
Malam itu akan menjadi sejarah dalam kehidupannya. Mengambil keputusan besar, yang tak pernah ia duga sebelumnya. Tentu pengambilan keputusan besar ini, tak dilakukannya dengan impulsif.
Pagi tadi Ali telah mengirimkan pesan kepada istri-istrinya lewat grup chat keluarga. Ia mengatakan jika ia ingin bertemu di restaurant.
Entah apa yang ada dalam pikiran kedua istrinya, setelah membaca pesannya. Jika mengingat, Seminggu yang lalu, ia beralasan.
Bahwa ada beberapa hal yang harus segera diselesaikan.
Namun kedua istrinya mengartikan ucapannya kala itu, berkaitan dengan urusan kantor.
Lima belas menit lamanya, ia mengemudikan mobil Jeep milik Aidin. Menuju restaurant Le Quartier, yang berada di Jl. Gunawarman, Senopati Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ia segera keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju ruangan, yang telah ia booking sebelumnya.
Dua perempuan yang tengah berada di sebuah ruangan kelas atas, sedang berbincang riang sesekali terkikik. Menoleh ketika pintu terbuka, memunculkan sosok lelaki dengan pakaian kerja sehari-harinya.
Masuk ke ruangan bernuansa khas Eropa. Furniture yang terbuat dari kayu, tersusun cantik, lampu gantung chandilier mini yang terletak tepat di atas meja. Membuat suasananya sedikit temaram, layaknya makan malam di Perancis.
Langkah lebar itu menuju meja makan. Ali tak langsung duduk, lelaki itu berdiri tegap di depan kedua istrinya.
Melihat kedua istrinya saling tatap, membuat ia mengartikan. Jika kedua istrinya telah melihat ada perubahan, dalam dirinya.
“Kamu sudah tidak memakai armsling Bib/ Mas?” Keduanya bertanya serempak.
Dua perempuan yang duduk bersebelahan itu saling tatap.
Membuat Ali mengulum senyumannya.
“Sudah lama?” tanya Ali mencondongkan tubuhnya kearah meja pembatas antara dirinya dengan istri pertamanya.
“Tidak juga,” jawab Meisya menerima cepika-cepiki dari sang suami.
Ali mengayunkan tangannya, mengisyaratkan istri mudanya untuk berdiri, supaya ia bisa melakukan hal yang sama, seperti yang ia lakukan pada Meisya.
Mereka pun kembali duduk, dan menikmati makanan khas Prancis. Mulai dari pan seared norwegian salmon fillet, stone baked pizza white ham & truffle oil, angel hair aglio olio.
Seraya melemparkan pertanyaan, dan Ali sebagai terdakwa, yang dicecar pertanyaan oleh penyidik.
“Bib ... aku heran dengan sikapmu, pertama ngajak dinner di restaurant yang cukup megah ini,” kata Meisya dengan mata menyelusuri setiap ruangan.
“Terus lagi, keadaanmu tampak lebih baik dengan tidak memakai armsling,” tambahnya menatap suaminya. “Emmm ... aku lihatnya. Kayak sembuhnya sudah lama.”
Si empu hanya mengangguk kecil dan fokus pada makanan.
“Hem ... iya ... jujur saja aku terkejut ketika kau mengirimkan pesan lewat chat tadi pagi ... setelah Seminggu lamanya kita tak berkabar ....sesibuk itu ya karjaanmu?” Namun sebelum menjawab, Wan Aina segera berucap lagi. “Tapi kedatanganmu tapa gendongan maupun perban ... lebih membuat aku penasaran,” cicitnya pelan.
Ali menggeleng dan menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Melihat suaminya hanya menjawab dengan gerakan tubuh membuat. Kedua istrinya protes. “Kenapa hanya diam saja Bib?”
Wan Aina yang duduk di samping Meisya mengangguk cepat seraya menyahut, “Iya ... sebenarnya ada apa? Kenapa ngajak makan di luar, bukankah kita bisa makan bersama di rumah? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”
Menaruh curiga, membuat Ali meletakkan garpu dan pisau dipiring.
Lelaki itu menarik napas dalam, menopang dagunya di punggung tangannya, seraya menatap kedua istrinya bergantian.
“Habiskan dulu makanannya ... harganya lumayan nguras kantong ini ... jangan bikin suami kere ... dengan alasan makanan sudah dingin ... kalian tak memakannya,” ucapnya mengulum senyuman di akhir kalimat.
__ADS_1
Dan kembali menunduk mengambil pisau dan garpu, untuk menyelesaikan ritual makan.
Namun berbeda dengan dua perempuan itu, yang saling tatap, kemudian melirik kearah suaminya.
Selama belasan menit, hanya terdengar dentingan perangkat makan dari ketiga belah pihak. Hampir semua menu yang dipesan, tinggal separuh, begitupun dengan makanan pencuci mulut.
Ali menenggak minumannya sejenak, meletakkannya kembali. Seraya menarik nafas panjang, yang membuat dadanya naik.
Malam itu sebenarnya ia ingin memberikan waktu, untuk makanan yang baru saja diproses oleh lambung istirahat sejenak.
Namun ia juga tak ingin basa-basi lagi, untuk menyampaikan keputusannya.
Ali membuang napas kasar, sebelum akhirnya bersuara, “Sepertinya sudah saatnya kita berjalan sendiri-sendiri,” ucapnya pelan namun terdengar tegas.
Mendengar hal itu, dua perempuan yang berseberangan dengannya, tertegun. Wajah cantik istri mudanya terlihat pucat, bibirnya terbuka dengan jari-jari tangannya meremas tisu.
Sedangkan perempuan yang amat ia cintai, tubuhnya bergetar dengan air matanya yang menggenang, dipeluk mata. Sekali kedipan, ia yakin pipi istri pertamanya telah basah.
“Apa maksud perkataanmu itu? Kau bercanda kan?” tanya Wan Aina dengan bibir bergetar.
Ali tak lekas menjawab, membuat Wan Aina kembali bersuara, “Katakan Mas ...kamu bercandakan!”
Tangis Wan Aina pecah ketika berdiri dari duduknya. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, badannya berputar. Untuk mengusap air mata.
Melihat hal itu Ali tampak tak kuasa menahan kesedihannya. Pilihannya untuk mengakhiri hubungannya, dengan kedua istrinya adalah hal tersulit dalam hidupnya.
Namun inilah putusan terakhirnya, setelah menimbang-menimbang dan meminta bimbingan dari Tuhan.
“Sampai kapan kita bisa bertahan dalam hubungan seperti ini? Sebagai seorang suami ... saya sering kali melakukan kekerasan verbal terhadap kalian ... apa artinya bersama ... jika yang didapat ... hanya rasa sakit.”
Isakkan panjang itu terdengar di telinga Ali, membuat lelaki itu melirik kearah istri pertamanya.
Malam itu Ali telah mematahkan semua kebahagiaan kedua istrinya. Namun ia berharap keputusannya, menjadi jalan untuk ketiganya menemukan kehidupan yang lebih baik.
Tanpa harus menyakiti dan tersakiti.
“Mas ... pasti kamu ngambil keputusan ini dengan implusif kan?” tanya Wan Aina mengelilingi meja, mendekati Ali.
Lelaki itu sekali lagi tak langsung menjawab, ketika Wan Aina memberikan pertanyaan, dan mengungkung tubuhnya dari samping.
“Iya kan Mas?” tanya Wan Aina mendekatkan wajahnya dengan milik suaminya.
Ali melengos saat melihat air mata istri mudanya meluncur deras.
“Bukan!” singkatnya.
“Kamu bercanda kan? Iya kan? Aku tahu kamu bercanda ... tapi ini tidak lucu ....” Menarik lengan kemeja suaminya, berusaha menampik kebenaran yang keluar dari mulut Ali.
Ali tetap bergeming, membiarkan istri mudanya memukuli bahunya.
Manik mata hitam itu, melirik kembali kearah perempuan yang duduk di seberangnya dengan posisi yang masih sama. Hatinya terasa nyeri, ketika sadar perempuan yang duduk berseberangan dengannya tak lama lagi, akan ia lepaskan.
“Kenapa kamu memutuskan sepihak Bib?” cecar Meisya dengan isakkan, seraya mengangkat kepalanya sedikit.
“Aku memutuskan ini, bukan dari pandanganku saja. Aku melihat hal ini dari tiga sudut ...darimu ... dari Aina ... dan dari diriku sendiri...”. Menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “Kalian harus paham ... perkataanku ... seminggu yang lalu. Aku mengatakan pada kalian ...jika ada permasalahan yang harus aku selesaikan secepatnya ... dan ya ... inilah jalan keluarnya. Keputusanku untuk membebaskan kalian, dari tanggung jawab sebagai seorang istri.”
Wan Aina tertunduk lemas di samping Ali, gadis itu benar-benar hancur. Belum juga setengah tahun mengarungi bahtera rumah tangga dengan suaminya. Kenyataan pahit perpisahan harus ia terima detik itu juga.
__ADS_1
“Seminggu lamanya aku tinggal di hotel ... aku mulai bertanya kepada diriku sendiri. Tentang semua yang terjadi, tentang perasaan kita ... dan aku pun akhirnya memantapkan sebuah pilihan ... yang menurutku tepat.”
“Aku mantap dengan keputusan ini!” tukasnya dengan suara berat.
Lelaki itu beranggapan setelah melakukan shalat istikharah, akan mendapatkan mimpi.
Padahal mimpi bukanlah syarat terjawabnya istikharah. Membatasi jawaban istikharah hanya dengan mimpi, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang, adalah tidak benar.
Mereka meinterpretasikan, bila tak ada mimpi, seseorang menyangka istikharah yang ia lakukan tak membuahkan hasil.
Namun menurut pandangan ulama berpendapat. Tuhan akan memantapkan hati seseorang, dengan pilihan yang terasa lebih baik untuknya.
Ruangan sunyi hampir dua puluh menit. Ketiganya kompak menunduk, berkelut dalam pikirannya masing-masing.
“Sudah saatnya kita hidup ... atas kehendak kita. Jangan biarkan seseorang merenggut tanggung jawab kita ... sebagai pemilik raga.”
“Perceraian bukanlah tujuan, melainkan sebuah keputusan yang harus diambil. Jika sudah tak bisa dibersamakan,” ucap Ali berdiri dari duduknya.
Membuat kedua perempuan itu mendongak menatapnya.
“Bawa mobil?” tanyanya yang dijawabi anggukan berat dari istri pertamanya.
“Ya sudah, aku ikuti dari belakang sampai rumah,” ujarnya meninggalkan ruangan.
Untuk saat ini mereka berdua masih tanggungannya. Hal itulah yang membuat Ali tergerak mengatakan istrinya-istrinya pulang.
“Jangan ngelamun saat nyetir, kamu bahwa penumpang,” ujar Ali membukakan pintu kemudi untuk Meisya.
Dia tahu pasti istri pertamanya masih dalam keadaan shock dengan kejadian ini.
“Makasih,” pintanya menunduk, tangisannya ingin pecah. Ketika ingat jika lelaki yang membukakan pintu saat ini, tak lama lagi bukan miliknya.
“Aku janji akan mengembalikan dirimu pada Abah ... seperti yang Abah minta waktu itu ... jika aku sudah tak bisa lagi ... menjaga putrinya.” Mengelus kepala Meisya, dengan meta memerah. Begitupun sebaliknya.
Perempuan itu ingin memeluk, akan tetapi takut. Jika lelaki yang berdiri di sampingnya, sudah bukan muhrimnya.
Ali lekas menutup pintu dan memutari, mobil untuk membukakan pintu untuk Wan Aina.
“Masuk, oh ya pesan Mas ...ajak dia bicara jangan sampai dia ngelamun. Masalahnya jika dia ngelamun, kamu juga dapat imbasnya,” canda Ali menelengkan kepalanya di samping jendela mobil, seraya menunjuk kearah Meisya, yang duduk dibalik kemudi.
“Gunakan ... powermu Aina ... kecerewetan adalah sebuah anugerah,” tukasnya mengelus kepala Wan Aina untuk yang terakhir kalinya.
Membuat gadis itu tak kuasa menahan tangisnya. Wan Aina menarik tangan suaminya yang mengelus kepalanya, gadis itu memegangnya erat dan menciumnya.
Hati siapa yang tak hancur, jika harus kehilangan seseorang yang ada dalam hatinya. Selama membina rumah tangga, dengan Wan Aina. Separuh hatinya tertulis nama istri mudanya. Wan Aina berhasil mencuri hatinya, dikala hatinya hanya dipenuhi satu nama Meisya.
Kedua istrinya memiliki tempat dalam hatinya, dengan kekurangan dan kelebihan yang berbeda.
Ali begitu tulus mencintai istrinya, dan ia pun mendapatkan balasannya dengan tulus.
“Emmm ... besok setelah pulang kerja, aku akan ke rumah. Tolong bantu bereskan baju-bajuku ... sekalian bahas harta gono-gini,” pintanya sebelum kembali ke mobil.
Malam itu bukanlah akhir dari perjalanannya. Akan tetapi awal baru untuk ia menemukan kebahagiaan yang telah disiapkan.
Tenang nanti ada bab Ali tahu siapa dalang dibalik semua. Tapi yah, author minta maaf karena belum bisa merangkai cerita dengan baik.
TBC...
__ADS_1