
Hati yang dulu sempat mengatakan. Jika keputusannya menjadikan Aprit sebagai seorang putra adalah kepulauan salah.
Nyatanya itu tidak benar, setelah ia memikirkan. Dan menimbang-nimbangnya lagi.
Sharing dengan orang-orang, terdekatnya.
Cara berpikirnya kian berubah. Jika keputusannya menjadikan Aprit sebagai seorang putra. Adalah hal yang tepat.
Semua itu ia lakukan untuk kebaikan, remaja tanggung yang mencuri perhatiannya.
Akan tetapi, siapa sangka. Disaat ia ingin meyakinkan Aprit untuk menerima tawarannya. Justru remaja tanggung itu, menghilang tanpa jejak.
Jika mencoba mengingat kembali, pertemuan terakhir. Tampaknya Aprit benar-benar shock dengan permintaannya.
Mungkinkah remaja tanggung itu menghindarinya?
Malam itu Ali kembali ke cafe untuk yang kesekian kalinya. Berharap ia bisa berjumpa dengan Aprit. Dan berbicara, dan ya. Jika perlu ia akan minta maaf. Meskipun remaja tanggung itu tidak mau jadi anaknya.
Namun setidaknya mereka masih bisa bertemu dan ngobrol seperti sediakala. Sama-sama menurunkan ego.
“Permisi, Mbak omong-omong. Remaja yang sering ngisi live music. Setiap malam Minggu kok enggak pernah tampil, beberapa Minggu terakhir ini?” tanya Ali ketika pelayan meletakkan pesanannya.
“Oh ...iya Mas! Padahal banyak pelanggan setia yang menantikan performnya. Akan tetapi sayang dia memutuskan untuk keluar.”
“Keluar?” pekiknya tak percaya.
“Iya Mas, padahal dulu ibu pantinya ngemis-ngemis agar anak asuhnya bisa dapat kerjaan!”
“Eh ... sudah dapat malah keluar,” sambungan pelayanan itu, memuat Ali memicingkan matanya kesal. Ketika mendengar seseorang secara tersirat, sedikit menghina kehidupan Aprit.
Ia menarik nafas dalam-dalam.
“Mbak tahu dimana sekarang dia tinggal?” Menggali informasi lebih baik daripada emosi, yang justru akan membuatnya semakin susah untuk menemukan remaja tanggung yang beberapa waktu terakhir dekat dengannya.
“Em ... kalau itu saya kurang paham. Tapi Mas bisa tanya ke pemilik cafe!”
Mendengar hal itu Ali langsung berdiri dan berkata, “Ya sudah saya ingin bertemu dengan bos nya Mbak!”
Pelayan itu mengerutkan keningnya penuh tanya. Sebenarnya siapa lelaki itu, mengapa begitu peduli dengan Aprit.
“Emmm ... bagaimana ya Mas! Tapi bos saya untuk saat ini masih ada di luar negeri,” jawab pelayan itu ragu.
Lelaki itu mengusap rambutnya kasar. Dan membuang napas kasar.
“Kalau boleh tahu kapan bosnya kembali?”
__ADS_1
“Tiga Minggu!”
Ali memekik tertahan, bagaimana ia harus menunggu selama itu. Bahkan perceraiannya dengan Wan Aina saja hampir rampung.
Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam. Berusaha berpikir jernih untuk mendapatkan jalan keluar. “Begini saja, Mbak saya minta tolong sama Mbak. Tolong kabari saya, jika bosnya sudah kembali. Ini kartu nama saya,” ujarnya menyerahkan kartu nama dan beberapa lembar uang.
Pelayan itu sempat tertegun melihatnya. Namun karena sepertinya ia juga butuh uang itu langsung menerimanya.
Minggu terus berlalu, Ali yang sedang istirahat makan siang. Dikagetkan dengan pesan dari nomor yang tak dikenal.
'Mas, ini saya pelayan cafe Ekputi. Saya ingin bilang jika bos saya sudah kembali. Dan beliau akan balik lagi, nanti sore. Jika Mas, berkenan ingin bertemu. Saran saya, Mas ke cafe sekarang 🙏🏻'
Membaca isi pesan itu membuat Ali langsung menenggak air dan berdiri.
“Woy ...mau kemana buru-buru?” teriak Arfa melihat sahabatnya lari terbirit-birit.
Ali hanya mengangkat tangannya dan berlalu. Lelaki itu segera menuju parkiran, dimana motornya diletakkan. Ali segera memasukkan kunci, dan memakai helm tanpa menyatukan pengamanannya. Meninggalkan parkiran.
Dalam perjalanan ke kafe, ia berhasil melawati beberapa pengendara lain. Hal itu menunjukkan jika laju motornya di atas rata-rata. Ali segera memarkirkan motornya, bersamaan dengan itu. Ada seorang wanita membuka pintu mobil.
Ali yang merasa ponselnya berdering. Ia langsung merogoh sakunya, dan melihat pengirim pesan. Matanya melotot, tidak percaya.
'Mas bos saya baru keluar....:
‘Saya sudah ada di depan Mbak!' tulisnya cepat.
Ting pesan masuk, Ali langsung membacanya.
'Benar Mas? Mas di luar? Bos saya mungkin saja masih di parkiran. Coba Mas cari, beliau memakai kemeja biru bawahannya levis. Atau ciri mobilnya berwarna silver....:
Membaca itu Ali langsung celingukan, ciri-ciri itu. Sepertinya pernah ia jumpai. Lelaki itu melirik kearah kiri dimana mobil dengan ciri yang sama ada di sampingnya. Dan seingat dia tadi saat ia membuka helm, seorang wanita sedang membuka pintu mobil. Ali lekas mengelilingi mobil itu dan mengetuk kaca mobil berkali-kali. Membuat pintu kaca turun.
Ali tertegun melihat kecantikan perempuan itu. Dia sedikit terbuai, namun cepat ia sadar dan menggeleng kepalanya cepat.
Ali juga manusia.
“Ada apa ya A?” tanya dengan suara halus.
“Maaf, sebelumnya Mbak pemilik cafe ini?” tanya cepat, berusaha menghilangkan kegugupannya.
Ali benar tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi detik ini. Mengapa mata dan hatinya tidak bisa ia jaga.
Apakah mungkin, alam bawah sadarnya. Memintanya untuk membuka hati?
“Em ... iya!”
__ADS_1
“Bisa saya meminta waktunya sebentar. Ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan?” Membungkukkan punggungnya untuk sejajar dengan perempuan yang duduk di dalam mobil.
“Mengenai apa, kalau boleh tahu?”
Ali pun mulai memberi tahu maksudnya. Sesingkat mungkin agar tidak menghabiskan waktu. Dan agar setan tidak terus menggodanya untuk mengagumi perempuan yang bersamanya waktu itu.
“Oh ... tapi maaf sebelumnya. Saya hanya tahu alamat panti asuhannya. Coba Aa ... tanya ke sana mungkin pengurus panti tahu,” kata perempuan itu menulis alamat panti dibuku. Kemudian menyobeknya dan memberikan pada Ali.
Ali pun menerima dan mengucapkan terima kasih. Lelaki itu kembali ke motornya. Seraya mengumpat nafsunya yang belum sepenuhnya bisa ia kendalikan. Mata memang mengagumi, tapi hati yang luka belum sepenuhnya sembuh. Apa yang terjadi padanya hanyalah tipu muslihat iblis.
Malam itu sepulang dari kantor, Ali langsung menjalankan motornya ke kawasan Jakarta Utara. Jujur saja ia ingin bertemu dengan Aprit lebih cepat.
Ia merasa bersalah, karena ucapannya suatu malam justru membuat Aprit kesusahan.
Bagaimana nasib remaja tanggung itu? Setelah memutuskan untuk keluar jadi penyanyi cafe.
Ali pun mulai menghentikan motornya. Ia berusaha bertanya pada bapak-bapa ojek, alamat panti.
“Dari sini Masnya lurus, nanti ada pertigaan masuk. Nah disana ada papan bertulisan nama pantinya Mas!” jelas si bapak yang membuat Ali mengangguk dan berterima kasih.
Lelaki itupun menjalankan motornya pelan. Ia mulai mempertajam penglihatannya. Dan mencari papan bertulisan Yesus Bakti.
“Ah ...itu kayaknya!” Membelokkan motornya dan setelah dibaca memang benar. Ia pun langsung memasukkan motornya ke panti kebetulan gerbang terbuka.
Lelaki itu melangkah dengan ragu. Ia sempat bertanya kepada salah satu anak di sana. Dari situ ia mulai paham, alasan mengapa Aprit sering memakai bahasa Inggris dan susah melafalkan bahasa Indonesia. Bukan tanpa sebab, ternyata lingkungan panti asuhan satu ini, menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari.
Dan ya, ia lebih terkejut lagi saat menemui pengurus panti asuhan. Yang sudah tua, namun wajah kebarat-baratan tak luntur.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya ibu panti dalam bahasa Inggris.
“Emmm ... begini maksud kedatangan saya kesini. Ingin mencari informasi tentang Aprit!”
“Anda mengenalnya?” tanya ibu panti tak percaya.
Ali mengangguk kecil.
“Saya tidak menyangka ... dia berani berkenalan dengan orang baru.” Geleng-geleng, membayangkan anak asuhnya yang melekat dalam ingatannya. Sebagai sosok pendiam dan kaku bisa berteman dengan orang baru.
“Aprit adalah satu dari puluhan anak panti yang saya asuh. Terkenal pendiam, baik, dan tidak suka berbaur dengan orang. Namun tiga bulan yang lalu. Anak itu memutuskan untuk pergi dari panti, katanya ia sudah menemukan tempat baru yang pas. Disana ia harus beradaptasi dengan lingkungannya lagi. Dari cara bahasa, dan keyakinan. Ia juga harus membiayai hidupnya sendiri,” jelas ibu panti dengan tatapan sendu.
“Kalau boleh saya tahu, sekarang dia tinggal di mana?” tanya Ali penuh harap.
“Rumah singgah, disana ia tinggal dengan kawan barunya.”
Malam itu Ali ingin langsung menemui. Remaja tanggung itu, namun waktu tak berpihak. Karena esok hari ia harus dinas luar kota, yang mengharuskannya untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1