekali melihat aktifitas orang-orang di sepanjang jalan yang di lewatinya.


Kadang ia geleng-geleng kadang tersenyum dan juga kadang ngomel-ngomel melihat ada beberapa pengendara mobil atau pun motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan.


"Ya Allah… apa mereka tidak takut mati, benar-benar kalau semua pengguna jalan seperti ini, mungkin bisa terjadi setiap saat kecelakaan," kesalnya Nada seraya menggelengkan kepalanya.


Sekitar beberapa menit kemudian, Nada sudah masuk ke daerah perumahan tempat ia tinggal beberapa tahun terakhir ini. Nada sedikit terkejut melihat rumahnya yang cukup sepi dan lampu rumahnya juga padam hampir keseluruhannya.


Nada melihat ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu," baru jam 9 kok semua lampu dipadamkan, apa Mbak Rini lupa menyalakan lampu depan!?" Nada kebingungan melihat kondisi rumahnya yang tidak biasanya.

__ADS_1


Nada merogoh tasnya untuk mencari keberadaan kunci rumahnya. Ia segera memasukkan kuncinya dengan terburu-buru kemudian memutar kenop pintunya karena sudah mulai khawatir dan cemas dengan apa yang terjadi pada anak semata wayangnya dengan Mbak Rini.


Pintu itu terbuka lebar dan matanya Nada dibuatnya terbelalak, melotot dan mulutnya menganga saking terkejutnya melihat apa yang terjadi di dalam ruangan tamunya. Air matanya menetes membasahi wajahnya tanpa aba-aba.


__ADS_2