
Akhirnya waktu yang Ali tunggu datang juga. Penantian panjang yang ia nantikan hari ini akan terealisasikan.
Banyak hal yang ia lewati, disela menunggu penantiannya. Setiap weekend ia menyempatkan diri untuk bermain golf dengan para sahabat. Berawal dari permainan stick dan bola kecil. Ia mulai sedikit bisa memahami karakter seseorang. Yang paling ia pahami adalah karakter Stefan yang terlalu ambi. Jika bola tidak melayang mencapai 270m. Pria itu akan memanggil penghuni kebun binatang.
Dan untuk Aidin, pemuda itu sering kali berganti stick. Entah apa alasannya.
Sedangkan untuk ia sendiri, bermain golf untuk bersenang-senang, jika pukulan bolanya melintas jauh. Ia akan bersorak ‘woyyy'. Namun jika sebaliknya, ia terlihat bodoh amat dan tertawa.
Dengan menyibukkan diri dengan beberapa kegiatan. Jujur saja ia mendapatkan impact yang luar biasa. Mulai dari hidup lebih sehat, banyak bersosialisasi dengan orang baru. Mengasah skill, seperti main bola sehabis kerja. Dan beberapa Minggu yang lalu ia, juga diajak gabung ke grup basket yang di sana ada beberapa artis ibu kota. Dan tiga hari yang lalu Irene juga masuk, menjadi lawannya.
Namun semua kegiatan itu, tak membuat ia menafikan kehampaan dalam hidupnya. Setiap ia membaringkan tubuhnya di kasur. Ia bertanya kepada dirinya sendiri. Sampai kapan hidup seperti itu?
Pengelaman akhir-akhir ini sering ia dapatkan.
Akan tetapi apakah kenyamanan juga ia dapatkan?
Hidupnya tak lebih hanya sebatang kara.
Tok ...tok....
Ketukan di pintu kos, membuatnya langsung memakai sepatu. Membukakan pintu untuk orang yang mengetuk dengan tidak sabaran.
Lelaki itu tampak tertegun, mendapati sosok wanita. Memakai baju yang sama sepertinya.
“Cie Mas Ali, sama Mbaknya couplen....”
Keduanya menoleh saat mendengar suara orang bersiul.
Jomed yang menyampirkan handuk di pundak serta gayung ditangannya. Tersenyum canggung, saat dua orang berbaju sama menatapnya tajam. Remaja itupun langsung masuk kamar kosnya.
“Ayo cepat Al, nanti kita terlambat,” ajak Irene menarik tangan Ali untuk turun. Namun lelaki itu justru berpegang pada daun pintu, menolak.
“Tunggu dulu Ren, saya mau ganti baju....”
“Ngapain? Lu baper baju lu kayak gua?”
__ADS_1
“Come on kawan, baju kita ini bukan limited edition. So wajar ... kalau warna dan motifnya sama. Bahkan saat gua beli blazer ini ...si pramuniaganya bilang. Mbak tahu enggak? Tadi ada mas-mas beli, one set blazer kotak tratan ... mirip punya Mbak, versi cowoknya.”
“Ya mungkin yang pramuniaganya maksud lu kali Al.” Terkekeh lucu jika itu benar.
Si empu memasang wajah datar.
“Tapi gua ... enggak peduli, karena buat gua. Apa yang gua suka, dan kemungkinan besar akan gua pakai. Gua tetap beli ... bodoh amat mau couplen ama suami orang, atau pacar orang. Karena gua tahu, produk itu diluncurkan bukan hanya satu ... mungkin bisa ribuan atau bahkan jutaan. Apalagi kalau harganya tak menyapa 1jt.” Irene terus mengoceh dan berusaha membuat Ali jalan mengikutinya.
Namun naas si empu tetap bergeming.
“Baper? Ya elah, mana ada saya baper karena baju samaan,” sinisnya menghempaskan tangan Irene yang menarik pergelangan tangannya.
“Masalahnya kita ini mau ke persidangan. Kalau lu duduk di samping saya ... apa kata hakim? Pemohon dan advokat bajunya kembaran. Memangnya kita Ipin Kupin?”
“It’s okay ... jika sidangnya masalah lain. Nah ini ...ikrar talak woyyy....” Ali berkacak pinggang.
“Terlebih lagi, nanti ada keluarga mantan istri saya. Bagaimanapun saya harus menjaga hati mantan mertua,” suaranya tenggelam dalam helaian nafas.
“Ah .... buang-buang waktu, 5 menit ...5 menit Al. Lu harus selesai, jangan sampai kita telat!” singkatnya mendorong tubuh Ali masuk.
“Sial!” umpat Ali meringis seraya mengelus dahinya.
Irene pun memutuskan untuk turun. Ia menyandarkan tubuhnya di samping mobil. Tepat tujuh menit, lelaki yang ia tunggu menuruni anak tangga.
“Virus anak muda sudah memasuki rohmu,” komentarnya mengamati cara berpakaian Ali yang tampak santai.
Kemeja flanel kontak-kotak dibiarkan terbuka, dipadukan dengan kaus dan celana panjang berwarna senada (putih).
“Kelamaan, sama lu jadi terprovokasi. Sini kuncinya,” ucapnya meminta kunci pada Irene.
“Dah lah gua saja yang bawa. Lu kelihatan nervous banget ... bisa-bisa kalau lu yang menyetir. Irene junior kissing sama beton, ya kali cicilan belum lunas....”
Tertawa renyah sembari membuka pintu. Ali hanya mengikuti, ini kali pertama ia disopiri oleh Irene pasca pertemuan pertama di kafe. Sebelum -sebelumnya ia terus yang jadi sopir.
Kegelisahan yang terpampang jelas di wajah Ali. Membuat advokat modis itu mencari cara bagaimana biar lelaki yang duduk di sampingnya tidak gugup. Karena sebentar lagi menghadap hakim.
__ADS_1
“Tenang kawan, kegelisahan yang ada dalam diri akan hilang. Setelah ketuk palu.”
Lima menit mobil yang dikendarai oleh Irene, tampak melaju tenang. Namun makin lama, makin kencang. Ali yang duduk di samping kemudi. Memprotesnya berkali-kali.
“Lu gila ...katanya enggak mau Irene junior kissing beton. Tapi lu sendiri ugal-ugalan, enggak konsisten lu Ren ....Anjaiii!” umpatnya ketika ban mobil Irene melintasi polisi tidur yang membuat tubuhnya terbentur ke depan.
“Brisik ... salah siapa lu enggak pakai seat belt,” ketusnya melirik sejenak, kemudian kembali fokus pada jalanan.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Terlihat beberapa media yang menunggu di depan pengadilan.
“Paparazi, itu pasti menunggu persidangan cerai artis GA!” tebak Irene dari dalam mobil.
“Istilah, keluarganya harmonis adem ayem. Tapi ujung-ujungnya berakhir di pengadilan. Memang apa yang kita lihat tak sebagus dan seburuk kenyataannya,” komentarnya menatap paparazi, yang berdiri ketika artis GA dan kuasa hukumnya keluar.
Ali melirik wanita yang mengoceh sendiri.
“Cih ...jilat ludah sendiri ... katanya orang enggak boleh kepo nah ini apa barusan?” sindiran Ali, membuat Irene menoleh.
“Beda, dari sini gua belajar dari kesalahan seseorang. Dan dari asumsi publik, yang berpikir jika apa yang dilihat dan dibagikan di sosial media, oleh idolanya itu adalah real life ... bullshit ... it’s all fake ... hahaha itu tak lebih dari romantisasi belaka.”
Dekat dengan Irene berbulan-bulan membuat Ali. Menyimpulkan wanita yang ada di sampingnya itu tipe apa adanya dan open minded. Tapi kalau kebahasaan bisa-bisa, pertemanan jadi hancur. Karena sisi negatif Irene adalah tidak bisa mengontrol omongannya. Suka bilang suka, tidak bilang tidak.
Terlalu jujur ...bisa hancur.
“Tapi perlu lu ingat Al, komentar itu hak segala manusia yang bernyawa. Kita tidak boleh memaksa dia untuk silent ... sebab apa? Manusia punya otak untuk berpikir, merangsang apa yang terjadi di sekitarnya. Yang biasanya akan membentuk sebuah kesimpulan ... entah benar atau salah. Dahlah ...capek gua ngomong dari tadi....”
Ali menahan senyumannya, wanita satu ini memang berbeda. Awal pertemuan terlihat freminim, tegas, namun lambat laun sifat anehnya mulai bermunculan dan kesomplakannya lebih menghibur.
“Makanya kawin biar ada yang mendengar ocehanmu,” komentar Ali membuka seat belt.
“Aelah ...lu aja yang kawin cerai!” kekeh Irene keluar dari mobil.
Keduanya berjalan menuju ruangan persidangan. Namun Ali justru memilih duduk diluar ruangan. Wajah Ali semakin gusar. Namun tiba-tiba saja, seseorang menyodorkan botol kearahnya. Membuatnya mengangkat kepalanya.
TBC...
__ADS_1