
Sepasang suami-istri itu duduk di sofa ruang tamu, ditemani dengan televisi yang menyala dan laptop yang berada di pangkuan si suami.
“Buka mulutmu!” titah si istri sudah siap memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut Ali.
Ali pun mengalihkan pandangan dari layar laptop, ke sendok yang sudah mengudara di sampingnya. Lelaki itu telah menerima suapan ke tiga kalinya dari tangan Meisya.
“Habiskan makanannya, beberapa hari terakhir ini kau terlalu sibuk. Hanya menatap layar laptop saja!” Meisya mengomel seraya menyendok nasi dan lauk, kemudian menyuapkan makanan kembali ke mulut Ali.
“Ada hikmah dibalik kesibukan akhir-akhir ini!” Ali menimpali ucapan istrinya, dengan senyuman, mengelus kepala Meisya.
“Hikmah-hikmah apanya, sangking sibuknya kau tidak sempat makan.” Si istri, tampak tak suka jika si suami sampai telat makan.
Tentu saja Meisya khawatir, sebab Ali memiliki penyakit maag.
Telat makan saja, bisa-bisa magg kambuhan.
“Nah ini nih, kebiasaan istri Mahbub Ali! Yang tidak bisa aware, dengan hal-hal positif di sekitar.” Gemas Ali mencubit pipi tirus itu.
Membuat Meisya memukul lengan Ali pelan,
Ali tertawa renyah karena ekspresi Meisya yang kesal.
“Dengar ya istri, hal positif atau hikmah dibalik kesibukanku itu. Mendapat perhatian darimu, nah seperti siang ini. Mahbub Ali disuapi oleh istrinya, nikmat Tuhanku yang manakah yang ku dustakan.” Ali terkekeh di akhir kalimat.
“Oh ... jadi, kalau kamu tidak sibuk. Aku tidak perhatian gitu,?” tanya Meisya memicingkan menatap manik Ali.
Lelaki itu hanya geleng-geleng kepala, melihat ekspresi antagonis si istri. Yang contrast dengan wajah teduh Meisya.
“Bukannya aku sering menyuapimu makan!” protes Meisya.
Tampak masih belum terima. Dengan perkataan Ali.
Setelah debat kecil-kecilan disiang hari, kini saatnya pasangan yang memiliki perbedaan umur satu tahun itu, sedang dikamar.
“Bib, kamu itu jangan terlalu kaku saat bersama Aina!” ujar Meisya memijat kaki Ali.
Membuat Ali menghela nafas panjang. Tentu saja Meisya tahu. Jika Ali tak ingin membahas Wan Aina saat mereka bersama.
__ADS_1
Namun sebagai seorang istri, Meisya wajib mengingatkan tanggung jawab seorang suami.
Terlepas dari hatinya yang nyeri.
“Bagaimana pun usianya lebih muda darimu, sebagai seorang suami kamu harusnya mengayomi. Sekarang dia istrimu Bib, pergaulilah dia dengan baik. Jangan terlalu dingin, kau itu bukan kulkas dua pintu!” ujar Meisya diakhiri dengan banyolan, agar Ali tak merasa ditekan maupun dipojokkan.
Lelaki itu terdiam membisu, teringat kejadian beberapa Minggu yang lalu. Tepatnya saat ia mengantarkan Wan Aina pulang, setelah makan bersama di rumah utama.
Kala itu, ia mengatakan, pada Wan Aina. Jika nanti malam dirinya akan bersama dengan Meisya.
Tak terduga ekspresi gadis 21 tahun itu langsung redup. Terlihat begitu berat melepaskannya kala itu.
Sekalipun ia sudah memberi tahu. Bahwasanya bik Tin, akan menemani Wan Aina selama ia tinggal dengan Meisya.
Rupanya hal itu tak mampu mengubah ekspresi gadis 21 tahun itu menjadi lega.
Ali mengerlingkan matanya. Mendengar saran Meisya.
Apa istrinya tidak memiliki rasa cemburu sedikit pun?
“Apa kau tidak cemburu? Jangan-jangan kamu tidak mencintai aku lagi? Wanita bisa menyimpan rahasia selama 40 tahun, akan tetapi ia tidak akan bisa menyembunyikan rasa cemburunya meskipun sebentar. Tapi kau? Kenapa kau lain, sejak pertama kali kita nikah. Aku tidak pernah merasa dicemburui olehmu,” papar Ali terheran-heran. Menetap dalam manik hitam Meisya.
Meisya tipikal perempuan yang terlihat cuek, bukan berarti masa bodoh dengan apa yang suaminya lakukan diluaran.
Akan tetapi Meisya hanya berusaha mengontrol apa yang bisa control.
“Bib ingat dikotomi kendali tidak?” tanya Meisya yang dijawab anggukan oleh Ali.
“Nah aku juga menerapkan itu, di dalam hubungan kita ini. Pertama tingkah laku, ini ada dalam kendali kita sepenuhnya. Seperti saat ini contohnya, aku memilih untuk tidak langsung emosi meluapkan semua rasa kesalku padamu. Karena kamu lebih fokus ke pekerjaan. Kalau boleh aku jujur, aku mau saat libur seperti ini bersenang-senang denganmu, dimanja-manjain, itu fitrah wanita! Akan tetapi sebagai istri, aku juga harus ngertiin kamu. Enggak melihat kamu hanya sebagai suami saja, tetapi aku juga harus melihat kamu sebagai seorang karyawan kantor. Dimana kamu juga memiliki tanggung jawab di dalamnya!” Penjelasan panjang itu mampu membuat Ali menutup mulutnya rapat. Tampak sekali lelaki yang bersandar di kepala ranjang itu, tertegun akan penjelasan panjang istrinya.
“Aku juga berusaha mengontrol Interpretasiku, hal ini pernah terjadi. Dua tahun yang lalu, aku mendapati dirimu dengan perempuan lain di kafe. Aku tidak langsung menghampirimu meskipun kala itu aku sangat cemburu, melihatmu berbicara dengan perempuan. Kenapa aku tidak marah-marah, gedor-gedor mej Sebab aku memilih bertanya kepada diriku sendiri. Kenapa suamiku bersama perempuan yang tak aku kenal?”
“Ada dua kemungkinan yang pertama mungkin klien, atau rekan kerjanya yang memang aku enggak kenal. Atau kedua selingkuhan! Terus aku bertanya kepada diriku sendiri, jika itu benar selingkuhan. Apa yang menyebabkan kamu selingkuh? Kurang perhatiankah? Atau memang kamu sudah bosan sama aku.”
“Terus siapa perempuan itu?” tanya Meisya menggoda.
Padahal jelas Ali sudah memberi tahukannya berapa tahun silam.
__ADS_1
“Klien lah, masa aku selingkuh. Enggak banget!” sinis Ali.
Meisya tertawa mendengarnya. Sebelum mengatakan sesuatu.
“Satu hal yang harus kamu tahu, sebelum aku menyalakanmu, terlebih dahulu aku mencari tahu, apa yang salah denganku. Itu yang harus kamu tahu!”
“Sayang sekali ternyata hal ini membuat kamu merasa ...jika aku tidak pernah cemburu! Padahal bueh ... hatiku bergemuruh ingin meluapkan segalanya. Tapi aku tahan demi kebaikan hubungan kita,” jelas Meisya mampu membuat Ali tersenyum terkagum-kagum.
Mendapati alasan Meisya jarang cemburu selama lima tahun.
“Kesimpulannya, sebagai pasangan kita harus menaruh rasa percaya satu sama lainnya. Itulah arti percaya, tidak langsung menghakimi, melainkan berusaha memahami keadaan.”
Ali mencakup wajah Meisya, lelaki itu menggoyang kedua telapak tangannya yang membuat kepala Meisya geleng-geleng.
Ada rasa bangga memiliki istri seperti Meisya, perempuan yang mau mengerti. Mungkin ini sebabnya Ali sangat mencintai Meisya.
Karena istri pertamanya ini sangatlah pengertian.
“Istrinya siapa ini?” tanya Ali menggoda istrinya bak anak bayi, yang ditanya ibunya setelah mandi.
“Astagfirullah hal adzim! Masa kamu lupa sama istrimu sendiri!” pekik Meisya memasang wajah cemberut. Membuat Ali ternganga lebar.
“Bercanda kali!” ujar Ali menarik bahu Meisya, untuk dipeluk.
“Tentu saja istrinya Mahbub Ali Al-Rasyid ! Panggilannya saja Habib, bermakna kekasih!” sahut Meisya yang ada di pelukan.
“Kalau tidak diakui ...wah parah!” tambahnya lagi yang membuat Ali membekap mulutnya.
“Hush!”
“Istri!” panggilnya pelan.
“Hem!” Mendongakkan kepala, dengan posisi tangan yang membelit pinggang pasangannya.
“Aku merindukanmu!” Meisya tahu betul, jika Ali mengucapkan kalimat seperti barusan. Itu adalah sebuah kode, agar Meisya melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
TBC...
__ADS_1
Sorry ceritanya enggak banget....