Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch28 : Kekerasan Verbal


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, malam ini ia akan tinggal bersama Meisya.


Dalam perjalanan pulang dari kantor, Ali teringat. Bagaimana Wan Aina begitu antusias untuk membeli pil kontrasepsi. Namun semua itu gagal, sebab setelah subuh istrinya kedatangan tamu bulanan.


“Semua atas Kehendak-Mu, Engkau mengetahui bahwa aku tidak siap melakukan semua itu dengannya. Aku tidak bisa, mengkhianati istri.” Memegang setir kuat.


“Nyatanya, egoku lebih besar dibandingkan nafsuku.”


“Lantas aku harus bagaimana? Apakah aku bisa, menjalani kehidupan yang sebenarnya tidak aku inginkan.”


Mimik wajahnya kian berubah menjadi serius.


“Bisakah aku bertahan? Mengingat semakin hari, aku mulai kehilangan kendali atas emosiku. Kadang-kadang aku melihat diriku seperti orang depresi,” ujarnya memukul setir dengan keras.


Beban pikirannya terlalu banyak. Dan bagaimana pula ia mengurai permasalahannya.


“Haruskah aku mempertimbangkan saran Aidin?” Disaat yang bersamaan mobilnya berhasil menepi.


Lelaki itu segera menghubungi seseorang. Tentu saja ini bukan keputusan yang diambil secara impulsif. Sebab beberapa Minggu terakhir, Ali sering menimbang-nimbang. Saran yang diberikan oleh sahabatnya. Namun tak bisa dipungkiri, ada beberapa hal yang membuatnya ragu dan belum bisa ia terima.


Setelah percakapan dalam telepon itu selesai. Ali memutuskan untuk putar balik. Malam itu menjadi langkah awal baginya. Untuk mengurai permasalahan yang sering kali membuatnya cemas dan tidak nyaman.


***


Jam dinding di kamar menunjukkan pukul setengah sembilan. Raut wajah Meisya terlihat cemas.


Bagaimana tidak, jika suaminya belum kunjung pulang.


Padahal tadi sang suami. Sempatkan mengabari via SMS, jika sebentar lagi sampai rumah.


“Bib, kamu kenapa enggak angkat teleponku?” gumamnya kembali menelepon suaminya.


Berkali-kali ia menelepon namun nihil, yang menjawab justru operator.


Cekklek... Pintu kamar terbuka, membuat perempuan berambut cokelat itu mengalihkan pandangannya.


Binar-binar dimatanya, menunjukkan jika ia bahagia. Ketika seorang yang ditunggu telah datang.


Cepat Meisya menghamburkan tubuhnya kearah suaminya.


Ali hanya tersenyum dan menerimanya.


“Kamu dari mana saja, bikin aku pikirkan. Katanya tadi jam tujuh sampai rumah, ini hampir setengah sepuluh,” protes kecil-kecilan itu membuat Ali tersenyum.


Lelaki itu meminta istrinya untuk duduk di sofa.


“Martabak ... mungkin gara-gara makanan kesukaanmu ini,” ujarnya membuka plastik.


“Mana mungkin, mengantre sampai hampir dua jaman?” Masih belum percaya dengan alasan yang diberikan oleh suaminya.


Ali terdiam membisu. Nyatanya martabak yang ia gunakan sebagai properti untuk menyelamatkan dirinya. Tidak berguna, istrinya tidak mudah dibohongi.


“Terus kenapa ditelepon enggak di angkat?” tanya Meisya, menuangkan segelas air untuk suaminya. Yang kini menatapnya intens.


Entah mengapa perasaannya jadi tidak enak. Ketika melihat wajah suaminya.

__ADS_1


“Ponselnya habis baterai, terus jalanan licin. Kamu tahukan ban mobilku halus, aku harus hati-hati,” jawab Ali, menenggak air hingga tandas.


“Ya sudah, maaf ya pulang-pulang. Bukannya disambut dengan baik malah di interogasi.”


Tampaknya Meisya sadar akan kesalahannya.


“Bahasa kasarnya su'udzon sama suami.”


Ali merengkuh tubuh istrinya. Seraya mengecup pipi istrinya bergantian .


“Bukan gitu ...itu hanya bentuk kekhawatiran istri kepada suami.”


***


Tak terasa jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Seperti biasa Ali mulai terusik oleh pikirannya sendiri.


Pasalnya ketika tidur otak manusia tidak berhenti bekerja. Selain terus mengontrol organ lain dalam tubuh selama tidur, ternyata kemampuan otak mampu mengedit. Memory mana yang akan dibuang, dan memori mana yang disimpan.


Mungkin hal itu pula yang terjadi padanya.


Lelaki itu mulai mengerjap-mengejapkan matanya. Diliriknya sang istri tertidur pulas.


Namun kilat cahaya dari balik gorden, medistraksi pandangannya. Ia segera turun dari ranjang dan menyibak gorden.


“Hujan?” gumamnya, jantungnya berdebar-debar. Saat kilat kembali menyambar. Telinganya memang tidak mendengar suara guntur.


Namun ia sangat yakin, sambaran petir malam ini. Datang bersama guntur.


“Aina....!” Ali mengusap wajahnya kasar. Dia teringat bagaimana istri mudanya begitu takut saat mendengar guntur.


Bersamaan dengan itu Meisya langsung menyalakan lampu kamarnya. Ketika ia tak mendapati suaminya tidur di sampingnya.


Ali yang sedang memakai jaket, terkejut saat lampu kamar menyala. Lelaki itu menoleh kearah ranjang.


“Mau kemana Bib?” tanya Meisya menguap, bersandar di kepala ranjang.


“Menemani Aina,” jawab Ali santai.


Sebab ia tahu jika Meisya tidak akan marah.


“Kenapa? Bukannya malam ini kau harusnya bersamaku?” Nada tinggi itu berhasil membuat Ali menghentikan aktivitasnya menaikkan resleting.


“Kenapa Kau Marah? Bukannya Ini Maumu?” Nadanya tak kalah tinggi dari istrinya.


Ini kali ke tiga, Ali mengeraskan suara pada Meisya.


Ternyata ia tak sadar, jika malam itu. Ia melakukan kekerasan verbal.


Perempuan itu menunduk ketakutan.


Sedangkan Ali, lelaki itu sudah tak seperti dulu lagi. Yang bisa mengontrol emosi.


“Inilah konsekuensi yang harus kau bayar. Disaat kau sudah merelakan suamimu untuk menikah lagi. Maka sudah seharusnya kau menerima perubahan-perubahan yang terjadi.”


Malam itu Ali perang batin. Antara prinsip dan ego. Prinsip yang mengatakan, tidak seharusnya ia berteriak kepada istrinya. Dan ego yang mengingatkan. Bahwa apa yang terjadi padanya saat ini, bukalah salahnya.

__ADS_1


Dan tidak pantas untuk disalahkan.


Sepasang suami-istri itu sadar, kesalahannya masing-masing.


Jika Meisya memutuskan untuk diam. Merenungi kesalahan, maka lain halnya dengan Ali.


Lelaki itu seakan ingin meluapkan semua yang tersimpan dalam diri. Agar semua orang tahu. Bahwa sesungguhnya jiwanya mengalami guncangan, pasca menikah.


“Kau sendiri yang memintaku untuk adil. Lantas apa yang terjadi? Disaat aku berusaha melakukan itu....” Ali terkekeh getir.


“Kau terlihat menghalangi dan tidak suka!”


“Aku bukan tidak suka, Bib! Tapi malam ini kau harusnya bersamaku,” bantah Meisya dengan suara bergetar didominasi antara takut dan berusaha menahan tangisnya.


“Dengarkan aku, keadilan bukan tentang. Jatah waktu akan tetapi, dimana seorang lelaki. Bisa selalu ada bersama yang membutuhkan.”


“Ingatlah, apa yang Aina lakukan. Ketika kau baru datang dari Banten, dia merelakan. Jatahnya agar aku menemanimu. Karena ia tahu, kamu lebih membutuhkan keberadaanku. Sebab kau masih berduka atas kepergian nenek,” ujar Ali dengan nafas tersengal-sengal.


“Dan malam ini dia membutuhkanku....”


“Aku juga ingin bersamamu, Seminggu yang lalu kan dia bersamamu.” Mendongak menatap suaminya lekat.


“Sudahlah aku lelah dengan semuanya! Selalu ada yang kalian keluhkan dariku.”


Ali segera menyambar ponsel dan kunci dari laci. Bergegas keluar dari kamar.


Meisya terkejut saat pintu dibanting keras. Tangisnya seketika pecah.


Ali menuruni tangga dengan mata yang memerah. Percayalah setiap kata yang dilontarkan untuk istrinya. Hanya menjadi tombak untuk menusuk jantungnya sendiri. Setelah sampai di depan rumah ia terdiam.


Bagaimana bisa, ia bersama dengan istri mudanya. Disaat istri pertamanya menangis karena ulahnya.


Maka malam itu, ia memutuskan untuk meninggalkan kedua istrinya yang membutuhkan keberadaannya.


Mobil putih itu melaju membelah jalanan. Derasnya hujan menghalangi penglihatannya.


***


Disisi lain seorang gadis itu menangis ketakutan. Saat kilat petir dan guntur mengusik Indranya. Wan Aina memeluk lututnya, menyembuhkan wajahnya di sana.


Namun dering telepon membuatnya, mengalihkan pandangan. Rasanya ragu untuk menerima telepon disaat petir selalu memancarkan kilat.


“Siapa yang menelepon di jam seperti ini,” ujarnya menatap jam didinding. Dimana jarum pendek berada di setengah empat.


Wan Aina segera mengambil ponsel yang tengkurap di atas nakas. Gadis itu segera mengangkat telepon dari nama seluler. Yang amat ia kenali.


“Hallo...!” ujarnya ragu saat penelepon diam.


Namun telinga Wan Aina mendengar suara berisik dan sirene. Membuat jantungnya berdebar-debar.


Wan Aina terdiam mendengar suara asing ditelinganya.


Menjelaskan sesuatu padanya.


“MAS ALI....!” teriaknya histeris bersamaan dengan itu air matanya mengalir.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2