Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch48 : Hilang Begitu Saja


__ADS_3

Setelah mengantarkan kedua istrinya pulang. Ia langsung pamit.


Mobil Jeep itu melaju dengan kecepatan rendah. Dalam mobil, pengemudinya seperti raga tanpa nyawa.


Kehilangan harapan, dan hanya kehancuran yang ia rasakan.


Kakinya menginjak rem, saat tiba-tiba mobil yang ada di depannya berhenti.


“Sial,” umpatnya memukul setir.


Ketika sadar jika lampu merah.


Lelaki itu mencekam setir kuat, jika mengingat apa yang baru saja terjadi tadi di restaurant.


“Kenapa semua ini terjadi....” Membenturkan kepalanya pada setir.


Hatinya kembali hancur, jika memikirkan. Bagaimana masa depannya kelak.


Janji suci yang dulu ia gadang-gadang, selamanya.


Nyatanya berantakan, semua itu fake.


Takdir telah membohonginya.


Ia pikir, ia akan dipisahkan oleh maut.


Dan diperkenankan kembali dalam keabadian.


Lagi dan lagi, itu hanya halusinasi yang palsu.


Dunia ini hanya menipu.


Kebahagiaan, pasangan dan apa yang ia miliki.


Semua hanya sementara ... Dunia ini fana.


Dunia ini fana ... dunia ini fana ....


Kalimat ini terus berputar dalam benaknya.


Mungkin malam ini, adalah malam penutupan hatinya.


Malam yang bisa mengubah, cara pandangnya.


Tentang Dunia.


Tin ...tin...tin....


Bunyi klakson memberondong dari belakang. Ia segera mengangkat kepalanya, menengok ke dapan, kanan kiri.


“Sial ... aku tidak sadar jika lampu sudah hijau,” gumamnya langsung memutar setirnya.


“Kenapa ... aku harus mengikuti jejak ayahku,” sesalnya, mengusap wajahnya.

__ADS_1


Menyesali takdirnya, yang hampir mirip dengan ayahnya.


Pepatah memang bilang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


Tapi bolehkah ia menjadi buah kelapa, yang ditanam ditepi pantai.


Yang jatuh dan digulung oleh ombak. Untuk menjauh dari pohonnya. Sehingga takdirnya tidak sama dengan ayahnya.


“Ayah gagal, menjadi seorang nakhoda kapal. Ayah menenggelamkan penumpang satunya, untuk mengangkut penumpang baru....”


“Dan sekarang ... aku pun mengikuti jejaknya.”


Lelaki itu terkekeh getir, detik itu. Ia merasa jika dunia ini tidak adil padanya.


Dulu ia pernah merasakan sakitnya. Dikecewakan oleh perlakuan ayahnya kepada mendiang ibunya. Yang membuatnya tak percaya akan relationship.


Namun lima tahun silam. Ia dipertemukan dengan seorang perempuan. Yang membuatnya mengubah cara pandangnya terhadap relationship.


Bagaimana hubungan yang melibatkan dua individu tak selamanya buruk.


Dan terbukti, perjodohannya dengan Meisya. Berjalan dengan baik. Ia mencintai dan ia dicintai.


Perempuan itu pula yang membuatnya. Merasa jika keberadaannya di dunia ini tidak sia-sia. Kehidupannya menjadi lebih berwarna.


Namun malam ini, semua hal buruk dan baik yang ia lewati. Hanya menjadi sebuah cerita.


Iagi dan lagi perpisahan menenggelamkan hatinya di dalam kesedihan.


Mobilnya berdecit ketika ia mendadak mengerem. Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya. Melirik ke sisi kanan, seperti bangunan kosong. Tak berpenghuni, tapi ia tahu isi dari gedung itu.


“Persetan!” umpatnya kembali menutup kaca mobil, meninggalkan Bar.


Sesampainya di hotel, ia langsung. Membersihkan badannya, membiarkan air shower mengguyur tubuhnya. Ia berharap air jernih ini, bisa menghilangkan kesedihannya.


Ada penyesalan, mengapa ia harus dititik ini?


Mengapa ia harus kehilangan perempuan, yang ia cintai?


Dengan cara yang begitu menyayat hati.


Sumpah demi dunia terbalik!


Tak pernah ia terbesit akan menceraikan Meisya.


Pandangannya berpendapat, seorang perempuan. Yang berstatus istri. Harus dihargai, tidak boleh dilukai hatinya.


Sebab ia tahu itu sangat sakit. Dan ia tidak mau seorang perempuan. Merasakan apa yang ibunya rasakan dulu.


Ali terbatuk-batuk ketika, air shower masuk ke hidungnya. Lelaki itu segera mematikan dan mengusap wajahnya kasar.


“Hahahaha, kebiasaan kamu Bib! Makanya kalau mandi, wajahnya jangan mendongak terus....” Perempuan yang memakai piyama panjang itu, bersandar di tembok menertawakannya


“Nih .... cepetan keringkan badannya,” ujar perempuan itu menyodorkan handuk, kearahnya. Namun saat ia ingin menerimanya. Tiba-tiba saja perempuan itu menghilang.

__ADS_1


Ali memutar badannya, mencari perempuan yang menertawakannya tadi.


“Istri kau dimana?” teriaknya celingak-celinguk.


Ia mendongak. Ingat, jika apa yang terjadi itu hanya halusinasinya.


Ali mengusap wajah kasar, nafasnya tersengal-sengal.


Malam itu ia menyadari satu hal. Cinta yang begitu besar terhadap istri pertamanya harus ia musnahkan.


Ali menatap tangan kirinya, tersemat dua cincin dijari manis dan tengahnya. Ia segera melepaskan cincin kawin, yang ada di jari manisnya. Namun sangat susah.


Dan berganti ke jari tengahnya, melepaskan cincin kawinnya dengan Wan Aina.


Lelaki itu membuangnya kasar, membuat cincin itu menggelinding di lantai yang basah.


Sekali lagi ia berusaha melepaskan cincin kawin yang Meisya pasangkan dulu.


Hal itu membuat ingatannya kembali, disaat Meisya memasangkan cincin itu diajarinya.


***


Perempuan itu terlihat sungkan untuk menyentuh, tangannya.


“Ayo Mei, pasangkan cincinnya kepada suamimu,” perintah ibu mertua, memegang pundak Meisya.


Melihat penggantinya yang malu. Ali lantas mengacungkan lima jarinya kearah Meisya. Agar perempuan itu bisa memasang cincin dijari manisnya.


Saat cincin itu hampir masuk, Meisya kembali menarik tangannya.


Membuat semua orang gemas dibuatnya, tak terkecuali lelaki dirinya.


***


Mengingat hal itu Ali jadi emosi. Lelaki itu segera melepas cincin yang sadari tadi berusaha ia lepas, namun tak bisa.


Ali mengumpat dan memberikan sedikit sabun. Dibagian jari manisnya, agar bisa melepas cincin kawin itu.


“Jan-cok!” umpatnya putus asa karena cincin kawin itu tak kunjung lepas juga. Meskipun ia sudah memberikan sabun.


Cepat ia keluar dari kamar mandi, membawa kekesalannya pada cincin kawinnya itu. Ia segera berganti baju dan membuang tubuhnya di kasur. Berusaha tidur.


“Mau dipijat?”


Ali yang tadi membenamkan wajahnya di bantal, langsung mengubah posisinya menjadi miring. Ia terkejut mendapati perempuan berambut cokelat itu, tidur di sampingnya.


“Hah, apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa tahu kalau aku nginap di hotel ini!” ujarnya mengalihkan pandangannya ke pintu.


Namun saat ia mengembalikan pandangannya. Perempuan berambut cokelat itu menghilang.


“Agrhhhh .... sial kenapa aku selalu terbayang-bayang dirinya....” teriaknya frustasi.


Lelaki itu lekas menarik selimut menutupi sekujur wajahnya. Lagi dan lagi perempuan berambut cokelat itu, muncul, tidur di sampingnya. Mengulas senyuman indah kearahnya.

__ADS_1


“Bang Sattttt!”


TBC...


__ADS_2