Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch10 : Ketulusan Cinta Istri


__ADS_3

Setelah mobil suaminya mulai tak terlihat. Perempuan itu memutuskan untuk masuk ke dalam. Namun sebelum itu langkahnya terhenti. Ketika bel berbunyi.


“Kira-kira siapa ya, apa mungkin dia kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal?”


“Itu pasti orang lain, jika itu benar dirinya pasti langsung masuk.”


Sebelum membuka pintu untuk tamunya, terlebih dahulu Meisya mengintip di jendela.


Cepat ia membuka pintu saat tahu ayah mertuanya yang datang.


“Ayah!” cicitnya, perempuan itu heran kenapa ayah mertuanya bertamu ke rumah. Bukannya suaminya sudah berangkat ke kantor.


“Baru saja putra Ayah, berangkat!”


Paruh baya itu menghela nafas berat, sebelum angkat suara. “Ayah tidak mencarinya, Ayah ingin bicara sama kamu!”


Tentu saja perempuan itu terkejut mendengarnya. Bukan tanpa alasan. Sebab ini kali pertama ayah mertuanya datang ke kediamannya. Hanya untuk berbicara dengannya.


Ia pun lantas mempersilahkan ayahnya untuk masuk ke rumah. Namun ayah mertuanya justru memilih duduk di teras.


“Menantu, beberapa waktu yang lalu, Ayah memintamu untuk check kesuburan dan hasilnya ...tidak seperti yang di harapkan.”


Deg!


Perempuan itu meremas jari-jemarinya, entah mengapa dadanya begitu sesak. Saat tahu tujuan ayah mertuanya bertamu, tak lain hanya ingin membahas masalah keturunan.


“Menantu! Ayah sempat mendengar pembicaraanmu dengan Ali. Saat kalian menginap di rumah kami. Kamu mengatakan jika kamu tidak masalah jika Ali menikah kembali.”


Perempuan itu tertunduk lemas. Memang benar. Ia pernah menawarkan poligami kepada suaminya. Kala itu saat pulang dari RS untuk mengambil hasil tes dan selang seminggu ketika mereka menginap di rumah Brahmanta.


Namun apa yang ia sampaikan kala itu. Tak lebih sebagai bentuk kekesalannya. Mengingat jika hasil tes mendiagnosisnya mandul.


“Mei, hanya Ali putra satu-satu Ayah, jika dia tidak memiliki keturunan. Bagaimana dengan perusahaan kami? Kami membutuhkan penerus untuk perusahaan kakeknya Ali!” Menarik napas sejenak.


“Ayah tahu Jika putra Ayah, sangat mencintaimu. Dia lelaki yang baik Mei! Tapi kamu harus tahu satu hal, fitrahnya suami itu ingin menjadi seorang ayah,” ujar Brahmanta penuh penekanan di akhir kalimat.


Ada hal tersirat yang bisa ditangkap dalam ucapan ayah mertuanya kala itu.


“Ayah yakin dia akan bahagia. Jika dia mendapatkan gelar tertinggi itu. Apa kau tidak mau, melihat suamimu yang begitu mencintaimu melebihi siapa pun, bahagia?” ujar Brahmanta sedikit ketus.


Paruh baya itu seolah-olah mengatakan padanya, arti timbal balik.


Itu berarti ia harus membahagiakan suaminya.


Dengan cara menjadikan Ali sebagai seorang ayah.

__ADS_1


Bibirnya terkatup, sejujurnya ia belum sanggup. Jika suaminya poligami, namun sebagai seorang istri. Ia juga ingin melihat suaminya bahagia.


Apa yang harus ia lakukan?


Ayah mertuanya secara terang-terangan memintanya untuk membujuk Ali agar mau menikah kembali.


“Meskipun kamu pernah menyuruhnya poligami. Ayah merasa Ali, tidak akan mudah mengiyakan tawaranmu. Seandainya dia berkenan, tampaknya dia juga tidak akan menerima tawaranmu dengan cepat. Tapi sebagai seorang istri ...kau harus mampu memahami perasaannya. Serta memenuhi kebutuhannya. Keturunan juga masuk kebutuhan.”


Perempuan itu memejamkan matanya, rasanya susah mengikuti perintah ayah mertuanya.


Tapi ada benarnya juga, boleh jadi Ali tidak menerima tawarannya untuk berpoligami karena takut menyakiti hatinya.


“Lebih baik paksa saja dia untuk poligami. Kita carikan wanita yang tepat untuknya, sebelum kita kecolongan. Bayangkan saja ...jika Ali tiba-tiba jatuh cinta dengan wanita diluaran sana.”


“Sebelum itu terjadi, alangkah baiknya kita partisipasi. Biar rumah tangga kalian tidak hancur ...mungkin memaksanya poligami dan mencarikannya wanita ...hal yang paling tepat. Buat keberlangsungan rumah tangga kalian ke depan,” usul Brahmanta tersenyum penuh arti.


Brahmanta bicara seolah-olah tahu akan apa yang terjadi di depan. Untuk putra dan menantunya.


Entah mengapa ucapan ayah mertuanya yang duduk di sampingnya, membuatnya takut.


Bagaimana jika ucapan ayah mertuanya benar?


Bukankah itu lebih menyakitkan?


Pengambilan keputusan secara impulsif pun terjadi. Bukan tanpa alasan, lelaki paruh baya yang berstatus sebagai mertuanya, bisa membuatnya terpojok dan tertekan.


(Waktu setting sebelum bab 1, saat Brahmanta menemui Ali)


...***


...


Pensil yang tadi dipegang jatuh, ia tersadar dari lamunannya.


“Andai saja kau tahu Bib, semua yang aku katakan itu tidak benar. Aku mengatakan padamu. Apa?” terkekeh getir. “ Poligami hanya ingin mendapatkan balasan surga? Hahaha Itu semua hanya dalih agar kau mau menikah.” Menertawakan kebodohannya sendiri.


“Ada ketakutan yang aku rasakan, saat itu. Mengenai perkataan ayah,” sesalnya menyeka air mata dibalik niqabnya.


“Sebagai seorang istri aku ingin melihat kamu bahagia. Meskipun aku harus mengorbankan semuanya. Dan aku sadar, apa yang kau katakan itu benar dari hati. Kau tidak pernah menginginkan poligami. Apa yang dikatakan ayah tentangmu, jika kau tidak enak hati menerima poligami dengan cepat. Itu salah, semuanya hanya ilusi. Tidak benar!”


Keputusan yang diambil secara impulsif. Jarang memikirkan konsekuensi yang akan terjadi ke depannya.


“Ternyata aku tidak mengenalimu dengan baik ya Bib!” terkekeh getir.


Ia menyesal, mengapa mudah sekali dihasut.

__ADS_1


“Akan tetapi, apa yang aku katakan beberapa waktu yang lalu benar adanya. Aku mencoba mengikhlaskanmu, dan sekarang keikhlasan itu sudah bertambah.”


Akan tetapi apa keikhlasan itu akan selamanya?


Atau justru sementara?


Entahlah!


Mata Meisya menatap ke arah jam dinding.


“Sudah jam dua, tapi aku belum sempat menyelesaikan desain yang ingin aku tunjukkan ke customer!” ujar Meisya menatap kertas HVS yang belum ada coretan sedikit pun. Perempuan itu mengusap air matanya, mencoba fokus menggambar gaun.


...***


...


Disisi lain Wan Aina sedang memotong bawang, namun karena memikirkan sesuatu tangannya teriris.


“Aduh!”


Cepat gadis itu berlari ke wastafel untuk mencuci jarinya yang berdarah.


“Kenapa ya, aku merasa jika mas Ali, memang sengaja tidur di ruang baca. Masa iya, ada niatan menjauhiku?” tanyanya tak terasa air mata menetes membasahi pipi.


Jika mengingat sikap suaminya, terlalu menjaga jarak padanya.


Gadis itu segera mengusap air matanya yang membasahi pipi. Dengan kerah bajunya.


“Harusnya aku sadar, aku menikah dengannya bukan karena sepasang kekasih yang sudah pacaran lama. Kita menikah karena keadaan, bahkan aku hanya dikasih fotonya saja, oleh Ayah!”


“Tapi mengapa saat kita bermain tepung, dia bisa selepas itu. Berbeda saat kita hanya berdua. Apa karena ada mbak Meisya! Jadi dia bahagia?”


Ingatannya kembali di saat mereka bermain tepung di dapur Meisya.


Ada rasa iri yang menyusup ke dalam hati, saat mengingat. Perlakuan Ali padanya berbeda dengan perlakuan Ali pada Meisya.


Jika Ali tinggal bersamanya, Ali masih bisa mengunjungi rumah istri pertamanya. Namun saat Ali tinggal dengan Meisya, lelaki itu tak pernah mengunjunginya sama sekali.


“Apa aku tidak berhak mendapatkan kunjunganmu, Mas? Apa kau lupa, jika kau juga memiliki istri yang baru kau nikahi?” tanyanya terisak.


“Sebenarnya apa yang membuatmu begitu mencintai istri pertamamu? Aku ingin tahu, biar aku juga tahu rasanya dicintai oleh suamiku!” ujarnya kesal, ia heran mengapa suaminya begitu mencintai Meisya.


Hingga tak bisa berpaling kepadanya.


“Ya Allah, aku mau dicintai oleh suamiku. Aku mau dia perhatian denganku! Hingga tidak ada yang bisa mengalihkan pandangannya dariku.”

__ADS_1


TBC...


__ADS_2